Jurnal Telur 2, Menambah Indeks Bahagia



Akhir-akhir ini aku sering berpikir tentang kemampuan apa yang harus di-upgrade untuk lebih memudahkan diri. 

Aku sudah mengibarkan bendera putih pada wonder woman yang bersikukuh ingin mengerjakan semua hal dengan sempurna. Ya aku mulai melirik untuk mengerjakan kegiatan harian setahap demi setahap. Dari yang membuat bahagia terlebih dahulu.

Aku juga melakukan refleksi diri setelah melakukan kegiatan harianku. Setelah itu mulai menganalisa apa saja kekurangan yang sudah aku temukan solusinya. 

Aku melakukan sesuatu tanpa kesadaran sehingga berujung lupa. Eh tadi pisaunya taruh dimana ya? Kemarin-kemarin aku pasti memilih untuk menemukan dulu pisau yang hilang tetapi sekarang aku lebih memilih tidak pusing kemudian memakai pisau lain yang tersedia. Mudah? Tentu saja tidak bagi aku yang memiliki lubang kesempurnaan. Namun pelan-pelan aku menikmati proses dengan menikmati segala rasa yang mampir. 

Terburu-buru. Asal jalan aja tanpa persiapan, tanpa rencana. Belum selesai satu, sudah ganti yang lain hingga akhirnya tidak ada yang selesai. Ini mungkin disebabkan oleh kegagalan rencana. Tiap kali aku merencanakan selalu saja tidak membuahkan hasil. Alhamdulillah aku sudah mulai jujur dengan diriku sendiri. Setiap kegagalan yang hadir aku sikapi sebagai jeda. OH GAGAL, OKE ISTIRAHAT DULU. 

Lanjut ke hal yang paling membuatku tidak kemana-mana. SIMPATI BERLEBIHAN. Aku dibesarkan dengan penuh ketakutan dan rasa pahit. Oleh sebab itu percaya diriku terkikis berganti simpati yang salah fokus juga berlebihan. Dilanjutkan dengan rasa bersalah. Namun, seiring bertambahnya pemahaman, aku mulai membiarkan yang sudah berlalu ya berlalu. Ya sedikit-sedikit pastilah teringat. Namanya juga rasa sakit. Bukankah satu rasa sakit baru bisa dihilangkan dengan seribu rasa bahagia.

"Guilty isn't bringing you anywhere." (Alice Arianto)

Aku berdamai dengan cara menerima dan sedikit mengingat. 

Aku menyenangkan diriku sendiri.

Sadari, nikmati, syukuri!

***

Jangan lupa bahagia adalah hashtag untuk kelas Bunda Cekatan ini. Tujuannya adalah melakukan hal-hal yang bisa semua ibu nikmati dengan senang hati. 

Ibu rumah tangga identik dengan minim kompetensi dan kurang percaya diri. Hal tersebut yang aku rasakan hampir delapan tahun berumah tangga juga mendidik dua anak laki-laki. 

"Kapan nambah satu lagi, kali aja masih penasaran cewek."
"Kok gak kerja lagi sih, anaknya sudah gede lho."
"Ih kalau gak perawatan, suaminya nanti direbut pelakor lho."

Aku hampir saja menyerah. Aku dengan penuh kemarahan mengetik surat pengunduran diri. Setelah itu aku malah tertawa keras. Menertawakan diriku sendiri. Kemana aku akan mengajukan surat pengunduran diri sebagai ibu rumah tangga?

Menghela napas panjang saat orderan makanan di ojol tidak sesuai dengan jumlah. Ditambah anak yang ternyata menolak makan. Terus diperburuk dengan diri yang lupa makan. Ya ya ya, shit always happens!

Aku mengusap dadaku yang mendadak kesulitan dimasuki udara. JANGAN LUPA BAHAGIA. Bukankah manusia tercipta punya salah dan dosa. Biasakan minta maaf setiap selesai berkegiatan juga berterima kasih agar hati lega. Minta maaf pada diri sendiri karena terlalu keras terus terima kasih sebab berkenan bertahan.

***
Kompetensi ini baru mengemuka saat aku masuk ke lingkungan keluarga Ibu Profesional. Lah ibu rumah tangga aja gaya pake punya kompetensi segala. Lho justru kompetensi ini dibutuhkan untuk pekerjaan yang tak punya libur, terus-terusan lembur, dan tidak boleh kabur.

