Jurnal Ulat 5, Yuk Kemping!


Tugas ini paling bikin aku mager tapi kalau mau gak ngerjain kok eman-eman. Masa iya gara-gara WOO jurnal kosong. Hahaha...

Kenalan dengan orang asing sih gak jadi masalah buat aku tetapi jadi kaya plunglos gitu lho. Kenalan, haha-hihi, eh gak gitu inget bo kalau ketemu lagi. Terus yang paling nyebelin adalah kalau akhirnya jadi tong sampah gitu akunya. Ini nulis sambil menyon-menyon wes tho.

Gak papa lah kalau tugas ini aku kerjakan seadanya rasa yang ada. Aku baru dijelasin sama ibu Septi aja leher udah kaku gitu kaya suruh pasang senyum tiga jari. Bayangin senyum dari hari kamis sampe selasa jam cinderella. Mendadak jadi patung lah aku. ^_^.



Semua aku jadiin bergandengan. Bukan diagram batang yang seolah kompetisi.


#belajarmerdeka
#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu5
#materi5
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

[Komentar Apik] Luka Pengasuhan, Ini yang Membuatku Otentik

Perjalanan berkumpul dan melahap makanan di tahap ulat-ulat minggu ke 4, membawa aku ke buku "Membasuh Luka Pengasuhan" ini. Buku yang aku baca di sela-sela sesi berbagi Inside Out Family. 

Aku memutuskan untuk tidak berpindah keluarga agar fokus dalam alur manajemen emosi. Kemudian, di jurnal minggu keempat ini, aku akan merangkum ilmu apa saja yang aku pelajari selama 8 hari.

Di awali dengan pembahasan buku, apa yang aku lakukan saat reframing, jeda napas 478, tapping, dan menulis untuk penyembuhan.



*****
Manajemen emosi berkaitan erat dengan apa-apa yang terjadi di masa lalu. Buku ini boleh jadi cocok untuk aku mulai mengelola emosiku.
Di pembukaan buku ini, penulis menjelaskan bagaimana suami sebagai therapist membantu istri membasuh luka pengasuhan. Aku langsung membayangkan melakukan hal yang sama kepada pasanganku. Rasanya mendadak berat di leher.

Badai rumah tangga baru saja memporak-porandakan hati kami berdua.  Aku, kalau egoisnya kumat. Gambaran pernikahan akhirnya terpampang nyata. Oh inilah gambar nyata pernikahan, aku ada di dalamnya sebagai pelaku.

Puing-puing ingatan itu membuat dadaku sesak. Leherku menegang. Kok ya ndilalah tugas Bunda Cekatan aku maunya belajar manajemen emosi khususnya penyembuhan diri.

Otomatis puzzle masa lalunya kembali. Bismillah, kali ini aku ingin tuntas agar gambaran diriku jadi utuh lagi. 
Pengakuan jujur bahwa diri ini merasa sakit hati bukanlah indikasi dari anak yang tidak berbakti. Justru bisa jadi, itu adalah bagian dari proses yang baik untuk pada ujungnya nanti bisa memaknai perintah berbakti pada orangtua dengan kerelaan hati. (halaman 58) 
Aku ingat aku cukup dekat dengan Papah. Kami baik-baik saja, biasa bertukar cerita. Aku sadar sekarang, doa baik Papah lah yang bisa jadi membuatku kuat hingga kini. Masih bisa bangun pagi meski ingatan perih itu terus menghantui.

Pelan-pelan aku telusuri lagi, Suami dan Papah itu mirip. Mereka cerdas dan sangat menyayangi anak-anak. Apa yang salah kemudian? 

Kegagalan Mamah dan aku membangun komunikasi produktif untuk sama-sama membicarakan ekspektasi.

Manusia itu punya fitrah suci, lingkungan yang akhirnya membentuk apakah tetap sesuai fitrah atau malah melenceng jauh. Sepanjang yang aku ingat, aku punya nenek yang menjadi bagian pengasuhanku. Mereka punya standar tinggi, begitu ambisius. Satu bagaimana punya uang banyak dan satu lagi sangat mementingkan pandangan orang. Itu turun ke Papah Mamah terus turun ke aku. 

Buku ini membuat aku flashback. Aku menyadari, refleksku sebagai anak perempuan adalah melihat anak perempuan lain sebagai saingan. Gagal mengelola emosi. Belum memiliki regulasi diri.

Aku ingat satu momen dimana seorang teman bilang, "Kemarun mba narinya bagus banget." Padahal aku gak bisa nari. Lha terus siapa yang nari? Di sini lah awal black hole dimulai. Aku mulai kecanduan perhatian, pujian, dan spotlight. Lubang besar yang menganga terbentuk dari ekspektasi dan ambisiusnya seorang Mamah.

Tidak ada mamah yang tidak ambisius dengan menggandeng innerchild mereka. Bedanya ada yang sadar, ada yang zombie alias no hard feeling menyakiti anak-anaknya.

Aku termasuk yang zombie ringan. Kok? Aku gak mau berbagi apapun yang aku miliki termasuk perhatian suami tetapi masih memiliki rasa bersalah saat kesadaran datang. Efek dari black hole.

Hubunganku sama Mamah dulu seperti aku sekarang melihat anak cewek yang masya Allah sempurna. Baik, pinter, mudah bergaul terus aku langsung merasa inferior. Aku mendadak rendah diri. Aku merasa jelek, lola, baperan. Black hole aktif. Aku mulai bertindak seenak jidat sendiri. Impulsif. Beli atau melakukan hal yang sebenarnya gak aku butuhkan. Aku dikendalikan emosi takut kehilangan perhatian.




Setelah menikah barulah aku paham alurnya. Badai dalam pernikahan itu normal. Setiap pasangan punya ujiannya masing-masing. Tidak ada yang datar saja, hidup selalu berputar, naik turun. Badai pelangi badai pelangi. Begitu terus hingga maut memisahkan raga dengan dunia. 

