Komunikasi Produktif, Hari 11 Lepaskan Kesempurnaan

You can't be perfect but can be better!

Ada satu pemandangan yang lupa aku ceritakan. Ini kejadian yang sudah lama tetapi komunikasi aku dengan kesayangan-kesayangan mengingatkan aku pada pagi yang penuh pembelajaran. 

Tentang pemandangan seorang ayah yang menggendong putrinya naik motor sendirian. Tentang ingatanku saat hamil Geni dan suamiku menyusul dengan membawa serta mamas Gian. Naik motor laki yang susah kalau anaknya tiba-tiba tertidur. Si ayah itu juga berkali-kali berhenti untuk memastikan posisi gendongannya benar. Berjalan perlahan agar anak perempuan dalam gendongannya tidak terbangun. Suamiku juga bolak-balik ditegur karena mamas Gian tidur. Ya mau bagaimana, jadwal dokter yang mengharuskan aku berangkat lebih dulu. Kemudian mamas Gian minta menyusul ibu. Ketika melihat ayah itu, aku ingin sekali turun dan membantu. Ingin mendengar cerita dibalik kenapa dia sendiri yang menggendong anaknya. Apakah karena istrinya harus ke dokter lebih dulu? Sayangnya aku sudah ada tugas hari itu.  

Terlepas dari semua kekurangan yang semua orangtua di dunia ini miliki, kita pasti mengusahakan yang terbaik bagi anak-anak. Re-framing sosok bapak yang jadi hantu masa lalu aku. Benar-benar ingin melepaskan kesempurnaan dan menjadi orangtua yang lebih baik lagi.
👪👪👪
👨"Aku kan sudah meminta kamu terlalu banyak. Setidaknya aku bisa kasih sesuatu yang jadi passion kamu."
Saat yang tepat karena memang lagi butuh ngobrol masalah kerjaan, passion, dan juga impian.
👨"Tapi ya sabar sampai tahun depan kalau memang masih mau kuliah psikologi."
👩"Jalani dulu saja. Takutnya di tengah jalan galau pindah haluan lagi."
👨"Ya semoga pas gak galau, semuanya udah siap. Ya waktu, tenaga, dan modalnya. Lagian kalau kamu mau kuliah lagi kan bisa mendidik anak-anak jadi lebih baik. Mempersiapkan anak-anak jadi pribadi yang lebih baik. Gak hanya terlunta-lunta di rumah saja."
👩"Ya selama ini aku memang merasa berat sekali untuk sekedar berada di rumah. Berurusan seharian hanya dengan anak-anak. Terus ketika kamu menawarkan kuliah lagi entah kenapa rasanya jauh lebih baik."

Melepaskan kesempurnaan kemudian berkomunikasi dengan pasangan secara produktif serta pada akhirnya menyamakan tujuan: menjadi orangtua yang baik dan benar. Butuh menggunakan nalar memang karena bila emosi menguasai komunikasi akan berakhir dengan pertengkaran tak berkesudahan. Maunya dimengerti tetapi ogah mengerti. Nah komunikasi produktif inilah yang dulu gagal aku dapatkan dari kedua orangtuaku, karena itulah aku tidak mau anakku juga berakhir menduga-duga dan salah asumsi padaku dan suamiku. Bila anak-anakku melihat kami bisa berkomunikasi secara produktif maka mereka akan mencontoh juga nantinya.
👪👪👪
Melepaskan kesempurnaan juga termasuk mampu menyaring suara-suara dari luar kemudian menyesuaikan dengan visi dan misi keluarga sendiri.
👦"Ibu, yayi kok marah-marah terus. Aku gak suka yayi."
👩"Nak, justru itu karena yayi sayang makanya yayi mengingatkan mamas. Memang mamas mau didiemin aja sama yayi?"
👦"Gak mau. Terus kenapa aku harus makan pakai tangan kanan. Yayi ingetin aku terus. Aku bosen."
👩 "Tangan kiri, kalau nanti mamas sudah bisa, akan dipake buat cebok mamas. Tangan buat cebok terus dipake buat ambil makanan, kira-kira gimana?"
👦"Jorok ibu."
👩"Sip! Mamas pintar sudah tahu tangan kanan buat makan tangan kiri buat cebok."
👦"Tapi kalau udah cuci tangan gimana ibu?"
👩 "Contoh Nabi Muhammad nak, beliau kalau makan pakai tangan kanan."
👦"Sholat juga."
👩 "Iya dong."

Komunikasi produktif hari ini diawali dengan mengendalikan emosi terus intonasi yang bersahabat juga bahasa tubuh berupa belaian rambut saat anak merajuk. 

Si ayah itu dan suamiku mungkin memiliki kesamaan, akan menjelaskan dengan pilihan kata yang paling mudah dipahami anak-anak jika istri mereka kebetulan lagi kumat gesreknya. Sementara kalau istrinya waras selalu mendukung apapun yang istrinya tanamkan pada anak-anak.
👪👪👪
👩"Adek berenangnya  besok ya. Sudah malam, dedek mau apa dulu?"
👶"Bobok."
👩"Uwi-uwinya mau dibawa?" *pelampung bentuk mobil polisi
👶"Iya bawa."

Umur dua tahun sudah mampu diajak kompromi. Melepaskan kesempurnaan dengan menikmati perkembangan tanpa ada tuntutan-tuntutan harus begini, harus begitu. Penting untuk mengatakan apa yang aku mau anak lakukan. Aku beri deskripsi sesuai yang dedek Geni tahu.

#hari11
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

6 comments

  1. Sangat menginspiratif sekali, terimakasih sudah membuat blognya :)

    ReplyDelete
  2. Yang saya tau, setiap orang tua memang selalu ingin menjadi yang sempurna untuk anak-anaknya :)

    ReplyDelete
  3. KomPro untuk anak-anak memang harus dilakukan dengan bahasa-bahasa ringan supaya mudah di cerna oleh mereka, nah kita harus banyak blajar nih :)

    ReplyDelete
  4. Wah, sangat menginspirasi sekali :)

    ReplyDelete
  5. Hebat sekali ya, si kecil umurnya masih dua tahun tapi sudah bisa diajak kompromi :)

    ReplyDelete
  6. Penting sekali ya menerapkan Komunikasi Produktif pada anak-anak sejak usia dini.

    ReplyDelete