Komunikasi Produktif, Hari 3 Tantangan Komunikasi Itu Rezeki

πŸ‘―"Udah deh, kalau kelas bunsay itu, mau gak mau kita harus selesai dulu dengan diri sendiri. Gimana mau komprod sama suami kalau lagi medegdeg. Lihat wajahnya aja ogah."
πŸ‘±"Bener banget. Terus merembet deh ke anak. Berasa seharian anak-anak gak melakukan hal yang bener."
πŸ‘©"Iya langsung teriak pas anak tuang sabun sampai abis padahal baru diisi."
πŸ‘°"Ya Allah kok sama sih mak. Aku suka refleks teriak terus nyubit kalau mereka gak mau beresin."

Obrolan emak-emak yang mungkin juga bisa terjadi di kalangan bapak-bapak. Meskipun aku yakin kalau bapak-bapak malah menganggap semua kelakuan anak-anak yang nyebelin itu wajar. Malah menyenangkan karena memang begitulah seharusnya anak-anak tumbuh. Dengan suka cita dan penuh penemuan. 

Terus bagaimana ini? Dua orang yang berbeda, dalam satu atap, lalu harus dengan sadar mendidik anak-anak bersama? Mulailah berkomunikasi untuk membuka penghalang dan menemukan solusi berdua.

SuamiπŸ‘¨

Aku sudah tidak bisa menahan diri, jam kantor segera berakhir, berharap tidak ada meeting. Berharap situasi kondusif di kantor karena di dalam kamar mamas Gian menangis dengan kencang minta main ke rumah salah satu temannya. Aku tidak mengizinkan karena tidak tidur siang. Jika dibiarkan, tangisan akan terus berlanjut.
Begitu video call diterima, suami terkejut karena melihat anak sulungnya menangis kencang.

πŸ‘¦ "Aku mau main ke rumah Bob!"
πŸ‘¨ "Kenapa harus menangis. Kan bisa ngomong baik-baik."
πŸ‘© "Awalnya karena mamas gak bobok siang, lalu saat main di rumah temannya, mamas belum bisa saring kata-kata yang dia dapat."
πŸ‘¦ "Di rumah Bob banyak mainan keren Yah. Aku bosan, mainanku jelek-jelek."
πŸ‘¨ "Ya sudah besok mainannya ayah beresin. Kita kasih buat teman-teman Gian yang gak punya rumah."
πŸ‘© "Waktu main di rumah Bob, entah mamas mainan apa. Kaget banget selesai beli lauk terus pamit ke temen ibu bilang: dadah, anjing!"
πŸ‘© "Nadanya biasa tapi kan itu tidak sopan dan kasar. Ya mamas sudah dibilangin dan juga minta maaf. Ibu jadi mikir lagi buat kasih izin dia main ke rumah Bob."
Mamas masih menangis dan merengek minta main ke rumah temannya.
πŸ‘¨ "Mamas, tahu bedanya anjing sama kucing. Bunyinya bagaimana?"
πŸ‘Ά "Miong ayah, anjing guguk ayah."
πŸ‘¨ "Pinter dedek. Kalau mamas bisa jawab kan ya kalau ayah tanya?"
Mamas mulai mendengarkan ayah.
πŸ‘¨ "Mamas mau namanya Gian tapi dipanggil anjing?"
πŸ‘¦ "Gak mau ayah. Aku kan Gian bisa ngomong."
πŸ‘¨ "Ya sudah. Kan sudah minta maaf. Gak diulang ya. Ini ayah sebentar lagi pulang."
πŸ‘¦ "Iya. Ayah nanti pulang. Aku mau lihat temanku yang gak punya rumah kena gempa."
πŸ‘© "Yuk bikin teh buat ayah."
πŸ‘¦πŸ‘Ά "Ayo ibu."

