Komunikasi Produktif, Hari 1 Yuk Mulai Berubah!

Lulus dari kelas matrikulasi batch 5, Emak masuk kelas bunda sayang (bunsay) batch 4 di IP Bekasi. 💖💖

Senang karena jalan menuju emak yang waras nan bahagia terbuka. Terima kasih buat teman-teman SMA yang sudah menyarankan mendaftar di Institut Ibu Profesional. Alhamdulillah bisa konsisten terus naik kelas.

Buat yang belum tahu, Institut Ibu Profesional adalah kuliah online bagi para ibu atau calon ibu yang mau menjadi pro.

👀 👀 Googling sendiri lah ya biar lebih afdol 😁😁

Selama dua belas bulan ke depan blog ini akan menjadi tempat laporan kuliah bunsayku.

***

Ya bagaimana bunda mau disayang, kalau tiap hari kerjanya ngomel sama teriak melulu. Ingin harmonis tapi setiap pagi berhadapan dengan tekukan muka.😒😒

Hari ini jadi hari pertama tantangan 17 hari dari game level 1 komunikasi produktif. Tantangan yang membuat aku kelimpungan karena mau gak mau harus bisa berhadapan dengan diri sendiri juga kesayangan-kesayangan. Suami dan anak maksudnya. 👨👦👶

Komunikasi produktif 1 Suami 👨

👨"Senyum dong," pinta suami sambil nyomot cumi goreng krispi.
👩"Sebel."

Suami langsung diam. Harusnya aku clear and clarify tetapi merasa bukan waktu yang tepat karena suami akan berangkat ke kantor. Aku juga belum merasa siap untuk bertanggung jawab atas hasil komunikasi. Hanya mengungkapkan perasaan saja lalu kabur menyuapi anak-anak.

Produktif kah? Tentu saja belum. Ya setidaknya sudah berusaha untuk mengungkapkan. Soalnya biasanya hanya diam dan memendam.

Pas udah berangkat baru nyadar kalau hp belum diisi dayanya tetapi begitu diaktifkan sudah 100%. Jadinya pas suami nanya via WA udah gak dijudesin dong ya. Hihihi... Malu kan.



Mak.. Mak.. Semangat ya, semua baru awal. Masih ada 11 tantangan lainnya.

***

Family Forum pagi ini diadakan bersama anak-anak saat sarapan bersama.

👩"Nak, ibu hari ini akan mulai belajar dari awal lagi. Ibu ingin jadi ibu yang gak suka teriak-teriak apalagi cubit atau pukul."
👦"Iya, tangan kan buat nyuapin ya bu bukan buat pukul," sambung mas GianGara.
👶"Gak boleh pukul ya!" tegas dek DulDenGeni.

Pesan pengantar ini semacam afirmasi bagiku untuk mengingat bahwa aku dulu juga berharap dapat didikan yang tegas bukan kasar bahkan penuh pukulan dan cacian. Prolog dimana aku ingin anak-anak tahu bahwa aku dulu tidak diajari untuk mengungkapkan melainkan memendam. Intinya anak ya harus menurut sama orangtua. Jadi aku juga belajar dari nol tentang komunikasi produktif ini.

Biar anak-anak juga bisa mengingatkan dan terus bertumbuh bersama.


***

Komunikasi produktif 2 GianGaraGembul 👦





Saat Gian main, aku berusaha mengobservasi tidak langsung menghakimi.

Aku memang ingin semua sempurna seperti mauku. Agak tersiksa ketika harus duduk dan mengamati apa yang sebenarnya ingin mamas GianGaraGembul tunjukkan.

👩"Mas, kenapa ada ember di ujung?" tanyaku dengan intonasi yang sebisa mungkin terdengar santai.
👦"Ibu, aku taruh ember mainannya di ujung biar sekalian aku beresin kalau penuh."

Kenapa harus santai? Karena jika bertanya dengan nada tinggi, mamas akan marah karena merasa diatur.

Anak pertamaku ini memang sangat persis denganku. Dia agak sulit mengendalikan emosi karena aku, emaknya yang sangat mudah marah juga teriak. Memang benar, anak tidak pernah salah dalam mencontoh. Ya beruntung, fitrah noble attitude si sulung masih terpelihara karena memang umurnya yang masih lima tahun. Mungkin jika aku tidak mengikuti IIP dan terus-terus mematahkan semua fitrah baiknya maka akhirnya dia akan tumbuh menjadi pribadi yang kacau.

Komunikasi kami hari ini sungguh luar biasa santai. Belum ada teriakan dan marah-marah. Mamas juga membantu ibu dengan menunjukkan empati ketika dedek DulDenGeni yang sedang toilet training.

"Dedek belum bisa eek di kamar mandi. Sini bu aku bantuin."

Mamas Gian membantu mengepel. Tanpa diminta mamas berinisiatif dan merefleksi pengalamannya.

"Ibu, aku dulu juga eek di celana ya. Sekarang aku bisa eek jongkok sendiri."

Tanpa kekerasan dan teriakan pun, anak bisa tahu karena pada dasarnya mereka memiliki fitrah berperilaku baik. Ya akulah yang pelan-pelan menghilangkannya.

Maafkan ibumu ya nak. Semoga ke depannya kita terus saling bahu membahu menjalin komunikasi produktif sehingga tujuan keluarga terwujud. Ya ke surga bersama. Aamiin.

Komunikasi produktif 3 DulDenGeni 👶

Mamas lagi suka main ultraman terus DulDenGeni yang belum bisa kira-kira menggigit dengan sepenuh hati. Menangislah si mamas karena gigi dedeknya memang tajam-tajam menghujam pinggang.

👩 "Dedek kenapa menggigit?" tanyaku dengan nada rendah.
👶"Iya dedek gigit mamas," jawab Geni polos dan muka tak bersalah.
👦"Dek, ini aku sakit nih," rintih mamas.
👶"Aku tiup ya mas," ujar dedek berinisiatif.

Tiupan ajaib yang bisa menghilangkan rasa sakit
👩 "Dek, mau digigit?"
👶 "Gak mau sakit."
👩 "Kalau gak mau sakit, gak usah gigit mamas."
👶 "Iya gigit mamas."
👩 "Dedek mau main sakit apa main ketawa?"
👶 "Tawa."
👩 "Ya sudah. Tidak boleh gigit mamas."
👶 "Gak ah gak gigit mamas."

Terus adegan selanjutnya adalah minta maaf dan berjanji tidak mengulangi. 

#hari1
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional



"Bila ingin orang lain berubah maka ubahlah dulu dirimu."                                        (Septi Peni Wulandani)

Hari pertama dilalui dengan pinggang yang rasanya hampir copot. Namun begitulah kalau mau naik tingkat. Ujian harus dilewati agar bisa naik ke anak tangga berikutnya. Terima kasih diriku yang mau bertahan hingga penghujung hari dengan semangat terus berbagi. Kamu batu! 😄😀

No comments