Jurnal Ulat 1, Proses Penyembuhan Diri: Hidup Penuh Luka Itu Normal Saja


Menjadi dewasa itu sama sekali bukan pilihan melainkan kewajiban yang harus aku lakukan dengan penuh kesadaran. 

Aku menatap jurnal ini bolak-balik. Gagal menemukan judul. Hahaha...

Terima saja, tarik napas panjang. Tenangkan diri. Masih ada banyak waktu. Santai, santai, santai!

Baru kemarin membahas dengan seorang teman jika jurnal tidak bisa dikerjakan seperti sulap. Simsalabim jadi. Namun rangkaian aksi; melihat live materi di grup FB Institut Ibu Profesional, mencatat, membaca referensi, dan akhirnya merangkai kata untuk mengikat semua ilmu.

Aku tahu dari sesi ngobrol itu kalau mengerjakan tugas dalam tekanan bagiku adalah tantrum tak berkesudahan. Bukan ide yang mengalir lancar. Aku bisa langsung berubah menjadi momster. Aku mewajibkan anak-anak untuk memahami diriku. Mereka harus main, menunda makan siang, dan tidak boleh berisik. Satu aja dilanggar, bisa bubar.

Jurnal bukanlah hal yang mendesak tetapi jadi begitu penting karena tiba-tiba aku panik. Bagaimana kalau telat? Otot-otot menegang kemudian aku mengharuskan diri untuk duduk fokus menyelesaikan jurnal. Anak-anak terbengkalai. Lupa kalau punya anak dua, lupa harus menyiapkan makan siang, dan lupa cucian piring sudah nunda tiga hari. Ini sambil ngetik sambil geleng-geleng sendiri. Normal pik normal. Tak perlu berpikir kamu adalah yang paling sengsara sendiri.

Pada saat level ulat-ulat dimulai, aku menetapkan target untuk mengerjakan narasi satu hari sebelum deadline. Nah Selasa bisa aku baca ulang dan sunting. Eh tapi enakan Kamis sudah mulai membuat kerangka biar Jumat bisa sunting terus posting. Asyik kan Jumat sampai selasa konsisten punya postingan. Mulai deh mulai perfeksionis kumat. Hahaha…

Tahapan ulat sangat menantang bagiku. Aku begitu mudah terpengaruh karena ada banyak makanan yang menarik bersliweran di grup tetapi sesuai saran ibu Septi, aku akan menekankan pada prinsip: menarik tetapi tidak tertarik. Aku akan memilih ilmu yang sesuai dengan tujuanku di mind map milikku dan tetap fokus.  


Ilmu-ilmu tentang self healing yang bisa membuatku berhenti mendiagnosis diriku sendiri. Aku sadar kalau aku ternyata sangat mudah untuk mendengarkan orang kemudian peduli.  Ya terlalu memikirkan semua apa yang orang omongkan. 

"Gimana kalau aku gak peduli terus orang ninggalin aku?"

Aku sangat tidak suka sendiri. Aku lebih suka mengorbankan diriku, menerima disakiti, dan bertahan dengan luka yang ada untuk cinta semu.

Berbanding terbalik dengan sikap tidak konsistenku. Aku bisa aja menunda seharian gegoleran di kasur. Anak makan apa yang ada, kalau rewel aku omelin, suami pulang masih dengan daster tidur semalam. “Gimana suami sama anak mau tambah sayang  coba?” Abis itu berlindung dibalik: aku kan korban kekerasan. 

Aku menggambarkan self healing sebagai perban untuk mencegah infeksi di hati. Perban-perban berupa pengetahuan yang bisa mengubah persepsi dari rasa sakit menjadi pembelajaran juga penguatan.

Self healing ini nantinya akan membantuku tetap sadar dan waspada dengan setiap keputusan yang aku ambil. 


*****
18 Januari 2019 Mini Seminar: Recovery Your Inner Child oleh Nuram Mubina, M.Psi, Psikolog Klinis Dewasa


Materi siap, diri siap. Klop. Aku merasa jauh lebih baik dalam hal mengontrol diriku. 

Innerchild merupakan bagian diriku yang ada di alam bawah sadar. Dalam kasusku, Nonik (anak kecil usia 9 tahun) sudah sangat lama menungguku datang untuk diselamatkan. 

Aku merasa berat awalnya. Sulit lah, mengorek kembali luka lama. Ya gimana pik, konsekuensi kalau aku mau lebih sadar.


Dari awal kelas Bunda Cekatan, aku bilang ke diriku kalau menulis bukan untuk pamer kosakata tetapi betul-betul untuk mengalirkan rasa. Sama, aku bisa menggunakan jurnal untuk berdialog dengan innerchild aku. Sehingga; aku bisa menulis dengan penuh kesadaran, tidak perlu takut salah, juga yang paling utama baca lagi terus edit lagi. Bukan lagi nulis asal-asalan penggugur kewajiban.

Mba Nuram, sangat terbuka untuk menerima klien. Berbeda sekali dengan psikolog klinis dewasa yang ada di imajinasiku dan yang kemarin-kemarin aku temui. 

