Selingkuh dengan Gadget

Dari KBBI Daring, gadget atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan gawai adalah peranti elektronik atau mekanik dengan fungsi praktis. Bisa laptop, telepon seluler (ponsel), atau modem USB.

Gadget bersifat mudah dibawa kemana pun sehingga bisa dipakai kapan saja kita membutuhkan. Itulah kenapa saat ini ketika gadget berkembang dan mulai mengambil alih peran, seolah gadget membenarkan jargon: mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.

"Kalau sudah baca komik di hp, mana ingat dia sama istri atau anak-anaknya," protes istri melalui status di media sosial.


Membaca komik kesukaan sekarang sudah bisa dalam genggaman tangan. 
Telah menjadi pemandangan yang biasa saat ini ketika menunggu makanan disajikan di restoran, semua anggota keluarga sibuk dengan gadget masing-masing. Komunikasi langsung yang terlupakan. Tidak ada lagi celoteh anak-anak tentang kegiatan apa saja yang dilakukan di sekolah, curhat suami tentang proyek barunya, atau diskusi keluarga untuk rencana piknik tahunan. 

"Istriku kalau sudah nonton drama korea, alamat rumah gak keurus deh."


Salah siapa? Pemain drama korea atau yang nonton?
Pernah menggerutu atau bahkan menegur pasangan secara langsung? Ketika melihat mereka konsentrasi penuh di depan gadget masing-masing. Rumah berantakan, anak tak terurus, bahkan makanan atau minuman sambutan saat pulang kerja tidak ada di meja.

Ketegangan demi ketegangan terjadi. Gadget mengambil alih peran istri atau suami sebagai teman ngobrol, penghibur, mungkin hingga kepuasan hubungan emosional.

"Selingkuh dengan gadget? Iya lah. Bangun tidur yang dicariin ponsel, pulang kerja yang dipegang tablet, dan mau tidur pun yang dibuka dulu laptop. Awalnya gak masalah. Eh lama-lama kok dunia kaya milik dia dan gadgetnya, aku ngontrak aja tuh".

***
Selingkuh itu mengundang. Bagaimana tidak? Ketidakpuasan kita dengan apa yang kita miliki membuat kita menuntut lebih. Baik pada diri, orang lain, hingga lingkungan di sekitar kita. Tanpa disadari tuntutan-tuntutan tidak masuk akal mulai memperkuat niat kita menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan diri.

Gadget membuat komunikasi antara suami dan istri terganggu.

"Mah, kok tagihan kartu kredit membengkak ya? Kamu belanja apa aja pas harbolnas?" tanya suami masih dengan membelai layar sentuh ponsel pintarnya.
"Gak banyak kok Pah. Hanya sepuluh buku dan satu Apel keluaran terbaru," sahut istri santai sambil meneruskan memasukkan baju-baju diskon incarannya ke keranjang virtual.

Suami menganggap istri boros, istri berpikir suami pelit. Tidak ada komunikasi efektif yang terjalin. Apabila tidak ditangani segera maka perselingkuhan tersebut bisa merusak keharmonisan rumah tangga.

"Ya sudah, nikah saja dengan ponselmu! Kan kamu bilang aku gak becus dalam mengurus rumah."

Perselingkuhan ini membahayakan. Ponsel membuat waktu fokus kepada keluarga berkurang, prioritas berubah, dan mulai muncul konflik-konflik yang tak terselesaikan.

***

Anak-anak zaman sekarang, generasi dengan teknologi yang berkembang pesat, tentu jadi sebuah tantangan tersendiri agar bisa mendidik mereka sesuai zamannya. Belajar melalui YouTube, mencari informasi melalui Google, hingga aplikasi-aplikasi yang harus di-download demi kemudahan.

Banyak kecanduan-kecanduan teknologi yang diceritakan oleh orangtua menyerang anak-anak. Belum ada solusi karena orangtua sendiri masih terhanyut dalam hubungan indah dengan gadget. Tidak pernah ngomel, ngambek, dan kalau rusak ya tinggal beli lagi.


"Cita-citaku pengen jadi hp."

