Pengasuhan Milenial dan Tragedi SMAD


Sosial media mengubah pola pengasuhan. Bagaimana bisa? Ah mungkin kamu hanya sentimen dengan orang-orang yang berhasil menemukan karir baru di media sosial.

Saat ini, semua sudah terpampang nyata bahkan semua orang rela membuat drama demi viral.

Di tahun 2015 pertama kali aku tahu tentang Social Media Anxiety Disorder, Gian baru dua tahun lebih dan media sosial menggila seperti sekarang. Aku masih pake hp BB yang kalau pasang status pun diinterogasi sama Mamahku.



Social Media Anxiety Disorder memiliki ciri: gak buka facebook merasa gelisah, belum dapat like di instagram resah, dan sangat terobsesi punya subscriber jutaan di youtube.

"Banyak anak banyak adsense."
"Aku gak papa kok di-bully, malah jadi banyak tawaran yang masuk."

Itu yang kemarin sempat terlintas di pikiranku. Bikin deh ya youtube channel untuk mengeksplorasi bakat duoG. Setelah aku telusuri lagi, semua karena aku suka banget nonton youtube sementara anak anak kalau jadwal pegang gawai yang dibuka youtube bukan aplikasi permainan anak.

Pernah sampai tahap kecanduan sih baik aku, suami, maupun anak-anak. Namun terselamatkan oleh ilmu.

Selesai belajar tentang keluarga multimedia di Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional cabang Bekasi, aku mulai berdamai kalau duoG akan menjalani kehidupan di zaman milenial yang lebih bergantung pada teknologi. Aneka aplikasi, permainan dalam gawai, dan nantinya berinteraksi di media sosial. Media yang selain punya dampak baik tentu ada buruknya juga. 

***
Pengasuhan milenial yang aku maksud di sini adalah kesadaran aku untuk konsisten menetapkan batasan ke anak-anak tentang teknologi. Tidak memutuskan akses total tetapi tidak juga memberi kebebasan penuh. 

Ya tentu saja karena aku pernah mengalami Social Media Anxiety Disorder. Bagaimana aku jadi begitu malas untuk menyelesaikan tanggung jawabku sebagai seorang ibu, istri, dan juga pribadi. Lupa makan, marah kalau anak minta perhatian, dan yang paling parah lupa kewajiban sebagai seorang muslimah. Scroll instagram, mantengin youtube, bikin draft nangung di blog. Sudah begitu saja seharian. 

Hingga suatu hari Geni bilang, "Ibu jahat aku gak boleh lihat hp tapi ibu boleh." 

Dhuaaar!

"Ibu kan harusnya ngurusin kami, bukan hp hp melulu," tambah mamas Gian.

Aku sungguh kehilangan kata-kata. Ini anak umur 3 tahun sama 6 tahun kok bisa bener banget bilangin emaknya.

Mendadak kilas balik. Dulu, aku juga besar dengan asuhan televisi. Senin hingga sabtu sekolah, minggu nonton televisi sampai menjelang dhuhur. Kurang sekali interaksi dengan orangtua dan juga teman-teman di sekitar rumah.

Terus, bagaimana aku bisa kayak selebgram yang mainan anak aja bikin sendiri atau fokus kasih pendidikan di rumah sementara aku tidak punya bekal. Skenario yang ada di otak aku adalah cara asuh ala papah mamah yang sudah sekolahin beres, kasih makan cukup, ada mainan gak usah protes minta ditemenin main.

Oke tamparan keras dari protes anak-anak yang akhirnya membuat aku mulai memaksimalkan teknologi yang ada.

Berubah atau tergerus.

***

Social Media Anxiety Disorder bisa menimpa siapa saja tetapi bila orangtua yang terimbas tak segera sadar maka bisa menimbulkan efek domino yang buruk. 

Terus solusinya apa Mak?

LEBIH HIDUP DI DUNIA NYATA.

Ketinggalan yang kekinian dong? 

Ah lupa ya zaman dulu tidak ada internet kita bisa bertahan dengan menjalin silaturahim face to face. Masa iya sekarang duduk satu meja makan gak ada interaksi malah dinikmati. Oh please!

Buat aku, perjuangan baru saja dimulai. Jam online sudah ada. Tinggal nambah ilmu sama sering berbagi biar berkah. Aamiin...

(535)

No comments