Satu Permintaan Hujan


Itu adalah hari pertama Hujan turun ke bumi. Sama sekali tanpa persiapan dan petuah-petuah dari pendahulunya. Ya tentu saja yang ada adalah cerita-cerita bahagia bagaimana manusia begitu menyukai pendahulunya. Nyaris tidak ada air mata, teriakan, bahkan penyesalan.
Hari pertama yang seharusnya dipenuhi suka cita ternyata kenyataannya berbeda. Hujan dikagetkan dengan reaksi para ombrophobia. Ada yang bersembunyi di balik pintu, menjerit ketakutan, bahkan pingsan di tengah jalan.
Kenapa sangat berbeda dengan cerita teman-temannya. Apa yang salah?
Gerimis berkata meskipun kehadirannya tidak diharapkan tetapi ibu-ibu masih sempat mengangkat jemurannya.
“Ah untung masih gerimis.”
Hanya gumanan itu yang terucap. Tidak sampai teriakan-teriakan yang menggema.
Si Deras bilang, anak-anak sangat suka dengan kehadirannya. Meskipun kedinginan, mereka selalu saja menari menemaninya bertugas.
Terus Salju juga selalu menyombongkan diri kalau anak-anak akan membuat berbagai macam boneka lucu, mobil-mobilan, dan juga rumah-rumahan ketika dia turun.
Apalagi Meteor. Dia dengan gayanya yang angkuh memastikan kalau manusia sangat menunggu kehadirannya.
“Ah Hujan macam apa aku ini? Kenapa aku hanya bisa membuat manusia tersiksa?”
Hujan datang bergerombol, ditemani petir, serta angin. Cerita-cerita yang mengiringi tugasnya adalah yang berakhir sedih. Tentu saja tidak mudah. Hujan terus menguatkan diri untuk tetap hadir meski cacian dan makian terus saja menyakiti rintiknya.
Hujan turun atas perintah Sang Pencipta. Hujan berusaha tidak mengeluh meski ternyata kehadirannya tak pernah didamba. Hujan perlahan tahu kalau dia berbeda. Kehadirannya selalu dijadikan kambing hitam. Cucian tidak kering, perut yang selalu lapar, dan menguatnya niat manusia ketika melihat kesempatan mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Petrichor,  bau khas Hujan. Aroma yang hanya bisa ditemui saat Hujan menjalankan tugas. Teman baik yang mengingatkan bahwa Hujan tentu saja memiliki kelebihan.
Petrichor bilang Hujan menyeruakkan aroma rindu manusia pada: sepanci mie panas, seriuh obrolan saat makan dan hangatnya kebersamaan. Hujan bisa mengumpulkan manusia di meja makan. Bapak, Emak, dan Deema. Keluarga.
“Apa itu keluarga?” tanya Hujan penasaran.
“Mereka adalah manusia yang tidak boleh dipisahkan.”
“Oh aku suka keluarga. Mereka membuatku merasa lebih baik. Aku jadi merasa berguna.”
Mulai saat itu ketika bertugas, Hujan memperhatikan keluarga. Ada Bapak, Emak, dan Deema.
Mereka adalah manusia yang tidak pernah menyalahkan Hujan. Bapak dengan sabar memakai jas ketika Hujan datang. Tetap bekerja meski Hujan membawa air yang sangat banyak.
“Iya, tolong siapkan saja sandal jepit ya Mak. Sepatunya sudah Bapak masukkan tas.”
Emak suka mengajari Deema yang sedang belajar berjalan untuk membuat permintaan kala Hujan turun. Emak membimbing Deema ke teras lalu mendudukkannya di pangkuan.
“Deema, hujan adalah saat paling baik untuk mengajukan keinginan pada Tuhan. Hujan itu berkah.”
Tuhan memberikan keistimewaan pada manusia. Permintaan yang dikabulkan itulah yang membuat hujan bertanya-tanya. Apakah Hujan juga bisa minta dan dikabulkan?
“Emaaak… Deema Mak! Deema!”
Kepanikan memenuhi ruang tamu yang hanya diwarnai tikar plastik bergambar Masha & the bear.
Emak bangun dari tidur lelapnya. Spontan membelai springbed yang sudah memberikan efek pegal ketika bangun. Deema tadi tidur bersama Emak disana. Hawa sejuk yang datang bersama Gerimis membuai mereka berdua pada awalnya.