Bisa jadi cita-cita itulah yang akan dimasukkan anak-anak kita ke dalam buku impiannya. Buat apa repot-repot menjadi dokter kalau ternyata ibu dan ayah lebih cinta ponselnya.

Terus bagaimana cara kita bisa kembali ke jalur yang sesuai?

^Dengarkan pendapat anak atau orang terdekat

Titik balik orangtua mungkin melalui anak-anak.

"Kok ibu lihat hp terus sih. Sini main sama mamas sama dedek!"

"Ayah kalau lagi main hp pasti gak mau dengerin aku."

Bila ternyata ada pekerjaan yang memang harus segera diselesaikan sebaiknya kita meminta izin atau berkompromi dengan anak atau pasangan. Bicarakan dan temukan solusi agar anak atau pasangan tidak merasa diselingkuhi.


^ Saling mengingatkan saat pasangan baik itu suami maupun istri terlihat terlalu fokus dengan gadget saat sedang bermain dengan anak

Mintalah dengan nada yang lembut untuk meletakkan gadget dan fokus dengan yang sedang dilakukan. Misalnya sudah waktunya bermain dengan anak, ya ingatkan untuk memberikan perhatian penuh tanpa terbagi dengan apapun.

^Sepakati jadwal bersama

Sebaiknya suami istri memiliki kesepakatan tentang jadwal untuk bisa saling memahami. Apabila sudah memiliki anak maka suami istri bisa melibatkan anak dalam pembuatan jadwal agar waktu keluarga bisa lebih berkualitas.

Biasanya anak-anak jauh lebih bisa disiplin. Anak-anak lebih sering berperan sebagai polisi untuk mengingatkan, meminta gadget kita lalu meletakkan di tempat seharusnya. Namun ada juga anak yang langsung membanting gadget kita begitu tahu kita tidak memberikan perhatian penuh padanya. Gadget rusak, hubungan dengan anak pun bisa memburuk. Jadi segeralah patuhi jadwal jika sudah disepakati bersama.

^Sadari bahwa gadget untuk memudahkan kita bukan kita yang diperbudak oleh gadget


Pada mulanya pasti bertujuan mempermudah pekerjaan. Namun lama kelamaan karena keberadaannya yang selalu ada dekat dengan kita maka jadi terbiasa kemudian berlebihan hingga kecanduan.

Tentu saja butuh kesadaran yang utuh dan penuh agar kita bisa mengelola diri, mengatur waktu, dan menentukan prioritas. Kapan saat yang tepat untuk ber-gadget ria, kapan pula harus hadir utuh dan penuh di keluarga.

^Jika kita bisa pasang timer untuk anak kenapa ke diri sendiri tidak?

Ingat anak mencontoh orangtua jadi sebaiknya beri contoh yang baik dan benar.

***

Selingkuh itu tidak berarti kamu harus mencium, bertemu, atau bercinta dengan orang lain. Hanya dengan mengabaikan orang yang kamu sayang saja, kamu sudah berada di tahap curang. (Anonim)

Tulis ulang dari 352 ke 811 untuk tema selingkuh Ruang Menulis

BELAJAR HENING, TAK HARUS SEPI

Hadiah tantangan 2 dari grup #funblogging adalah ketemu mas Adjie Silarus. Seorang praktisi MindFullness, Sadar Penuh Hadir Utuh. Kami bisa curhat tentang emosi-emosi yang sedang dirasakan saat ini. Sekaligus bisa belajar bagaimana cara mengolah emosi negatif menjadi positif. Merasa bersyukur karena hampir saja memutuskan tidak hadir karena badmood yang menyapa.

Buat teman-teman yang sudah menang tantangan tetapi berhalangan hadir, semoga artikel ini bisa memberikan gambaran tentang belajar hening bersama mas Adjie Silarus.

