7 Tahun, Seni Mengolah Emosi

 


Tahun ini ibu-ibu sedunia dapat ujian serentak. 

Pelajaran Jarak Jauh.

Berjanji dengan tekad bulat pada diri sendiri untuk tidak mengomel dan berteriak ke anak. 

Pada kenyataannya, belum ada lima menit saja, aku sudah merasakan dadaku sesak terus kepalaku pusing, dan leherku menegang. Sulit sekali bertahan meski sekejap mata. Dan katanya ini akan berakhir hingga akhir tahun. Ya Tuhan, dosaku pasti banyak. Oh tidak, tidak. Aku tidak sendiri. Ibu seluruh dunia menghadapinya. Pastilah ada 1003 cara untuk bertahan.
Anak sulungku masuk SD tahun ini. Aku sudah membayangkan akan punya banyak waktu untuk lebih fokus ke yang kedua dan diriku sendiri. Ada saat-saat bisa me time: mengurus diri sendiri, menulis novel, posting blog.

Tetoot. Bubar semua rencana indah selama satu tahun.

Aku marah karena bukan tipe ibu-ibu yang telaten nemenin anak main di rumah, mendokumentasikan, lalu membuat portofolio mereka.

Aku masih berdebat dengan diriku kalau kodrat wanita hanya 4: haid, hamil, melahirkan, menyusui. Ya bagaimana mengelola rasa bersalah ketika aku malah memilih bekerja daripada mengurus anak di rumah? Ingin legowo gitu bila suami juga punya porsi yang sama dalam hal mendidik anak. Namun ternyata aku merasa seperti ada belenggu yang mengunci tangan dan kakiku.










Tidak ada komentar