Komunikasi Produktif, Hari 9 Tanpa Ego Bisa Lho!

Ketika kehilangan semangat untuk sekedar bangun dari tempat tidur, mager, dan hanya melayangkan angan tanpa eksekusi. 

Ego menguasai, bermalas-malasan. Suami berangkat dengan perut kosong, anak-anak harus menunggu lama sekedar ingin makan roti oles selai coklat, kepala pening karena kebanyakan tidur.

Komunikasi produktif memang seperti jembatan yang menghubungkan satu ego dengan satu jiwa tulus untuk sekedar mengetuk.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
πŸ‘¨"Kalau sudah menyadari tinggal atur strategi agar berubah."
πŸ‘©"Apa kamu gak nyesel punya istri macam aku?"
πŸ‘¨"Kita sama-sama berjuang ya. Gak perlu kebanyakan pikiran yang gak penting. Fokus dan tuntaskan."

Suamiku tahu pasti apa mimpiku. Dia tidak pernah memaksa aku untuk ini dan itu. Akulah yang kadang-kadang kehilangan diriku sendiri. Berusaha selalu menguatkan diri agar tuntas.

πŸ‘¨"Makan pedes boleh tapi gak usah nyiksa diri ya."
πŸ‘©"Iya tapi jadi cemen. Level dua aja udah nyerah."
πŸ‘¨"Gak papa yang penting gak sakit perut kan kamunya?"
πŸ‘© "Aku buat foto aja. Cicip sedikit terus bagi ke mba Dini."
πŸ‘¨"Kalau gak bisa gak usah dipaksa."
Bahan komunikasi kami, seblak level 2 πŸ˜‰
Aku yang suasana hatinya naik turun tetap berusaha menemukan waktu yang pas agar mampu berkomunikasi dua arah dengan suami. Sama-sama memastikan bahwa kami baik-baik saja di sela-sela kerjaan masing-masing merupakan komunikasi yang kami usahakan untuk tetap sadar dan waras.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
πŸ‘¦"Ah bikinan ibu jelek."
Protes mamas Gian saat aku membuat mobil perang dari lego.
πŸ‘© 😈 agak bertanduk tapi masih diem dan fokus biar egonya gak menang. Setelah marahnya mereda baru mulai ajak komunikasi.
πŸ‘© "Mamas mau coba bikin? Pasti bisa."
πŸ‘¦"Aku nunggu ayah aja ah. Biar bikinnya bagus."
Di satu sisi senang karena mamas paham siapa yang lebih mampu. Ya memang aku sebagai ibunya belum cukup mampu kalau urusan merakit lego. Sadar diri lah tetapi aku ingin menunjukkan pada mamas artinya usaha dan ketekunan akan membawa hasil suatu saat nanti.
πŸ‘©"Apakah mamas belum mau mencoba seperti yang ibu lakukan?"
πŸ‘¦"Aku udah coba tapi copot-copot terus. Gak tahu salah dimana."
Hihihi, aslinya pengen nyeletuk kalau kualitas kadang dipengaruhi harga. Namun observasi dan penerimaan emosi  cukup sampai di sini hari ini.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
πŸ‘Ά"Ahhh ibu payah."
Ternyata kata itu masih saja melekat hingga hari ini. Meskipun nadanya lebih ke becanda daripada kritikan. 
πŸ‘©"Dedek Geni hebat, dedek Geni hebat, dedek Geni memang hebat. Anaknya ibu Apik." (🎢🎡nada happy birthday)
Pengalihan untuk aku karena memang Geni tidak bermaksud untuk mengkritik ibunya.
πŸ‘©"Dedek kita main air yuk. Tuang di ember."
πŸ‘Ά"Air mancur ibu, bagus ya ibu."
Kemudian aku bisa menikmati mata berbinar Geni saat mengeksplor air dengan menuang ke ember yang sudah dibolongi sehingga bisa menyerupai air mancur.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
Bila mengikuti ego pastilah aku akan berkomunikasi dengan gaya memerintah dan melarang ini itu. Namun aku sadar itu akan merusak komitmenku untuk menjadi orangtua yang sadar.

Tanpa ego, asal aku mau mengambil jeda agar bisa sejenak hening mengembalikan lagi kesadaranku untuk hadir utuh bersama kesayangan-kesayangku, ternyata bisa lho.πŸ˜‰

Ya kembali ke niat. Tidak ada orangtua yang sempurna tetapi tidak akan benar jika hanya mengikuti ego tanpa menyertakan kesadaran juga kewarasan. 

#hari9
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

No comments