3 Strategi Memiliki Waktu Berkualitas Bagi Ibu Rumah Tangga

Tahun 2013 ketika aku memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga penuh. Ada di rumah untuk mengurus suami, anak, dan segala tetek bengeknya. Aku tidak memiliki bekal apapun. Baik ilmu maupun rencana besar untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Berjalan seadanya, sealami mungkin.

Tahun 2018 setelah hampir lima tahun terseok-seok. Aku juga selalu menyarankan teman yang curhat akan menikah untuk membekali diri paling tidak dengan sedikit ilmu atau pondasi pantang minta dibalikin ke rumah orangtua. Sekelumit cerita sebagai dokumentasi  tentang perjalanan menghabiskan waktu sebagai ibu rumah tangga, aku tayangkan di blog. Selain untuk berbagi, aku juga ingin mengikat ilmu yang semoga bisa terus bermanfaat bagi diriku dan juga pembaca blogku.

***
Waktu berkualitas adalah tujuan utama bagi tiap orang. Tidak terbatas hanya untuk orang-orang sibuk di luar rumah tetapi juga bagi mereka yang bekerja di ranah domestik. 

Ibu perlahan tetapi pasti belajar dari rasa bingung, jengkel, juga frustrasi. Tidak ada yang bisa dihasilkan dari kegiatan yang dikerjakan dalam keadaan tidak fokus.

Waktu berkualitas merupakan keseimbangan antara mengurus diri sendiri dan keluarga. Tidak ada yang merasa kekurangan atau kelebihan. Semua sama rata sesuai dengan porsi dan prioritas.

Banyak teman-teman yang mengeluh tentang betapa pekerjaan rumah mereka tidak pernah selesai. Waktu-waktu yang seolah fokus pada pekerjaan yang itu-itu saja. Masak, memandikan anak, menyuapi, lalu menceboki. Begitu suami pulang dari kantor, dunia berputar ke urusan keperluan doi. 

Sering sakit, kelelahan yang tak pernah usai, dan dehidrasi tanpa disadari. Betapa menjadi ibu rumah tangga tiba-tiba berubah menjadi kutukan. Ibu jadi tidak menikmati peran yang sudah dipilihnya. Semua yang ada di dalam rumah seperti bara api yang panas tetapi dibutuhkan untuk memanggang ayam agar bisa makan malam.

Buat apa dilakukan jika hanya menghasilkan sengsara?

Lantas apa yang bisa ibu lakukan agar memiliki waktu berkualitas sehingga bisa maksimal  menjalankan perannya?

1.  Prinsip: bagus tetapi tidak tertarik

Sebagai ibu rumah tangga yang waktu 24 jamnya tidak pernah cukup, menerapkan prinsip “bagus tetapi tidak tertarik” adalah tantangan. Karena pada kenyataannya ada saja kegiatan-kegiatan bagus juga menggiurkan untuk diselesaikan padahal bukanlah yang mendesak atau penting. Mulai dari mencuci baju, memasak, menyiapkan sarapan, hingga terburu-buru mengantar anak karena lupa ternyata ada jadwal les. Belum lagi gunungan baju yang hanya butuh dilipat atau harus disetrika. Begitu mengundang untuk dijamah.

Satu tubuh diminta melakukan tiga sampai empat kegiatan dalam satu waktu sekaligus. Ditambah lagi, serangan panik berupa ingin semua berhasil dan selesai dengan sempurna.

Ibu mulai mengerjakan dengan gelisah, ingin segera selesai, dan harus tepat waktu sesuai ekspektasi. Ibu mendadak berubah menjadi pahlawan super yang berangan-angan akan menyelesaikan semua tugas rumah tangga dalam satu waktu. Tidak perlu juga asisten karena yakin bisa menyelesaikan semua sendiri.

Bagus tetapi tidak tertarik adalah cara mendamaikan pikiran agar bisa menganalisis hingga akhirnya paham bagaimana mendapatkan waktu yang berkualitas dalam keseharian seorang ibu.

Awalnya, keinginan  agar ibu memiliki waktu yang berkualitas bagi diri sendiri dan juga keluarga seolah menjadi misi mustahil ala agen Ethan Hunt.  Lalu tabrakan demi tabrakan kepentingan di dalam keluarga itu sendiri membuat si manajer atau ibu mulai mencermati secara lega hati. Ada yang jalannya dibukakan, ada juga yang berinisiatif membuka diri akan perubahan.

