Menstimulasi Anak Suka Matematika, Hari 15 Permainan Menakar

Menstimulasi anak matematika ternyata nano-nano rasanya.

Geni mulai dengan tuang menuang satu botol sabun mandi cair ke dalam satu bak yang baru diisi. Hidung meler emak mendadak tambah panas dan kepala kliyengan. 

πŸ§•"Coba lihat nak, air sabun ini akan ibu pindah ke dalam mesin cuci agar tidak terbuang sia-sia. Kira-kira cukup gak ya?"
πŸ§’"Cukup lah. Kan mesin cucinya sama besar kaya baknya."
πŸ‘Ά"Gak tahu ibu."

Ibu memindahkan air dengan menggunakan ember kecil. Mamas Gian menghitung berapa kali tuang hingga mesin cuci penuh dengan air sabun itu. 

πŸ§’"Ternyata tujuh ember bu. Terus sisanya bagaimana? Oh mamas tahu, buat siram baju yang kena ompol dedek saja."

Mamas Gian mencoba menakar air yang ada di dalam bak kemudian masuk ke dalam tabung mesin cuci. Belum menggunakan liter tetapi menghitung dengan ember lalu membandingkan jika ternyata air dalam bak sama dengan tabung mesin cuci jika semua dimasukkan. Namun mamas menyarankan sisa air digunakan untuk merendam baju yang kena ompol karena bau yang menyeruak.

Tahap selanjutnya adalah Geni menuangkan semua sereal coklat ke lantai lalu dimasukkan ke mangkuk-mangkuk sama rata melalui pandangan mata emak. Dengan kepercayaan diri tinggi Geni membagikan mangkuk berisi sereal coklat itu ke mamas.

Inilah waktu yang tak akan pernah terulang. Ngomel panjang lebar saat anak melakukan eksplorasi-eksplorasi yang terlihat menjengkelkan tetapi bermakna.

Jujur dan sadar kemudian besok praktik lagi dengan pendekatan solusi yang berbeda meski kesalahannya sama



#Harike15
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Menstimulasi Anak Suka Matematika, Hari 14 Masak Beras Menjadi Nasi


Tidak sempat memotret karena momennya terlalu cepat untuk diabadikan dan tenggorokan sakit sekali.

Baik Gian maupun Geni suka sekali beras. Selain berantakan adalah surga, duoG suka eksplorasi sensori mereka. Ibu sampai beliin beras paling murah sebagai bahan memenuhi rasa ingin tahu mereka.

Tempat beras juga akhirnya diletakkan di atas agar Geni tidak menjangkau. Namun mamas bisa. Begitu ibu bilang akan masak beras maka mamas langsung ngacir ke dapur lalu menarik pemisah beras sebanyak empat kali. Empat kali tarik sama dengan empat gelas ukur. Ibu yang bertugas mencuci kemudian mamas kebagian menekan tombol 'cook' di rice cooker. 

Dedek Geni memantau perubahan warna lampu yang jadi penanda beras sudah berubah jadi nasi. Seru waktu penanda waktu di ponsel ibu berbunyi.

πŸ‘Ά "Ayo makan. Dedek mau ikan satu bu. Nasinya gak mau."
πŸ§’ "Pake nasi dek biar cepet besar nih kaya aku. Dua centong aku bu."

#Harike14
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Menstimulasi Anak Suka Matematika, Hari 13 Tanpa Sadar Emak Sudah Mengenalkan Matematika


Mamas sedang bermain ponsel lalu menanyakan foto mobil jus yang semalam ibu ambil. Tanpa sengaja di mobil jus ada pola warna keranjang dan pengelompokkan buah.

πŸ‘Ά "Itu dedek beli jus. Jus apel."
πŸ§’"Mamas jus jeruk yang paling banyak buahnya."
πŸ‘Ά "Dedek apel besar."
πŸ§’"Ayah belimbing terus bentuknya bintang."

Untuk pola warna ibu menjelaskan jika itu digunakan agar lebih menarik. Seperti mainan duoG yang warna-warni jika diatur sesuai dengan pola warna maka akan terlihat bagus juga rapi.

Hal-hal yang tanpa sadar ada di sekitar kita semua dan berhubungan dengan matematika. Tak perlu yang jauh dan mahal cukup menambahkan kejelian melihat keadaan sekitar.

#Harike12
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Menstimulasi Anak Suka Matematika, Hari 12 Pergi Kemana Saja Ada Matematika

Pergi ke mini market hitung permen, terus ke beli ayam goreng mengenal bentuk bulat dari roda, dan membuat nasi goreng belajar tahu waktu.

Ya terkadang hal-hal sederhana tak terduga malah menjadi bahan pembelajaran yang mengena.


