Menstimulusi Anak Suka Membaca, Hari 1 Persiapan Penuh Drama

Membuat jadwal membaca buku merupakan momen yang kami tunggu. Kami suka membaca tetapi akhir-akhir ini, aktivitas tersebut tergantikan dengan gadget. Sudah jarang membolak-balik halaman bersama anak-anak maupun sendiri. Informasi semua bisa diakses melalui gawai sehingga untuk sementara waktu buku-buku dibiarkan masih tersegel dulu. 

Kemudian tantangan level 5 dimulai. Ibu dan ayah diminta memberikan rangsangan agar anak-anak suka membaca. Bukan hal sulit sebenarnya karena lingkungan rumah sudah kami atur sedemikian rupa agar akses duoG terhadap buku mudah. Di level ini, tantangan terbesar kami adalah menerima jika kami masih kurang konsisten dalam mematuhi jadwal membaca anak-anak. Sebelum tidur siang dan malam. Dua kali sehari udah kaya mandi.

Hal tersebut terlihat ketika anak-anak diminta ibu memilih buku-buku yang ingin dibaca, mereka sangat antusias. Bahkan langsung nodong untuk dibacakan langsung. Ayah yang baru saja pulang kantor harus meminta izin makan berulang kali.

Siang biasanya ibu keburu-buru ingin me time jadi melewatkan baca buku dan fokus menidurkan anak-anak saja kemudian ayah jika pulang kantor, kondisi juga sudah ingin beristirahat. Oleh karena itu, kami memang harus meluruskan niat untuk mematuhi lagi jadwal membaca baik bagi anak juga diri kami sendiri.

DRAMA BEREBUT BUKU

"Bukunya banyak, yang disuka ya itu-itu saja."

Geni mau dibacakan buku MOBIL sementara buku itu sudah masuk nampan mamas Gian. 


Buku yang jadi primadona malam ini

Jadilah itu buku jadi bahan rebutan yang menyita waktu, tenaga, dan emosi.


Ibu berusaha memberikan pengertian kepada mamas Gian agar kasih waktu bagi Geni membaca dulu kemudian mengembalikan buku ke nampan lagi.

Mamas menolak mendengarkan dan marah kemudian melempar satu buku milik Geni yang ada di nampan. Mamas menangis. Ibu sekilas berpikir mamas Gian sudah mengantuk.

Ayah mencoba kasih pengertian ke Geni untuk meminta izin dengan baik dan benar, berhasil. Namun mamas Gian masih saja tidak mau meminjamkan bukunya.

"Dah dek, kasih bukunya ke mamas. Ayo kita dengar cari kodok di luar."

Ya dengan sedikit marah karena ibu tahu ayah juga lelah. 

Pada saat ayah dan dedek di halaman, ibu berusaha memberikan pemahaman untuk menunggu. Geni pinjam sebentar. Hingga akhirnya mamas mau meminta maaf karena melempar buku dan tidak mau menunggu. Meminta maaf ke Geni dan juga ayah yang sedang lelah.

KETIKA NAMPAN PENUH, MENDADAK KANTUK MENGAMBIL ALIH

Setelah buku selesai disiapkan, langkah selanjutnya adalah membuat pohon literasi dan daun-daun sebagai penanda buku telah dibaca. Bahan-bahan seperti kardus, kertas origami warna-warni, gunting dan lem sudah siap; ayah dan duoG masuk ke kamar untuk mengalihkan perhatian Geni awalnya. Gak berapa lama ketika ibu melongok ke kamar, mereka bertiga sudah terkapar dengan laptop menyala.

YA SUDAHLAH CUKUP NAMPAN-NAMPAN BERISI BUKU-BUKU INI DULU YANG NAMPANG


Nampan-nampan untuk menyuburkan pohon literasi

Ibu memang tidak perlu khawatir dengan ayah dan duoG. Mereka besok akan bangun pagi, sarapan, dan bisa diminta untuk membuat pohon literasi. 

Besok pagi juga, insya Allah ayah akan meluangkan waktu untuk membacakan buku untuk duoG sebelum berangkat kantor.

Tanpa bantuan ayah atau ibu, mamas Gian juga bisa menceritakan isi buku ke Geni dengan membaca gambar atau rangkuman dari yang sudah dibacakan ibu atau ayah.

PEMANASAN DENGAN READING TRACKER

Ibu membuat reading tracker milik mamas Gian karena paling penuh nampannya. Besok dilanjutkan membuat reading tracker untuk ibu, ayah, dan Geni.


(524)

#GameLevel5
#Tantangan17Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

5 comments