Jurnal Ulat 2, Sudah Sembuhkah Aku?

3 menit yang betul-betul mengubahku. Takut? Iya. Aku berusaha menenangkan diri agar tidak pingsan saat syuting. Tidak mudah menceritakan kembali luka yang dengan susah payah aku timbun jauh di alam bawah sadar. Namun setelah semua itu keluar, LEGA LUAR BIASA


Klik Bila Penasaran Videonya

Terbuka, setelah syuting video untuk tugas tahap satu Bunda Cekatan tahap ulat-ulat di minggu kedua. Perekaman video itu secara tidak langsung membuatku mulai merangkai kepingan puzzle ingatan yang membuka luka-luka hati. Luka itu sudah tidak bisa berubah. Sudah terjadi di masa lalu.

Perih, berdarah, ada bekas pula untuk diingat. Menyangkal pasti. Reaksi awal yang normal, manusiawi pula. Gak kok aku gak papa. Aku baik-baik saja. 

Oke siapa sih orang yang mau terluka? Padahal kalau aku mengingat kembali; aku hadir ke dunia sudah berteman dengan segala rasa sakit, berdarah-darah serta keinginan untuk bertahan hidup yang kuat. Prematur lho... 1,6 kilogram. Aku bisa bertahan, tumbuh sehat, alhamdulillah normal. 


Eh umur 9 tahun berhadapan lagi dengan luka, aku langsung terpecah-pecah. Parah.

Ada emosi yang gagal aku sadari, kenali, juga luapkan dengan baik. Kalau senang, aku terlalu aktif berkegiatan hingga tidak mau istirahat. Kalau sedih, gegoleran saja seharian nonton video di laptop atau youtube. 

Jatuhnya self diagnose dulu. Aku berpikir ketika sudah praktik sadar napas terus terapi-terapi  hanya dengan kesimpulan aku kayaknya sakit mental deh, semua akan selesai. Ternyata tidak secepat itu duhai Nonik. Ada lubang kosong yang isinya harus diakses di alam bawah sadarku. 

Titik balik yang aku sadari benar-benar adalah ketika keinginan bunuh diri, menyakiti anak-anak, dan nyeri  di setiap hembusan napas muncul lagi. Luapan yang merusak: teriakan Gian, tangisan Geni, dan badai rumah tangga. Barulah aku dengan tertatih mulai datang ke profesional untuk meminta bantuan pendampingan.

Lantas apakah aku sudah sembuh? Aku masih kok kadang membunyikan alarm yang salah. Lelah bukannya istirahat malah ngomel-ngomel saat anak main dengan berantakan. 

Ya iyalah, kebiasaan hampir 32 tahun mau berubah dalam satu kedipan mata, dikata main sulap.

Ayo pik, nikmati prosesnya.

*****

Jurnal minggu kedua tahap ulat-ulat ini, menambah lagi ilmu dan teknik buat aku untuk menghadapi kenyataan. Aku ingin menyimpulkan tanpa harus terburu-buru.




Dengan tetap menggunakan trik: menarik tetapi tidak tertarik, aku memutuskan mengambil 3 potluck dari temen-temen BunCek yang aku jadikan makananku. Cukup. Biar tidak menghabiskan waktu terus kekenyangan. Setelah itu malah tidur melulu lupa jadi kupu-kupu yang cantik.

Oke, aku bahas satu-satu ya tentang apa saja yang aku ambil dari teman-teman untuk mendukung self healingku.

1. Farda Semanggi

Mba Farda menjelaskan tentang self-care project miliknya. Mindful mom bukan mindfull. Hihihi... Beda satu huruf aja, jauh beda artinya.

Teknik yang aku ambil yaitu stop-jeda-respon. 

Setelah merasa sehat fisik dan mental, aku perlu teknik ini agar terus konsisten merawat diri baik secara fisik maupun mental. Aku meyakini jika sakit fisik bisa muncul waktu kesahatan mentalku terganggu. 

7 detik menarik napas
4 detik tahan napas jeda
8 detik melepaskan perlahan

Aku berharap teknik ini efektif untuk mengurangi salah alarmku. Biar bisa tetap santai menghadapi lengkingan suara tangisan anak.

2. Ratna Delima N

Berjudul "Drive Yourself", potluck mba Ratna DN ini jadi panduanku untuk terampil dalam berpikir, memilih, memutuskan. Bukan karena orang lain yang biasanya aku lakukan tetapi pilihan sadar tanpa penyesalan dan penuh pertangung jawaban.

3. Almira Hasna Z

Gejala sakit fisik memiliki upaya pencegahan begitu pula gangguan mental. 

Mba Almira berbagi bagaimana cara tetap menunaikan emosi tidak menyenangkan. Teknik ini dia dapatkan dari sesi berbagi oleh mas Aprilianto dari @latihati. Memarkir emosi tidak menyenangkan agar tidak muncul dulu di hadapan orang lain.


Cara pertama dengan membuka postur tubuh seperti membusungkan dada, mengangkat alis, atau bisa dengan bernapas lebih lembut. Kemudian cara kedua bisa praktik wiper finger.

Ibu jari tangan kanan kita kaitkan ke jari kelingking sementara ibu jari tangan kiri kaitkan dengan telunjuk.

Gerakkan searah jarum jam dengan posisi akhir tetap ibu jari tangan kanan dengan kelingking, ibu jari tangan kiri masih barsama telunjuk.