 1. Sesi Curhat
Sesi belajar hening bersama Mas Adjie Silarus diawali dengan penjelasan tentang kehidupan kita yang sangat cepat. Banyak hal yang dilakukan dan diinginkan hingga kita lupa sisi being (yin) kita. Lebih mengedepankan sisi doing(yang) kita. Doing (yang) terlalu berambisi, ingin semua serba cepat, dan jika mampu kita bisa mendapatkan apa saja yang kita inginkan. Lalu dari ketidakseimbangan itulah muncul masalah-masalah yang membuat kita tidak menikmati hidup, stres berat dan gangguan mood.
Jika tidak disikapi dengan tepat maka bisa berakibat pada keinginan kuat untuk mengakhiri hidup. Seperti halnya fenomena yang dewasa ini acap kali ditemukan. Artis sangat terkenal, pengusaha kaya raya, atau ibu rumah tangga sukses yang ditemukan bunuh diri. Kok bisa? Mereka kan terkenal, kaya, sukses pula. Bagaimana bisa mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup?

Tentu saja kita harus menyeimbangkan sisi being (yin) dan juga sisi doing (yang) milik kita. Penjelasan tentang apa itu  being (yin) dan doing (yang), ada di bawah ini.


 

Banyak pertanyaan yang muncul setelah mas Adjie Silarus menjelaskan pentingnya menyeimbangkan sisi being (yin) dan sisi doing (yang). Sayangnya karena tidak ada catatan atau rekaman, aku masukkan yang aku ingat saja ya. 
- Jika kita sudah belajar hening, apakah kita tidak boleh punya ambisi?
Tentu saja boleh tetapi kembali lagi bagaimana cara kita untuk tidak tergesa agar ambisi kita bisa jadi hal yang tepat untuk kita dapatkan.

-Bagaimana cara kita konsisten setelah memilih untuk belajar hening?
Dengan cara menikmati proses. Tidak terlalu mengharapkan hasil. Jika kita nothing to lose maka dengan sendirinya kita lebih menikmati apapun keputusan yang sudah kita ambil. Jangan selalu membenci setiap keputusan yang sudah kita putuskan sendiri.

-Saya stres tetapi tidak bisa curhat ke orang?
Orang introvert tidak bisa dipaksa untuk lebih terbuka ke orang lain. Namun tidak ada salahnya mencoba. Jika memang tidak bisa curhat ke orang, bisa mencoba curhat melalui tulisan. Berbagi emosi-emosi kita ke orang lain berarti kita bisa mengurangi beban yang berpotensi membuat stres.

-Saya sering dicurhati lalu terlalu larut dalam curhat seorang teman, apa yang harus saya lakukan akan bisa kembali menikmati hidup?
Luangkan waktu untuk meletakkan kedua kaki atau tangan di tanah. Menjejak ke tanah. Jangan lupa meminta maaf ke ibu pertiwi karena kita menyalurkan energi negatif kita dan menyerap energi positif dari alam atau ibu pertiwi.
Dekat dengan alam membuat kita lebih bersyukur dan rasa syukur memberikan ketenangan. Ketenangan membuat kita bisa menikmati hidup kita kembali.

-Social Media Anxiety Disorder, bagaimana cara saya menghindari penyakit itu?
Social Media Anxiety Disorder adalah penyakit yang membuat kita khawatir saat kita tidak segera mengecek notifikasi-notifikasi facebook, twitter, email, whatsapp grup, dan akun-akun sosial media yang berhubungan dengan keseharian kita. Akhirnya kita kemana-mana tidak bisa jauh dari gadget kita.
Agar kita terlepas dari kekhawatiran dan memiliki waktu yang lebih berkualitas dengan orang-orang yang kita cintai  maka harus dibuat jadwal. Dari jam berapa sampai jam berapa kita mengecek semua notifikasi tersebut. Di luar waktu-waktu itu, kita bisa memaksimalkan waktu untuk diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai.

-Saya ingin bisa belajar melepaskan, bagaimana caranya?
Belajarlah dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Seperti halnya kebiasaan, 1 book out 1 book in. Jika kita mau beli satu buku baru maka harus ada satu buku yang diberikan ke orang lain.
Setelah itu tanamkan pikiran bahwa tidak akan rugi jika kita berbagi. Perubahan pola pikir akan membuat kita lebih mudah untuk melepaskan.

