Komunikasi Produktif, Hari 7 Belajar Menerima Perubahan

Mendampingi masa tumbuh kembang anak terkadang mirip rollercoaster, perut mual tetapi tidak bisa segera turun. Mau tidak mau ya harus dituntaskan hingga waktunya selesai.

Oleh karena itu, orangtua harus siap memberikan waktu dan kesabaran ketika anak-anak mulai tantrum. Saat keinginan tidak langsung terwujud, ketika ada perubahan rencana, dan ketika  dana di tengah bulan harus dihemat agar bisa bertahan hingga gaji bulan berikutnya.
πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ
Setiap akhir pekan tiba, kami berusaha untuk pergi jalan-jalan agar ada suasana dan hawa baru yang dirasakan.
πŸ‘¨ "Ayo kita jalan ke tempat yang ada ikannya dan makanan yang kamu pengen."
Hari sabtu aku bilang ke suami kalau pengen makan konro bakar. 
πŸ‘© "Komunikasi kita yang bisa menemukan jalan tengah begini rasanya menyenangkan ya."
πŸ‘¨ "Kita akan lewat mana nanti. Kayaknya lewat belakang aja, biar aku juga hapal jalan."
πŸ‘© "Wakakakka... Terus kamu nanya ke aku gitu. Tahu sendiri aku gak bisa baca peta."
πŸ‘¨ "Ya akan kamu tetap ada titik-titik yang familiar. Kalau nyasar juga gak akan jauh."
πŸ‘© "Baiklah."

Dan benar, kami sempat nyasar dong saudara-saudara, πŸ˜…πŸ˜…. Tidak jauh memang karena aku cukup tahu kalau lurus terus akan sampai di Tambun. Untung perginya sama suami yak. Kalau sama ojol dan dapat yang gak terimaan pasti udah dari A sampai Z tuh diceramahin.

πŸ‘¨ "Ya gak papa, nyasar kan malah jadi tambah tahu. Kalau nyampe-nyampe aja mah gak ada serunya."
πŸ‘© "Iya mungkin ini yang salah aku masukkan ke pikiran aku. Terlalu takut untuk nyasar. Makanya gak berani-berani hapalin jalan."
πŸ‘¨ "Proses lah sayang, apa-apa itu gak langsung bisa."
πŸ‘© πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ

Permasalahan komunikasi produktif kami semakin lama aku menyadari adalah bagaimana aku masih sulit untuk menerima perubahan. Maunya terus menerus di zona nyaman. Sudah mau clear and clarify tapi takut bukan saat yang tepat. 

Sudah siap untuk ngobrol tetapi belum siap terima hasilnya. Seolah aku siap ya suami harus siap. Menuntut orang lain. 

"Harusnya kamu tuh yang ikutan terapi."
"Aku udah melakukan banyak hal. Kamu kapan?"

Kamu, kamu, dan kamu. 

Mau berubah tetapi belum sepenuhnya menerima diri sendiri. Tentu saja yang muncul tuntutan dan tuntutan yang lain.

Belajar menerima perubahan memang masih aku latih untuk akhirnya menjadi refleks sejalan dengan poin komunikasi siap menerima apapun hasil komunikasi. Jika memang belum siap mengeluarkan semua dalam satu waktu maka ambil jeda. Takutnya ketika semua keluar kemudian meledak justru memunculkan sakit-sakit yang meluaskan masalah. Komunikasi mandeg. Tidak produktif. Maka aku akan berusaha mengambil jeda agar tidak meledak dan komunikasi tetap produktif.
πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ

Piknik, tak perlu jauh atau mahal tetapi pelajaran apa yang bisa diambil pada perjalanan itu.

πŸ‘¦ "Ayah, ibu, aku mau makan pizza."
πŸ‘¨ "Ibumu ayah ajak ke sini untuk makan konro."
πŸ‘© Baru dengar begitu, suasana hati sudah berubah jadi jelek.
πŸ‘¨ "Ya paling dia mau es krim. Beliin saja nanti kamu masih  bisa makan yang lain.
πŸ‘¦ "Iya es krim coklat aku mau."

Suami sangat membantu dalam berdamai atau menemukan jalan tengah agar semua anggota keluarga dapat mengendalikan emosi dengan baik dan semua dapat keinginan sesuai dengan porsi.
πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ
πŸ‘Ά "Ibu cis."
Anak kedua sudah mulai minta jatah foto ketika aku mengangkat kamera. Itulah saat paling dekat antara kami berdua. Senyum-senyum yang disimpan sungguh mengurai ketegangan.

Pada akhirnya dalam satu forum keluarga semua saling mengisi. Seimbang. Tidak ada yang lebih dari yang lain. Belajar menerima perubahan. Tidak melulu hari-hari diisi dengan hal-hal yang menyenangkan. Justru jika selalu menyenangkan maka akan terasa hambar. Begitu-begitu saja. Namun ketika ada turunan tajam yang bikin mual, adrenalin membuat hidup kami menjadi lebih berwarna dan menyenangkan.

#hari7
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

#institutibuprofesional

1 comment

  1. Seimbang ya kuncinya. Berfaedah banget mampir ke sini. Makasih sudah menuliskannya, Mba Phal

    ReplyDelete