Aku mencoba, baliknya ibu jari kanan kiri barengnya telunjuk semua. Terus jadi ketawa. Mungkin kalau terus berlatih bisa.

Baru gak sesuai posisi aja sudah bisa mengacak emosi. Apalagi sudah terbiasa pasti aku lebih yahud mengelola emosi.

***


Standar sembuhku berubah. Bukan lagi jadi yang bergantung secara emosional ke psikolong atau konselor tetapi aku memilih mandiri. 

Naik turun emosi itu pasti, pilihannya apakah aku mau bermental korban atau melangkah maju meraih tujuan yang sudah aku tetapkan.

Sadfishing atau memancing simpati dengan menceritakan kesedihan agar menarik perhatian sedang jadi tren di era media sosial sekarang. Susah susah gampang menempatkan empati yang pas. Malah seringnya tergelincir ke simpati berlebihan. Bukan menyalahkan, lebih ke saran sedikit menggeser sudut pandang. 

Gangguan mental sebaiknya tidak digunakan untuk menarik perhatian apalagi ketenaran. Segera dapatkan bantuan. Aku akan mengasah lagi empatiku agar tak salah jalan dan bisa tetap sampai tujuan.


#belajarmerdeka
#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu2
#materi2
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Jurnal Ulat 1, Proses Penyembuhan Diri: Hidup Penuh Luka Itu Normal Saja


Menjadi dewasa itu sama sekali bukan pilihan melainkan kewajiban yang harus aku lakukan dengan penuh kesadaran. 

Aku menatap jurnal ini bolak-balik. Gagal menemukan judul. Hahaha...

Terima saja, tarik napas panjang. Tenangkan diri. Masih ada banyak waktu. Santai, santai, santai!

Baru kemarin membahas dengan seorang teman jika jurnal tidak bisa dikerjakan seperti sulap. Simsalabim jadi. Namun rangkaian aksi; melihat live materi di grup FB Institut Ibu Profesional, mencatat, membaca referensi, dan akhirnya merangkai kata untuk mengikat semua ilmu.

Aku tahu dari sesi ngobrol itu kalau mengerjakan tugas dalam tekanan bagiku adalah tantrum tak berkesudahan. Bukan ide yang mengalir lancar. Aku bisa langsung berubah menjadi momster. Aku mewajibkan anak-anak untuk memahami diriku. Mereka harus main, menunda makan siang, dan tidak boleh berisik. Satu aja dilanggar, bisa bubar.

Jurnal bukanlah hal yang mendesak tetapi jadi begitu penting karena tiba-tiba aku panik. Bagaimana kalau telat? Otot-otot menegang kemudian aku mengharuskan diri untuk duduk fokus menyelesaikan jurnal. Anak-anak terbengkalai. Lupa kalau punya anak dua, lupa harus menyiapkan makan siang, dan lupa cucian piring sudah nunda tiga hari. Ini sambil ngetik sambil geleng-geleng sendiri. Normal pik normal. Tak perlu berpikir kamu adalah yang paling sengsara sendiri.

Pada saat level ulat-ulat dimulai, aku menetapkan target untuk mengerjakan narasi satu hari sebelum deadline. Nah Selasa bisa aku baca ulang dan sunting. Eh tapi enakan Kamis sudah mulai membuat kerangka biar Jumat bisa sunting terus posting. Asyik kan Jumat sampai selasa konsisten punya postingan. Mulai deh mulai perfeksionis kumat. Hahaha…

Tahapan ulat sangat menantang bagiku. Aku begitu mudah terpengaruh karena ada banyak makanan yang menarik bersliweran di grup tetapi sesuai saran ibu Septi, aku akan menekankan pada prinsip: menarik tetapi tidak tertarik. Aku akan memilih ilmu yang sesuai dengan tujuanku di mind map milikku dan tetap fokus.  


Ilmu-ilmu tentang self healing yang bisa membuatku berhenti mendiagnosis diriku sendiri. Aku sadar kalau aku ternyata sangat mudah untuk mendengarkan orang kemudian peduli.  Ya terlalu memikirkan semua apa yang orang omongkan. 

"Gimana kalau aku gak peduli terus orang ninggalin aku?"

Aku sangat tidak suka sendiri. Aku lebih suka mengorbankan diriku, menerima disakiti, dan bertahan dengan luka yang ada untuk cinta semu.

Berbanding terbalik dengan sikap tidak konsistenku. Aku bisa aja menunda seharian gegoleran di kasur. Anak makan apa yang ada, kalau rewel aku omelin, suami pulang masih dengan daster tidur semalam. “Gimana suami sama anak mau tambah sayang  coba?” Abis itu berlindung dibalik: aku kan korban kekerasan. 

Aku menggambarkan self healing sebagai perban untuk mencegah infeksi di hati. Perban-perban berupa pengetahuan yang bisa mengubah persepsi dari rasa sakit menjadi pembelajaran juga penguatan.

Self healing ini nantinya akan membantuku tetap sadar dan waspada dengan setiap keputusan yang aku ambil. 


*****
18 Januari 2019 Mini Seminar: Recovery Your Inner Child oleh Nuram Mubina, M.Psi, Psikolog Klinis Dewasa


Materi siap, diri siap. Klop. Aku merasa jauh lebih baik dalam hal mengontrol diriku. 