Namun Hujan yang bertugas bersama petir membuat Deema terjaga. Dengan kecepatan yang mengagumkan Deema turun dari springbed. Sengaja tanpa ranjang agar Deema bisa terhindar dari kecelakaan ketika turun atau tidur sendiri.
“Deema mengambang di empang Mak! Deema udah gak bisa diselamatkan lagi waktu pak RT temukan dia.”
Tubuh Emak oleng dan dengan sigap bu RT menahan hingga tak menghantam lantai.
Hujan sangat ingat momen ini. Momen ketika dia berharap bisa meminta satu dan dikabulkan Tuhan. Hujan minta Tuhan menyelamatkan Deema.
Hujan meminta Angin mengerahkan semua kekuatan agar bisa mendorong tubuh Deema masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Hujan juga memohon Petir marah agar kilatannya mengurungkan niat Deema keluar. Bahkan Hujan mengiba pada Geledek supaya gelegarnya sanggup mengubah keadaan.
Tidak. Deema malah semakin antusias. Deema tidak lagi peduli yang terpenting yaitu mendapatkan apa yang dia suka. Bermain bersama Hujan.
“Oh Deema, aku bukan Deras. Aku Hujan Badai. Aku tidak pantas mendapatkan kasih sayangmu. Tidak-tidak, aku tidak ingin bermain bersamamu. Aku berbahaya,”
Deema terlalu bahagia, seharusnya Hujan suka. Pada akhirnya ada yang menyukainya, mau menari bersamanya, dan begitu bersemangat menemaninya bertugas.
Bapak melihat tubuh mungil tetapi sudah kaku Deema. Bapak tersenyum.
“Pasti kamu terlalu asik menikmati hujan ya Nak. Sekarang kamu sudah kembali kepada Sang Pencipta. Sampaikan dulu salam Bapak dan Emak ya. Nanti kalau sudah waktunya kita bisa berkumpul lagi.”
Bayangan Deema mengangguk. Anggukan yang sudah tidak dapat dilihat Bapak. Emak memeluk punggung Bapak yang duduk. Sekuat tenaga menahan tangisnya. Setelah tangis dan jeritan mengumandangkan nama Deema usai.
****
“Hujan Badai. Ya aku adalah hujan badai yang merusak. Aku hanya bisa meninggalkan kesedihan, kemarahan, bahkan keputusasaan bagi manusia. Sekarang satu keluarga yang tersisa. Mereka yang suka padaku, yang tidak mengutuk ketika aku datang, dan yang percaya padaku telah kehilangan anak kesayangan mereka. Kenapa Tuhan? Apakah aku tidak bisa punya satu permintaan yang dikabulkan?”
“Jauh di dasar hatimu, kamu sudah punya satu permintaan. Ya itulah yang dikabulkan Tuhan.”
“Deema? Kamu tidak marah atau sedih? Aku membuatmu berpisah dengan mereka. Bapak dan Emak pasti akan ikut membenciku seperti manusia-manusia lain.”
“Bapak dan Emak akan bersedih, menyesal, dan juga marah. Namun itu hanya akan bertahan sebentar. Tentu saja sebentar karena Deema itu hujan berawan. Arti nama yang mereka sematkan. Keinginan yang ingin Bapak dan Emak wujudkan. Mereka ingin Deema jadi hujan awan yang bermanfaat menghidupkan harapan.”
“Dan aku kembali tak bermanfaat.”
“Tentu saja kamu akan tetap bermanfaat. Itulah permintaan yang Tuhan kabulkan. Manusia akan belajar mengambil hikmah setelah kamu turun dan menyisakan semua kekacauan itu. Melihat betapa ada banyak hal yang bisa disyukuri meski dengan ditemani pemandangan puing-puing rumah. Karena kadang kebagiaan justru melenakan tetapi kesedihan malah menguatkan.
Hujan tersenyum. Deema mengedipkan mata lalu menyatu dengan Gerimis.
“Menari dalam badai. Manusia bisa. Manusia sanggup karena Tuhan mampukan. Terima kasih Tuhan karena telah mengabulkan satu permintaan Hujan. Hujan Badai bisa menyadarkan manusia akan kekuatan yang dimiliki. Dan tentu saja bisa kembali meyakini kuasa Illahi.”

(961)

No comments