πŸ‘Ά "Ibu, sedotan aku tinggi."
πŸ§’ "Itu panjang dek bukan tinggi."
πŸ‘Ά"Susu dedek tinggi ibu, punya ibu pendek."

Okelah, belajar memang harus ada yang konkrit bagi anak-anak batita dan balita. Sedekat mungkin dengan yang mereka temui sehari-hari.

#Harike12
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Menstimulus Anak Suka Matematika, Hari 11 Maafkan Ibu Ya Nak!

Hari ini ibu ikut workshop membuat apron dan alas tahan panas. 

Salah perhitungan. Ibu kira siang sudah bisa selesai ternyata baru tuntas jam lima sore.

Sampai di depan gerbang, membayar ojek online, disambut tangisan kencang Geni. Ternyata terjadi insiden sebelum magrib. Geni dan Gian tabrakan hingga menyebabkan Geni jatuh dan terluka.

Ibu meminta maaf karena pulang tidak sesuai jadwal. Alhamdulillah ayah gerak cepat memberikan minyak andalan kami. Luka cepat mengering. 

πŸ‘Ά "Ibu, dedek jatuh kena mamas. Nangis dedeknya."
πŸ§• "Ibu minta maaf ya pulang terlambat sekali."

Sudah minta maaf. Makan bersama dan sekarang mulai baikan. Sudah banyak bicara.

πŸ‘Ά"Ibu, ibu cantik. Ayah ganteng, dedek ganteng, Mamas ganteng."
πŸ§’ "Ibu tadi dedek kena batu jadi berdarah banyak."
πŸ‘Ά "Four, five, six, seven, eight, nine terus ten."
πŸ§’ "Ini aku juga punya luka. Keseret aja tapi. Udah mau sembuh. Kok lama ya bu ganti kulit barunya?"
πŸ§• "Ya terus makan sehat dan bergizi mas."


#Harike11
#Tantangan170hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Menstimulasi Anak Suka Matematika, Hari 10 Mengenalkan Matematika Logis Ala Emak Sensi

Punya dua anak laki-laki berarti mengenalkan juga pekerjaan ibu saat di rumah yang ada hubungannya sama matematika. Kenapa? Ya biar nanti saat menikah tidak semena-mena sama istri. Anak aku bisa menghormati istrinya seperti dia menghargai ibunya. Awas ya kalau nanya harga berapa, tampol nih ama emak sensi *dih baper. Bodo amat!

lihat anak lahap makan membuat ibu bangga

Sosis murah, mudah, cepat. Namun jadi pilih-pilih kalau akhir bulan dan anak-anak mulai susah makan. Matematika logisnya untuk bertahan hingga gajian dan kecerdasam bahasanya untuk membangun kesadaran anak-anak. Ya hidup tak selalu tentang keinginan yang terwujud tetapi juga memahami  perubahan situasi.

andalan akhir bulan dan penahan nafsu makan

Sambal atau sensasi pedas adalah sisi tambahan dari perhitungan ala emak. Anak-anak harus tetap makan sehat sehari tiga kali ditambah dua kali cemilan tetapi ibu bisa makan berat satu kali saja. Ibu menambahkan sensasi pedas baik menggunakan sambal atau bubuk cabe.

#Harike10
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Menstimulus Anak Suka Matematika, Hari 9 Jangan Biarkan Anak Bertanya dalam Diam


πŸ§’"Lihat kekacuan ini. Siapa yang akan membereskan semua ini? Oh aku dan dedek tentu saja."
πŸ§’"Aku kan cuma tanya-tanya bu."
πŸ§’"Ih aku tanya malah main hp aja."

Bertanya adalah tanda anak berkembang kognitifnya. Namun bagi ibu yang kurang dewasa macam aku, butuh banyak belajar dari anak malah. Semoga masa menunggu jawaban atau sebel saat ibu lebih fokus main hp tidak membuat mamas atau dedek baper kemudian malas bertanya.

Memang banyak sekali pertanyaan yang keluar hari ini tetapi ibu tidak fokus ke itu malah fokus melihat gerak tangan mamas Gian. Mamas membantu ibu memasukkan tahu ke dalam minyak yang mulai panas. Biasanya mamas menolak tetapi hari ini dengan fokus penuh mamas memasukkan tahu ke dalam wajan.

πŸ§’ " Ibu kenapa minyaknya ada gelembungnya kalau panas."
πŸ‘Ά "Awas meledak ya bu. Meledak nanti mas."
πŸ§• "Kira-kira mamas tahu gak kenapa?"
πŸ§’ "Biar naik panasnya terus aku bisa goreng."



