Jurnal Telur 4, The Sparkling Authentic PhalupiAHero

Mind map yang aku sendiri merasa keren bisa selesai
Di jurnal sebelumnya aku menyebutkan akan fokus ke self-healing sebagai keterampilan  di telur oranye yang akan aku pelajari satu bulan ke depan. Ini akan jadi awal bagiku untuk selesai dengan diri, menikmati proses, dan menyembuhkan luka pengasuhan. 

Setiap kejadian berasa hukuman. Ini aku rasakan karena memoriku berantakan. Terasa sangat sulit bagiku bangun pagi. Ya bagaimana mau bangun pagi, tidur berkualitas juga bagaikan pungguk merindukan bulan. Masih sering diteror mimpi buruk. Mimpi yang sama hampir tiga puluh dua tahun terakhir. Mimpi berada di pojok kelas 3 SD, terperangkap bersama sapu-sapu, dan tidak bisa bergerak karena bahu tertahan tangan-tangan teman. Teman yang asing. Teman yang ingin aku laporkan ke Papah. Teman yang membuatku memunculkan sosok imajiner yang sering berganti wujud dan nama. Tak apa, sebentar lagi ini akan teratasi.

Begitu aku menuliskan timeline di kertas A3, ternyata sangat membantuku untuk bisa menggambarkan diriku. Aku tidak memiliki rutinitas, target jangka pendek, juga tanggung jawab untuk menerima konsekuensi. Sangat mudah terpengaruh orang lain untuk mendapatkan pengakuan. Menghindari konflik untuk tetap dianggap baik. Sangat takut sendirian. Apa saja yang tertunda kemudian terlewatkan begitu saja

Menerima diri sendiri tanpa tapi. The Sparkling Authentic PhalupiAhero 💖💖💖. Proyek yang ternyata membuatku bisa menyadari diri. Suaraku, wajahku, bahkan napas yang begitu berat setiap helaannya juga lemak-lemak yang begitu ingin aku musnahkan.

Wow. Sebegitu benci itu kah kamu pada dirimu sendiri duhai Phalupi Apik Herowati. Oh tentu tidak, ini lebih seperti menemukan gunting saat gatal tetapi tangan tak sampai untuk menggaruk. Lega dan harus hati-hati agar tidak melukai diri di saat bersamaan. 


*****


Membangun kembali kesadaran diri
Setelah menulis self-healing sebagai ilmu yang akan aku pelajari di telur oranye, aku langsung ketemu acara Point of You. Aku berterima kasih kepada mba Diana Amalia Zein untuk acara yang sangat luar biasa ini juga mba Amel yang Tuhan kirim satu paket untuk menggenapi tujuanku. Tujuan yang awalnya tampak tidak penting ternyata jadi inti untukku menjelaskan self recognition, self awareness, self motivations, dan self regulation.

Point of You adalah salah satu pendekatan psikologi yang menggunakan foto-foto unik. Foto tersebut diteliti selama 4 tahun agar bisa memberikan insight dari dalam diri seseorang. 

Di jeda 7 menit, aku menangis sepuasnya. Menumpahkan segala rasa. Marah, lelah, sesak napas, hingga kerak-kerak hitam. Setelah membuang semua ke laut, aku memeluk diriku. Berterima kasih telah begitu kuat bertahan hingga saat ini. Aku berjanji tidak akan mengingat kembali kenangan pahit untuk menghukum diri sendiri tetapi refleksi. Bertanggung jawab atas semua pilihan agar kedewasaan emosi terbentuk. 


Ini adalah foto pilihanku
Di foto yang pertama aku memilih pelukan. Pelukan yang aku rindukan. Pelukan yang menjawab bahwa dalam keadaan paling sulit pun, aku masih punya satu hal yang bisa aku jadikan pegangan. Titik balik bagiku untuk mulai mandiri baik secara emosional maupun raga. Setelah itu foto yang kedua membuatku semakin yakin ada jalan untukku mandiri dengan memotret, jalan-jalan, juga jeda untuk menulis sebagai bahan kesadaran diri.

Untuk foto yang ketiga dan keempat, aku dalam tahap percaya diri. Aku bisa menceritakan semua kejadian traumatis dengan baik. Kepala masih sedikit pusing, dada juga sesak tetapi aku mendengarkan dengan baik suara yang keluar dari mulutku. Aku tidak berusaha menyangkal. Aku menerima.