-Mas Adjie, saya punya teman dekat yang membuat saya nyaman. Saya takut jika suatu saat dia pergi, bagaimana dengan saya?
Tidak ada satupun hal di dunia ini yang kekal. Kita akan lebih tegar menghadapi kenyataan-kenyataan pahit seperti kehilangan jika kita tahu bahwa semua itu tidak abadi.

-Apakah kita harus berada di tempat yang sepi untuk belajar hening?
Tidak harus, belajar hening bisa dilakukan di mana saja. Saat menunggu, saat KRL penuh sesak kita bisa belajar hening. Menikmati setiap hembusan napas, bersyukur untuk setiap hal yang kita miliki. Saat ini, ya hembusan napas kita.



2. Sesi Meditasi
Sepuluh menit terakhir, mas Adjie Silarus mengajak kami untuk berlatih meditasi. Salah satu cara untuk belajar hening, merasakan tarikan dan hembusan napas kita sendiri. Diiringi musik yang menenangkan. Duduk dengan posisi senyaman mungkin, mulai menutup mata. Jika merasa ngantuk yang luar biasa (seperti yang aku rasakan, hihihi), mas Adjie Silarus membimbing agar kita bisa mengontrol pikiran kita sendiri. Menahan secara bertahap rasa kantuk yang menyerang. Setelah itu, meletakkan tangan kanan di perut dan tangan kiri tetap di paha untuk merasakan keluar masuknya udara. Kami melakukan pernapasan perut. Saat menarik napas, perut diupayakan mengembang dengan maksimal. Ketika menghembuskan napas, perut dikempiskan hingga sekempis mungkin.
"Ada beberapa teman yang masih menarik napas secara terburu-buru," kata mas Adjie mengingatkan.
"Lakukan perlahan, nikmatilah keluar masuknya napas. Bersyukur kita masih diberi napas hingga hari ini," mas Adjie membimbing dengan sabar.
"Jika ada pikiran yang berkelana menyesali masa lalu, tarik kembali ke masa kini. Jika ada pikiran yang jalan-jalan ke masa depan, ingatkan dia untuk pulang ke masa kini."
Kami berkonsentrasi dengan napas kami. Napas yang masuk. Napas yang keluar. Saat ini. Bukan kemarin. Bukan juga besok. Sekarang, sadar penuh hadir utuh di sini.

Terima kasih mas Adjie Silarus dan tim SukhaCitta yang telah menyambut kami dengan penuh kehangatan. Kami pulang dengan hati senang dan riang. Plooong rasanya, siap menghadapi hari baru yang penuh rasa syukur. Semoga bisa ketemu lagi lain waktu. Belajar hening lagi. Terapi aura lagi. Aura positif tentu saja.


