Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 8 Apa yang ingin Aku Ajarkan?

Di level empat, aku merasa menjadi orangtua tidaklah semudah bikin mie instan. Aku justru semakin melihat siapa diriku sebenarnya saat menghadapi anak-anak.

Sibuk dengan ponsel, mengurus kebutuhan anak sambil balas pesan, dan mudah marah ketika anak-anak mencari perhatian dengan melibatkan orang luar. Gambaran orangtua yang masih belum selesai dengan diri sendiri. Aku terkadang masih antara sadar dan tidak memiliki dua anak. 

Ketika sadar, rasa yang sering muncul adalah menyesal. Komunikasi produktif, melatih kemandirian, dan meningkatkan kecerdasan anak semacam tugas-tugas yang berlalu tanpa kesadaran. Aku kembali pada pola bentakan dan pukulan. 

Menyesal karena baru sekarang belajar dan praktik ilmu mendidik anak. Oleh karena itu aku jadi naik turun juga trial error mode on. Walaupun pada akhirnya berdamai, dan berusaha untuk kembali sadar.

Terus bagaimana mau memahami gaya belajar anak padahal belum tahu apa yang mau diajarkan? Eh apa malah belum tahu apa gaya belajar anaknya?

Aku dong yak. Jiaaah si emak, ngaku kan. Daftar pengakuan emak nih:

1. Belum menemani anak-anak secara utuh dan penuh
2. Kurang observasi dan mencatat secara detil dan konsisten
3. Memaksa anak-anak untuk paham kondisi orangtua
4. Memberikan lingkungan main yang penuh tekanan bukan menyenangkan
5. Masih belum paham bahwa anak-anak harus dibiasakan karena mereka memang belum bisa secara otomatis merespon lingkungan yang berubah-ubah

***


"Emosi ibu yang naik turun sudah mulai ditiru oleh anak. Ya, anak tidak pernah salah meniru."
Pada hari ini, aku mengingat kembali reaksi Gian saat aku belajar foto. Hari itu dengan dengan bersemangat membantu memegang reflektor. Mamas sangat senang karena bisa terlibat dan teman-teman belajarku juga memujinya. Ternyata mamas Gian suka dipuji dengan kata-kata. Semacam pengakuan. 

"Ini lho aku bisa."

Menunggu hingga hari ke delapan untuk akhirnya memulai tantangan level 4. Aku akhirnya mulai mengingat apa yang dulu orangtuaku ajarkan padaku. Bangun karena mau sekolah, disiplin karena harus mengaji, dan jarang berkumpul untuk bertukar pikiran atau sekedar menceritakan apa saja yang dilakukan hari ini. Lantas apa yang ingin aku ajarkan pada anak-anakku? Apakah aku akan berhasil mendidik anak-anak dengan memahami gaya belajar mereka?

Memahami gaya belajar pada akhirnya "memaksa" ayah dan ibu mengorek kembali ke masa saat  dididik oleh orangtua mereka.

Ketika aku ngeh mamas Gian suka sekali meminta pengakuan padaku, ada bohlam menyala sebagai tanda ada rasa takut dia yang menyeruak. Dia takut tidak diakui oleh ibunya. Nah itu aku dulu. Orangtua zaman dahulu bukan tipe yang suka memuji di depan anaknya melainkan koar-koar kepada orang lain. Pada akhirnya aku tumbuh mencari pengakuan orang lain yang seandainya aku dapatkan cukup dari orangtuaku maka aku bisa hidup jauh lebih nikmat.

Awalnya aku berencana membiarkan semua berjalan dengan sendirinya. Ya biarkan waktu saja yang mendewasakan anak-anakku. Terus menyatu lagi puzzleku, tanpa stimulasi dari orangtua lantas bagaimana cara anak bertahan dengan dunia yang serba membingungkan ini? Apakah orangtua jadinya berhutang pada anak?

"Orangtua tugasnya kerja, anak ya tugasnya sekolah. Kalau udah lulus baru kerja gantiin peran orangtua."
"Bisa makan tiap hari aja sudah syukur, ibu harus apa lagi?"
"Sudah bisa sekolah malah mogok, coba lihat yang lain yang tidak bisa sekolah. Harus berkeliaran mencari rongsok."


"Tinggal main aja berisik."

BINGGO. Secara tidak sadar aku membawa masa-masa tumbuh sendiri dan berharap anak-anak juga akan melakukan hal yang sama. GAGAL. Semakin hari anak-anak tumbuh jadi anak yang gampang marah, sok perfeksionis, tapi cepat menyerah. DIKIT-DIKIT BAPER.

Mau tidak mau, aku harus mulai lagi dari awal memberikan kegiatan pada Gian. Aku sebaiknya kembali menjalankan fungsi ibu yang sesungguhnya yaitu menjadi madrasah bagi anak-anakku. Kemudian baru bisa mengobservasi secara detil, tipe pembelajar apakah mamas Gian? Visual, auditori, atau kinestik?

Mungkin bisa aku awali dengan SESERING MUNGKIN BERTERIMA KASIH, MEMUJI dan MEMBERIKAN WAKTU YANG BERKUALITAS sehingga anak-anak bisa belajar serta tahu jika orangtuanya sayang mereka apa adanya. Bukan karena bisa begini bisa begitu. ANAK TAHU KALAU ORANGTUANYA TULUS MENERIMA KEKURANGAN JUGA KELEBIHAN DIA.

(626)

#harike8
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

No comments