Innerchild merupakan bagian diriku yang ada di alam bawah sadar. Dalam kasusku, Nonik (anak kecil usia 9 tahun) sudah sangat lama menungguku datang untuk diselamatkan. 

Aku merasa berat awalnya. Sulit lah, mengorek kembali luka lama. Ya gimana pik, konsekuensi kalau aku mau lebih sadar.


Dari awal kelas Bunda Cekatan, aku bilang ke diriku kalau menulis bukan untuk pamer kosakata tetapi betul-betul untuk mengalirkan rasa. Sama, aku bisa menggunakan jurnal untuk berdialog dengan innerchild aku. Sehingga; aku bisa menulis dengan penuh kesadaran, tidak perlu takut salah, juga yang paling utama baca lagi terus edit lagi. Bukan lagi nulis asal-asalan penggugur kewajiban.

Mba Nuram, sangat terbuka untuk menerima klien. Berbeda sekali dengan psikolog klinis dewasa yang ada di imajinasiku dan yang kemarin-kemarin aku temui. 

Satu hal yang aku catat dan jadikan prioritas dari mba Nuram adalah KEMANDIRIAN EMOSI. Penyembuhan akan maksimal dilakukan oleh diri sendiri. Psikolog dan psikiater serta para konselor sebagai mediator. 

Seringnya aku, saat menemukan mediator yang sesuai, jadi sangat tergantung. Kalau sudah cocok kadang jadi bahaya buat aku. Langsung lebay seolah tanpa psikolog itu aku tak mampu bertahan dari gempuran kesakitan luka dalam. Kemandirian emosi inilah sebaiknya dibawa santai. Psikolog bersikap sebijak mungkin agar klien tidak merasa tertolak dan sakit hati.

19 Januari 2019 Workshop Adjustment Program for Aqil Baligh bersama Bunda Sri Haryati S.Ag 


Sejak bertemu bunda Sri di seminar self awareness alias meraba rasa, aku berasa ketemu sosok ibu yang pas. Di rumah, masih cerewet, masak. Ibu yang sangat aku idamkan menjadi ibuku juga. Intinya mah ibu impian si inner child.  

Workshop aqil baligh ketemu lagi: "Anytime you want, WA aja atuh. Dibalas insya Allah."

Aku jadi paham, anak tidak lah butuh orangtua yang kaya raya, mereka butuhnya yang selalu sedia menerima apa adanya.

Materi kali ini tentang aqil baligh tetapi aku dapat banyak bonus: selesai dengan diri, khidmat dan taat pada suami, serta manajemen konflik yang santuy.

Agak sedih karena napas bunda udah mulai terengah-engah. Namun belajar juga kalau tanggung jawab itu gak ada yang mudah tapi selalu baliknya Lillah.

*****

Pagi ini, aku berterima kasih pada diriku untuk menemani si sulung meregulasi diri. Dia punya PR dari hari jumat yang baru akan dikerjakan 30 menit sebelum berangkat. Dia ingin ayah dan ibu membantu menulis.  Dia tidak ingin terlambat maka dia mulai menangis agar semua maunya dituruti. Aku ingat trik yang diberikan ibu Sri Hayati saat workshop Aqil Baligh Squad: SANTAI. Aku mulai memasang alarm, bilang 10 menit cukup, dan duduk di depan dia. Aku agak kaget saat diriku yang mendikte dengan suara lembut. Biasanya aku akan langsung reaktif, mengomel panjang kali lebar. 

Senang rasanya bisa langsung praktik. Aku putar lagi rekaman audio dari seminar juga workshop. Aku membuat catatan-catatan bukan untuk mengingat tetapi biar merasa mba Nuram sama bunda Sri selalu menemaniku. Alhamdulillah anak kedua juga demam jadi pas aja buat terus memelihara kewarasan.


Terus aku memasukkan catatan yang aku dapat dari supervisi FPCM hari ini tentang dreaded drama triangle dimana aku fokus kepada masalah juga kecemasan. Namun , aku juga bisa memilih untuk melipat segitigaku menjadi the empowerment dynamic untuk mengganti fokus ke jalan keluar dan apa yang aku sukai.

Filial Play Coach Mentor ini sudah hampir 7 bulan aku ikuti pertemuan supervisinya. Ada 40 jam praktik yang butuh klien sukarelawan untuk nantinya aku pilih satu jadi studi kasus. Nah ada saja halangan yang membuat aku belum dapat klien.

“Phalupi, your consistency is good. You don’t give up. Remember everbody have their own journey. Just be yourself!”

Kata-kata dari Miss Alice membuatku sadar bahwa aku belum yakin sepenuhnya dengan FPCM yang sedang aku jalani sekarang sehingga terus menunda. 

Terus Allah baik banget memberikan aku gambaran jelas di mind map. Gambaran tentang diriku bahwa aku cukup konsisten, terselamatkan dengan menekuni fotografi juga menulis, serta terus ingin tahu bagaimana meningkatkan kualitas diri. 

Sebelum membantu dan mencintai orang lain maka aku harus mencintai diriku.  Aku seolah terpanggil kembali setelah proses self healing yang panjang. Ya proses penyembuhan luka pengasuhan ini sudah dimulai sejak kuliah. Semakin intensif setelah aku pindah Jakarta kemudian membuahkan hasil baru-baru ini. Ya masih akan berlanjut tentu saja.

