Menstimulasi Anak Suka Matematika, Hari 2 Matematika Logis untuk Anak yang Dramatis

Umur 3 dan 6 adalah masa paling bikin frustasi ternyata. Usia yang membuat ibu mulai sering kumat sakit kepalanya atau mau gak mau harus rutin healing. Terlalu ikut campur saat anak-anak bermain malah membuat mereka ketergantungan, membiarkan anak-anak main sendiri kok berantem terus cari perhatian. Pusing pala ibu.

Si mamas lagi kritis banget sementara adek usilnya memancing senewen kemudian ketika main ya maunya diperhatikan semua. Sementara ibu belum siap untuk membagi perhatian secara konstan untuk duoG. 

Akhirnya ibu mengatur permainan bebas untuk mengawali stimulasi. Anak-anak mulai menunjukkan perbedaan ketika bermain dengan paksaan atau senang. Ya permainan bebas cenderung mengarahkan ibu untuk menyabotase, ingin duoG langsung paham, dan kemudian mulai teriak-teriak ketika duoG tidak sesuai dengan keinginan. DuoG jadi drama. Sama-sama tidak menikmati.

bagaimana logika jalan sementara perasaan yang dominan?
Kecerdasan matematika yang dimiliki duoG sebenarnya tidak perlu ibu khawatirkan jika memang ibu terus menerus mengasah kepekaan diri dan fokus pada perkembangan duoG.

***
Poster alfabet terpampang di pintu kamar anak-anak biar ada pengalihan tapi ternyata malah jadi tuntutan.

"Anakku sudah mau 6 tahun kok belum paham alfabet yak. Nanti apa yang orang katakan. Mana belum sekolah lagi. Mana anaknya sensitif lagi. Terus yang satunya malah belum bisa buang air besar di toilet."

Terus saja melihat sisi negatif duoG. Di sinilah ibu harus menyadari kembali bahwa yang dimiliki adalah dua anak laki-laki. 

***

👶 "Mamas ini apa?"
👦 kapal
👶"Ini apah ini apah?"
👦harimau
👶"Ini apah ini apah?"
👦payung
👶"Ini apah ini apah?"
👦sayuran
👶"Ini apah ini apah?"
👦jam

Padahal yang ditunjuk adeknya gambar banteng terus. Mamas mulai tidak fokus karena sudah ingin membeli roti dan susu coklat dingin.

menemukan cara agar ibunya segera teralihkan dari urusan alfabet dan angka
Dalam perjalanan menuju warung, ban belakang motor bocor. Justru di situlah percakapan matematika logis berjalan.

👦"Ibu, kalau roda belakangnya kempes motornya gak bisa jalan ya. Apa yang harus kita lakukan?"
👩"Apa ya mas kira-kira?"
👦"Diisi angin dulu."
👩"Iya terus dilihat apa ada yang bocor atau tidak."
👦"Kenapa ban motornya ada dua?"
👩"Kalau satu apa yang terjadi?"
👦"Susah ya jalannya. Ibu harus dorong motornya. Berat."
👶"Ibu, ibu berat ya bu?"
👩"Yang berat bukan hanya ibu dek, motornya juga jadi berat."
👦👶 "Mamas sama dedek bantu dorong ya bu."

Kejadian yang ada di depan mata ketika ibu mampu menggali logika anak-anak maka drama akan berkurang, solusi bertambah.



Ibu mulai memberikan pilihan-pilihan agar duoG mampu mengidentifikasi mainan apa yang mereka sukai dan cenderung lebih mudah mereka kuasai. 

Mamas Gian tahu bagaimana mengukur waktu agar semua bisa dia mainkan dan masih memiliki waktu untuk main di luar bersama teman-teman. Sementara Geni lebih suka dengan permainan bola geometri dan potong-potong. Namun tahu juga rutinitas membereskan mainan apabila ingin ibu memberikan izin main di luar bersama mamas Gian dan teman-teman.

(453)

#Harike2
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

No comments