3 Strategi Memiliki Waktu Berkualitas Bagi Ibu Rumah Tangga

Tahun 2013 ketika aku memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga penuh. Ada di rumah untuk mengurus suami, anak, dan segala tetek bengeknya. Aku tidak memiliki bekal apapun. Baik ilmu maupun rencana besar untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Berjalan seadanya, sealami mungkin.

Tahun 2018 setelah hampir lima tahun terseok-seok. Aku juga selalu menyarankan teman yang curhat akan menikah untuk membekali diri paling tidak dengan sedikit ilmu atau pondasi pantang minta dibalikin ke rumah orangtua. Sekelumit cerita sebagai dokumentasi  tentang perjalanan menghabiskan waktu sebagai ibu rumah tangga, aku tayangkan di blog. Selain untuk berbagi, aku juga ingin mengikat ilmu yang semoga bisa terus bermanfaat bagi diriku dan juga pembaca blogku.

***
Waktu berkualitas adalah tujuan utama bagi tiap orang. Tidak terbatas hanya untuk orang-orang sibuk di luar rumah tetapi juga bagi mereka yang bekerja di ranah domestik. 

Ibu perlahan tetapi pasti belajar dari rasa bingung, jengkel, juga frustrasi. Tidak ada yang bisa dihasilkan dari kegiatan yang dikerjakan dalam keadaan tidak fokus.

Waktu berkualitas merupakan keseimbangan antara mengurus diri sendiri dan keluarga. Tidak ada yang merasa kekurangan atau kelebihan. Semua sama rata sesuai dengan porsi dan prioritas.

Banyak teman-teman yang mengeluh tentang betapa pekerjaan rumah mereka tidak pernah selesai. Waktu-waktu yang seolah fokus pada pekerjaan yang itu-itu saja. Masak, memandikan anak, menyuapi, lalu menceboki. Begitu suami pulang dari kantor, dunia berputar ke urusan keperluan doi. 

Sering sakit, kelelahan yang tak pernah usai, dan dehidrasi tanpa disadari. Betapa menjadi ibu rumah tangga tiba-tiba berubah menjadi kutukan. Ibu jadi tidak menikmati peran yang sudah dipilihnya. Semua yang ada di dalam rumah seperti bara api yang panas tetapi dibutuhkan untuk memanggang ayam agar bisa makan malam.

Buat apa dilakukan jika hanya menghasilkan sengsara?

Lantas apa yang bisa ibu lakukan agar memiliki waktu berkualitas sehingga bisa maksimal  menjalankan perannya?

1.  Prinsip: bagus tetapi tidak tertarik

Sebagai ibu rumah tangga yang waktu 24 jamnya tidak pernah cukup, menerapkan prinsip “bagus tetapi tidak tertarik” adalah tantangan. Karena pada kenyataannya ada saja kegiatan-kegiatan bagus juga menggiurkan untuk diselesaikan padahal bukanlah yang mendesak atau penting. Mulai dari mencuci baju, memasak, menyiapkan sarapan, hingga terburu-buru mengantar anak karena lupa ternyata ada jadwal les. Belum lagi gunungan baju yang hanya butuh dilipat atau harus disetrika. Begitu mengundang untuk dijamah.

Satu tubuh diminta melakukan tiga sampai empat kegiatan dalam satu waktu sekaligus. Ditambah lagi, serangan panik berupa ingin semua berhasil dan selesai dengan sempurna.

Ibu mulai mengerjakan dengan gelisah, ingin segera selesai, dan harus tepat waktu sesuai ekspektasi. Ibu mendadak berubah menjadi pahlawan super yang berangan-angan akan menyelesaikan semua tugas rumah tangga dalam satu waktu. Tidak perlu juga asisten karena yakin bisa menyelesaikan semua sendiri.

Bagus tetapi tidak tertarik adalah cara mendamaikan pikiran agar bisa menganalisis hingga akhirnya paham bagaimana mendapatkan waktu yang berkualitas dalam keseharian seorang ibu.