*****

Self Recognition. Sampai saat ini aku belum memiliki rutinitas. Itulah kenapa aku tulis rutinitas pertama di mind map milikku. Rutinitas membantuku mengumpulkan kembali memori-memori yang berantakan sehingga aku akan baik-baik saja. Aku mengenali diriku sebagai orang yang sensi dan itu tidak masalah. Bukankah dari semua kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan membuatku lebih kuat.

Menikmati saat ini adalah kunci bertahan hidup
Aku menyadarkan diriku agar bersungguh-sungguh membangkitkan naluri mengulang lagi dan lagi meskipun itu sepertinya tidak menyenangkan hati. Toh apa yang tidak membunuhku akan menjadikanku lebih kuat. Referensi dari buku IKIGAI yang ditulis Ken Mogi, Ph.D. Lakukan pik! Bila itu membuatmu bahagia, puas, dan penuh.

Bayangkan kamu sedang menutup lubang yang selama ini berusaha kamu isi tetapi tidak pernah penuh. Tutup lubang itu pik!

Self Awareness = self care + self love. Aku tulis "MAKE IT PERSONAL" karena aku sangat sering terjebak memenuhi ekspektasi orang lain padahal itu bukan yang membuatku bahagia. Aku mudah merasa bersalah padahal jelas-jelas itu bukan kesalahanku. 


Aku mulai menjadi pahlawan bagi diriku sendiri sehingga melihat kenyataan juga fakta pada tempatnya. Perjalanan berliku, wajib dicoba, dan percaya pada proses.

Self Motivations after self healing. Motivasi ini timbul setelah aku merasa stabil dengan diriku. Cukup konsisten. Terbukti dengan bertahan selama 32 tahun. Jadwal seminar, workshop, terapi sudah ada tinggal dijalani.

Semua semacam hadiah dari Tuhan untukku yang mampu bertahan karena Tuhan sayang

Self regulation. Dalam menyembuhkan diri ada kegiatan untuk mengelola emosi yang aku lakukan. Pertama dan utama : MUSIK YANG MENENANGKAN. Buatku yang gak ada lirik. Lirik itu bikin mikir. Njaluk adem malah mikir ki piye karepmu pik. 

Nah, pada awalnya aku mengira regulasi itu telen mentah-mentah. Setelah praktik Point of You jadi paham kalau regulasi merupakan cara diri menetapkan batasan. Oh kalau gak punya duit aku jadi nunda makan yang otomatis laper. Laper jadi migren terus efeknya marah-marah ke anak. 

Regulasi juga seperti jeda untuk mengembalikan kesadaran diri pada saat ini. Aku cenderung menginginkan semua hal dalam satu waktu dalam sekejap mata. Dengan regulasi, ada prioritas yang bisa aku ambil. Bukan semua tetapi satu per satu. Aku ingat kembali topi mana yang sedang aku pakai apakah diriku sendiri, istri, ibu, atau tetangga. Bila saat ini aku sebagai ibu maka kebutuhan  mendesak apa yang sedang anakku butuhkan untuk dipenuhi. 


Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam mengelola emosi, INI CARAKU
*****

CARAKU MENYELESAIKAN PROYEK ini: membaca buku, menonton video atau film, mengikuti seminar dan workshop, praktik dari hari ke hari, reflecting, dan review.

Aku menjelaskan kepada diriku sendiri melalui tulisan ini jika apapun yang aku lakukan selama ini, meskipun terkadang terlihat tidak berguna, aku satu hari lebih dekat dengan tujuanku. Hadiah bukanlah hal yang salah apalagi egois. Tidak apa-apa mengulangi kegiatan sebagai rutinitas kemudian mendapatkan waktu pribadi untuk melihat drama korea. Asal aku tahu rencana kegiatanku hari ini sudah selesai dikerjakan.

Aku mulai mengenali keindahan dari rutinitas. Niat tidak selalu harus besar dan mewah hingga akhirnya tidak tergapai. KEGEMBIRAAN DARI HAL-HAL KECIL. Momen, pelukan, pujian yang membangun, juga bantuan kecil seperti memandikan anak-anak. Cukup. Nantinya itulah yang akan membuatku tetap bertahan hingga akhir. 

Tidak ada yang salah dengan ketidaksempurnaan. Tidak apa-apa. Toh seperti hutang, menerima diri sendiri itu wajib dilunasi.

SELAMAT BERJUANG DIRIKU! I deserve the best of me.

#belajarmerdeka
#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#materi4
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbantch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

No comments