Komunikasi Produktif, Hari 10 Terus Membuka Jalan

Ketika berkomunikasi, haruskah selalu dekat? Bagaimana dengan yang long distance marriage, terus yang anaknya masuk pesantren, belum lagi kalau anaknya lebih lengket ke asisten rumah tangga.
Terus membuka jalan, untuk berkomunikasi meski terkadang disertai pertengkaran juga tangis penyesalan. Dari semua kesalahan semoga Tuhan berikan pemahaman.
🎁🎁🎁
Ada yang pernah bilang padaku kalau menikah itu seperti membuka kotak kado. Ada yang aku inginkan, ada yang sesuai kebutuhan, banyak juga yang tidak sesuai keinginan. Begitu game level 1 dimulai, aku sering melihat kembali ke masa-masa awal pernikahanku. Ada masa dimana aku dan suami hanya tinggal di satu atap tetapi jiwa kami terpisah. Larut dalam imajinasi sendiri. Ada banyak luka yang belum terselesaikan bagiku.

Setelah sempat long distance marriage, aku dan suami mulai lagi dari awal. Benar-benar seperti dua orang asing. Aku tak hendak mengenalnya lebih jauh, banyak hal yang aku simpan sendiri. Apa-apa yang aku rasa lama-lama menutup semua jalan masuk bagi suamiku untuk lebih mengenalku.

Alhamdulillah semua jalan kembali terbuka sekarang. Aku mulai menuntaskan masalah satu persatu agar tidur dalam keadaan plong. Bangun tidur dengan segar. Komunikasi kembali kami tingkatkan. Mulai dari memberi kabar agar saling tahu posisi, mengurangi buruk sangka, dan berusaha untuk produktif saat ada di rumah. Tidak lagi diam-diam, mulai bertanya agar jawaban panjang dan ada unsur mengungkapkan perasaan, serta memaknai pertengkaran sebagai pembelajaran. 

👩"Aku akan mulai mengungkapkan yang aku rasa. Aku juga akan mengurangi baper. Kalau sudah ya sudah, gak akan ungkit-ungkit."
👨"Pelan-pelan aja gak usah ngoyo. Kurangi dulu aja pikiran yang gak terlalu penting."
👩"Oh kirain mau minta gak usah mikir."
👨 "Susahlah. Apalagi wanita, apa saja dijadiin pikiran, beban. Makanya aku tuh suka dan dukung kalau kamu nulis. Setidaknya ada yang berkurang lah yang ruwet di pikiran."
👩"Kok kamu ngerti banget sih Bi."
👨"Ya lumayan lah dari 2005."

Weh lama juga yak. Udah 13 tahun. Coba kalau kami sama-sama tidak bertumbuh dan terus membuka jalan komunikasi? Aku akan menyerah pada dia yang masih aja susah taruh piring kotor ke tempat cuci, suami juga akan ogah karena aku terus menerus mengungkit hal-hal yang telah berlalu. Clear and clarify tidak akan dilakukan. 
👩"Gak paham ya udah."
👨"Tinggal ngomong lagi apa susahnya sih."

Ya karena waktu itu aku belum paham bagaimana sih komunikasi yang produktif itu. Ternyata harus mengerti dulu kalau kami berasal dari lingkungan, cara didik, juga pengalaman yang berbeda. 
Nah sekarang begitu paham ya usaha untuk setiap hari praktik. Gak gampang jengkel kalau suami bawa pulang sate ayam doang tanpa sop daging karena instruksi kurang lengkap.
👨"Emang adek bilang kalau minta beli sop?"
👩"Gak sih, adek pikir Bi inisiatif karena kan sate disitu ada sop dagingnya juga."
👨"Maaf ya adek gak bilang jadi ayah ya belinya sesuai pesanan."
Tidak lagi jengkel karena sudah tahu harus tanggung jawab jika tidak memberikan instruksi yang jelas.

Aku tuh gak bisa bohong kalau udah menatap mata suamiku. Ya memang disitulah jalan untuk komunikasi produktif. Terbuka dan jujur.
👩"Aku lelah banget hari ini. Anak-anak jadi korban omelan aku."
👨"Oke kita jadwalin terapi ya. Biar semua kembali sadar dan waras."
🎁🎁🎁
Komunikasi produktif, kejarlah aku! 😂😉

Anak-anak akan tetap membuka komunikasi karena segalak apapun orangtua, mereka tetap yakin orangtualah tempat ternyaman untuk kembali.

👦" Ibu aku kadang jahat suka marahin aku tapi kadang baik juga. Aku sayang ibu."
Jawaban jujur dari mamas Gian ketika ditanya tentang ibunya.
Dari jawaban itulah aku merenung. Memang setelah ngomel atau bentak, sebisa mungkin aku jelaskan kenapa hal itu bisa terjadi kemudian meminta maaf. 
Seburuk apapun keadaan hari itu, sebisa mungkin aku jelaskan. Hanya sejenak menutup akses agar tidak kebablasan marahnya.

Fokus ke masa depan, membahas kesalahan di masa lalu sebagai pembelajaran.
👦"Dulu aku dimarahin ibu kalau pipis di celana. Terus aku sudah lima tahun, aku sudah bisa pipis sendiri di kamar mandi ya bu? Kenapa sih?"
👩"Ya karena mamas belajar terus. Berlatih sampai bisa. Terus kalau udah enam tahun, bisa bobok sendiri?"
👦"Iyalah kan aku hebat."

Jelas dalam memberikan pujian mempengaruhi mamas Gian dalam menentukan target bagi dirinya.
👩"Ya mamas hebat sudah bisa pipis dan mandi sendiri."
👦"Entar kalau aku udah enam, aku boleh buka lego yang enam ya bu. Eh kalau aku udah bisa bobok sendiri.

Terus menerus membuka jalan komunikasi tentu akan menghasilkan. Keep the good work and pray hard.
🎁🎁🎁
👶"Sayang ibu."
Justru dari Genilah aku belajar intonasi dan bahasa tubuh yang jujur nan tulus.

Tiba-tiba anak aku yang berumur 2 tahun 6 bulan ini begitu cepat menyerap kosakata-kosakata di sekitarnya. Aku merasa tiba-tiba karena kadang aku tidak tahu darimana dia dengar. Ya walaupun sebagian dia serap dari aku, suamiku, dan mamas. Mungkin sebagian lagi dari kartun-kartun yang dia tonton.

Observasi sebagai cara untuk meredam emosi dan memahami lebih jauh.
👶"Aku capek ibu."
👩"Kenapa bisa capek?"
👶"Main terus."
👩"Bagaimana kalau kita beresin biar dedek bisa bobok?"
👶"Biar sakit kena mainan. Ayo ibu ayo beresin."
Dengan cepat bisa memutuskan. Modal telinga, sedikit kesabaran, dan ketulusan.
🎁🎁🎁
Hari ke sepuluh dan masih terus membuka jalan untuk komunikasi yang produktif.

Mengejar ketinggalan. Menikmati hari ini. Menurunkan kecemasan akan hari esok.

#hari10
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

No comments