Satu hal yang aku catat dan jadikan prioritas dari mba Nuram adalah KEMANDIRIAN EMOSI. Penyembuhan akan maksimal dilakukan oleh diri sendiri. Psikolog dan psikiater serta para konselor sebagai mediator. 

Seringnya aku, saat menemukan mediator yang sesuai, jadi sangat tergantung. Kalau sudah cocok kadang jadi bahaya buat aku. Langsung lebay seolah tanpa psikolog itu aku tak mampu bertahan dari gempuran kesakitan luka dalam. Kemandirian emosi inilah sebaiknya dibawa santai. Psikolog bersikap sebijak mungkin agar klien tidak merasa tertolak dan sakit hati.

19 Januari 2019 Workshop Adjustment Program for Aqil Baligh bersama Bunda Sri Haryati S.Ag 


Sejak bertemu bunda Sri di seminar self awareness alias meraba rasa, aku berasa ketemu sosok ibu yang pas. Di rumah, masih cerewet, masak. Ibu yang sangat aku idamkan menjadi ibuku juga. Intinya mah ibu impian si inner child.  

Workshop aqil baligh ketemu lagi: "Anytime you want, WA aja atuh. Dibalas insya Allah."

Aku jadi paham, anak tidak lah butuh orangtua yang kaya raya, mereka butuhnya yang selalu sedia menerima apa adanya.

Materi kali ini tentang aqil baligh tetapi aku dapat banyak bonus: selesai dengan diri, khidmat dan taat pada suami, serta manajemen konflik yang santuy.

Agak sedih karena napas bunda udah mulai terengah-engah. Namun belajar juga kalau tanggung jawab itu gak ada yang mudah tapi selalu baliknya Lillah.

*****

Pagi ini, aku berterima kasih pada diriku untuk menemani si sulung meregulasi diri. Dia punya PR dari hari jumat yang baru akan dikerjakan 30 menit sebelum berangkat. Dia ingin ayah dan ibu membantu menulis.  Dia tidak ingin terlambat maka dia mulai menangis agar semua maunya dituruti. Aku ingat trik yang diberikan ibu Sri Hayati saat workshop Aqil Baligh Squad: SANTAI. Aku mulai memasang alarm, bilang 10 menit cukup, dan duduk di depan dia. Aku agak kaget saat diriku yang mendikte dengan suara lembut. Biasanya aku akan langsung reaktif, mengomel panjang kali lebar. 

Senang rasanya bisa langsung praktik. Aku putar lagi rekaman audio dari seminar juga workshop. Aku membuat catatan-catatan bukan untuk mengingat tetapi biar merasa mba Nuram sama bunda Sri selalu menemaniku. Alhamdulillah anak kedua juga demam jadi pas aja buat terus memelihara kewarasan.


Terus aku memasukkan catatan yang aku dapat dari supervisi FPCM hari ini tentang dreaded drama triangle dimana aku fokus kepada masalah juga kecemasan. Namun , aku juga bisa memilih untuk melipat segitigaku menjadi the empowerment dynamic untuk mengganti fokus ke jalan keluar dan apa yang aku sukai.

Filial Play Coach Mentor ini sudah hampir 7 bulan aku ikuti pertemuan supervisinya. Ada 40 jam praktik yang butuh klien sukarelawan untuk nantinya aku pilih satu jadi studi kasus. Nah ada saja halangan yang membuat aku belum dapat klien.

“Phalupi, your consistency is good. You don’t give up. Remember everbody have their own journey. Just be yourself!”

Kata-kata dari Miss Alice membuatku sadar bahwa aku belum yakin sepenuhnya dengan FPCM yang sedang aku jalani sekarang sehingga terus menunda. 

Terus Allah baik banget memberikan aku gambaran jelas di mind map. Gambaran tentang diriku bahwa aku cukup konsisten, terselamatkan dengan menekuni fotografi juga menulis, serta terus ingin tahu bagaimana meningkatkan kualitas diri. 

Sebelum membantu dan mencintai orang lain maka aku harus mencintai diriku.  Aku seolah terpanggil kembali setelah proses self healing yang panjang. Ya proses penyembuhan luka pengasuhan ini sudah dimulai sejak kuliah. Semakin intensif setelah aku pindah Jakarta kemudian membuahkan hasil baru-baru ini. Ya masih akan berlanjut tentu saja.

Meskipun tidak sempurna, hidup terus berjalan. Tidak memandang luka sebagai hal yang istimewa karena setiap orang punya. Hidupku aku yang punya terserah aku mau membawa kemana. Hidupmu kamu yang pilih, aku tak punya kuasa untuk mengubahmu.


#belajarmerdeka
#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional



Referensi

Youtube Channel Satu Persen tentang Menghilangkan Sifat Terlalu Sensitif dan Baperan (https://www.youtube.com/watch?v=av2y2O2J4Ps&t=187s)

Materi Mini Seminar: Recovery Your Innerchild oleh Nuram Mubina, M.Psi, Psikolog Klinis Dewasa

Materi Workshop Adjustment Program for Aqil Baligh (Pahami Pesan Allah dalam Pendampingan Aqil Baligh) oleh Sri Haryati, M.Ag

No comments