Fasilitator, Impian atau Mimpi?

Setelah lulus kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional, pertama kali aku punya mimpi jadi fasilitator. Aku masuk kepengurusan IP Bekasi modal nekat dan sotoy. Alasan ingin jadi fasil sepertinya karena ingin Bekasi bisa dapat lebih dari satu kelas untuk jenjang Bunda Sayang. Ya habis lulus matrikulasi kan lanjut Bunda Sayang, Bekasi hanya dapat satu kelas saja dengan alasan tidak ada yang jadi fasilitator. 

Bangun! Tamparan melalui telepon itu nyata. Langsung bisa lanjut ke kelas Bunda Sayang dengan dramatis. Beda 1 menit saja, banyak teman satu angkatan gagal masuk. Ya karena kuota terbatas juga. 

Mimpi masih ada selama satu semester di Bunda Sayang. Begitu masuk semester dua, aku terbangun dari mimpi. Boleh dibilang sambil terengah-engah. Benarkah mimpi ini? Apakah harus aku jadikan impian? 

"Mau jadi fasil kok belum tuntas sama diri sendiri? Masih aja baper terus malas berkomunikasi."
"Mana komprodnya?"

Impian atau mimpi? Ternyata berbeda. Impian mestilah aku bangun kemudian bekerja keras dan konsisten sementara mimpi, bubar saat aku bangun tidur.

Ada tantangan komunikasi produktif di akhir kelas Bunda sayang yang membuat aku me-review lagi. Ini mau aku jadikan impian atau mimpi? Dari hasil pemikiran yang lumayan singkat, aku memutuskan menjadikan fasilitator impian jangka pendekku.

*****

Alhamdulillah, jalan terbuka. Ibu Profesional membuat gebrakan New Chapter 2020 dan semua kelas satu per satu dibuka. Termasuk Akademi Fasilitator Ibu Profesional. Ikut.

Materi pertama bablas angine. Benar-benar seadanya kunyah materi. Materi kedua ketemu mba Marita, guru blogger zaman masih di Semarang. Langsung ewes-ewes semangat. Ikutan permainan di WA grup. Terus ngeh kalau percakapan di WA bisa dibuat menarik. hahahaha... Impian menemukan jalan. Guru datang di saat yang tepat.

*****

Tugas kedua, aku diminta menjabarkan peran fasilitator dengan gambar atau foto. Apa kaitannya gambar/foto tersebut dengan peran fasilitator yang bahagia dan membahagiakan?

Fasilitator dalam Gambar
Oke mulai dari gambar pertama: tabung eksperimen. Aku menggambarkan diriku yang sudah tuntas dengan diri, ikut bereksperimen bersama mahasiswi dalam kelas Institut Ibu Profesional. Bersama memiliki pengalaman baru.

Gambar kedua: puzzle. Sama halnya dengan semua fasilitatorku saat ini, aku juga ingin membersamai teman-teman untuk melengkapi puzzle diri dan akhirnya melihat diri secara utuh. Tanpa paksaan dengan penuh penerimaan. 

Gambar keempat: pohon. Terus bertumbuh bersama. Saling menguatkan dan mengayomi. Pohon ini sangat sering aku gambarkan akhir-akhir ini. Ya sekuat itu aku ingin bertumbuh.

Terakhir: tas ransel. Perjalanan saat ini tidak harus menempuh jarak dengan transportasi. Modal ponsel saja aku sudah bisa menjangkau luar planet Bekasi. Hihihi... Aku bisa menggali pengalaman dengan melakukan perjalanan dunia maya bersama teman-teman mahasiswi.

*****

Fasilitator bagiku saat ini adalah impian yang ada di depan mata. Tetap harus waspada dan memantaskan diri agar bisa maksimal membersamai. Dalam 5 kata bisa aku rangkum sesuai versiku adalah kreatif, selesai dengan diri, santai, ceria, dan penuh hikmah.

Semoga impian ini bisa membuatku terus tumbuh dan bermanfaat. Aamiin...



Referensi Kudapan mba Marita

http://lingkarlsm.com/apa-itu-proses-fasilitasi-dan-bagaimana-menjadi-fasilitator-yang-handal/

http://indosdm.com/fasilitator-peranan-fungsi-dan-teknik-komunikasi

http://prasetioadjie.com/2018/05/07/apa-itu-fasilitator-keterampilan-penting-untuk-fasilitasi-yang-efektif/

https://www.linkedin.com/pulse/20140619061555-1334077-6-essential-skills-of-a-effective-facilitator

https://www.findafacilitator.com/8-roles-facilitator

No comments