Jurnal Telur 1, Welcome Back My Own Self


Semua berawal dari kelas Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional. Kelas impian semua ibu yang telah lulus Bunda Sayang. Alhamdulillah bu Septi Peni Wulandani sendiri bersama mba Ika Praditina yang akan menemani selama 6 bulan ke depan.

"Tidak papa belum ketemu hari ini. Besok kita coba lagi. Bersama."

Lulus Bunda Sayang tidak langsung membuat aku jadi ibu yang disayang. Namun aku paham apa konsep yang ingin ibu Septi sampaikan: KESUNGGUHAN DI  DALAM RUMAH. Bagi aku yang sangat ingin diakui, pekerjaan domestik sangatlah menekan. Tidak ada gaji, sama sekali tidak menarik, dan yang paling utama adalah tidak ada penghargaan nyata.

Aku merenung cukup lama di akhir kelas. Aku merasa gagal. Ya tentu saja karena masih sering marah, lupa komunikasi produktif, juga kehilangan fitrahku sebagai ibu. Aku tidak suka bermain dengan anak, masak, apalagi ngobrol dengan mereka. Aku dan suami masih menggunakan cara kami sendiri-sendiri dalam mendidik anak-anak. Satu tahun kok mubazir gitu.


"Gak ada yang remeh mba. Semua kalau kita bisa lihat dengan sudut pandang yang positif maka semua bisa jadi keterampilan yang unik. Mba yang suka gegoleran mungkin saja bisa jadi ahli tes kasur yang nyaman." (Septi Peni Wulandani)
Adem banget kan yak? Kelam yang awalnya aku rasakan berubah menjadi sinar-sinar penemuan. Kesungguhan di dalam untuk suami dan anak mungkin masih ada di tahap bisa tidak suka tetapi ada kesungguhan untuk membahagiakan diri sendiri yang sedang membara. Itu dulu.

THE SPARKLING PROJECT.


Metaformosis. Dari telur, ulat, kepompong, kupu-kupu. Perjalanan. Menikmati Proses.

Kelas Bunda Cekatan membuat aku kembali pada perjalanan menilik diri. Aku sudah terlalu keras pada diriku sendiri. Kini saatnya berjuang bersama ibu-ibu lain untuk menemukan binar diri yang asli.

Jadi ingat analogi tentang teko, baru bisa dituang ke gelas kalau di dalam ada isinya. Artinya aku baru bisa bermanfaat bagi orang lain setelah aku cukup bermanfaat bagi diriku. 

Waaah... 32 tahun perjalanan titik balik ini.


***


Aku memulai dengan menerima kembali diriku kemudian meminta maaf untuk melalui hari dengan membandingkan diri pada pencapaian juga kebisaan orang lain.

Lupa pada kekuatan diri. Larut dalam khayalan lalu menganggap kenyataan hanya berisi kepahitan.

Jurnal Telur 1 aku diminta melacak kekuatan. Bagaimana bisa melacak sementara diri saja belum menerima, KELEBIHAN & KEKURANGAN.

Kelebihanku: aku ternyata memiliki senyum yang menawan, selalu bergerak, bisa memotret, kemudian cukup reflektif dalam menghadapi masalah yang ada, cukup terstruktur, cukup visioner.

Kekuranganku: simpati yang berlebihan, sering salah fokus, gampang merasa bersalah akibat simpati yang berlebihan, pelupa, terburu-buru.

Kelebihan dan kekurangan ini akan bisa bertambah atau berkurang. Cukupkan ruang terima karena perubahan itu pasti. Satu yang ingin aku tekankan minggu ini adalah menerima diri apapun yang terjadi. Aku berusaha terus membangun kesadaran untuk bahagia dari dalam.


***


Langkah awal menerima kembali diri adalah melakukan rutinitas yang menunjukkan kepedulian akan diri.

Perlahan menerima perubahan tubuh, fungsi anggota tubuh yang berkurang, dan ransel emosi yang berganti-ganti beratnya.

Makan, tidur, sex. Kebutuhan dasar yang sering salah fokus ke pemenuhan kebutuhan orang lain terlebih dahulu. Suami, anak-anak, bahkan teman.

Minum air putih dan makan, kok bisa lupa? Tergerus: besok sarapan apa ya? Sangat takut suami dan anak-anak kelaparan. Namun semua berganti dengan setrikaan baju seragam, cucian piring yang menumpuk, atau gilingan baju masih belum dibilas di mesin cuci.

***

Kegiatan yang biasa aku lakukan setiap diri, aku tulis semua. Aku masukkan ke dalam tabel agar lebih jelas apa-apa saja macamnya. 




Kegiatan-kegiatan yang membuat berbinar sementara sudah dimasukkan telur. Aku akan berusaha konsisten satu minggu ke depan. Setelah itu, aku akan evaluasi lagi apakah benar itu yang tetap bertahan di akhir minggu.

Awal tidak selalu berat. Pada saat aku sudah menemukan apa yang membuat aku berbinar tentu saja konsisten merupakan tantangan. Aku sudah memutuskan jika kelas kali ini akan aku lalui perlahan. Tidak perlu ngoyo di permulaan kemudian kehabisan tenaga pada pertengahan kelas hingga menyerah padahal sudah dekat garis akhir.

***

Percaya diri. Yakin akan keunikan diri. Perlu menyeimbangkan khayalan dengan kenyataan. 

"My biggest fear is that eventually you will see me the way I see myself." (Anonymous)
That's why I will picture myself better before trying to love others again. Welcome back my own self. Hug 🤗 .


#belajarmerdeka

#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

No comments