Fungsinya berbeda, Papah sebagai si Raja Tega dan Mamah sebagai pembasuh luka. Dulu mana ada pemahaman si fitrah ini. Adanya bertahan hidup aja sudah bersyukur. Semua serba terbatas.
Ketika si Ibu 'curhat', Katup Keluar Perasaannya terbuka dan aliran rasa itu masuk ke Katup Masuk Perasaannya Anak. Sebab isi curhatnya adalah menjelek-jelekkan orang lain, maka perasaan yang terkirim adalah perasaan yang amat kuat berpotensi menjadi emosi negatif pada diri anak. Ini jelas Luka Pengasuhan yang paling banyak terjadi, tapi jarang disadari. (halaman 79)
Badai-badai dalam pernikahan, aku lalui juga dulu sebagai anak. Pelan tetapi pasti aku membingkai bagaimana menjalani pernikahan. Buku ini mencuatkan lagi kenangan-kenangan itu. Namun kali ini aku berjanji pada diriku sendiri untuk menuntaskan fitrahku. 

Balik lagi ke komunikasi. Aku menyadari black hole terbentuk karena aku dan Mamah masing-masing memiliki ekspektasi tetapi enggan untuk ngobrol dari hati ke hati. Menggali diri, perasaan juga emosi. 
Ini adalah kondisi dimana seseorang selalu mencela dirinya sendiri. Bukan mencela untuk bertaubat, tapi ia mencela diri karena ia labil atau goyah. Katanya sudah memaafkan, tapi nyatanya masih ada rasa dendam. Kadang ia taat, tapi besok lusa sudah kembali bermaksiat. (halaman 103-104)
Ya aku menemukan apa yang salah denganku? Respon error. Setiap keputusanku dalam menjalani pernikahan sedikit banyak terpengaruh dengan gambaran pernikahan yang dulu Papah Mamah sajikan. Aku kehilangan diriku dalam proses mencintai suami dan anak-anakku. Namun si badai membuatku kembali melakukan perjalanan ke diriku sendiri.
Aku tidak pernah nyaman untuk menceritakan impian-impianku kepada ibu. Saat itu aku mencoba, emosi negatifku mendadak membuncah. Yang ada di kepalaku adalah "ibu pasti menolak". Sehingga, saat aku berbicara langsung kepadanya, emosi negatifku meledak bagaikan bom waktu yang sudah lama ter-setting untuk meledak saat itu juga. (halaman 114)
Teknik reframing aku masukkan di sini. Aku memasukkan sosok para ibu yang aku temui sepanjang perjalananku. Ada healer, konselor, pembicara, dan penulis. Mereka yang secara sadar aku jadikan sosok panutan untuk mengisi tangki cintaku (sentuhan dan afirmasi positif). Teknik ini membuatku bisa mengolah asumsi negatif tentang Mamah menjadi sosok yang bisa diajak bicara apapun alias tempatku melepas keresahanku. Mulai membingkai 

Luka-luka pengasuhan itu aku kenali lagi satu per satu. Aku luapkan semua perasaan dalam tulisan. Grup Self Healing A terus memberikan semangat. Kami sama-sama berjuang selesai dengan diri kami. Itu indah sekali. Bagaimana kami saling mendukung dengan memberikan santapan utama. Tidak menghakimi saat yang lain cerita kegelisahan. Saling memeluk dengan doa. Ahhh, sayang kalian semua 💗💗💗.

Begitu satu berbagi tentang rasa sakitnya yang lain memeluk sambil seperti sedang mengambil napas bersama. 4 detik ambil napas, 7 detik tahan napas, 8 detik buang napas. 👄💨👄💨👄💨. Terus mengetuk lembut bagian tubuh yang kepegang saja saat itu. Ya saat emosi seperti marah, takut, atau kelelahan datang; tiba-tiba lupa semua teori kan. Napas aja dulu atau tapping aja yang ingat.


*****
Sebagai manusia, aku harus tahu dan paham kapan dan bagaimana sistem perlindungan diriku aktif.

Memang tidak ada manusia yang sempurna tetapi semua otentik. Unik dengan cara masing-masing. 

Luka-luka pengasuhan yang aku alami itu dirancang khusus memang untukku. Bila saat ini masih ada penolakan itu wajar. Itu artinya sistem pertahanan diriku berfungsi dengan baik.

Pada akhirnya setelah menolak, bertanya-tanya, mencari pembanding; toh akhirnya tahap paling kuat adalah menerima. Memeluk diri sambil bilang, "Aku penuh. Bahagia secukupnya, sedih seadanya."


#belajarmerdeka
#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu4
#materi4
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Fasilitator, Impian atau Mimpi?

Setelah lulus kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional, pertama kali aku punya mimpi jadi fasilitator. Aku masuk kepengurusan IP Bekasi modal nekat dan sotoy. Alasan ingin jadi fasil sepertinya karena ingin Bekasi bisa dapat lebih dari satu kelas untuk jenjang Bunda Sayang. Ya habis lulus matrikulasi kan lanjut Bunda Sayang, Bekasi hanya dapat satu kelas saja dengan alasan tidak ada yang jadi fasilitator. 

Bangun! Tamparan melalui telepon itu nyata. Langsung bisa lanjut ke kelas Bunda Sayang dengan dramatis. Beda 1 menit saja, banyak teman satu angkatan gagal masuk. Ya karena kuota terbatas juga. 

Mimpi masih ada selama satu semester di Bunda Sayang. Begitu masuk semester dua, aku terbangun dari mimpi. Boleh dibilang sambil terengah-engah. Benarkah mimpi ini? Apakah harus aku jadikan impian? 

"Mau jadi fasil kok belum tuntas sama diri sendiri? Masih aja baper terus malas berkomunikasi."
"Mana komprodnya?"

Impian atau mimpi? Ternyata berbeda. Impian mestilah aku bangun kemudian bekerja keras dan konsisten sementara mimpi, bubar saat aku bangun tidur.