πŸ‘Ά "Ayo mas goreng. Satu, dua, tiga."
Lha DulGeni ngitung sambil mundur tiga langkah. 
πŸ§• "Kenapa dek?"
πŸ‘Ά "Awas nanti meledak ibu. Mamas, ayo!"
Terus gak papa gitu dek kalau mamas kena ledakan minyak panas. Ah gak beres nih DulGeni.
Ya mamas juga tumben santai masukkin semua tahu sambil menghitung. 
πŸ§’"Udah semua bu. Ada sepuluh. Terus ibu itu bikin apa? Kok cabenya ada sepuluh juga. Bawang merahnya ada tiga aja."
πŸ§• "Sambal kecap mas."
πŸ§’ "Kenapa sih ibu suka pedes? Pedes kan bahaya ibu. Sakit lho nanti perutnya."
πŸ‘Ά "Dedek juga mau mas pedes. Mamas gak mau pedes. Gak mau?"
πŸ§’ "Gak ah nanti sakit perut."

Sebab akibat dan akibat yang mampu mamas jelaskan tetapi belum begitu dipahami oleh dedek. 

#Harike9
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Menstimulus Anak Suka Matematika, Hari 8 Fokus ke Kelebihan dan Penerimaan

Seharian multi chatting membuat aku sadar bahwa sangat mudah memberikan saran kepada orang lain tetapi sulit untuk fokus ke ke kelebihan diri kemudian menerima. Seolah orang lain adalah manusia tanpa cela sementara diriku bergelimangan dosa.

Begitu pula pada saat aku memandang anak-anak. Ah anak-anakku tidak sehebat yang lain. Banyak kurangnya. Harus nambah ini perlu dikuatkan di aspek itu. Tuntutan, tuntutan, dan tuntutan. 

Tidak perlu lah cerita ke orang kekurangan anak-anakku yang harus diceritakan adalah kelebihannya saja. Kemudian aku sampai pada titik, siapa sih anak yang sedang membereskan mainan itu? Siapa pula yang lagi menyapu sisa-sisa makanan agar tidak mengundang semut berpesta.

Owow... Itu duoG ibu. Anak-anakmu. Sibuk dengan kasus-kasus anak lain kemudian abai dengan kelebihan anak sendiri. Ah pasti ada kurangnya ini anak. Belum mampu fokus untuk menerima kelebihan anak sendiri. Marah lagi, ngomel mulu, dan nuntut terus.

Ibu membiarkan anak-anak main bebas. Tidak ada pijakan. Ibu mengamati saja sejauh mana mereka berkreasi.

Mamas Gian lapar setelah itu mulai memotong-motong ikan krispi tuna sisa kemarin menjadi empat. Selesai dengan ikan, mamas Gian meminta batuan ibu memasukkan potongan ikan ke dalam nasi panas agar mudah membulat-bulatkan. Ya intinya ikan terbungkus nasi. Lho kok lahap makannya. Beres makan semua piring dan peralatan mamas letakkan di tempat cuci piring.

dipotong empat biar nanti sushinya gak besar banget
Mamas Gian ternyata memperhitungkan komposisi sushi yang dia imajinasikan kemudian dia eksekusi sushi ikan bulat ala GianGaraGembul.


πŸ‘Ά "Buka dulu kulitnya bu!"
πŸ§• "Dikupas nak."
πŸ‘Ά "Satu, dua, tiga, empat. Selesai deh. Ayo makan."

Geni mengupas kulit pisang sambil menghitung. Begitu pisang yang kedua tinggal setengah, Geni sudah kenyang, dibungkus lagi kulitnya terus dia taruh di tempat sampah. Untung ketahuan sama ibu yang meleng sebentar. Ibu melihat mamas Gian membuat terowongan dari balok di tengah lintasan hotwheel. Akhirnya belum sempat nanya-nanya, ibu keburu  mengambil pisang yang alhamdulillah tertutup sempurna jadi masih bisa diselamatkan. Ibu memasang wajah garang terus menerangkan ke Geni kenapa tidak boleh membuang makanan.


Begitu ibu dan Geni sepakat mengenai makanan, terowongan sudah hancur diserang monster. Geni juga langsung mengambil alih membuat kreasi dari balok. Geni menyusun seperti tangram. Mamas memberi tahu macam-macam bentuk geometri seperti segitiga persegi, persegi panjang, dan bulat pada silinder. 

Tuh kan ibu kalau fokus ke kelebihan dan penerimaan jadi punya rem. Tidak hanya menuntut dan menuntut saja.


#Harike8
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Menstimulasi Anak Suka Matematika, Hari 7 Bermain dan Belajar Bersama

Aktivitas main hari ini sungguh membuka mata. Di dapur dengan dua anak laki-laki berkreasi dengan tepung, ikan, dan telur. Semua dihitung dan direncanakan biar rasanya pas di lidah.

πŸ§’ "Ibu, telurnya dua terus dikasih garam biar asin sedikit. Tepungnya biar telurnya nempel. Tepungnya bau bawang ya bu."