Apa tujuan ibu? Memiliki tujuan secara otomatis memunculkan kegiatan yang harus diselesaikan jika ingin tujuan tercapai. Bila hari ini tujuannya adalah menemani anak piknik maka menyelesaikan setrikaan baju bisa ditunda besok atau masuk antrian ke laundry langganan.  Tujuan tersebut membuat ibu bertahan pada fokus dan juga ‘prinsip bagus tetapi tidak tertarik.

Melibatkan anak saat membereskan rumah itu bukan kejahatan
Bukan kejahatan bila ibu meminta bantuan untuk anak membereskan mainan mereka sendiri setelah waktu bermain usai. Selain menguatkan fokus pada kegiatan yang memang harus ibu selesaikan, anak juga jadi belajar bertanggungjawab.

Ibu memiliki waktu berkualitas dengan kegiatan yang harus diselesaikan, anak juga memiliki kesempatan mengurus mainannya. Anak jadi paham punya mainan apa saja dan tahu dimana tempat penyimpanan jika ingin main lagi.

Banyak ibu yang mengerjakan semua sendiri hingga kelelahan lalu esok harinya mengulangi kelelahan yang sama hingga suami atau anak-anak begitu tergantung padanya. Suami dan anak menjadi sama-sama manjanya. Apakah salah? Tidak jika ibu tidak kehilangan jati dirinya sebagai seorang pribadi. 

Ya milikilah waktu berkualitas bagi diri sendiri. Ibu tidak melulu ibu atau istri. Kadang ibu adalah Phalupi, Sarah, Nonik yang perlu waktu untuk sekedar melihat kuncup cabe mekar sambil minum secangkir kopi. Jangan sampai kehilangan diri sendiri.

2. Prinsip: jika bisa menunda kenapa harus dikerjakan

Bagaimana rasa malas dan menunda mewarnai hari ini? Ada orang-orang yang fokus untuk
tidak menunda tetapi pada akhirnya virus malas gerak menyerang. Semua kegiatan hanya
melayang di pikiran. Tidak ada satu pun yang dikerjakan.

Tidak masalah menunda pekerjaan jika memang kondisi lelah dan mengantuk. Tidur siang
bisa ibu manfaatkan untuk mengisi ulang energi yang habis.

Bukan dosa besar jika ibu ikut tidur saat anak tidur siang
Tidur siang sangat bagus untuk mengistirahatkan raga juga otak. Cukup satu atau juga jam tidur siang.

Bangun, segar, dan siap untuk mendampingi anak atau memasak makan malam dengan riang.

3. Memaksimalkan pagi untuk waktu yang lebih di akhir hari

Setiap ibu memiliki pagi idealnya masing-masing. Ada yang sudah tercatat sejak malam
sebelum beranjak tidur, kalau aku lebih suka membayangkan sesaat sebelum tidur. Terus
ada yang merencanakan sesaat setelah upacara penyatuan roh. Hahahah...

Setiap bangun pagi, ingat kembali tugas ibu sebagai pribadi terlebih dahulu!

Sudahkah ibu memiliki waktu untuk berterima kasih dan memaafkan diri sendiri?

Ada yang bilang ibu bahagia itulah yang bisa membuat anak bahagia. Bagaimana anak bisa
bahagia jika ibu yang mendampingi tidak bahagia.

Nah pagi hari adalah waktu yang tepat untuk mengisi amunisi untuk pertempuran sepanjang
hari. *tsahhh

Waktu yang berkualitas untuk mandi tanpa gangguan, makan atau minum tanpa rengekan,
juga menulis atau membaca tanpa terburu-buru.


Di akhir hari yang paling kacau sekalipun, aku berharap kita bisa tetap merawat diri. Bangun sepagi yang ibu sanggup. Hindari begadang kecuali mendesak. 

Ibu perlu memanfaatkan pagi untuk merawat diri agar bisa menjaga kewarasan karena memang jadi ibu itu melelahkan sekaligus kebanggaan. 

Ya suami dan anak-anak butuh kita yang sehat dan bahagia serta utuh penuh memperhatikan mereka. Tidak perlu yang sempurna melainkan yang bahagia.

Setelah memilih menjadi ibu rumah tangga, aku berharap kalian tidak larut di dapur, di tumpukan setrikaan, atau di got untuk mengambil mobil-mobilan yang tidak seberapa dibandingkan dengan kewarasan juga kenyamanan diri kalian. 

Semua pilihan memiliki konsekuensi tetapi kalau aku boleh berharap, aku ingin kalian memilih untuk bahagia dengan apa yang sudah kalian miliki dan pilih. 

(1.047)

No comments