Ada tantangan komunikasi produktif di akhir kelas Bunda sayang yang membuat aku me-review lagi. Ini mau aku jadikan impian atau mimpi? Dari hasil pemikiran yang lumayan singkat, aku memutuskan menjadikan fasilitator impian jangka pendekku.

*****

Alhamdulillah, jalan terbuka. Ibu Profesional membuat gebrakan New Chapter 2020 dan semua kelas satu per satu dibuka. Termasuk Akademi Fasilitator Ibu Profesional. Ikut.

Materi pertama bablas angine. Benar-benar seadanya kunyah materi. Materi kedua ketemu mba Marita, guru blogger zaman masih di Semarang. Langsung ewes-ewes semangat. Ikutan permainan di WA grup. Terus ngeh kalau percakapan di WA bisa dibuat menarik. hahahaha... Impian menemukan jalan. Guru datang di saat yang tepat.

*****

Tugas kedua, aku diminta menjabarkan peran fasilitator dengan gambar atau foto. Apa kaitannya gambar/foto tersebut dengan peran fasilitator yang bahagia dan membahagiakan?

Fasilitator dalam Gambar
Oke mulai dari gambar pertama: tabung eksperimen. Aku menggambarkan diriku yang sudah tuntas dengan diri, ikut bereksperimen bersama mahasiswi dalam kelas Institut Ibu Profesional. Bersama memiliki pengalaman baru.

Gambar kedua: puzzle. Sama halnya dengan semua fasilitatorku saat ini, aku juga ingin membersamai teman-teman untuk melengkapi puzzle diri dan akhirnya melihat diri secara utuh. Tanpa paksaan dengan penuh penerimaan. 

Gambar keempat: pohon. Terus bertumbuh bersama. Saling menguatkan dan mengayomi. Pohon ini sangat sering aku gambarkan akhir-akhir ini. Ya sekuat itu aku ingin bertumbuh.

Terakhir: tas ransel. Perjalanan saat ini tidak harus menempuh jarak dengan transportasi. Modal ponsel saja aku sudah bisa menjangkau luar planet Bekasi. Hihihi... Aku bisa menggali pengalaman dengan melakukan perjalanan dunia maya bersama teman-teman mahasiswi.

*****

Fasilitator bagiku saat ini adalah impian yang ada di depan mata. Tetap harus waspada dan memantaskan diri agar bisa maksimal membersamai. Dalam 5 kata bisa aku rangkum sesuai versiku adalah kreatif, selesai dengan diri, santai, ceria, dan penuh hikmah.

Semoga impian ini bisa membuatku terus tumbuh dan bermanfaat. Aamiin...



Referensi Kudapan mba Marita

http://lingkarlsm.com/apa-itu-proses-fasilitasi-dan-bagaimana-menjadi-fasilitator-yang-handal/

http://indosdm.com/fasilitator-peranan-fungsi-dan-teknik-komunikasi

http://prasetioadjie.com/2018/05/07/apa-itu-fasilitator-keterampilan-penting-untuk-fasilitasi-yang-efektif/

https://www.linkedin.com/pulse/20140619061555-1334077-6-essential-skills-of-a-effective-facilitator

https://www.findafacilitator.com/8-roles-facilitator

Membuat Gambar, Menyembuhkan Luka


Tentang perjalanan, menuju RUMAH.


Catatan merupakan alat bagiku untuk berkomunikasi. Namun kadang aku lupa, catatan bisa menjelma jadi doa yang kapan saja bisa terwujud.


Catatan Maret 2017, Maret 2019 terbukti. Perih. 

Dari catatan aku beralih ke foto-foto, aku amati baik-baik semua foto yang kemarin aku buat.

Langit biru, jingga mentari, rel kereta, rumah untuk pulang, KEMBALI KE DIRI. Begitu kesepian kah aku?

Aku menyadari aku bukanlah pribadi yang mudah berkomunikasi secara lisan. Apalagi harus bertatapan. Aku mendadak merasa takut seolah telah melakukan kesalahan dan siap untuk mendapatkan hukuman. 

Dari catatan itu, satu per satu gambar yang aku buat muncul. Gambar-gambar yang kamera terjemahkan, momen-momen yang mengingatkan bahwa ada hal-hal indah. Hidupku tak melulu tentang membuat kesalahan. Ada juga kenangan-kenangan indah. Lalu kenapa catatan dan gambarku sama-sama menyiratkan kesepian?



Dulu, bila aku bosan, akan ada banyak cara cepat untukku mengalihkan pikiran. Sekarang dengan berbagai macam peran, tuntutan, dan ekspektasi; agak sulit bagiku membagi ritme. 



Teriakan, tangisan, kemarahan adalah normal, bila aku sudah menerima. Luka-luka bisa jadi jembatan untukku terus mewaraskan diri. Bukan lagi manusia yang lupa diri. Padahal seringnya aku lupa nama hari, sudah makan atau belum, bahkan untuk mandi aku harus merasakan dulu gatal yang menyiksa. Hidup berjalan begitu menyakitkan di pagi hari, menjelang siang jadi bosan, lalu malam baru muncul semangat membuat kesuksesan. 

Aku bertanya pada diriku sendiri, "Apakah fotografi menyelamatkanmu, Phalupi Apik Herowati?"

Mungkin. Aku sibuk ingin terhubung dengan orang lain kemudian lupa menerima diri sendiri. Dari fotografi kemudian caption sebagai ungkapan perasaan, aku mulai berkomunikasi dan terhubung dengan diriku.

Aku tulis atau buat gambar. Aku berharap bisa kembali memeluk diri agar tidak kehilangan jati diri. Aku ingin bisa mewujudkan kembali mimpiku.

***


Gelap, ada sensasi abu-abu
Tidak pernah terpikirkan, hanya agar memiliki waktu sendiri tetapi tidak merasa kesepian. Bahkan gak ada tuh ingin bisa menghasilkan uang dari memotret. Pada saat aku membuat Phalupi Photography, semakin aku memikirkan akan mendapatkan untung, aku semakin menunda untuk mengambil kamera dan memotret. Semua properti otomatis teronggok. Ada beberapa teman yang menanyakan perkembangan ide bisnis fotografi itu, sebisa mungkin aku menghindar.