Meskipun tidak sempurna, hidup terus berjalan. Tidak memandang luka sebagai hal yang istimewa karena setiap orang punya. Hidupku aku yang punya terserah aku mau membawa kemana. Hidupmu kamu yang pilih, aku tak punya kuasa untuk mengubahmu.


#belajarmerdeka
#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional



Referensi

Youtube Channel Satu Persen tentang Menghilangkan Sifat Terlalu Sensitif dan Baperan (https://www.youtube.com/watch?v=av2y2O2J4Ps&t=187s)

Materi Mini Seminar: Recovery Your Innerchild oleh Nuram Mubina, M.Psi, Psikolog Klinis Dewasa

Materi Workshop Adjustment Program for Aqil Baligh (Pahami Pesan Allah dalam Pendampingan Aqil Baligh) oleh Sri Haryati, M.Ag

Jurnal Telur 4, The Sparkling Authentic PhalupiAHero

Mind map yang aku sendiri merasa keren bisa selesai
Di jurnal sebelumnya aku menyebutkan akan fokus ke self-healing sebagai keterampilan  di telur oranye yang akan aku pelajari satu bulan ke depan. Ini akan jadi awal bagiku untuk selesai dengan diri, menikmati proses, dan menyembuhkan luka pengasuhan. 

Setiap kejadian berasa hukuman. Ini aku rasakan karena memoriku berantakan. Terasa sangat sulit bagiku bangun pagi. Ya bagaimana mau bangun pagi, tidur berkualitas juga bagaikan pungguk merindukan bulan. Masih sering diteror mimpi buruk. Mimpi yang sama hampir tiga puluh dua tahun terakhir. Mimpi berada di pojok kelas 3 SD, terperangkap bersama sapu-sapu, dan tidak bisa bergerak karena bahu tertahan tangan-tangan teman. Teman yang asing. Teman yang ingin aku laporkan ke Papah. Teman yang membuatku memunculkan sosok imajiner yang sering berganti wujud dan nama. Tak apa, sebentar lagi ini akan teratasi.

Begitu aku menuliskan timeline di kertas A3, ternyata sangat membantuku untuk bisa menggambarkan diriku. Aku tidak memiliki rutinitas, target jangka pendek, juga tanggung jawab untuk menerima konsekuensi. Sangat mudah terpengaruh orang lain untuk mendapatkan pengakuan. Menghindari konflik untuk tetap dianggap baik. Sangat takut sendirian. Apa saja yang tertunda kemudian terlewatkan begitu saja

Menerima diri sendiri tanpa tapi. The Sparkling Authentic PhalupiAhero 💖💖💖. Proyek yang ternyata membuatku bisa menyadari diri. Suaraku, wajahku, bahkan napas yang begitu berat setiap helaannya juga lemak-lemak yang begitu ingin aku musnahkan.

Wow. Sebegitu benci itu kah kamu pada dirimu sendiri duhai Phalupi Apik Herowati. Oh tentu tidak, ini lebih seperti menemukan gunting saat gatal tetapi tangan tak sampai untuk menggaruk. Lega dan harus hati-hati agar tidak melukai diri di saat bersamaan. 


*****


Membangun kembali kesadaran diri
Setelah menulis self-healing sebagai ilmu yang akan aku pelajari di telur oranye, aku langsung ketemu acara Point of You. Aku berterima kasih kepada mba Diana Amalia Zein untuk acara yang sangat luar biasa ini juga mba Amel yang Tuhan kirim satu paket untuk menggenapi tujuanku. Tujuan yang awalnya tampak tidak penting ternyata jadi inti untukku menjelaskan self recognition, self awareness, self motivations, dan self regulation.

Point of You adalah salah satu pendekatan psikologi yang menggunakan foto-foto unik. Foto tersebut diteliti selama 4 tahun agar bisa memberikan insight dari dalam diri seseorang. 

Di jeda 7 menit, aku menangis sepuasnya. Menumpahkan segala rasa. Marah, lelah, sesak napas, hingga kerak-kerak hitam. Setelah membuang semua ke laut, aku memeluk diriku. Berterima kasih telah begitu kuat bertahan hingga saat ini. Aku berjanji tidak akan mengingat kembali kenangan pahit untuk menghukum diri sendiri tetapi refleksi. Bertanggung jawab atas semua pilihan agar kedewasaan emosi terbentuk. 


Ini adalah foto pilihanku
Di foto yang pertama aku memilih pelukan. Pelukan yang aku rindukan. Pelukan yang menjawab bahwa dalam keadaan paling sulit pun, aku masih punya satu hal yang bisa aku jadikan pegangan. Titik balik bagiku untuk mulai mandiri baik secara emosional maupun raga. Setelah itu foto yang kedua membuatku semakin yakin ada jalan untukku mandiri dengan memotret, jalan-jalan, juga jeda untuk menulis sebagai bahan kesadaran diri.

Untuk foto yang ketiga dan keempat, aku dalam tahap percaya diri. Aku bisa menceritakan semua kejadian traumatis dengan baik. Kepala masih sedikit pusing, dada juga sesak tetapi aku mendengarkan dengan baik suara yang keluar dari mulutku. Aku tidak berusaha menyangkal. Aku menerima.

*****

Self Recognition. Sampai saat ini aku belum memiliki rutinitas. Itulah kenapa aku tulis rutinitas pertama di mind map milikku. Rutinitas membantuku mengumpulkan kembali memori-memori yang berantakan sehingga aku akan baik-baik saja. Aku mengenali diriku sebagai orang yang sensi dan itu tidak masalah. Bukankah dari semua kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan membuatku lebih kuat.