Aku sama sekali pesimis akan bermanfaat saat memutuskan menjadi ibu rumah tangga.  Bisa apa aku ya Allah kok ya dikasih rezeki jadi ibu rumah tangga. Ternyata sekarang lah waktunya. Geni kalau sakit pasti gak doyan makanan beli kecuali mie ayam. Harus makanan yang aku masak. Sementara Gian memang dari kecil tertarik dengan dapur dan memasak. 

Pada saat turun ke dapur maka Gian akan bersemangat membantu. Apalagi mainan tepung. Bahagia juga berbinar. Ibu bahagia karena bisa membuat duoG bermain dan belajar bersama. Ibu merasa bermanfaat.

Semua Gian yang balurin, ibu bagian siapin dan goreng

Ikan tuna yang sudah diiris tipis kemudian dibalur dengan tepung. Mamas sambil menghitung dan menyebutkan apakah bentuk ikannya persegi atau persegi panjang. Setelah itu ikan masuk ke kocokan telur yang sudah ditambah seujung sendok teh garam dan balik ke tepung lagi baru digoreng.  

Hasil perjuangan yang akhirnya buat bekal ngebolang

Dedek Geni sibuk tuang-tuang air teh dari satu gelas ke gelas yang lain.

πŸ‘Ά"Ibu aku tuang gelasnya dua. Satu dua."

Ya baru paham konsep dua.

Malam setelah ngebolang, duoG minta main puzzle dan menikmati sekali.



Puzzle angka ini mainan lama yang aku pikir sudah tidak disukai oleh duoG. Eh begitu nongol, langsung jadi primadona lagi dia.

Ayah juga membantu dengan menceritakan pak Budi si pemadam kebakaran yang kehilangan dua matanya. Ide dari boneka tangan yang matanya dilepas sama dulGeni.

#Harike7
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Menstimulasi Anak Suka Matematika, Hari 6 Kejedut juga Bisa Dihitung


Geni hari ini luar biasa aktif. Sudah diingatkan untuk hati-hati agar terhindar dari cedera, tetap saja bolak-balik terbentur.

πŸ§• "Kamu kok kejeduk kaya makan dek. Sehari tiga kali."
πŸ‘Ά "Iya aku nangis kejeduk."

Habis kejeduk jadi manja minta digaruk punggungnya, tangannya, dan kakinya."

πŸ‘Ά"Bukan yang atas ibu. Itu yang bawah."
πŸ§• Salah ibu garuk pake satu tangan karena yang satunya ngetik.

Mulai tahu konsep atas bawah. Meskipun menghitungnya masih satu, dua, empat, delapan kemudian berakhir dengan banyak.


Mamas berkreasi dengan mobil kecil-kecil. Dari lintasan buku, lintasan tinggi di atas gunung menggunakan bantal, hingga lintasan dengan dua rel.

Tidak spesifik menghitung tetapi lebih ke bagaimana mamas dan dedek menceritakan kembali detil permainannya ke ibu dan ayah.


#Harike6
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Menstimulasi Anak Suka Matematika, Hari 5 Ukur Sana Ukur Sini

Hari ini padat merayap agenda ibu tetapi bubar semua karena kena serangan semut. 

Gatal-gatal merenggut semua semangat main ibu. DuoG berduaan main dan ibu mengumpulkan semangat sejenak sambil ubah letak kasur.

Begitu selesai makan sore, mamas Gian minta main bowling. Dedek Geni ikut terlibat menghitung bowling sebagai ayam goreng ipin-upin.

πŸ‘Ά"Ibu, ayo beli ayam. Siapa mau beli. Beli-beli. Satu ribu."

Belum bisa menyebutkan bilangan sesuai simbol

Geni baru sampai di tahap mengerti warna. Kuning dan hijau. Sedangkan mamas Gian mengurutkan 1-10 kemudian bermain bowling. Mamas menyebutkan angka-angka yang terjatuh duluan.

πŸ§’"Ibu, ini satu sama tiga yang jatuh. Terus aku dapat berapa poin?"
πŸ§•"Satu ditambah tiga mas."
Mamas menunjukkan jari satu dan tiga.
πŸ§’"Empat bu."
πŸ§•"Benar. Tepuk tangan buat mamas."

Setelah selesai dan merapikan bowling, ibu memberikan pijakan untuk mengukur dengan rol meter.

Fokus ukur sana sini

Rol meter ini agak bahaya untuk anak umur di bawah 6 tahun sebenarnya karena terbuat dari seng. Bila tidak waspada bisa menggores tangan atau kaki.

πŸ§’ "Ibu, angkanya ada dua sama nol. Berarti bilangnya apa?"
πŸ§•"Dua puluh nak."