Cari muka? Iya jadi ingat tujuan ini. Orang-orang yang kesepian kadang lupa mukanya ada di mana jadi minta perhatian dengan melakukan segala macam cara. Bahkan dengan membicarakan kejelekan orang lain sebagai pemecah kebekuan. Itu aku sadari baru saja. Aku sering jadi party pooper berbau busuk karena menggunakan kekurangan orang lain sebagai pembuka pembicaraan. Aku meminta maaf untuk itu. Aku pikir bagus untuk mengakui itu agar aku bisa menerima diriku. Ya itu aku lakukan karena obrolan memang sesusah itu bagiku. Apalagi saat itu berlangsung lebih dari satu jam. 

Abu-abu ternyata memberikan sinyal, JEDA. 

Membuat gambar itu, menangkap momen ini, dan potongan-potongan kenangan tersebut; jeda untuk diriku sendiri agar sanggup menarik napas dengan perlahan. 

Lupa juga teori-teori. Hanya tekan shutter. Menikmati momen yang sekejap itu.


***

Luka-luka menimbulkan efek samping. Kenangan-kenangan buruk yang terpendam atau tertekan sedemikian rupa menimbulkan hilang ingatan. Tidak ada luka yang bisa dianggap bercanda. Bukan pula pura-pura lupa.

Perasaan dan emosi bagi orang depresi bisa jadi virus yang lama-lama melubangi kotak penyimpanan memori. Ada yang menyebut kehilangan memori jangka pendek. Lupa nama orang yang baru diajak kenalan, lupa meletakkan kacamata. Terlihat sepele tetapi jika berkelanjutan, bisa lupa bagaimana cara makan.

Fotografi bisa jadi salah satu alat untuk terapi komunikasi. Baik ke diri sendiri maupun orang lain. Ya konsep juga dengan menulis sebagai cara penyembuhan diri. Ingatan-ingatan yang seperti puzzle bisa digabungkan jadi satu hingga paham dimana akar lukanya.


***


Bagiku di awal-awal memulai, semua berantakan. Tak apa. Tujuan utama adalah melepaskan emosi baik itu positif atau negatif agar komunikasi dengan diri lancar. Aku ingin bisa mengontrol diriku. Di pertengahan kala tujuan bergeser, hilang lagi arah. Malas sekali memotret. Kemudian sekarang, aku berusaha balik ke tujuan semula. Makanya aku membuat lagi daftar kebutuhan memotret biar lebih teratur.

Teratur terkesan membosankan. Ya memang kenapa? Toh yang pasti di dunia ini adalah perubahan kan. Bosan hari ini besok semangat lagi.


Seringkali ada semacam perasaan tidak puas dengan hidup, seperti yang terjadi di tahap kedua, tetapi ketidakpuasan tidak selalu negatif. Ketidakpuasan dapat digunakan sebagai indikator positif yang menunjuk kepada perlunya perubahan di dalam hidup atau membuat kita tahu kadang perubahan terjadi, entah kita menginginkannya atau tidak. (Reconnecting to The Magic of Life by Joyce C. Mills, Ph.D halaman 64)
Luka-luka yang aku miliki seringkali mempengaruhi hubunganku dengan dunia luar diriku. Tulisan atau gambar yang aku hasilkan mengembalikan diriku untuk terhubung lagi. 

Terhubung setelah itu mencoba tidak tergantung. Secukupnya.


Learning is Life



Tulisan ini aku buat karena saat sedang scrooling IG, aku menemukan iklan buku Islamic Parenting karya Syaikh Jamal Abdurrahman yang aku beli di toko online seorang teman. Iklan yang membuatku memutuskan untuk berbagi pendapat dengan teman tersebut agar keresahanku tersalurkan.


😢 Astaghfirullah, jangan-jangan selama ini aku didik anakku seperti Binatang.Di bawahnya diberikan contoh seorang penemu konsep  ilmu  yang menggunakan anjing sebagai bahan percobaan. 


Apakah sudah separah itu orang mencari untung? Kemudian temanku menjelaskan itulah bisnis. Untung sebanyak-banyaknya. Beda dengan wirausaha yang kadang gak untung tetapi ada nilai yang ingin dibagi. Dalam kasus ini ilmu yang ada di dalam buku tersebut. Teman ini juga menyarankan padaku untuk mulai mengetatkan lagi kebutuhan. Biar tidak terjebak di tsunami informasi juga ilmu.

Ketika menikah, tanggung jawab seorang anak berubah menjadi istri atau suami. Perubahan tanggung jawab ini bisa memunculkan kebingungan bila anak-anak tidak disiapkan oleh orangtuanya. Anak laki-laki ya jadi suami kemudian ayah sementara anak perempuan menjadi istri kemudian ibu.

Otomatis aku jadi mengingat-ingat kembali bagaimana pola asuh yang dulu Papah Mamah berikan padaku. Termasuk nenek dan kakek yang juga terlibat. Pengasuhan yang berdampak pada caraku bertahan hidup.  

1. Sekolah adalah tempat penitipan anak

Semua tugas pengasuhan pindah ke guru. Kedekatan anak dengan orangtua sangat terbatas. Anak tidak begitu paham apa nilai-nilai yang ada di dalam keluarga yang harus dipertahankan ketika nantinya dia keluar dari rumah.

2. Anak itu punya kebebasan

Kebebasan yang tanpa batasan sehingga akhirnya bingung, ini aku disayang atau gak. Kebebasan sebaiknya diikuti dengan tanggung jawab. Tanggung jawab untuk tetap memegang nilai keluarga.

3. Orangtua itu ATM

Aku ingat aku cukup punya jiwa pengusaha tetapi itu terkikis setelah kuliah. Aku sangat tidak mandiri secara keuangan. Besar pasak daripada tiang. Baru sadar setelah menikah. banyak keinginan yang berubah jadi kebutuhan.