Menikmati saat ini adalah kunci bertahan hidup
Aku menyadarkan diriku agar bersungguh-sungguh membangkitkan naluri mengulang lagi dan lagi meskipun itu sepertinya tidak menyenangkan hati. Toh apa yang tidak membunuhku akan menjadikanku lebih kuat. Referensi dari buku IKIGAI yang ditulis Ken Mogi, Ph.D. Lakukan pik! Bila itu membuatmu bahagia, puas, dan penuh.

Bayangkan kamu sedang menutup lubang yang selama ini berusaha kamu isi tetapi tidak pernah penuh. Tutup lubang itu pik!

Self Awareness = self care + self love. Aku tulis "MAKE IT PERSONAL" karena aku sangat sering terjebak memenuhi ekspektasi orang lain padahal itu bukan yang membuatku bahagia. Aku mudah merasa bersalah padahal jelas-jelas itu bukan kesalahanku. 


Aku mulai menjadi pahlawan bagi diriku sendiri sehingga melihat kenyataan juga fakta pada tempatnya. Perjalanan berliku, wajib dicoba, dan percaya pada proses.

Self Motivations after self healing. Motivasi ini timbul setelah aku merasa stabil dengan diriku. Cukup konsisten. Terbukti dengan bertahan selama 32 tahun. Jadwal seminar, workshop, terapi sudah ada tinggal dijalani.

Semua semacam hadiah dari Tuhan untukku yang mampu bertahan karena Tuhan sayang

Self regulation. Dalam menyembuhkan diri ada kegiatan untuk mengelola emosi yang aku lakukan. Pertama dan utama : MUSIK YANG MENENANGKAN. Buatku yang gak ada lirik. Lirik itu bikin mikir. Njaluk adem malah mikir ki piye karepmu pik. 

Nah, pada awalnya aku mengira regulasi itu telen mentah-mentah. Setelah praktik Point of You jadi paham kalau regulasi merupakan cara diri menetapkan batasan. Oh kalau gak punya duit aku jadi nunda makan yang otomatis laper. Laper jadi migren terus efeknya marah-marah ke anak. 

Regulasi juga seperti jeda untuk mengembalikan kesadaran diri pada saat ini. Aku cenderung menginginkan semua hal dalam satu waktu dalam sekejap mata. Dengan regulasi, ada prioritas yang bisa aku ambil. Bukan semua tetapi satu per satu. Aku ingat kembali topi mana yang sedang aku pakai apakah diriku sendiri, istri, ibu, atau tetangga. Bila saat ini aku sebagai ibu maka kebutuhan  mendesak apa yang sedang anakku butuhkan untuk dipenuhi. 


Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam mengelola emosi, INI CARAKU
*****

CARAKU MENYELESAIKAN PROYEK ini: membaca buku, menonton video atau film, mengikuti seminar dan workshop, praktik dari hari ke hari, reflecting, dan review.

Aku menjelaskan kepada diriku sendiri melalui tulisan ini jika apapun yang aku lakukan selama ini, meskipun terkadang terlihat tidak berguna, aku satu hari lebih dekat dengan tujuanku. Hadiah bukanlah hal yang salah apalagi egois. Tidak apa-apa mengulangi kegiatan sebagai rutinitas kemudian mendapatkan waktu pribadi untuk melihat drama korea. Asal aku tahu rencana kegiatanku hari ini sudah selesai dikerjakan.

Aku mulai mengenali keindahan dari rutinitas. Niat tidak selalu harus besar dan mewah hingga akhirnya tidak tergapai. KEGEMBIRAAN DARI HAL-HAL KECIL. Momen, pelukan, pujian yang membangun, juga bantuan kecil seperti memandikan anak-anak. Cukup. Nantinya itulah yang akan membuatku tetap bertahan hingga akhir. 

Tidak ada yang salah dengan ketidaksempurnaan. Tidak apa-apa. Toh seperti hutang, menerima diri sendiri itu wajib dilunasi.

SELAMAT BERJUANG DIRIKU! I deserve the best of me.

#belajarmerdeka
#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#materi4
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbantch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

[Komentar Apik] Istri Pro, Suami Tuntas!

buku sederhana penguat niat
Anak belajar dari pernikahan kedua orangtua. Dari bahasa kasih, interaksi komunikasi, hingga penyelesaian masalah rumah tangga. Luka-luka yang tertoreh selama masa pembelajaran akan terbawa hingga memiliki rumah tangga sendiri. 

Waktu berlalu tetapi tidak dengan luka. Bagaimana kehidupan pernikahan anak yang mendapatkan pengalaman pernikahan penuh kekerasan dari orangtuanya? Bisa saja sama persis dengan pernikahan orangtua yang berujung perpisahan atau bertahan dan jauh lebih sehat.

Bagi kalian pasangan yang ingin membingkai ulang apa itu pernikahan, bagaimana cara merajut cinta yang sehat, dan menikmati serta menjalani dengan lebih sadar; buku tulisan mba Lita Edia, S.Psi memberikan wacana apa itu istri pro dam suami tuntas

Pro dalam batasan bersungguh-sungguh menjadikan diri istri yang menjalani pernikahan sebagai ibadah. Ya memasukkan ketaatan kepada Allah dalam tujuan membina rumah tangga.

