Jurnal Ulat 2, Sudah Sembuhkah Aku?

3 menit yang betul-betul mengubahku. Takut? Iya. Aku berusaha menenangkan diri agar tidak pingsan saat syuting. Tidak mudah menceritakan kembali luka yang dengan susah payah aku timbun jauh di alam bawah sadar. Namun setelah semua itu keluar, LEGA LUAR BIASA


Klik Bila Penasaran Videonya

Terbuka, setelah syuting video untuk tugas tahap satu Bunda Cekatan tahap ulat-ulat di minggu kedua. Perekaman video itu secara tidak langsung membuatku mulai merangkai kepingan puzzle ingatan yang membuka luka-luka hati. Luka itu sudah tidak bisa berubah. Sudah terjadi di masa lalu.

Perih, berdarah, ada bekas pula untuk diingat. Menyangkal pasti. Reaksi awal yang normal, manusiawi pula. Gak kok aku gak papa. Aku baik-baik saja. 

Oke siapa sih orang yang mau terluka? Padahal kalau aku mengingat kembali; aku hadir ke dunia sudah berteman dengan segala rasa sakit, berdarah-darah serta keinginan untuk bertahan hidup yang kuat. Prematur lho... 1,6 kilogram. Aku bisa bertahan, tumbuh sehat, alhamdulillah normal. 


Eh umur 9 tahun berhadapan lagi dengan luka, aku langsung terpecah-pecah. Parah.

Ada emosi yang gagal aku sadari, kenali, juga luapkan dengan baik. Kalau senang, aku terlalu aktif berkegiatan hingga tidak mau istirahat. Kalau sedih, gegoleran saja seharian nonton video di laptop atau youtube. 

Jatuhnya self diagnose dulu. Aku berpikir ketika sudah praktik sadar napas terus terapi-terapi  hanya dengan kesimpulan aku kayaknya sakit mental deh, semua akan selesai. Ternyata tidak secepat itu duhai Nonik. Ada lubang kosong yang isinya harus diakses di alam bawah sadarku. 

Titik balik yang aku sadari benar-benar adalah ketika keinginan bunuh diri, menyakiti anak-anak, dan nyeri  di setiap hembusan napas muncul lagi. Luapan yang merusak: teriakan Gian, tangisan Geni, dan badai rumah tangga. Barulah aku dengan tertatih mulai datang ke profesional untuk meminta bantuan pendampingan.

Lantas apakah aku sudah sembuh? Aku masih kok kadang membunyikan alarm yang salah. Lelah bukannya istirahat malah ngomel-ngomel saat anak main dengan berantakan. 

Ya iyalah, kebiasaan hampir 32 tahun mau berubah dalam satu kedipan mata, dikata main sulap.

Ayo pik, nikmati prosesnya.

*****

Jurnal minggu kedua tahap ulat-ulat ini, menambah lagi ilmu dan teknik buat aku untuk menghadapi kenyataan. Aku ingin menyimpulkan tanpa harus terburu-buru.




Dengan tetap menggunakan trik: menarik tetapi tidak tertarik, aku memutuskan mengambil 3 potluck dari temen-temen BunCek yang aku jadikan makananku. Cukup. Biar tidak menghabiskan waktu terus kekenyangan. Setelah itu malah tidur melulu lupa jadi kupu-kupu yang cantik.

Oke, aku bahas satu-satu ya tentang apa saja yang aku ambil dari teman-teman untuk mendukung self healingku.

1. Farda Semanggi

Mba Farda menjelaskan tentang self-care project miliknya. Mindful mom bukan mindfull. Hihihi... Beda satu huruf aja, jauh beda artinya.

Teknik yang aku ambil yaitu stop-jeda-respon. 

Setelah merasa sehat fisik dan mental, aku perlu teknik ini agar terus konsisten merawat diri baik secara fisik maupun mental. Aku meyakini jika sakit fisik bisa muncul waktu kesahatan mentalku terganggu. 

7 detik menarik napas
4 detik tahan napas jeda
8 detik melepaskan perlahan

Aku berharap teknik ini efektif untuk mengurangi salah alarmku. Biar bisa tetap santai menghadapi lengkingan suara tangisan anak.

2. Ratna Delima N

Berjudul "Drive Yourself", potluck mba Ratna DN ini jadi panduanku untuk terampil dalam berpikir, memilih, memutuskan. Bukan karena orang lain yang biasanya aku lakukan tetapi pilihan sadar tanpa penyesalan dan penuh pertangung jawaban.

3. Almira Hasna Z

Gejala sakit fisik memiliki upaya pencegahan begitu pula gangguan mental. 

Mba Almira berbagi bagaimana cara tetap menunaikan emosi tidak menyenangkan. Teknik ini dia dapatkan dari sesi berbagi oleh mas Aprilianto dari @latihati. Memarkir emosi tidak menyenangkan agar tidak muncul dulu di hadapan orang lain.


Cara pertama dengan membuka postur tubuh seperti membusungkan dada, mengangkat alis, atau bisa dengan bernapas lebih lembut. Kemudian cara kedua bisa praktik wiper finger.

Ibu jari tangan kanan kita kaitkan ke jari kelingking sementara ibu jari tangan kiri kaitkan dengan telunjuk.

Gerakkan searah jarum jam dengan posisi akhir tetap ibu jari tangan kanan dengan kelingking, ibu jari tangan kiri masih barsama telunjuk.

Aku mencoba, baliknya ibu jari kanan kiri barengnya telunjuk semua. Terus jadi ketawa. Mungkin kalau terus berlatih bisa.

Baru gak sesuai posisi aja sudah bisa mengacak emosi. Apalagi sudah terbiasa pasti aku lebih yahud mengelola emosi.

***


Standar sembuhku berubah. Bukan lagi jadi yang bergantung secara emosional ke psikolong atau konselor tetapi aku memilih mandiri. 

Naik turun emosi itu pasti, pilihannya apakah aku mau bermental korban atau melangkah maju meraih tujuan yang sudah aku tetapkan.

Sadfishing atau memancing simpati dengan menceritakan kesedihan agar menarik perhatian sedang jadi tren di era media sosial sekarang. Susah susah gampang menempatkan empati yang pas. Malah seringnya tergelincir ke simpati berlebihan. Bukan menyalahkan, lebih ke saran sedikit menggeser sudut pandang. 

Gangguan mental sebaiknya tidak digunakan untuk menarik perhatian apalagi ketenaran. Segera dapatkan bantuan. Aku akan mengasah lagi empatiku agar tak salah jalan dan bisa tetap sampai tujuan.


#belajarmerdeka
#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu2
#materi2
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

No comments