Ibarat akan berangkat perang, mati konyol lah kalau gak bawa bekal dan senjata. Delapan tahu booo, benar-benar sakit dibuat sendiri. Phalupi oh Phalupi.

Nah ketika kelas Bunda Cekatan berjalan, aku tahu apa saja kegiatan yang aku suka, dan menemukan cara untuk meningkatkan rasa bahagia. 



semakin sadar umur berkurang maka semakin ingin menikmati hari

Aktivitas-aktivitas yang bisa dan suka ternyata memerlukan kemampuan tambahan agar dapat dijalani serta menambah indeks bahagia.


Tidur yang berkualitas tidak bisa didapat begitu saja. Aku butuh teknik mendelegasikan tugas bermain bersama anak atau setrika kepada suami secara efektif. 

Siapa yang mau sih diperintah? Walaupun aku tahu, suami mampu melaksanakan tugas dengan baik, kalau aku minta sambil marah pasti semua malah jadi runyam. 

Catatan penting yang aku masukkan dalam mendelegasikan adalah menyertakan petunjuk agar suami paham batasan apa yang boleh dan mana yang tidak. Petunjuk ini berguna sebagai penghargaan meskipun hanya sebatas pujian, "Terima kasih ya, anak-anak jadi rajin ke masjid sejak kamu biasakan pergi bersama mereka setiap libur." Jangan sampai yang sudah dibangun selama 5 hari kerja rusak dalam dua hari akhir pekan. Tidur nyenyak berawal dari kerjasama yang bebas stres.

Setelah tidur pulas, aku butuh asupan energi hangat di hati. Membaca bisa menambah semangatku dalam menjalani hari. Apalagi kalau jadwal berenang atau kegiatan luar sekolah si sulung datang. Otomatis aku membuat jadwal tertulis malam harinya. Menggambar ulang topi-topi peran aku agar tidak salah pakai sekaligus menuliskan alokasi waktu yang pas. Manajemen waktu yang aku tetapkan untuk mempermudah diriku bisa membaca tanpa merasa bersalah.

Berkebun, penting dan mendesak sekaligus bahan praktik komunikasi dengan anggota keluarga. Gian juga Geni suka main tanah, suami juga nyambung kalau ngobrol tanaman, apalagi Papah Mamahku juga tangan dingin urusan si hijau ini. Teknik komunikasi yang ingin aku praktikkan adalah terapeutik. Awalnya ini digunakan para perawat agar saat menemani pasien, mereka bisa memberikan kesadaran juga pemahaman akan kondisi aktual pasien. Tahap pendengar aktif dulu sebagai jembatan dan sedikit humor. 

Setelah kegiatan yang bersinggungan dengan orang lain, aku memasukkan bebersih supaya punya me time. Bebersih ditambah menata ulang adalah surga. Waspada sangat diperlukan dalam kegiatan ini. Pada saat semua sudah rapi, ada di tempatnya maka belanja impulsif sangat mungkin bergejolak. Baek baek duhai Phalupi, takut khilaf cuss beli yang belum waktunya. Coba kalau gak cerdas dalam mengatur keuangan, bisa berantem sama suami. Awal bulan rasa akhir bulan mulu jatuhnya.

Membuat konten adalah keterampilan masa depan yang menuntut kompetensi dasar editing atau penyuntingan. Keterampilan ini nantinya yang akan aku gunakan untuk membuat waktu berkualitas bersama si sulung.


keterampilan untuk mempermudah kegiatan bisa dan suka
***

Dalam hidup, aku terkadang ingin lari masuk ke dunia khayalan yang menawarkan bahagia tanpa cela. Namun dari buku "Jalani, Nikmati, Syukuri" karya mas Dwi Suwiknyo aku belajar lagi bahwa mengelola rasa bahagia sama beratnya dengan rasa kecewa. Tidak ada sebaik-baik tempat bergantung selain pada Allah SWT.

Bila nantinya ikhtiar ini menunjukkan hasil, bukan karena aku yang kuat tetapi karena Allah Yang Maha Besar memberikan satu tetes kenikmatan sukses padaku.

