[Komentar Apik] Luka Pengasuhan, Ini yang Membuatku Otentik

Perjalanan berkumpul dan melahap makanan di tahap ulat-ulat minggu ke 4, membawa aku ke buku "Membasuh Luka Pengasuhan" ini. Buku yang aku baca di sela-sela sesi berbagi Inside Out Family. 

Aku memutuskan untuk tidak berpindah keluarga agar fokus dalam alur manajemen emosi. Kemudian, di jurnal minggu keempat ini, aku akan merangkum ilmu apa saja yang aku pelajari selama 8 hari.

Di awali dengan pembahasan buku, apa yang aku lakukan saat reframing, jeda napas 478, tapping, dan menulis untuk penyembuhan.



*****
Manajemen emosi berkaitan erat dengan apa-apa yang terjadi di masa lalu. Buku ini boleh jadi cocok untuk aku mulai mengelola emosiku.
Di pembukaan buku ini, penulis menjelaskan bagaimana suami sebagai therapist membantu istri membasuh luka pengasuhan. Aku langsung membayangkan melakukan hal yang sama kepada pasanganku. Rasanya mendadak berat di leher.

Badai rumah tangga baru saja memporak-porandakan hati kami berdua.  Aku, kalau egoisnya kumat. Gambaran pernikahan akhirnya terpampang nyata. Oh inilah gambar nyata pernikahan, aku ada di dalamnya sebagai pelaku.

Puing-puing ingatan itu membuat dadaku sesak. Leherku menegang. Kok ya ndilalah tugas Bunda Cekatan aku maunya belajar manajemen emosi khususnya penyembuhan diri.

Otomatis puzzle masa lalunya kembali. Bismillah, kali ini aku ingin tuntas agar gambaran diriku jadi utuh lagi. 
Pengakuan jujur bahwa diri ini merasa sakit hati bukanlah indikasi dari anak yang tidak berbakti. Justru bisa jadi, itu adalah bagian dari proses yang baik untuk pada ujungnya nanti bisa memaknai perintah berbakti pada orangtua dengan kerelaan hati. (halaman 58) 
Aku ingat aku cukup dekat dengan Papah. Kami baik-baik saja, biasa bertukar cerita. Aku sadar sekarang, doa baik Papah lah yang bisa jadi membuatku kuat hingga kini. Masih bisa bangun pagi meski ingatan perih itu terus menghantui.

Pelan-pelan aku telusuri lagi, Suami dan Papah itu mirip. Mereka cerdas dan sangat menyayangi anak-anak. Apa yang salah kemudian? 

Kegagalan Mamah dan aku membangun komunikasi produktif untuk sama-sama membicarakan ekspektasi.

Manusia itu punya fitrah suci, lingkungan yang akhirnya membentuk apakah tetap sesuai fitrah atau malah melenceng jauh. Sepanjang yang aku ingat, aku punya nenek yang menjadi bagian pengasuhanku. Mereka punya standar tinggi, begitu ambisius. Satu bagaimana punya uang banyak dan satu lagi sangat mementingkan pandangan orang. Itu turun ke Papah Mamah terus turun ke aku. 

Buku ini membuat aku flashback. Aku menyadari, refleksku sebagai anak perempuan adalah melihat anak perempuan lain sebagai saingan. Gagal mengelola emosi. Belum memiliki regulasi diri.

Aku ingat satu momen dimana seorang teman bilang, "Kemarun mba narinya bagus banget." Padahal aku gak bisa nari. Lha terus siapa yang nari? Di sini lah awal black hole dimulai. Aku mulai kecanduan perhatian, pujian, dan spotlight. Lubang besar yang menganga terbentuk dari ekspektasi dan ambisiusnya seorang Mamah.

Tidak ada mamah yang tidak ambisius dengan menggandeng innerchild mereka. Bedanya ada yang sadar, ada yang zombie alias no hard feeling menyakiti anak-anaknya.

Aku termasuk yang zombie ringan. Kok? Aku gak mau berbagi apapun yang aku miliki termasuk perhatian suami tetapi masih memiliki rasa bersalah saat kesadaran datang. Efek dari black hole.

Hubunganku sama Mamah dulu seperti aku sekarang melihat anak cewek yang masya Allah sempurna. Baik, pinter, mudah bergaul terus aku langsung merasa inferior. Aku mendadak rendah diri. Aku merasa jelek, lola, baperan. Black hole aktif. Aku mulai bertindak seenak jidat sendiri. Impulsif. Beli atau melakukan hal yang sebenarnya gak aku butuhkan. Aku dikendalikan emosi takut kehilangan perhatian.




Setelah menikah barulah aku paham alurnya. Badai dalam pernikahan itu normal. Setiap pasangan punya ujiannya masing-masing. Tidak ada yang datar saja, hidup selalu berputar, naik turun. Badai pelangi badai pelangi. Begitu terus hingga maut memisahkan raga dengan dunia. 