Yihaa... Di tengah gatal yang melanda berhasil juga ukur sana ukur sini hari ini.


#Harike5
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Menstimulasi Anak Suka Matematika, Hari 4 Isi Ulang dan Utang Motorik

Setelah memahami sampai mana tahap perkembangan anak-anak ternyata ibu tidak lantas menjadi santai dan penuh persiapan ketika membersamai duoG. Masih saja tarik urat leher jika mamas Gian mendadak malas-malasan main dengan buku aktivitasnya atau Geni menolak membereskan sisa permainan.

Jangan memaksa anak. Bermain memang kebutuhan anak terus saat anak terlihat kurang bersemangat lantas ibu memaksa. Tentu saja tidak diperbolehkan.  

Marahku mungkin karena kurang ilmu. Bersyukur punya suami dan anak-anak yang memberikan ibunya waktu untuk belajar lagi dan lagi. Jangan sampai ibu memiliki utang main atau kepengasuhan pada anak-anak. 

mengisi ulang tangki ilmu yang kosong
Belajar tentang tuntas motorik bareng bu Ani dan pak Eko sungguh membuka mata.

"Oh pantesan Gian kalau nulis angka 6 dan 9 sering terbalik. Geni juga ada huruf yang nyelip. Ternyata mereka butuh stimulasi lagi agar tuntas motoriknya."

Motorik kasar berhubungan dengan otot-otot besar di lengan, bahu, siku. Tidak ketinggalan perut, punggung, dan kaki. Koordinasi otot-otot besar inilah yang nantinya membantu konsentrasi dan fokus anak-anak. Sia-sia jika motorik halus distimulasi tetapi motorik kasarnya tidak tuntas.

Sampai rumah langsung eksekusi main bola. Ayah dan ibu menggarap motorik kasarnya duoG. Motorik kasar perlu distimulasi terlebih dahulu untuk kemudian memantapkan motorik halus anak. Ibu pikir motorik halus dan kasar distimulasi bersamaan. Isi ulang kan ilmunya.

Sambil bermain bola, Gian menghitung skor

Mamas Gian dan dedek Geni dengan semangat bermain bola bersama ayah.

πŸ§’ "Empat sama ya Yah."
πŸ‘¦ "Oke."
πŸ‘Ά "Dedek juga lima tujuh delapan."

Setelah main bola lanjut dengan mengancingkan baju sendiri, makan sendiri, dan menghitung berapa suap nasi yang sudah masuk ke perut.

Kegiatan-kegiatan yang terlihat sepele tetapi jika orangtua tidak sabaran maka bisa mengganggu motorik kasar anak dan juga kemandiriannya di kemudian hari. Stimulasi matematika iya, motorik juga iya.

(290)

#Harike4
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Menstimulasi Anak Suka Matematika, Hari 3 Semua Sudah Tersedia

Mendidik anak di rumah bukan hal yang mudah. Namun bukan berarti tidak mungkin ya. Beberapa teman ibu rumah tangga penuh yang berbagi denganku bilang, "Kami selalu merasa tidak cukup baik untuk anak-anak kami."

Tentu saja aku pernah merasakan hal itu hampir selama delapan tahun pengasuhan duoG. Lulusan pendidikan kemudian pernah menjadi guru untuk anak usia dini terus giliran mendidik anak sendiri berasa jadi mak lampir. Tukang teriak dan membentak. Sadar sebentar lalu kumat lagi begitu terus hingga aku sepenuhnya sadar. Mungkin doa dari semua yang sayang atau mungkin juga rezeki duoG. 

"Mau sampai kapan melukai anak demi mengubah kepahitan masa lalu?"

Toh nyaman dan kepuasan setelah berteriak atau memukul anak tidak lebih dari lima detik. Penyesalan tak berkesudahan jua yang selalu menghantui pada akhirnya.

“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar  dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” (Dodik Mariyanto)

Aku pandang lekat-lekat kutipan itu. Kenapa aku diberikan kesempatan sama Allah untuk masuk di Institut Ibu Profesional? Kenapa bukan komunitas-komunitas parenting yang lain? Ahaaa! Pastinya agar aku bisa menerima diriku. IBU RUMAH TANGGA. Ibu yang juga bekerja. Bekerja di ranah domestik. Sama keren dengan ibu yang bekerja di ranah publik. 

Kutipan di atas membuat aku melihat ke dalam diriku: sudahkah aku serius mendampingi anak-anak? Dengan segenap hati membersamai duoG. 

"Tentu saja aku sungguh-sungguh. Semua mainan, buku-buku, dan juga pendidikan tambahan aku sediakan untuk anak-anakku. Apa itu tidak cukup membuktikan kesungguhanku?"