Satu poin lagi untuk aku masukkan dalam jurnal ini, menambah indeks bahagia tidaklah  sebegitu nikmat bila tak pernah rasa derita. So, always keep in faith!

#belajarmerdeka
#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu2
#materi2
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Referensi
https://www.lemonilo.com/blog/bahagia-itu-sederhana-inilah-8-definisi-bahagia-yang-harus-kamu-punya-dalam-hidup
https://www.alodokter.com/cara-tidur-nyenyak-ternyata-tidak-sulit
https://koinworks.com/blog/menciptakan-rencana-keuangan/
https://koinworks.com/blog/5-cara-mendelegasikan-pekerjaan-dengan-lebih-efisien/
https://pakarkomunikasi.com/teknik-komunikasi-terapeutik
http://www.gracemelia.com/2016/08/manajemen-waktu-ibu-rumah-tangga.html
Jalani, Nikmati, Syukuri/Dwi Suwiknyo-Yogyakarta:Noktah, 2018

Jurnal Telur 1, Welcome Back My Own Self


Semua berawal dari kelas Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional. Kelas impian semua ibu yang telah lulus Bunda Sayang. Alhamdulillah bu Septi Peni Wulandani sendiri bersama mba Ika Praditina yang akan menemani selama 6 bulan ke depan.

"Tidak papa belum ketemu hari ini. Besok kita coba lagi. Bersama."

Lulus Bunda Sayang tidak langsung membuat aku jadi ibu yang disayang. Namun aku paham apa konsep yang ingin ibu Septi sampaikan: KESUNGGUHAN DI  DALAM RUMAH. Bagi aku yang sangat ingin diakui, pekerjaan domestik sangatlah menekan. Tidak ada gaji, sama sekali tidak menarik, dan yang paling utama adalah tidak ada penghargaan nyata.

Aku merenung cukup lama di akhir kelas. Aku merasa gagal. Ya tentu saja karena masih sering marah, lupa komunikasi produktif, juga kehilangan fitrahku sebagai ibu. Aku tidak suka bermain dengan anak, masak, apalagi ngobrol dengan mereka. Aku dan suami masih menggunakan cara kami sendiri-sendiri dalam mendidik anak-anak. Satu tahun kok mubazir gitu.


"Gak ada yang remeh mba. Semua kalau kita bisa lihat dengan sudut pandang yang positif maka semua bisa jadi keterampilan yang unik. Mba yang suka gegoleran mungkin saja bisa jadi ahli tes kasur yang nyaman." (Septi Peni Wulandani)
Adem banget kan yak? Kelam yang awalnya aku rasakan berubah menjadi sinar-sinar penemuan. Kesungguhan di dalam untuk suami dan anak mungkin masih ada di tahap bisa tidak suka tetapi ada kesungguhan untuk membahagiakan diri sendiri yang sedang membara. Itu dulu.

THE SPARKLING PROJECT.


Metaformosis. Dari telur, ulat, kepompong, kupu-kupu. Perjalanan. Menikmati Proses.

Kelas Bunda Cekatan membuat aku kembali pada perjalanan menilik diri. Aku sudah terlalu keras pada diriku sendiri. Kini saatnya berjuang bersama ibu-ibu lain untuk menemukan binar diri yang asli.

Jadi ingat analogi tentang teko, baru bisa dituang ke gelas kalau di dalam ada isinya. Artinya aku baru bisa bermanfaat bagi orang lain setelah aku cukup bermanfaat bagi diriku. 

Waaah... 32 tahun perjalanan titik balik ini.


***


Aku memulai dengan menerima kembali diriku kemudian meminta maaf untuk melalui hari dengan membandingkan diri pada pencapaian juga kebisaan orang lain.

Lupa pada kekuatan diri. Larut dalam khayalan lalu menganggap kenyataan hanya berisi kepahitan.

Jurnal Telur 1 aku diminta melacak kekuatan. Bagaimana bisa melacak sementara diri saja belum menerima, KELEBIHAN & KEKURANGAN.

Kelebihanku: aku ternyata memiliki senyum yang menawan, selalu bergerak, bisa memotret, kemudian cukup reflektif dalam menghadapi masalah yang ada, cukup terstruktur, cukup visioner.