"Ah yang punya ilmu  juga  seringnya kasih alasan khilaf."

Pertanyaan lanjutannya adalah, "Apakah kamu sudah tuntas dengan dirimu sendiri?" Diri yang tidak tuntas kan membentur konsep diri. Misal konsep diri suami yang sehat adalah  tahu tugasnya untuk menafkahi lalu menjadi pembimbing bagi istri dan juga anak-anak. Lantas apa yang terjadi jika suami masih saja berkutat dengan luka pengasuhan?

Istri menganalisis ulang tujuan pernikahan yang dahulu dia harapkan. Sedikit parah, istri menemukan jika dahulu dia menikah dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar. Ada tuntutan  si calon suami sangat disukai ayahnya, udah lama berpisah ujungnya ketemu lagi, dan semua proses begitu mudah. Cinta membara juga sudah dikredit selama 2 tahun masa pacaran. 

Setelah menikah si istri hanya menuntut dan menuntut. Sangat tergantung kepada suami untuk menciptakan rasa bahagia, Baik dari keakraban, hasrat hingga komitmen. Padahal untuk merajut cinta butuh berdua kan. 

Rasanya seperti tidak ada harapan di masa depan dengan pernikahan seperti ini. Keduanya sama-sama dalam keadaan terluka dan masih tinggal di masa lalu masing-masing.  

Istri bisa saja gila tapi bertahan sementara suami masih  sibuk tebar pesona sana sini. Tidak ada lagi keintiman, gairah, apalagi komitmen. 

pernikahan bisa langgeng karena cobaan yang bisa terselesaikan

KEINTIMAN  adalah kedekatan emosional yang begitu hangat di awal. Aku ingat sekali bagaimana agak senewen nada bicara Papah saat kasih nasihat, "Bangun lah dulu dari suami mu, beresin diri baru bangunin anak-anak. Bete lah dia kamu masih bau bantal dia udah rapi. OGAH BANGET CIUMIN ISTRI BAU ILER." 

GAIRAH yang sering salah sangka. Dikira setelah menikah akan indah aja gitu berduaan gak ada gangguan. Ternyata setelah menikah tuntutan semakin menjadi. Satu saja lipatan perut sudah jadi acc sah untuk berpaling dari pasangan masing-masing. "Woy, gue gendut, buluk, kaya inem gini juga gara-gara punya anak. Sini kasih modal yang banyak buat perawatan. Bukannya kasih ke bini malah foya-foya sama perek." Teriakan yang aku yakin tak akan terdengar bila masing-masing punya cukup ilmu tentang pernikahan untuk dipraktikkan.

KOMITMEN jujur membuat aku menarik napas panjang. Kesediaan untuk terus bersama menyelesaikan tantangan, masalah, hingga target demi masa depan yang lebih baik. Justru di tahap komitmen inilah, semua masalah yang ada sebaiknya dibawa ke Tuhan yang sama. Mendekat sama-sama. Dengan memasukkan Tuhan, kekuatan tumbuh dari dalam. 




***

Di buku setipis 48 halaman semua dibahas lagi dari awal bagaimana cinta tidak melulu hadir di awal tetapi sebaiknya dipelihara sepanjang pernikahan. Artinya apa? Bisa saja yang awalnya cinta kemudian habis dan pernikahannya berubah jadi medan perang. Ya walaupun kemudian pasangan tahu kalau perang dalam pernikahan itu wajar terjadi. Lha ya gimana gak perang coba: latar belakang beda, cara asuh juga, belum lagi pengalaman-pengalaman hidup. Semua yang membentuk gambaran diri, gambaran ideal diri, dan ujungnya kepercayaan diri sangat mempengaruhi pola interaksi serta komunikasi.

"Penghakiman, ceramah, label negatif, dan berbagai kesalahan komunikasi hanya bisa dihindari dengan cara meyakini bahwa komunikasi perlu strategi. Sementara itu, komunikasi juga perlu dilatih." (halaman 37)
Tentu saja pasangan sebaiknya ikhlas dan legowo untuk saling membuka diri. Aku bilang sebaiknya karena rasa sadar itu bertahan lebih lama ketimbang diharus-harusin. 

Kan sudah lama nikah, atas nama cinta, saling kenal dalam waktu yang tak sebentar. Setelah menikah semua ekspektasi yang ada di kepala masing-masing individu berbeda. Kemudian baru sadar ada orang lain yang tidur di satu ranjang bareng, ya itulah menikah. Beradaptasi dengan kejutan-kejutan yang satu sama lain tunjukkan. Sudah tidak ada ekspektasi tanpa komunikasi. Sudah hidup satu atap, satu ranjang, bahkan satu selimut. 

menikah adalah momen setelah ijab qabul

***

🧕"Besok mau dimasakin apa?"
👨"Emang uangnya ada yang buat beli bahan?"

Sebel kalau diterusin. Ini nanya dibales nanya. Hal sepele yang bisa saja ditumpuk kemudian suatu saat meledak.

Pernikahan, penyesuaian sepanjang hayat. Kalau hal-hal kecil aja gak mulai dibiasakan untuk dibicarakan, apalagi hal besar yang sensitif dan menggugah emosi.



Hayo ngaku siapa yang berharap pasangannya bisa baca pikiran!

Nampol banget kan? Mentang-mentang nikah terus bisa lah ya bahasa kalbu. Gak perlu ngomong pasangan sudah wajib tahu bin paham gitu.