ANAK-ANAK BUTUH KEHADIRAN IBU MEREKA SECARA UTUH DAN PENUH. Bukan mainan atau aksesoris tambahannya. 

πŸ‘Ά "Ibu, ibu, ibuuu. Ayo main sama dedek."
πŸ‘¦ "Ibu sini temenin mamas. Aku bosan."

Langkah pertama adalah menerima kalau ibu duoG memang banyak kekurangan. Apalagi level 6 ini ibu mendapat tantangan untuk menstimulasi duoG suka matematika. Meskipun dasar tetapi ibu tetap harus membaca lagi beberapa buku dan banyak artikel untuk mengembalikan lagi ilmu-ilmu yang mengendap.

Langkah kedua adalah berhenti meminta maaf ke orang lain untuk rumah yang berantakan dan kurang ilmu si ibu. Anak-anak adalah tanggung jawab ibu baik di dunia maupun akhirat. Meminta maaf ya ke anak-anak karena memang ibu penuh kekurangan. Kemudian meminta ampunan kepada Sang Pemberi Amanah. Bukan panik terlihat buruk di hadapan orang lain yang bahkan tidak tahu menahu tentang anak-anakku.

Pada saat kesadaran kembali semua mainan dan juga buku-buku memanggil. Apa guna kami kalau hanya dibeli dan tergeletak tanpa arti?

Ya semua alat pendukung memang sudah tersedia tinggal aku, ibu duoG,  mau bangkit dari zona nyaman atau tidak.
***

Ya katanya sih gitu, pemula kebanyakan bikin yang sederhana jadi rumit
"Ah mau bikin mainan buat anak-anak. Scroll IG dulu deh. Kali aja ada yang bisa dibeli."

Beli. Beli. Beli. Kata itu yang ada di kepala ibu. Padahal rumah juga sudah penuh sesak dengan mainan-mainan dan buku-buku. Dari yang rusak hingga yang masih segel. Kalau jengkel ke anaknya: ya sudah buang aja mainannya. Saking banyaknya dan anak-anak juga gak ingat serta tidak memiliki ikatan bahagia sedikitpun. 

Terus masih mau beli? Ups. 

Mamas Gian mengeluarkan balok andalan dan mulai berkreasi. Silinder, persegi panjang, dan segitiga menjadi orang. Lalu mainan mobil yang kecil mamas fungsikan sebagai tembakan. Apakah Gian komplain dengan mainan yang terbatas? Tidak. Justru saking banyaknya mainan dia bingung mau yang mana dulu mainnya. Ujungnya ya kreasi sesuai dengan yang lagi dia suka.



Sementara Geni malah asyik dengan galon. Apakah perlu beli mainan lagi? Galon saja bahagia asal ada ibunda untuk bermain bersama.


Pada waktu asyik bermain galon dan menabrak gelas berisi air minum juga duoG bolak-balik mengambil tisu sambil berhitung. Tisu yang keenam berhasil membuat mereka paham tisu tidak secepat lap kain ibu.


***

Semua sudah tersedia tinggal meluruskan niat dan menambah ilmu. Anak-anak yang ibu miliki pastilah punya kelebihan juga kekurangan untuk membuat ibu belajar. Ya terkadang anaklah yang kemudian menstimulasi ibu agar menjadi lebih baik menuntaskan perannya.

(603)

#Harike3
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Menstimulasi Anak Suka Matematika, Hari 2 Matematika Logis untuk Anak yang Dramatis

Umur 3 dan 6 adalah masa paling bikin frustasi ternyata. Usia yang membuat ibu mulai sering kumat sakit kepalanya atau mau gak mau harus rutin healing. Terlalu ikut campur saat anak-anak bermain malah membuat mereka ketergantungan, membiarkan anak-anak main sendiri kok berantem terus cari perhatian. Pusing pala ibu.

Si mamas lagi kritis banget sementara adek usilnya memancing senewen kemudian ketika main ya maunya diperhatikan semua. Sementara ibu belum siap untuk membagi perhatian secara konstan untuk duoG. 

Akhirnya ibu mengatur permainan bebas untuk mengawali stimulasi. Anak-anak mulai menunjukkan perbedaan ketika bermain dengan paksaan atau senang. Ya permainan bebas cenderung mengarahkan ibu untuk menyabotase, ingin duoG langsung paham, dan kemudian mulai teriak-teriak ketika duoG tidak sesuai dengan keinginan. DuoG jadi drama. Sama-sama tidak menikmati.

bagaimana logika jalan sementara perasaan yang dominan?
Kecerdasan matematika yang dimiliki duoG sebenarnya tidak perlu ibu khawatirkan jika memang ibu terus menerus mengasah kepekaan diri dan fokus pada perkembangan duoG.