4. Bertengkar boleh di depan anak

Ini yang sampai sekarang masih menyakiti aku. Respon error sering terjadi. Perasaan dan emosi jadi terpendam. Sulit untuk mengungkapkan karena takut akan dapat tanggapan yang salah.

5. Penjelasan seperlunya

Anak kecil tahu apa. Padahal semua konflik yang terlihat terekam sangat jelas. Tidak adanya penjelasan membuat si anak kecil ini tetap bertahan dalam kebingungannya. 

Lebih suka mengumbar aib untuk mendapatkan perhatian. Ini mungkin poin yang akhirnya sekarang digunakan sebagai metode agar viral. Sadfishing. Ya menggunakan cerita salah paham, jualan kesedihan, atau mengumbar pertengkaran keluarga agar dapat perhatian dunia. Semua asumsi menjadi pundi-pundi.

6. Anak bisa belajar dari pengalaman

Benar bisa. Namun jadi sangat rapuh hatinya. Pilihan yang diambil akhirnya sering salah karena demi menghindari rasa sakit bukan untuk menghadapi kenyataan dan bertahan.

Pengalaman membuat orang lain merasa kasihan sehingga kesalahan bisa dimaafkan. Sekali berhasil kemudian berulang.

7. Kesalahan itu pengalaman

Namun bisa sangat menyakitkan bila diiringi dengan pembiaran. Anak jadi merasa tidak berharga karena tidak dapat penguatan mana yang salah dan tidak diulangi. Ya sudah begitu aja, yang penting hidup. Bukan menjadi manfaat.

Ledakan emosi negatif. Ya hasilnya adalah aku begitu bersemangat untuk menyalurkan rasa sakit yang dulu aku dapatkan. Emosi yang menumpuk saat aku masih jadi anak-anak.

Nada selalu tinggi, mudah galau, ambisius ingin anak jadi yang terbaik, ringan tangan, tidak mau kalah, dan akhirnya gagal mengenali kebutuhanku sendiri. 

Aaah sulit dipercaya pada awalnya. Aku dengan plek ketiplek copy paste. Tidak ada batasan jelas, emosi naik turun, tidak ada rutinitas.

Lantas apa yang menyelamatkan? 

Anak-anak. Fitrah mereka ternyata menyajikan pembelajaran bagiku. Biasanya setelah menikah kita kehilangan jati diri karena label yang melekat. Istri, ibu, juga profesi. Namun fitrah anak-anak ternyata menyadarkan bahwa ada hal-hal yang bisa buat kita berubah.

Anakku yang pertama sangat perasa sementara yang kedua begitu ekspresif. Aku yang rapuh ini malah merasa tertopang. Mereka dengan fitrah mereka membuat fitrah keibuanku  kembali.

Pelan-pelan aku melahap buku-buku pengasuhan. Pola asuh yang selama ini aku copy paste aku evaluasi ulang.

Oh ternyata, nilai-nilai yang ada di keluarga sebaiknya diperkuat agar saat anak keluar rumah dia tahu mana itu benar atau salah dengan respon yang bijak.

Iklan itu membuatku belajar. Bertahan hidup memang penting tetapi bekal untuk kematian juga tak kalah utama. Pilah-pilah ilmu dan cara bertahan hidup agar bisa selamat dunia dan akhirat.

Buku atau sumber ilmu yang lain memang haruslah disebarkan agar jadi manfaat tetapi aku juga harus memikirkan jalan-jalan yang berkah agar manfaatnya maksimal. Saat aku paham, maka anak-anak akan belajar dariku bagaimana bertahan hidup dengan cara yang baik dan benar.

Jurnal Ulat 3, Keluarga Baru untuk Berbagi Pengalaman


Belajar tak pernah sesadar ini! 

Sejak jadi ibu, aku merasa Allah membimbingku untuk balik lagi ke diriku. Awalnya bingung plus marah sih. Kok ya ketemu lagi sama alur-alur sedih nan tak menyenangkan.  Ternyata eh ternyata, kembalilah aku pada kesadaran, aku tuh suka belajar dengan menyenangkan. Baca buku, bermain, dan bebas. Alahmakjang, 32 tahun pik, eling umur. Ya kan belajar seumur hidup. Tangisan, balas dendam, dan ketakutan berujung pada pembelajaran. aku bilang sadar karena baru paham indahnya percaya diri. Percaya aku cukup untuk diriku. Bekal inilah yang nantinya aku gunakan untuk mempersiapkan anak-anakku menuju masanya mereka.

Begitu masuk Bunda Cekatan jadi banyak  oh  alias  mudengan. Ya ibu Septi menjelaskan dengan lembut juga berulang-ulang bahwa di Bunda Cekatan, aku akan belajar sesuai gaya serta kebutuhanku. 

Oleh karena itu, aku benar-benar eksplore diriku. Oh aku suka belajar sambil ada gambar warna-warni. Oh membaca cerita anak itu juga bisa menimbulkan perubahan perilaku padaaku. Oh membuat video  berisi wawancara ternyata menambah pilihan solusi untukku bertumbuh.

Meskipun begitu, batasan-batasan tetap perlu aku ingat. Namanya juga belantara ilmu ya tetap usahakan waspada agar bisa keluar sehat dan waras.

***
Minggu ini kehebohan terjadi hampir di setiap grup yang aku ikuti. Semua ramai dengan segala dinamika diiringi kegalauan juga. 

Setiap mahasiswi diizinkan untuk bergabung di keluarga yang memiliki makanan sama sehingga akhirnya bisa berbagi pengalaman untuk Go Live FBG Bunda Cekatan. 

Aku memilih manajemen emosi, fokus ngemil materi self healing di Inside Out Family. 

Seru sekali bahu membahu boyongan dari grup FB Bunda Cekatan, mengisi daftar sesuai minat di WA grup regional Bekasi, masuk lagi ke WA grup manajemen emosi. PENUH. Pindah ke Telegram.