Istri pro dalam definisi pribadi aku adalah aku yang percaya akan diriku, mau terus berubah, dan bertanggung jawab dalam semua proses. Tentu kembali pada fitrah menemani suami dan anak menuntaskan peran masing-masing.

***

Di jurnal 2 aku telah menemukan keterampilan berkomunikasi, editing, manajemen waktu, mendelegasikan, dan cerdas keuangan. Alasan terkuatku adalah ingin bermanfaat bagi diriku sendiri. Aku ingin menikmati, benar-benar meresapi tujuanku hadir di dunia ini. Kok egois kamu? Ingat woy udah punya suami sama dua anak! Ya justru itulah... Sebelum memberikan kesungguhan ini ke orang lain, aku sebaiknya sungguh-sungguh mengenal diriku sendiri.



Dari buku ini aku memutuskan untuk selama satu bulan ke depan aku fokus ke self healing. Baik dari baca buku, 1 seminar yang sudah masuk jadwal, 2 workshop  di tanggal 9 dan 11 Januari, juga supervisi di akhir bulan Januari.

Ya cara belajar yang gue banget adalah gabungan dari baca buku kemudian mencatat terus membuat review. Tetap harus ada sesi tatap muka dengan mentor sembari tetap mencatat detil-detil kecil yang sesuai untuk aku terapkan. Tidak boleh ketinggalan ada workshop untuk menjalin silaturahim karena aku suka sekali belajar dari pengalaman orang lain. Gimana gak suka, belajar dengan meminimalisir rasa sakitnya. Paham-paham deh yang masih baperan.


Perjalanan ini sungguh mulai menantang. Aku mencoba untuk mengelola semangatku agar tidak habis di tengah jalan.


#belajarmerdeka
#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu3
#materi3
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Anak Diajak Kompromi? 3+1 Cara Ajak Anak Kompromi

Rasa bingung menghampiri disertai kepanikan, "Ibu, aku masukin plastik ke telinga aku. Terus masuk ke dalem. Emang telinga ada penyedotnya ibu?"

Dalam keadaan seperti ini kemampuan ibu untuk mendengarkan menurun drastis. Harus segera mengeluarkan plastik itu dari telinga anakku, itu saja yang jadi fokus. Ibu mengambil senter, penjepit kecil, dan pengorek kuping besi. Tidak berhasil. Plastik sama sekali tidak terlihat dan anak mulai kesakitan. Ibu semakin senewen. Bertambah parno ketika ayah tidak mengangkat telepon. 

👩 "Ibu gak habis pikir, kamu ngapain sih mas masukin plastik ke telinga."

Ibu diam, menunggu reaksi anak. Si anak tahu bahwa masalah ini tidak akan jadi mudah. Namun, sepertinya dia sedang belajar untuk bertanggung jawab dengan apa yang diperbuat. Dia memilih untuk tidak bereaksi.

Ibu memutuskan besok akan membawa si anak ke dokter THT. Besok plastik itu harus keluar. Ayah bilang itu hanya kotoran telinga biasa. Ibu ingin kepastian.


***

Tiba di rumah sakit, antri sebentar untuk mendaftar kemudian menunggu tidak sampai lima menit sudah bisa bertemu dokter.

Si anak masih santai saat diminta duduk di kursi hijau. Bisa tersenyum pas dokter membersihkan telinganya menggunakan suntikan berisi air hangat. Mulai tidak karuan waktu alat penyedot masuk ke telinga. 

👀 "Iya ada plastik bu. Dalam sampai saya gak bisa lihat gendang telinganya."

Tangisan melengking, penolakan yang kuat, dan semua omongan ibu bagai angin lalu saja. Semakin tinggi nada ibu, semakin pake falsetto tangisan si anak. Seharusnya ibu bisa dengan baik dan  benar melihat rapuhnya si anak. Namun yang ibu lihat adalah gagalnya tindakan penyedotan plastik dari dalam telinga si anak. Skenario sudah sampai ke dokter yang di Kranji aja deh besok kamis.

👀 "Ya kita coba pakai obat tetes telinga dulu bu. Soalnya kalau dipaksa diambil juga takutnya masih ada luka. Atauuu ibu bisa pilih bius total kalau lihat anaknya seperti tadi."

Entah kenapa sosok yang ibu lihat saat dokter itu bicara adalah sosok ibu sendiri yang mau cepat, lancar, dan berhasil. Tidak mau susah payah membujuk. Padahal yang merasakan sakit juga tidak nyaman adalah si anak."

👩 "Ya pakai obat saja dulu dok. Biar minggu depan kontrol lagi. Semoga sudah tidak ada radang di telinganya."

👀 "Ibu kalau kontrol usahakan sama ayahnya ya. Soalnya kalau nanti anaknya berontak ada yang megangin. Ibu kan gak kuat tadi meganginnya."

Lagi-lagi, gambaran tentang diri ibu muncul. Tidak ada rasa percaya diri bahwa ibu bisa menangani anak dengan baik bila diberi waktu dan kesempatan. 

Sepanjang menunggu obat yang terpikir adalah apa yang akan terjadi dengan plastik yang belum jadi dikeluarkan. Apakah akan membusuk? Apakah mengganggu pendengaran? Bagaimana cara membujuk si anak supaya minggu depan tidak terulang lagi pemberontakan yang sama?