AKU BISA KARENA TERPAKSA

Terpaksa. Membuat seseorang terbangun dari zona nyaman. Zona yang merupakan rangkaian aktivitas yang berulang lalu menimbulkan kebosanan. Sungguh kata ‘terpaksa’ membuat hidup seseorang memiliki dinamika. Ada naik turunnya.
Masuk ke jurusan pendidikan bahasa Inggris di Universitas Negeri Semarang adalah paksaan. Awalnya aku ingin masuk jurusan psikologi. Namun karena semasa SMA jurusanku adalah bahasa maka ibuku bersikukuh bahwa jurusan bahasa Inggris adalah yang paling tepat. Aku menjalani masa empat tahun dengan sukses. Tepat waktu. Karena apa? Terpaksa membuat aku akhirnya menempuh apa yang sudah ada digenggaman. No other possible choice. Take it or leave it!
Skripsi adalah keterpaksaan yang membuat aku merasa jadi manusia yang paling kuat di dunia. Bayangkan saja, aku yang biasa tidur dua belas jam sehari tiba-tiba bisa tidur hanya dua sampai empat jam sehari demi kertas-kertas ratusan lembar yang harus selesai setiap paginya agar dapat ikut bimbingan. Antrian yang mengular setiap pagi, coretan dosen sebagai tanda revisi, dan di depan laptop untuk waktu yang tak berbatas. Setelah semua berakhir, aku tersadar. Jika aku tak memaksa diriku maka tidak akan ada gelar S.Pd di belakang namaku. Aku tak akan dengan bangga bercerita kepada adikku bahwa aku lulus tepat waktu. Aku juga tak akan bisa memberi motivasi adikku untuk lulus lebih cepat.
Jika hidup menawarkan pilihan maka tidak ada salahnya kita salah pilih. Karena dari kesalahan itulah kita belajar untuk menghargai diri sendiri. Memaksa kita untuk mengingat bahwa jika sudah memilih maka kita harus siap dengan segala keruwetan, kerempongan, keriwehan yang ditimbulkan dari pilihan kita.
Dulu aku tak suka anak-anak. Namun karena terpaksa aku bisa menjalani dua tahun yang penuh perjuangan mengajar anak-anak di taman kanak-kanak Bukit Aksara. Aneh tapi nyata. Berawal dari rasa terpaksa, berproses. Lalu ada satu titik dimana aku sangat menikmati ada di sekitar mereka. Menjadi idola, menjadi panutan dan selalu ditelepon pagi-pagi hanya untuk menanyakan seragam warna apa yang dipakai hai ini. Sungguh waktu memang selalu bisa memberi kejutan yang tak disangka.
Sungguh apabila kita jeli, kita bisa melihat bahwa keterpaksaan membawa hasil yang bagus. Kita jadi berani mengambil resiko terkadang tanpa memikirkan apa hasil atau tantangan yang akan kita hadapi.   

Mainan Anak, Kasih Sayang atau Persaingan


Semenjak menjadi ibu rumah tangga, waktu aku habiskan bersama anak selama 24 jam penuh.

Waktu untuk bersosialisasi atau keluar dari rumah mengikuti jam makan anak. Jam setengah 7 pagi untuk sarapan, jam 11 untuk makan siang, dan jam 3 adalah makan sore. Waktu bersosialisasi adalah saat anakku berinteraksi dan bermain dengan anak-anak tetangga. Sementara aku, ngerumpi bareng emak-emak.

Tema pembicaraan kami campur aduk. Dari membandingkan perkembangan anak-anak, mainan apa yang seharusnya dibeli, dan kadang ngelantur ke harga emas yang merangkak naik.

Obrolan kami terhenti saat anak-anak kami mulai menangis. Berebut mainan. Mainan motor matic yang masih baru.

"Sudah, gak usah menangis. Nanti minta ayah beliin."

"Iya minta beliin ayahmu aja, murah kok. Gak sampe jual mobil."

"Pasti ayah beliin lah. Kan ayahmu sayang banget ama kamu."

Aku merasa tertampar. Sayang? Itukah ukuran sayang? Membelikan mainan yang anak mau.

motor mainan
"Nih motormu baru jadi gak usah rebutan lagi ya. Kamu pake punyamu, dia pake punya dia."

Anakku Gara menangis sejadi-jadinya. Semua teman makan siangnya sudah punya motor mainan. Dia sendiri saja yang belum.

Ada rasa sedih yang menyesakkan dadaku. Aku sayang anakku. Aku ingin yang terbaik untuknya. 

Rasa sedih berubah jadi marah, aku dan suami sanggup kok membeli sepeda motor matic mainan itu. Jika hanya untuk memuaskan ego semata, kami sanggup mengikuti persaingan sengit ini. Persaingan membelikan mainan yang dimiliki teman-teman Gara. Apa yang teman-teman Gara punya, Gara juga punya.

Lalu apa yang didapat Gara? Iya dia berhenti menangis tetapi setelah itu dia tahu bahwa untuk mendapatkan sesuatu, dia cukup menangis. Aku tidak mau seperti itu. 

Aku biarkan Gara menangis. Setelah lelah aku peluk dia.

"Nak, ambil mobil-mobilan Gara aja yuk. Bisa gantian nanti sama adek. Adek pake mobil Gara, Gara pinjam motor adek. Gimana?"

Gara menjawab dengan anggukan lemah, aku senang. Satu sisi bisa mengalahkan egoku dan di sisi lain anakku belajar banyak hal. Bahwa menangis tidak membuatnya dapat apa yang diinginkan. Dia juga belajar tidak semua hal bisa dimiliki. Selain itu dia belajar meminjam dan berbagi dengan orang lain.

