Menstimulasi Anak Suka Matematika, Hari 3 Semua Sudah Tersedia

Mendidik anak di rumah bukan hal yang mudah. Namun bukan berarti tidak mungkin ya. Beberapa teman ibu rumah tangga penuh yang berbagi denganku bilang, "Kami selalu merasa tidak cukup baik untuk anak-anak kami."

Tentu saja aku pernah merasakan hal itu hampir selama delapan tahun pengasuhan duoG. Lulusan pendidikan kemudian pernah menjadi guru untuk anak usia dini terus giliran mendidik anak sendiri berasa jadi mak lampir. Tukang teriak dan membentak. Sadar sebentar lalu kumat lagi begitu terus hingga aku sepenuhnya sadar. Mungkin doa dari semua yang sayang atau mungkin juga rezeki duoG. 

"Mau sampai kapan melukai anak demi mengubah kepahitan masa lalu?"

Toh nyaman dan kepuasan setelah berteriak atau memukul anak tidak lebih dari lima detik. Penyesalan tak berkesudahan jua yang selalu menghantui pada akhirnya.

“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar  dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” (Dodik Mariyanto)

Aku pandang lekat-lekat kutipan itu. Kenapa aku diberikan kesempatan sama Allah untuk masuk di Institut Ibu Profesional? Kenapa bukan komunitas-komunitas parenting yang lain? Ahaaa! Pastinya agar aku bisa menerima diriku. IBU RUMAH TANGGA. Ibu yang juga bekerja. Bekerja di ranah domestik. Sama keren dengan ibu yang bekerja di ranah publik. 

Kutipan di atas membuat aku melihat ke dalam diriku: sudahkah aku serius mendampingi anak-anak? Dengan segenap hati membersamai duoG. 

"Tentu saja aku sungguh-sungguh. Semua mainan, buku-buku, dan juga pendidikan tambahan aku sediakan untuk anak-anakku. Apa itu tidak cukup membuktikan kesungguhanku?"

ANAK-ANAK BUTUH KEHADIRAN IBU MEREKA SECARA UTUH DAN PENUH. Bukan mainan atau aksesoris tambahannya. 

👶 "Ibu, ibu, ibuuu. Ayo main sama dedek."
👦 "Ibu sini temenin mamas. Aku bosan."

Langkah pertama adalah menerima kalau ibu duoG memang banyak kekurangan. Apalagi level 6 ini ibu mendapat tantangan untuk menstimulasi duoG suka matematika. Meskipun dasar tetapi ibu tetap harus membaca lagi beberapa buku dan banyak artikel untuk mengembalikan lagi ilmu-ilmu yang mengendap.

Langkah kedua adalah berhenti meminta maaf ke orang lain untuk rumah yang berantakan dan kurang ilmu si ibu. Anak-anak adalah tanggung jawab ibu baik di dunia maupun akhirat. Meminta maaf ya ke anak-anak karena memang ibu penuh kekurangan. Kemudian meminta ampunan kepada Sang Pemberi Amanah. Bukan panik terlihat buruk di hadapan orang lain yang bahkan tidak tahu menahu tentang anak-anakku.

Pada saat kesadaran kembali semua mainan dan juga buku-buku memanggil. Apa guna kami kalau hanya dibeli dan tergeletak tanpa arti?

Ya semua alat pendukung memang sudah tersedia tinggal aku, ibu duoG,  mau bangkit dari zona nyaman atau tidak.
***

Ya katanya sih gitu, pemula kebanyakan bikin yang sederhana jadi rumit
"Ah mau bikin mainan buat anak-anak. Scroll IG dulu deh. Kali aja ada yang bisa dibeli."

Beli. Beli. Beli. Kata itu yang ada di kepala ibu. Padahal rumah juga sudah penuh sesak dengan mainan-mainan dan buku-buku. Dari yang rusak hingga yang masih segel. Kalau jengkel ke anaknya: ya sudah buang aja mainannya. Saking banyaknya dan anak-anak juga gak ingat serta tidak memiliki ikatan bahagia sedikitpun. 

Terus masih mau beli? Ups. 

Mamas Gian mengeluarkan balok andalan dan mulai berkreasi. Silinder, persegi panjang, dan segitiga menjadi orang. Lalu mainan mobil yang kecil mamas fungsikan sebagai tembakan. Apakah Gian komplain dengan mainan yang terbatas? Tidak. Justru saking banyaknya mainan dia bingung mau yang mana dulu mainnya. Ujungnya ya kreasi sesuai dengan yang lagi dia suka.



Sementara Geni malah asyik dengan galon. Apakah perlu beli mainan lagi? Galon saja bahagia asal ada ibunda untuk bermain bersama.


Pada waktu asyik bermain galon dan menabrak gelas berisi air minum juga duoG bolak-balik mengambil tisu sambil berhitung. Tisu yang keenam berhasil membuat mereka paham tisu tidak secepat lap kain ibu.


***

Semua sudah tersedia tinggal meluruskan niat dan menambah ilmu. Anak-anak yang ibu miliki pastilah punya kelebihan juga kekurangan untuk membuat ibu belajar. Ya terkadang anaklah yang kemudian menstimulasi ibu agar menjadi lebih baik menuntaskan perannya.

(603)

#Harike3
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

No comments