👦 "Ibu, sakit nih telinga aku."

👩"Ya terus gimana? Emangnya mamas gak mikir gimana cara ngeluarin itu plastik. Plastiknya mau disitu terus sampe busuk. Ibu bilang kan sabar nunggu sampai hari ini. Hari ini harusnya kita bisa rencanain liburan. Eh ini malah habisin uang buat ke dokter."

Kembali, si anak memilih diam.

Pulang dengan membawa dua macam obat pereda nyeri. Satu untuk tetes di telinga, satu minum biasa.

***

Duluuu banget, ayah pernah komplain tentang ibu yang sedikit-sedikit mengancam. Cara komunikasi yang membuat ayah bereaksi sama seperti si anak, diam untuk menghindari ribut. Sekarang, baru sadar, ibu kekurangan semua bahasa kasih yang seharusnya mampu menggenapi sayang buat si anak.

Bila dibilang masalah itu sudah sepaket dengan solusi maka itu benar. Masalah plastik masuk telinga ini adalah solusi bagi ibu untuk mulai berkompromi baik dengan diri sendiri maupun si anak nantinya ke ayah juga adik.

Ibu jadi mengevaluasi diri. Apa yang sebaiknya diperbaiki? Dari kemarin isu yang sedang ibu ulang-ulang adalah MENDENGARKAN. Setelah tenang ibu perlahan mengakses ingatan-ingatan masa lalu agar bisa menentukan langkah. Oh ternyata bahasa kasih anak harus penuh hingga umur empat tahun. Baik hadiah, sentuhan, pujian, waktu berkualitas, hingga pelayanan atau kehadiran. Waktunya berkejaran. Ibu ingin juga tuntas tetapi tetap maksimal membersamai anak-anak. Tak apa ibu, bismillah. 

"Orangtua harus dapat mengontrol penuh lisannya, agar tidak keluar ancaman atau ucapan yang bisa menjadi doa keburukan bagi sang anak. Doa itu tak harus sesuatu yang khusus diucapkan saat bersimpuh di hadapan Allah. Ucapan seketika seperti, "Dasar anak bandel," pun bisa bermakna doa. Dan, doa orangtua kepada anak itu bakal manjur." Islamic Parenting-Syaikh Jamal Abdurrahman halaman 122

Kan masih kecil, mana mudeng diajak ngobrol. Itu kesimpulan awalnya. Namun setelah dari dokter, ibu belajar bahwa sehebat apapun dokter di luar sana tetap ibu adalah jembatan menuju kesembuhan itu. 

Ibu meletakkan gawai, memandikan anak-anak, kemudian menyiapkan makan malam. Mulai mempersiapkan diri untuk mengajak anak-anak kompromi.


video yang sengaja diputar setelah dari dokter
Untuk anak yang memiliki rasa penasaran tinggi disertai rasa takut, trik yang pertama adalah mencari tahu bersama. Kasus hari ini adalah mencari tahu tentang alat penyedot kotoran telinga, apa yang harus dipersiapkan saat akan disedot, dan bagaimana tetap santai saat telinga dibersihkan. 

👩 "Mamas tadi siang sudah lihat kan videonya. Gimana? Minggu depan kontrol telinga ya. Plastiknya diambil sama pak dokter. Pak dokter ambilnya hati-hati pake penyedot."

👦"Iya ini kasih obat dulu. Nanti aku gak denger 90 menit. Baru bisa denger lagi terus gak sakit.

Cara yang kedua setelah tahu adalah menghargai rasa yang anak sampaikan. Tidak perlu merasa bersalah ke dokter ketika anak teriak, nangis, atau bahkan menendang. Apalagi naik darah terus langsung ngomelin anak. Simak baik-baik apa yang anak keluhkan saat itu, "Ibu minta maaf ya mas, ibu tadi gak dengerin mamas pas di tempat dokter malah maksa mamas." Ini adalah saat refleksi dan recall momen. Jalan menuju kompromi.

👦 "Ibu kalau marah ambil wudhu dong. Gitu kata bu guru."

Anggukkan kepala dan ucapkan terima kasih telah mengingatkan. 

Langkah selanjutnya yaitu bermain bersama tanpa gangguan. Bila belum berhasil melalui kata-kata persuasi, temani dulu si anak main. Fokus. Lihat dan amati dia saja. 15 menit maksimal. Dari waktu inilah, ibu akan menemukan pengalihan yang tepat saat si anak mulai takut untuk bertemu rasa sakit.

Plus satunya untuk mengajak anak kompromi adalah berikan apresiasi. Tidak melulu barang mahal, ucapan terima kasih justru kadang lebih berarti.

***
Selama pengerjaan artikel ini, emosi ibu terkuras. Dinamika pengasuhan anak berumur 6 tahun sungguh butuh meletakkan semua ransel emosi biar tidak semakin berat.

Di bayangan ibu minggu depan, si anak akan duduk tenang menunggu plastik dikeluarkan dari telinga. Ya semoga saja ibu juga konsisten mengajak si anak kompromi agar minggu depan bisa lebih mudah diajak komunikasi. 


Referensi
https://m.youtube.com/watch?v=lEyDWPomC6k

https://nakita.grid.id/read/026416/10-cara-menangani-anak-penakut

Jamal abdurrahman, Islamic Parenting: pendidikan anak metode nabi, penerjemah Agus Suwandi, -Solo: Aqwam,2010