Ternyata oh ternyata, membangun komunikasi dengan suami itu butuh juga tantangan. Tantangan dari anak-anak itu semacam rezeki. Aku jadi tahu saat yang tepat dan juga intensitas kontak mata. Saat hanya melalui sambungan telepon yang hanya bisa mendengarkan suara tanpa kontak mata hasilnya berbeda. Ketika video call dan bisa melihat suami, serangkaian kejadian yang mengingatkan aku akan rasa nyaman bermunculan. Lalu logika suami yang panjang membuat emosiku bisa terjaga. Mengingat kalau emosi yang menguasai maka solusi seolah tersembunyi.

πŸ‘¨ "Aku tahu kok kalau kamu tuh capek seharian sama anak. Aku aja kadang nemenin seharian doang pas kamu ada acara juga rasanya gak karuan. Cuma kalau kamu pakai cara keras terus ke mereka, apa iya mereka bakal nurut? Aku gak suka kalau kamu mulai main tangan."
πŸ‘© "Iya, aku akan mulai berubah."
πŸ‘¨ "Kamu gak sendirian kok. Kita sama-sama mendidik anak."
πŸ‘© πŸ’–πŸ’–πŸ’‘πŸ’“πŸ’“
***
GianGaraGembulπŸ‘¦

Kejadian "Dadah anjing" di siang hari itu membuat ibu mulai kembali ke pola interogasi. Aku sebagai ibunya bertanya darimana dia belajar berpamitan dengan bilang, "Dadah anjing."
Mamas bercerita kalau di rumah si Bob itu ada boneka anjing. Mamas juga suka anjing. Mamas tidak tahu jika itu akan membuat orang lain bereaksi di luar dugaan. 

πŸ‘© "Tidak boleh diulangi, mamas tahu kenapa?"
πŸ‘¦ "Orang bisa marah."
πŸ‘© "Marah kenapa?"
πŸ‘¦ "Temen ibu manusia bukan anjing."
πŸ‘© (((Mikir dalam hati pake otak))) Padahal pengen banget ngajarin kalau kami sebagai manusia yang memang lebih sempurna kenapa reaksinya kadang lebih mementingkan nafsu daripada logika berpikirnya. Cuma belum menemukan kosakata dan refleksi pengalaman yang pas dan sesuai dengan mamas.

Yah bagaimanapun ini jadi penyemangat aku untuk menemani anak-anak bermain jadi bisa tahu dan segera mencari solusi jika muncul tantangan komunikasi antara aku, anak-anak, dan orang luar.
***
DulDenGeni πŸ‘Ά

Dedek Geni di usia dua setengah tahunnya sudah mulai menunjukkan keinginan. 
πŸ‘Ά "Ibu aku capek mau bobok."
πŸ‘Ά "Ibu aku ngantuk gak mau bobok, main aja."
πŸ‘Ά "Ibu aku dingin pake selimut."
πŸ‘Ά "Ibu aku laper mau makan."
πŸ‘Ά "Ibu ayo pergi."
πŸ‘Ά "Ibu ayo beli susu."

Ibu juga mulai berkomunikasi dengan mengungkapkan kenyataan jika memang keinginan dedek Geni belum bisa diwujudkan saat itu juga.
πŸ‘© "Ibu matiin air dulu ya."
πŸ‘© "Kan dedek udah ngantuk.Gak boleh nangis ya kalau jatuh-jatuh."
πŸ‘© "Pipis dulu ya biar gak ngompol di selimut."
πŸ‘© "Tunggu ya ibu ceplok telurnya dulu."
πŸ‘© "Pakai topinya biar gak kepanasan."
πŸ‘© "Bobok siang dulu."

Tantangan yang dihadapi adalah menjaga informasi tetap pendek dan sederhana. Terkadang dedek Geni mengulang apa yang aku ucapkan. Kalau lagi pas ya bisa mengganti perintah jadi pilihan, hanya bila sedang rempong biasanya langsung cuekin aja.

***

Menurunkan ekspektasi boleh, target jangan! Anggap saja tantangan komunikasi itu rezeki batin. Ya kapan lagi punya wadah untuk terus mengalirkan rasa dan pelan-pelan memahami diri sendiri kemudian bisa menerima dengan tulus.


#hari3
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

No comments