***
Poster alfabet terpampang di pintu kamar anak-anak biar ada pengalihan tapi ternyata malah jadi tuntutan.

"Anakku sudah mau 6 tahun kok belum paham alfabet yak. Nanti apa yang orang katakan. Mana belum sekolah lagi. Mana anaknya sensitif lagi. Terus yang satunya malah belum bisa buang air besar di toilet."

Terus saja melihat sisi negatif duoG. Di sinilah ibu harus menyadari kembali bahwa yang dimiliki adalah dua anak laki-laki. 

***

πŸ‘Ά "Mamas ini apa?"
πŸ‘¦ kapal
πŸ‘Ά"Ini apah ini apah?"
πŸ‘¦harimau
πŸ‘Ά"Ini apah ini apah?"
πŸ‘¦payung
πŸ‘Ά"Ini apah ini apah?"
πŸ‘¦sayuran
πŸ‘Ά"Ini apah ini apah?"
πŸ‘¦jam

Padahal yang ditunjuk adeknya gambar banteng terus. Mamas mulai tidak fokus karena sudah ingin membeli roti dan susu coklat dingin.

menemukan cara agar ibunya segera teralihkan dari urusan alfabet dan angka
Dalam perjalanan menuju warung, ban belakang motor bocor. Justru di situlah percakapan matematika logis berjalan.

πŸ‘¦"Ibu, kalau roda belakangnya kempes motornya gak bisa jalan ya. Apa yang harus kita lakukan?"
πŸ‘©"Apa ya mas kira-kira?"
πŸ‘¦"Diisi angin dulu."
πŸ‘©"Iya terus dilihat apa ada yang bocor atau tidak."
πŸ‘¦"Kenapa ban motornya ada dua?"
πŸ‘©"Kalau satu apa yang terjadi?"
πŸ‘¦"Susah ya jalannya. Ibu harus dorong motornya. Berat."
πŸ‘Ά"Ibu, ibu berat ya bu?"
πŸ‘©"Yang berat bukan hanya ibu dek, motornya juga jadi berat."
πŸ‘¦πŸ‘Ά "Mamas sama dedek bantu dorong ya bu."

Kejadian yang ada di depan mata ketika ibu mampu menggali logika anak-anak maka drama akan berkurang, solusi bertambah.



Ibu mulai memberikan pilihan-pilihan agar duoG mampu mengidentifikasi mainan apa yang mereka sukai dan cenderung lebih mudah mereka kuasai. 

Mamas Gian tahu bagaimana mengukur waktu agar semua bisa dia mainkan dan masih memiliki waktu untuk main di luar bersama teman-teman. Sementara Geni lebih suka dengan permainan bola geometri dan potong-potong. Namun tahu juga rutinitas membereskan mainan apabila ingin ibu memberikan izin main di luar bersama mamas Gian dan teman-teman.

(453)

#Harike2
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic

Menstimulasi Anak Suka Matematika, Hari 1 Apa Itu Matematika?

RUMUS, SUSAH, NILAI JELEK. Itulah ingatan ibu tentang matematika. 

“Matematika itu logika, mana ada orang yang berpikir tidak pakai jalan pikiran yang masuk akal?”

Lha tantangannya, saking takutnya ibu dengan matematika karena guru dan bapak angker, akhirnya yang diingat susahnya. Ibu juga terpaku pada kesimpulan, ya sudah kan wanita lebih pakai perasaan daripada logika jadi ya tidak perlu belajar matematika lah ya.

Setelah itu berusaha sekuat tenaga untuk menghindari matematika, lho kok ibu ketemu lagi di level 6 ini. 

"Ngapain belajar rumus kalau pada akhirnya yang aku pakai hanya tambah kurang buat ngitung kembalian dari mamang belanjaan."

Di level ini bagaimana ibu menstimulasi duoG coba, sementara ibu saja tidak tahu apa itu matematika.

Kalau sama anak-anak, tentu saja ibu menggunakan logika anak. Bukan pakai bahasa rumus. Ibu memperkenalkan matematika logis yang ada di sekitar anak-anak. Mungkin setelah 17 hari menjalani tantangan, ibu akan mulai menyukai matematika. 

Baiklah kalau begitu kesimpulan sederhana ala ibu saja. Bagi ibu yang memiliki anak umur 5 tahun, matematika adalah:

1. Mengelompokkan warna, bentuk, dan ukuran
2. Mengenal lebih dari, kurang dari, paling
3. Menyebutkan bilangan 1-10
4. Mencocokkan jumlah benda dengan lambang bilangan
5. Mengetahui samping, atas, bawah, kiri, dan kanan
6. Menyusun pola

Lantas apa hubungan matematika ini dengan kecerdasan bahasa anak-anak? Ini jawaban ala emak sensi yak. Berdasarkan bacaan dan pengalaman si emak jadi kalau para pembaca memiliki kesimpulan sendiri boleh dijadikan acuan dalam menyelesaikan tantangan ini.