Barulah pelan-pelan mengisi link agar dalam satu cemilan self healing misalnya terbagi lagi A, B, C masing-masing 35 orang. 


Jujur ini menyenangkan. Saling mengenal dalam waktu singkat kemudian sudah harus bekerjasama menyelesaikan tantangan berbagi pengalaman. Kemudian solid saling menguatkan mirip teman lama yang akhirnya ketemu lagi. Luar biasa ya Allah. Terima kasih aku bisa memiliki kesempatan mencicipi pengalaman 

Aku melihat betapa para ibu begitu semangat dan penuh dedikasi melayani. Meskipun gaptek, disambi pekerjaan rumah tangga, bolak-balik oleng karena obrolan tiba-tiba banjir.

Oke pelan-pelan lagi. Atur napas. Terlalu bersemangat bisa membuat tidak bisa tidur kan. Yuk, misal lagi oleng santai dulu. Baru buka pinned  message, baca sambil tenang barulah eksekusi.

#belajarmerdeka
#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu3
#materi3
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Jurnal Ulat 2, Sudah Sembuhkah Aku?

3 menit yang betul-betul mengubahku. Takut? Iya. Aku berusaha menenangkan diri agar tidak pingsan saat syuting. Tidak mudah menceritakan kembali luka yang dengan susah payah aku timbun jauh di alam bawah sadar. Namun setelah semua itu keluar, LEGA LUAR BIASA


Klik Bila Penasaran Videonya

Terbuka, setelah syuting video untuk tugas tahap satu Bunda Cekatan tahap ulat-ulat di minggu kedua. Perekaman video itu secara tidak langsung membuatku mulai merangkai kepingan puzzle ingatan yang membuka luka-luka hati. Luka itu sudah tidak bisa berubah. Sudah terjadi di masa lalu.

Perih, berdarah, ada bekas pula untuk diingat. Menyangkal pasti. Reaksi awal yang normal, manusiawi pula. Gak kok aku gak papa. Aku baik-baik saja. 

Oke siapa sih orang yang mau terluka? Padahal kalau aku mengingat kembali; aku hadir ke dunia sudah berteman dengan segala rasa sakit, berdarah-darah serta keinginan untuk bertahan hidup yang kuat. Prematur lho... 1,6 kilogram. Aku bisa bertahan, tumbuh sehat, alhamdulillah normal. 


Eh umur 9 tahun berhadapan lagi dengan luka, aku langsung terpecah-pecah. Parah.

Ada emosi yang gagal aku sadari, kenali, juga luapkan dengan baik. Kalau senang, aku terlalu aktif berkegiatan hingga tidak mau istirahat. Kalau sedih, gegoleran saja seharian nonton video di laptop atau youtube. 

Jatuhnya self diagnose dulu. Aku berpikir ketika sudah praktik sadar napas terus terapi-terapi  hanya dengan kesimpulan aku kayaknya sakit mental deh, semua akan selesai. Ternyata tidak secepat itu duhai Nonik. Ada lubang kosong yang isinya harus diakses di alam bawah sadarku. 

Titik balik yang aku sadari benar-benar adalah ketika keinginan bunuh diri, menyakiti anak-anak, dan nyeri  di setiap hembusan napas muncul lagi. Luapan yang merusak: teriakan Gian, tangisan Geni, dan badai rumah tangga. Barulah aku dengan tertatih mulai datang ke profesional untuk meminta bantuan pendampingan.

Lantas apakah aku sudah sembuh? Aku masih kok kadang membunyikan alarm yang salah. Lelah bukannya istirahat malah ngomel-ngomel saat anak main dengan berantakan. 

Ya iyalah, kebiasaan hampir 32 tahun mau berubah dalam satu kedipan mata, dikata main sulap.

Ayo pik, nikmati prosesnya.

*****

Jurnal minggu kedua tahap ulat-ulat ini, menambah lagi ilmu dan teknik buat aku untuk menghadapi kenyataan. Aku ingin menyimpulkan tanpa harus terburu-buru.




Dengan tetap menggunakan trik: menarik tetapi tidak tertarik, aku memutuskan mengambil 3 potluck dari temen-temen BunCek yang aku jadikan makananku. Cukup. Biar tidak menghabiskan waktu terus kekenyangan. Setelah itu malah tidur melulu lupa jadi kupu-kupu yang cantik.

Oke, aku bahas satu-satu ya tentang apa saja yang aku ambil dari teman-teman untuk mendukung self healingku.

1. Farda Semanggi

Mba Farda menjelaskan tentang self-care project miliknya. Mindful mom bukan mindfull. Hihihi... Beda satu huruf aja, jauh beda artinya.

Teknik yang aku ambil yaitu stop-jeda-respon. 

Setelah merasa sehat fisik dan mental, aku perlu teknik ini agar terus konsisten merawat diri baik secara fisik maupun mental. Aku meyakini jika sakit fisik bisa muncul waktu kesahatan mentalku terganggu. 

7 detik menarik napas
4 detik tahan napas jeda
8 detik melepaskan perlahan

Aku berharap teknik ini efektif untuk mengurangi salah alarmku. Biar bisa tetap santai menghadapi lengkingan suara tangisan anak.

2. Ratna Delima N

Berjudul "Drive Yourself", potluck mba Ratna DN ini jadi panduanku untuk terampil dalam berpikir, memilih, memutuskan. Bukan karena orang lain yang biasanya aku lakukan tetapi pilihan sadar tanpa penyesalan dan penuh pertangung jawaban.

3. Almira Hasna Z

Gejala sakit fisik memiliki upaya pencegahan begitu pula gangguan mental. 

Mba Almira berbagi bagaimana cara tetap menunaikan emosi tidak menyenangkan. Teknik ini dia dapatkan dari sesi berbagi oleh mas Aprilianto dari @latihati. Memarkir emosi tidak menyenangkan agar tidak muncul dulu di hadapan orang lain.