Gara dengan mobil mainannya

Belajar berbagi


Jika hanya menuruti ego maka kita pasti akan memetik bintang sebagai tanda sayang.

Persaingan kadang memang untuk kemenangan. Namun, setelah menang, rasa apa yang tertinggal? Semoga bukan kehampaan.

Guru TK, Jangan Hanya Sabar!

"Pekerjaannya apa mba?"
"Oh saya guru TK ibu,"
"Wah, pasti sabar banget ya mbanya ini."

Saat itu, Aku baru lulus kuliah jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Sebagai fresh graduate, Aku mencoba melamar ke beberapa sekolah. Diterima di sekolah nasional plus di Semarang. Sekolah untuk anak usia dini mulai dari toddler hingga TK B. Sekolah ini mengajarkan bahasa Inggris untuk anak-anak usia 2 sampai 6 tahun. Bagaimana caranya? Ya melalui instruksi sehari-hari, sapaan yang biasa digunakan, dan kosakata-kosakata baru yang dekat dengan keseharian anak-anak.

Awalnya Aku berpikir, sabar adalah kuncinya. Jika Aku sabar maka, semua akan berjalan dengan baik. Ups, hari-hari berjalan. Kesabaranku semakin menipis. Anak-anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini. Mereka punya pola pikirnya sendiri. Begitu susah saat kita tidak memahami dan mengerti bagaimana karakter mereka lalu kita dituntut untuk belajar bersama mereka. Hampir setiap hari, rasanya mata ini mau lepas. Ada yang menangis, ada yang mengompol, dan paling menyesakkan adalah yang buang air besar di celana. Kesabaranku ternyata terbatas. Mataku melotot dan anak didikku menangis sejadi-jadinya karena takut.

Siang hari setelah semua kelas, Aku dipanggil kepala sekolah untuk diajak bicara.
"Miss Apik, kalau mengajar anak-anak tidak bisa hanya sabar. Miss Apik harus tahu ilmunya. Ilmu tentang anak-anak. Jika sudah tahu ilmunya maka Miss Apik akan tahu bagaimana caranya merespon mereka."


Ketika kuliah dulu, Aku mendapatkan mata kuliah English for Young Learners tetapi pada praktiknya aku harus banyak belajar lagi. Membaca buku-buku lalu praktik. Agar bisa lebih memahami karakter anak-anak lalu bagaimana mereka berkembang dan bagaimana cara merespon.

Tabel-tabel perkembangan harus dipelajari dan dipraktikkan.

http://3.bp.blogspot.com/-Vol9oQMohlw/TYdjhOopyeI/AAAAAAAAAOs/eSeBQv4dOcg/s1600/Fase-Perkembangan-Anak-3.jpg





Buku lama yang aku jadikan pedoman
Mungkin, banyak orang yang bilang kalau sabar itu tidak ada batasnya. Memang sabar tidak ada batasnya tetapi manusia itu sendiri yang terbatas. Aku sendiri, bukan orang yang sabar. Ditambah lagi, ada masa lalu yang membuat Aku sering terserang gangguan mood. Maka dari itu, ilmu itulah yang membuat Aku bertahan. Ilmu menjadikan Aku tahu. Pengetahuan yang menuntun Aku untuk lebih memahami anak-anak. Pengetahuan itu juga yang memperpanjang masa sabar Aku jika sudah habis masa aktifnya. Aku belajar selama 3 tahun sebagai guru TK. Banyak ilmu yang bermanfaat tentang mendidik anak dan bagaimana menjadi orang tua yang aserftif. Ilmu ini juga yang akan Aku praktikkan saat ini untuk belajar memamahi anakku, Gian Segara Abhipraya.

Jadi paradigma bahwa untuk jadi guru TK harus orang yang sabar terpatahkan. Selalu belajar, menambah ilmu dan juga pengalaman akan membuat kita sebagai guru bisa menempatkan kesabaran pada tempat yang tepat.