Awalnya, keinginan  agar ibu memiliki waktu yang berkualitas bagi diri sendiri dan juga keluarga seolah menjadi misi mustahil ala agen Ethan Hunt.  Lalu tabrakan demi tabrakan kepentingan di dalam keluarga itu sendiri membuat si manajer atau ibu mulai mencermati secara lega hati. Ada yang jalannya dibukakan, ada juga yang berinisiatif membuka diri akan perubahan.

Apa tujuan ibu? Memiliki tujuan secara otomatis memunculkan kegiatan yang harus diselesaikan jika ingin tujuan tercapai. Bila hari ini tujuannya adalah menemani anak piknik maka menyelesaikan setrikaan baju bisa ditunda besok atau masuk antrian ke laundry langganan.  Tujuan tersebut membuat ibu bertahan pada fokus dan juga ‘prinsip bagus tetapi tidak tertarik.

Melibatkan anak saat membereskan rumah itu bukan kejahatan
Bukan kejahatan bila ibu meminta bantuan untuk anak membereskan mainan mereka sendiri setelah waktu bermain usai. Selain menguatkan fokus pada kegiatan yang memang harus ibu selesaikan, anak juga jadi belajar bertanggungjawab.

Ibu memiliki waktu berkualitas dengan kegiatan yang harus diselesaikan, anak juga memiliki kesempatan mengurus mainannya. Anak jadi paham punya mainan apa saja dan tahu dimana tempat penyimpanan jika ingin main lagi.

Banyak ibu yang mengerjakan semua sendiri hingga kelelahan lalu esok harinya mengulangi kelelahan yang sama hingga suami atau anak-anak begitu tergantung padanya. Suami dan anak menjadi sama-sama manjanya. Apakah salah? Tidak jika ibu tidak kehilangan jati dirinya sebagai seorang pribadi. 

Ya milikilah waktu berkualitas bagi diri sendiri. Ibu tidak melulu ibu atau istri. Kadang ibu adalah Phalupi, Sarah, Nonik yang perlu waktu untuk sekedar melihat kuncup cabe mekar sambil minum secangkir kopi. Jangan sampai kehilangan diri sendiri.

2. Prinsip: jika bisa menunda kenapa harus dikerjakan

Bagaimana rasa malas dan menunda mewarnai hari ini? Ada orang-orang yang fokus untuk
tidak menunda tetapi pada akhirnya virus malas gerak menyerang. Semua kegiatan hanya
melayang di pikiran. Tidak ada satu pun yang dikerjakan.

Tidak masalah menunda pekerjaan jika memang kondisi lelah dan mengantuk. Tidur siang
bisa ibu manfaatkan untuk mengisi ulang energi yang habis.

Bukan dosa besar jika ibu ikut tidur saat anak tidur siang
Tidur siang sangat bagus untuk mengistirahatkan raga juga otak. Cukup satu atau juga jam tidur siang.

Bangun, segar, dan siap untuk mendampingi anak atau memasak makan malam dengan riang.

3. Memaksimalkan pagi untuk waktu yang lebih di akhir hari

Setiap ibu memiliki pagi idealnya masing-masing. Ada yang sudah tercatat sejak malam
sebelum beranjak tidur, kalau aku lebih suka membayangkan sesaat sebelum tidur. Terus
ada yang merencanakan sesaat setelah upacara penyatuan roh. Hahahah...

Setiap bangun pagi, ingat kembali tugas ibu sebagai pribadi terlebih dahulu!

Sudahkah ibu memiliki waktu untuk berterima kasih dan memaafkan diri sendiri?

Ada yang bilang ibu bahagia itulah yang bisa membuat anak bahagia. Bagaimana anak bisa
bahagia jika ibu yang mendampingi tidak bahagia.

Nah pagi hari adalah waktu yang tepat untuk mengisi amunisi untuk pertempuran sepanjang
hari. *tsahhh

Waktu yang berkualitas untuk mandi tanpa gangguan, makan atau minum tanpa rengekan,
juga menulis atau membaca tanpa terburu-buru.