Kekuranganku: simpati yang berlebihan, sering salah fokus, gampang merasa bersalah akibat simpati yang berlebihan, pelupa, terburu-buru.

Kelebihan dan kekurangan ini akan bisa bertambah atau berkurang. Cukupkan ruang terima karena perubahan itu pasti. Satu yang ingin aku tekankan minggu ini adalah menerima diri apapun yang terjadi. Aku berusaha terus membangun kesadaran untuk bahagia dari dalam.


***


Langkah awal menerima kembali diri adalah melakukan rutinitas yang menunjukkan kepedulian akan diri.

Perlahan menerima perubahan tubuh, fungsi anggota tubuh yang berkurang, dan ransel emosi yang berganti-ganti beratnya.

Makan, tidur, sex. Kebutuhan dasar yang sering salah fokus ke pemenuhan kebutuhan orang lain terlebih dahulu. Suami, anak-anak, bahkan teman.

Minum air putih dan makan, kok bisa lupa? Tergerus: besok sarapan apa ya? Sangat takut suami dan anak-anak kelaparan. Namun semua berganti dengan setrikaan baju seragam, cucian piring yang menumpuk, atau gilingan baju masih belum dibilas di mesin cuci.

***

Kegiatan yang biasa aku lakukan setiap diri, aku tulis semua. Aku masukkan ke dalam tabel agar lebih jelas apa-apa saja macamnya. 




Kegiatan-kegiatan yang membuat berbinar sementara sudah dimasukkan telur. Aku akan berusaha konsisten satu minggu ke depan. Setelah itu, aku akan evaluasi lagi apakah benar itu yang tetap bertahan di akhir minggu.

Awal tidak selalu berat. Pada saat aku sudah menemukan apa yang membuat aku berbinar tentu saja konsisten merupakan tantangan. Aku sudah memutuskan jika kelas kali ini akan aku lalui perlahan. Tidak perlu ngoyo di permulaan kemudian kehabisan tenaga pada pertengahan kelas hingga menyerah padahal sudah dekat garis akhir.

***

Percaya diri. Yakin akan keunikan diri. Perlu menyeimbangkan khayalan dengan kenyataan. 

"My biggest fear is that eventually you will see me the way I see myself." (Anonymous)
That's why I will picture myself better before trying to love others again. Welcome back my own self. Hug 🤗 .


#belajarmerdeka

#merdekabelajar
#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

5 Tips Memulai Bisnis Fotografi ala Emak Sensi


"Memulai, perlu keberanian. Membesarkan, perlu ilmu. Itulah kuncinya dalam bisnis." (Ippo Santosa)
Berawal dari niat untuk memaksimalkan kamera yang hampir tiga tahun suami hadiahkan. Aku ingin merasakan lagi bagaimana rasanya produktif dan bermanfaat. 

"Enak dong jadi ibu rumah tangga penuh. Gak ada kerjaan serius. Bisa santai."

Inginku berkata kasar kan yak. Namun dari situlah muncul ide untuk memulai bisnis.  Aku memantapkan niat untuk menggunakan kamera. Belum tahu sih mau bisnis apa dengan kamera.

Ceileee mpok bisnis, makan aja mager mau bisnis apaan. Ya dulu aku begitu memandang negatif diriku sendiri. Yang males lah, penakut juga, inner child belum selesai lagi.

Kemudian fotografi muncul, passion lama yang menyelamatkanku dari hasrat bunuh diri. Ya buat orang lemah kaya aku, mengakhiri hidup adalah pilihan teratas paling cepat. Fotografi memberikan lagi sensasi-sensasi kesenangan kembali ke diri sendiri tanpa harus langsung menghakimi.



***

Pengasuhan Milenial dan Tragedi SMAD


Sosial media mengubah pola pengasuhan. Bagaimana bisa? Ah mungkin kamu hanya sentimen dengan orang-orang yang berhasil menemukan karir baru di media sosial.

Saat ini, semua sudah terpampang nyata bahkan semua orang rela membuat drama demi viral.

Di tahun 2015 pertama kali aku tahu tentang Social Media Anxiety Disorder, Gian baru dua tahun lebih dan media sosial menggila seperti sekarang. Aku masih pake hp BB yang kalau pasang status pun diinterogasi sama Mamahku.