Cara pertama dengan membuka postur tubuh seperti membusungkan dada, mengangkat alis, atau bisa dengan bernapas lebih lembut. Kemudian cara kedua bisa praktik wiper finger.

Ibu jari tangan kanan kita kaitkan ke jari kelingking sementara ibu jari tangan kiri kaitkan dengan telunjuk.

Gerakkan searah jarum jam dengan posisi akhir tetap ibu jari tangan kanan dengan kelingking, ibu jari tangan kiri masih barsama telunjuk.

Aku mencoba, baliknya ibu jari kanan kiri barengnya telunjuk semua. Terus jadi ketawa. Mungkin kalau terus berlatih bisa.

Baru gak sesuai posisi aja sudah bisa mengacak emosi. Apalagi sudah terbiasa pasti aku lebih yahud mengelola emosi.

***


Standar sembuhku berubah. Bukan lagi jadi yang bergantung secara emosional ke psikolong atau konselor tetapi aku memilih mandiri. 

Naik turun emosi itu pasti, pilihannya apakah aku mau bermental korban atau melangkah maju meraih tujuan yang sudah aku tetapkan.

Sadfishing atau memancing simpati dengan menceritakan kesedihan agar menarik perhatian sedang jadi tren di era media sosial sekarang. Susah susah gampang menempatkan empati yang pas. Malah seringnya tergelincir ke simpati berlebihan. Bukan menyalahkan, lebih ke saran sedikit menggeser sudut pandang. 

Gangguan mental sebaiknya tidak digunakan untuk menarik perhatian apalagi ketenaran. Segera dapatkan bantuan. Aku akan mengasah lagi empatiku agar tak salah jalan dan bisa tetap sampai tujuan.


#belajarmerdeka
#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu2
#materi2
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Jurnal Ulat 1, Proses Penyembuhan Diri: Hidup Penuh Luka Itu Normal Saja


Menjadi dewasa itu sama sekali bukan pilihan melainkan kewajiban yang harus aku lakukan dengan penuh kesadaran. 

Aku menatap jurnal ini bolak-balik. Gagal menemukan judul. Hahaha...

Terima saja, tarik napas panjang. Tenangkan diri. Masih ada banyak waktu. Santai, santai, santai!

Baru kemarin membahas dengan seorang teman jika jurnal tidak bisa dikerjakan seperti sulap. Simsalabim jadi. Namun rangkaian aksi; melihat live materi di grup FB Institut Ibu Profesional, mencatat, membaca referensi, dan akhirnya merangkai kata untuk mengikat semua ilmu.

Aku tahu dari sesi ngobrol itu kalau mengerjakan tugas dalam tekanan bagiku adalah tantrum tak berkesudahan. Bukan ide yang mengalir lancar. Aku bisa langsung berubah menjadi momster. Aku mewajibkan anak-anak untuk memahami diriku. Mereka harus main, menunda makan siang, dan tidak boleh berisik. Satu aja dilanggar, bisa bubar.

Jurnal bukanlah hal yang mendesak tetapi jadi begitu penting karena tiba-tiba aku panik. Bagaimana kalau telat? Otot-otot menegang kemudian aku mengharuskan diri untuk duduk fokus menyelesaikan jurnal. Anak-anak terbengkalai. Lupa kalau punya anak dua, lupa harus menyiapkan makan siang, dan lupa cucian piring sudah nunda tiga hari. Ini sambil ngetik sambil geleng-geleng sendiri. Normal pik normal. Tak perlu berpikir kamu adalah yang paling sengsara sendiri.

Pada saat level ulat-ulat dimulai, aku menetapkan target untuk mengerjakan narasi satu hari sebelum deadline. Nah Selasa bisa aku baca ulang dan sunting. Eh tapi enakan Kamis sudah mulai membuat kerangka biar Jumat bisa sunting terus posting. Asyik kan Jumat sampai selasa konsisten punya postingan. Mulai deh mulai perfeksionis kumat. Hahaha…

Tahapan ulat sangat menantang bagiku. Aku begitu mudah terpengaruh karena ada banyak makanan yang menarik bersliweran di grup tetapi sesuai saran ibu Septi, aku akan menekankan pada prinsip: menarik tetapi tidak tertarik. Aku akan memilih ilmu yang sesuai dengan tujuanku di mind map milikku dan tetap fokus.  


Ilmu-ilmu tentang self healing yang bisa membuatku berhenti mendiagnosis diriku sendiri. Aku sadar kalau aku ternyata sangat mudah untuk mendengarkan orang kemudian peduli.  Ya terlalu memikirkan semua apa yang orang omongkan. 

"Gimana kalau aku gak peduli terus orang ninggalin aku?"

Aku sangat tidak suka sendiri. Aku lebih suka mengorbankan diriku, menerima disakiti, dan bertahan dengan luka yang ada untuk cinta semu.

Berbanding terbalik dengan sikap tidak konsistenku. Aku bisa aja menunda seharian gegoleran di kasur. Anak makan apa yang ada, kalau rewel aku omelin, suami pulang masih dengan daster tidur semalam. “Gimana suami sama anak mau tambah sayang  coba?” Abis itu berlindung dibalik: aku kan korban kekerasan. 

Aku menggambarkan self healing sebagai perban untuk mencegah infeksi di hati. Perban-perban berupa pengetahuan yang bisa mengubah persepsi dari rasa sakit menjadi pembelajaran juga penguatan.

Self healing ini nantinya akan membantuku tetap sadar dan waspada dengan setiap keputusan yang aku ambil. 


*****
18 Januari 2019 Mini Seminar: Recovery Your Inner Child oleh Nuram Mubina, M.Psi, Psikolog Klinis Dewasa


Materi siap, diri siap. Klop. Aku merasa jauh lebih baik dalam hal mengontrol diriku. 

Innerchild merupakan bagian diriku yang ada di alam bawah sadar. Dalam kasusku, Nonik (anak kecil usia 9 tahun) sudah sangat lama menungguku datang untuk diselamatkan. 