Fungsinya berbeda, Papah sebagai si Raja Tega dan Mamah sebagai pembasuh luka. Dulu mana ada pemahaman si fitrah ini. Adanya bertahan hidup aja sudah bersyukur. Semua serba terbatas.
Ketika si Ibu 'curhat', Katup Keluar Perasaannya terbuka dan aliran rasa itu masuk ke Katup Masuk Perasaannya Anak. Sebab isi curhatnya adalah menjelek-jelekkan orang lain, maka perasaan yang terkirim adalah perasaan yang amat kuat berpotensi menjadi emosi negatif pada diri anak. Ini jelas Luka Pengasuhan yang paling banyak terjadi, tapi jarang disadari. (halaman 79)
Badai-badai dalam pernikahan, aku lalui juga dulu sebagai anak. Pelan tetapi pasti aku membingkai bagaimana menjalani pernikahan. Buku ini mencuatkan lagi kenangan-kenangan itu. Namun kali ini aku berjanji pada diriku sendiri untuk menuntaskan fitrahku. 

Balik lagi ke komunikasi. Aku menyadari black hole terbentuk karena aku dan Mamah masing-masing memiliki ekspektasi tetapi enggan untuk ngobrol dari hati ke hati. Menggali diri, perasaan juga emosi. 
Ini adalah kondisi dimana seseorang selalu mencela dirinya sendiri. Bukan mencela untuk bertaubat, tapi ia mencela diri karena ia labil atau goyah. Katanya sudah memaafkan, tapi nyatanya masih ada rasa dendam. Kadang ia taat, tapi besok lusa sudah kembali bermaksiat. (halaman 103-104)
Ya aku menemukan apa yang salah denganku? Respon error. Setiap keputusanku dalam menjalani pernikahan sedikit banyak terpengaruh dengan gambaran pernikahan yang dulu Papah Mamah sajikan. Aku kehilangan diriku dalam proses mencintai suami dan anak-anakku. Namun si badai membuatku kembali melakukan perjalanan ke diriku sendiri.
Aku tidak pernah nyaman untuk menceritakan impian-impianku kepada ibu. Saat itu aku mencoba, emosi negatifku mendadak membuncah. Yang ada di kepalaku adalah "ibu pasti menolak". Sehingga, saat aku berbicara langsung kepadanya, emosi negatifku meledak bagaikan bom waktu yang sudah lama ter-setting untuk meledak saat itu juga. (halaman 114)
Teknik reframing aku masukkan di sini. Aku memasukkan sosok para ibu yang aku temui sepanjang perjalananku. Ada healer, konselor, pembicara, dan penulis. Mereka yang secara sadar aku jadikan sosok panutan untuk mengisi tangki cintaku (sentuhan dan afirmasi positif). Teknik ini membuatku bisa mengolah asumsi negatif tentang Mamah menjadi sosok yang bisa diajak bicara apapun alias tempatku melepas keresahanku. Mulai membingkai 

Luka-luka pengasuhan itu aku kenali lagi satu per satu. Aku luapkan semua perasaan dalam tulisan. Grup Self Healing A terus memberikan semangat. Kami sama-sama berjuang selesai dengan diri kami. Itu indah sekali. Bagaimana kami saling mendukung dengan memberikan santapan utama. Tidak menghakimi saat yang lain cerita kegelisahan. Saling memeluk dengan doa. Ahhh, sayang kalian semua 💗💗💗.

Begitu satu berbagi tentang rasa sakitnya yang lain memeluk sambil seperti sedang mengambil napas bersama. 4 detik ambil napas, 7 detik tahan napas, 8 detik buang napas. 👄💨👄💨👄💨. Terus mengetuk lembut bagian tubuh yang kepegang saja saat itu. Ya saat emosi seperti marah, takut, atau kelelahan datang; tiba-tiba lupa semua teori kan. Napas aja dulu atau tapping aja yang ingat.


*****
Sebagai manusia, aku harus tahu dan paham kapan dan bagaimana sistem perlindungan diriku aktif.

Memang tidak ada manusia yang sempurna tetapi semua otentik. Unik dengan cara masing-masing. 

Luka-luka pengasuhan yang aku alami itu dirancang khusus memang untukku. Bila saat ini masih ada penolakan itu wajar. Itu artinya sistem pertahanan diriku berfungsi dengan baik.

Pada akhirnya setelah menolak, bertanya-tanya, mencari pembanding; toh akhirnya tahap paling kuat adalah menerima. Memeluk diri sambil bilang, "Aku penuh. Bahagia secukupnya, sedih seadanya."


#belajarmerdeka
#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#materi4
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

No comments