Komunikasi Produktif, Hari 2 Berubah Itu Tantangan


"...Tapi kalau kita mengubah dengan 'TANTANGAN' kedua ujungnya bibir kita tertarik, bahu tegap maka nalar akan bekerja mencari solusi." (Komunikasi Produktif, Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1 Institut Ibu Profesional)

Bukan hal yang mudah untuk menjalin komunikasi produktif apabila sehari-hari aku terbiasa berkomunikasi dengan berteriak atau memerintah. Masalah-masalah komunikasi yang tidak diakui bermunculan. Diksi-diksi tidak layak dengar bersahutan. Namun, pada akhirnya aku harus mulai berubah jika tidak ingin menyia-nyiakan amanah yang sudah Tuhan berikan. Suami dan juga duoG.



Mengubah masalah menjadi tantangan tentu suatu keharusan jika ingin komunikasi produktif. Mulai dari hal-hal kecil seperti pemilihan kata lalu beranjak ke yang lebih kompleks seperti intonasi suara dan bahasa tubuh.

Satu lagi, setiap niat akan ada saja godaannya. Jika kita memiliki tujuan yang jelas maka godaan adalah teman dalam berproses agar jalannya lebih berwarna.

👇👇👇

Komunikasi Produktif 1 Suami 👨


Sempat ragu-ragu untuk membicarakan masalah mantan apalagi pagi-pagi tetapi daripada dipendam dan seharian gak enak hati ya mending dikeluarkan saja. Toh ngobrol sama suami sendiri. Harus mulai bertanggung jawab apapun hasil komunikasinya.

👩 "Mimpi apa semalam?" bisikku.
👨 "Gak jelas. Kenapa emang?" balasmu.

Sebenarnya inilah titik paling riskan dalam komunikasi. Pertanyaan balik yang kadang malah membuat dada berdetak lebih kencang. Bimbang antara mau jawab tapi gak siap.

👩 "Aku mimpi di perpustakaan dan mantanmu yang itu muncul begitu saja like a pop-up book."
👨 "Kenapa malah mimpiin dia sih?"
👩 "Mungkin karena dialah yang paling mengintimidasi. Cantik, lulusan luar negeri, PNS. Apalah aku ini."
👨 "Gak perlu kebanyakan pikiran. Malah jadi gak jelas kan."

Biasanya aku akan baper seharian saudara-saudara. Ternyata setelah aku jujur dengan mengungkapkan apa yang aku rasa ke suamiku, semuanya terasa begitu ringan hari ini.

Mungkin waktu yang tepat tidak melulu jaminan, kadang kesiapan untuk menerima hasil komunikasi lebih membantu mewujudkan komunikasi produktif. Waktu tepat tetapi tidak siap, akhirnya gak jadi jujur malah kabur dari arena komunikasi. Ya elah pake arena segala berasa lagi tanding tinju.

👇👇👇

Komunikasi Produktif 2 GianGaraGembul 👦

Pagi ini mamas GianGaraGembul sudah fokus main hp. Jadwal sebelum ayah berangkat kerja. Aku membuka komunikasi tentang menu sarapan agar bisa mengendalikan diri untuk tidak mengomel karena main hp pagi-pagi. Intonasiku juga lembut.

👩 "Mas, mau makan apa?"
👦 "Mau cumi bu?"
👩 "Habis."
👦 "Siapa yang habisin?"
👩 "Kan kemarin masak buat mamas, dedek, sama ibu."
👦 "Oh ya sudah aku mau sayur. Bakso ada kan bu?"
👩 "Ada. Tambah ayam goreng gimana?"
👦 "Mau tapi sayurnya yang banyak. Sayur lebih penting buat aku."
👩 ngomong dalam hati, "Ya elah udah tahu lebih penting sekarang."

 Makan sendiri saat ibu mandiin dedek lalu disuapin setelah dedek bergabung untuk sarapan.
Kejadian mengejutkan dan membuat dada sesak adalah ketika ibu keluar kamar dan mau menemani mamas dan dedek nonton kartun kesayangan.
👦 "Ibu gagang es krimnya aku gigitin."

Korban kebosanan hari ini
👩 😞😓💣
👩 "Mamas sengaja ya mau bikin ibu marah?"
Kepala sudah pening, dada sesak, gigi gemeletuk. Pengendalian emosi yang cukup menyiksa sebenarnya.
👦 "Aku mau buat mainan bu."
Ketika menulis laporan, aku sadar sebenarnya mamas sudah berani mengungkapkan apa yang dia inginkan. Tinggal aku yang harus upgrade biar refleksnya gak langsung naik darah.
👩"Lha mainan kamu yang sebanyak itu kurang? Ambil plastik sekalian diberesin."
👦 "Aku mau beli mainan baru yang keren."
👩 "Bagaimana ibu mau beliin kamu mainan yang baru sementara yang lama gak kamu jaga dan berantakan dimana-mana."
Aku masuk kamar biar tidak semakin salah karena berkomunikasi dengan teriakan atau khilaf memukul.

Mengalihkan pikiran dengan cerita ke suami

Alhamdulillah suami menanggapi dengan candaan. Tak lama mamas GianGaraGembul masuk ke kamar dan mulai membereskan mainan-mainan yang berantakan.

Komunikasi hari ini boleh dibilang cukup ada kemajuan. Aku dan mamas Gian berusaha memahami satu sama lain. Masih berkutat dengan pengendalian emosi, mengatakan keinginan, dan juga observasi agar bisa menemukan formula yang pas. Tetap semangat buat kami berdua 💪💪.

***

Komunikasi Produktif 3 DulDenGeni 👶

Toilet training yang sempat berhenti karena pulang kampung dan malas ribet akhirnya dimulai lagi dari awal. Aku memang tidak berharap banyak karena mengingat kembali masa gelap toilet training mamas Gian. Aku terlalu berekspektasi tinggi dan akhirnya memaksa mamas untuk segera bisa. 

Belajar dari pengalaman itu, aku akhirnya berusaha menikmati. Toh sudah berusaha menstimulasi. Jika dedek siap maka akan terjadilah konsistensi pipis di toilet. Tidak lagi berusaha memburu-buru untuk segera mampu.

Komunikasi produktif hari ini dipersembahkan oleh mamas Geni yang maunya dipanggil dedek. Kesadaran ibu meningkat untuk mengendalikan emosi, membiarkan dedek Geni siap, dan terus memberikan informasi yang pendek dan sederhana.

Yeiyyy, dedek sudah mau bilang pipis dan masuk kamar mandi setelah aku membantu melepaskan celana. 

👶 "Ibu aku pipis lagi nih."
👩 "Oke ayo ke kamar mandi."
👶 "Ya kamar mandi ya pipisnya."
👶 "Aku udah siram tuh."
👩 "Hebat dedek sudah bisa pipis di kamar mandi. Toss!"



Bisa, ketika aku menghadapi perubahan anak dengan santai maka nalar akan bekerja secara maksimal menemukan solusi. Ah nak, aku sebagai ibumu berterima kasih karena mau bertahan hingga hari ini menunggu ibumu berubah dan bertumbuh.


#hari2

#gamelevel1
#tantangan17hari

#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

No comments