Aku merasa berat awalnya. Sulit lah, mengorek kembali luka lama. Ya gimana pik, konsekuensi kalau aku mau lebih sadar.


Dari awal kelas Bunda Cekatan, aku bilang ke diriku kalau menulis bukan untuk pamer kosakata tetapi betul-betul untuk mengalirkan rasa. Sama, aku bisa menggunakan jurnal untuk berdialog dengan innerchild aku. Sehingga; aku bisa menulis dengan penuh kesadaran, tidak perlu takut salah, juga yang paling utama baca lagi terus edit lagi. Bukan lagi nulis asal-asalan penggugur kewajiban.

Mba Nuram, sangat terbuka untuk menerima klien. Berbeda sekali dengan psikolog klinis dewasa yang ada di imajinasiku dan yang kemarin-kemarin aku temui. 

Satu hal yang aku catat dan jadikan prioritas dari mba Nuram adalah KEMANDIRIAN EMOSI. Penyembuhan akan maksimal dilakukan oleh diri sendiri. Psikolog dan psikiater serta para konselor sebagai mediator. 

Seringnya aku, saat menemukan mediator yang sesuai, jadi sangat tergantung. Kalau sudah cocok kadang jadi bahaya buat aku. Langsung lebay seolah tanpa psikolog itu aku tak mampu bertahan dari gempuran kesakitan luka dalam. Kemandirian emosi inilah sebaiknya dibawa santai. Psikolog bersikap sebijak mungkin agar klien tidak merasa tertolak dan sakit hati.

19 Januari 2019 Workshop Adjustment Program for Aqil Baligh bersama Bunda Sri Haryati S.Ag 


Sejak bertemu bunda Sri di seminar self awareness alias meraba rasa, aku berasa ketemu sosok ibu yang pas. Di rumah, masih cerewet, masak. Ibu yang sangat aku idamkan menjadi ibuku juga. Intinya mah ibu impian si inner child.  

Workshop aqil baligh ketemu lagi: "Anytime you want, WA aja atuh. Dibalas insya Allah."

Aku jadi paham, anak tidak lah butuh orangtua yang kaya raya, mereka butuhnya yang selalu sedia menerima apa adanya.

Materi kali ini tentang aqil baligh tetapi aku dapat banyak bonus: selesai dengan diri, khidmat dan taat pada suami, serta manajemen konflik yang santuy.

Agak sedih karena napas bunda udah mulai terengah-engah. Namun belajar juga kalau tanggung jawab itu gak ada yang mudah tapi selalu baliknya Lillah.

*****

Pagi ini, aku berterima kasih pada diriku untuk menemani si sulung meregulasi diri. Dia punya PR dari hari jumat yang baru akan dikerjakan 30 menit sebelum berangkat. Dia ingin ayah dan ibu membantu menulis.  Dia tidak ingin terlambat maka dia mulai menangis agar semua maunya dituruti. Aku ingat trik yang diberikan ibu Sri Hayati saat workshop Aqil Baligh Squad: SANTAI. Aku mulai memasang alarm, bilang 10 menit cukup, dan duduk di depan dia. Aku agak kaget saat diriku yang mendikte dengan suara lembut. Biasanya aku akan langsung reaktif, mengomel panjang kali lebar. 

Senang rasanya bisa langsung praktik. Aku putar lagi rekaman audio dari seminar juga workshop. Aku membuat catatan-catatan bukan untuk mengingat tetapi biar merasa mba Nuram sama bunda Sri selalu menemaniku. Alhamdulillah anak kedua juga demam jadi pas aja buat terus memelihara kewarasan.


Terus aku memasukkan catatan yang aku dapat dari supervisi FPCM hari ini tentang dreaded drama triangle dimana aku fokus kepada masalah juga kecemasan. Namun , aku juga bisa memilih untuk melipat segitigaku menjadi the empowerment dynamic untuk mengganti fokus ke jalan keluar dan apa yang aku sukai.

Filial Play Coach Mentor ini sudah hampir 7 bulan aku ikuti pertemuan supervisinya. Ada 40 jam praktik yang butuh klien sukarelawan untuk nantinya aku pilih satu jadi studi kasus. Nah ada saja halangan yang membuat aku belum dapat klien.

“Phalupi, your consistency is good. You don’t give up. Remember everbody have their own journey. Just be yourself!”

Kata-kata dari Miss Alice membuatku sadar bahwa aku belum yakin sepenuhnya dengan FPCM yang sedang aku jalani sekarang sehingga terus menunda. 

Terus Allah baik banget memberikan aku gambaran jelas di mind map. Gambaran tentang diriku bahwa aku cukup konsisten, terselamatkan dengan menekuni fotografi juga menulis, serta terus ingin tahu bagaimana meningkatkan kualitas diri. 

Sebelum membantu dan mencintai orang lain maka aku harus mencintai diriku.  Aku seolah terpanggil kembali setelah proses self healing yang panjang. Ya proses penyembuhan luka pengasuhan ini sudah dimulai sejak kuliah. Semakin intensif setelah aku pindah Jakarta kemudian membuahkan hasil baru-baru ini. Ya masih akan berlanjut tentu saja.

Meskipun tidak sempurna, hidup terus berjalan. Tidak memandang luka sebagai hal yang istimewa karena setiap orang punya. Hidupku aku yang punya terserah aku mau membawa kemana. Hidupmu kamu yang pilih, aku tak punya kuasa untuk mengubahmu.


#belajarmerdeka
#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional



Referensi

Youtube Channel Satu Persen tentang Menghilangkan Sifat Terlalu Sensitif dan Baperan (https://www.youtube.com/watch?v=av2y2O2J4Ps&t=187s)

Materi Mini Seminar: Recovery Your Innerchild oleh Nuram Mubina, M.Psi, Psikolog Klinis Dewasa

Materi Workshop Adjustment Program for Aqil Baligh (Pahami Pesan Allah dalam Pendampingan Aqil Baligh) oleh Sri Haryati, M.Ag