Matematika atau kecerdasan matematika-logis erat kaitannya dengan penalaran juga sebab-akibat yang lebih cenderung abstrak atau menggunakan simbol-simbol kemudian anak-anak mulai belajar menyebutkan lambang-lambang dengan kata-kata.

"Ibu, ini telurnya satu dua tiga, banyak ya ibu."

Nah balik lagi nih, sudah paham kah ibu akan tahap-tahap perkembangan kecerdasan anak? Seperti umur 0-2 tahun lebih ke sensorimotor yang berkembang jadi anak-anak umur segitu akan cenderung menyobek, menginjak, atau menendang. Sementara untuk anak umur 5-6 ada di tahap berpikir intuitif. 

"Pantesan Gian kalau ditanya kenapa bikin jembatannya di atas pasti jawabnya lama dan berujung gak tahu."

Ibu manggut-manggut sambil menyimpulkan, menstimulasi anak suka matematika juga sejalan dengan menstimulasi kecerdasan bahasanya. Untuk kasus ibu duoG karena Geni masih di tahap perkembangan sensorimotor dan mamas GianGaraGembul belum paham benar apa yang dilakukannya, penjelasan kenapa begini kenapa begitu disertakan di akhir. 

πŸ‘©"Setelah selesai bermain maka apa yang harus kita lakukan nak?"
πŸ‘Ά"Gak tahu ibu."
πŸ‘¦"Beresin bu."
πŸ‘©"Kenapa?"
πŸ‘¦"Gak tahu."
πŸ‘©"Kalau tidak kembali ke tempatnya, terus mamas Gian mau main lagi, kira-kira bisa menemukan lagi mainannya?"
πŸ‘¦"Gak bisa terus ibu marah-marah deh suruh beresin semua mainan yang berantakan."

***

STIMULASI GIAN SUKA MATEMATIKA HARI 1

Alat:
Pensil
Kertas A3
Kertas A4
Paku warna-warni
Evamat

Deskripsi
Ayah mengatur posisi evamat seperti papan tulis dan menempelkan kertas A3 dengan paku warna-warni untuk ibu berperan sebagai guru. Mamas duduk memegang pensil bersiap mendengarkan dan menulis. Geni sudah memenuhi kertas A4nya dengan lukisan abstrak.



Mobil = 1
Bunga = 2
Buku yang lebih mirip kasur = 3
Donat yang tidak bulat sempurna = 4
Ikan teri = 5
Kupu-kupu = 6
Ban = 7
Segitiga = 8
Gunting yang diajarin mamas Gian cara buatnya bikin huruf X dulu baru dikasih bulat buat pegangan = 9
Kotak-kotak berisi angka = 10

Dalam menulis angka mamas Gian masih sering terbalik karena urutan menulisnya tidak sesuai. Namun untuk bentuk, jumlah benda dan mencocokkan dengan bilangannya, mamas Gian sudah paham.
tujuan untuk stimulasi hari pertama

STIMULASI GENI SUKA MATEMATIKA HARI 1

Setelah selesai bermain dan Geni membereskan mainan balok-balok, ibu mengamati Geni meletakkan balok dengan bentuk juga warna sama berdampingan. Begitu pula ketika mengembalikan balok donat bulat merah ke timbangan, Geni secara bersamaan memasukkan warna merah. 

πŸ‘Ά"Bulat merah ya bu. Sini masukkin sini. Aku aja ya mas."
πŸ‘¦"Iya kan aku kasih tahu aja dek."
πŸ‘©"Dimana baloknya pulang?
πŸ‘Ά"Atas."
πŸ‘¦"Bawah dek, kan berat. Biar gak cepet rusak lemarinya."

setelah ini aja kejadian Geni merobek kertas instruksi tangram milik mamas Gian

Tentu saja ibu berusaha sekuat tenaga tidak marah saat menjelaskan kenapa tidak boleh asal merobek. Ya mau bagaimana lagi ibu, memang sedang asyik-asyiknya merobek. Ibu mengingatkan Geni untuk tidak sembarangan merobek kertas kemudian memuji perilaku Geni yang membereskan mainan.

"Ibu, dedek kan masih kecil jadi harus terus terus dibilanginnya."

***

Geni belum bisa berpikir logis karena memang masih ada di tahap sensorimotor. Sementara mamas Gian sudah mulai berpikir logis tetapi lebih sering intuitif. Maka dalam memberikan stimulasi, ibu wajib memahami terlebih dahulu stimulasi matematika apa yang ingin diberikan beserta kata-kata untuk menjelaskan kenapa begini kenapa begitu.

(733)

#Harike1
#Tantangan17hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathAroundUs
#ThinkLogic