Bahagia, Nyata atau Ilusi Belaka?

 


Seseorang teman bertanya tentang kabarku. Jawabanku standar saja, "Aku baik." Namun waktu aku berkaca pagi ini, ada seorang wanita tua di pantulanku. Duduk dengan lemak perut yang menolak sembunyi.

Baik-baik sajakah aku? Mengapa bisa muncul sosok itu jika aku baik. Mungkinkah itu wujud asli jiwaku. Tua, berlemak, penuh kerutan, dan cemberut.

Pagiku cerah. Tidak ada cucian piring yang tertunda dari minggu lalu. Baju-baju yang harus disetrika juga hanya butuh satu jam untuk rapi dan pindah ke lemari.

Harus bahagia dong. Bisa menikmati angin sejuk musim kemarau.

Di saat pandemi seperti saat ini, emosi-emosi yang muncul  kebanyakan 


Tidak ada komentar