Di akhir hari yang paling kacau sekalipun, aku berharap kita bisa tetap merawat diri. Bangun sepagi yang ibu sanggup. Hindari begadang kecuali mendesak. 

Ibu perlu memanfaatkan pagi untuk merawat diri agar bisa menjaga kewarasan karena memang jadi ibu itu melelahkan sekaligus kebanggaan. 

Ya suami dan anak-anak butuh kita yang sehat dan bahagia serta utuh penuh memperhatikan mereka. Tidak perlu yang sempurna melainkan yang bahagia.

Setelah memilih menjadi ibu rumah tangga, aku berharap kalian tidak larut di dapur, di tumpukan setrikaan, atau di got untuk mengambil mobil-mobilan yang tidak seberapa dibandingkan dengan kewarasan juga kenyamanan diri kalian. 

Semua pilihan memiliki konsekuensi tetapi kalau aku boleh berharap, aku ingin kalian memilih untuk bahagia dengan apa yang sudah kalian miliki dan pilih. 

(1.047)

Sekolah di Rumah, Bisa Tidak?


Wacana sekolah di rumah ini sudah ada sejak GianGaraGembul bayi. Pengalamanku sebagai guru anak usia dini digadang-gadang akan membuat sekolah di rumah masuk akal dan mudah. Namun ternyata eh ternyata, hingga anak Gian umur 5 tahun, sekolah di rumah masih ada di pikiran.

👦"Aku gak mau sekolah di situ lagi ibu. Aku mau sekolah di rumah saja."
👩"Kenapa mamas?"
👦"Aku bosan ibu. Lagian gurunya marah-marah melulu."
👩"Kan ibu juga galak."
👦"Tapi ibu kan ibu aku."

Itu artinya dia tahu kalau gak papa ibunya galak asal jangan orang lain. 

Aku sempat berpikir apa ikatan yang aku bangun terlalu dekat hingga anak-anakku belum bisa cepat akrab dengan orang dewasa lain. Iya karena kalau bermain dengan anak-anak lain maka cepat banget. Ibarat ditinggal antri beli ayam goreng juga udah dapat teman saja. Aku jadi agak sulit untuk memasukkan dia ke sekolah atau les yang notabene ada orang dewasa lain. 

Mau tidak mau rencana untuk menyekolahkan anak di rumah harus ditinjau lagi. Perencanaan pendidikan anak akan jauh lebih fleksibel karena aku tahu karakter anakku. Aku juga tahu sampai mana perkembangan mereka yang artinya kegiatan-kegiatan yang akan anak-anak ikuti bisa lebih mengena dan memberikan ilmu yang sesuai dengan visi misi keluarga.

Mulai baca-baca lagi buku-buku tentang perkembangan anak dan juga artikel atau jurnal yang bisa menambah keyakinan bahwa aku sebagai ibu sangat layak menjadi guru anak-anakku.

"Aku tuh hanya lulusan SMA, mana bisa mendidik anak. Lagian dulu orangtuaku hanya sekolahin aku biar dapat pekerjaan."
"Berat mba. Aku aja yang lulusan S2 memilih untuk kerja saja. Anak-anak aku sekolahin lah di sekolah internasional yang mahal. Aku tuh orangnya gak sabaran. Takutnya malah stres."

Oh Tuhan, apakah aku salah memilih untuk ada di rumah? Butuh tujuh tahun untuk akhirnya memilih dengan sadar, IYA AKU IBU RUMAH TANGGA. Tugasku adalah membahagiakan diriku sendiri. Ya sebelum mendidik anak di rumah, aku terlebih dahulu harus bahagia dan merasa cukup. Setelah itu yang terjadi terjadilah. Pundakku harus enteng dan bebas dari segala macam ekspektasi tinggi. 

Begitu diri ini sadar maka pelan-pelan niat untuk mengatur semua kegiatan anak-anak ditumbuhkan. Tidak ingin tergesa-gesa karena takutnya malah berujung penundaan seperti yang sudah-sudah. Rencana sebatas rencana.

***

"Nu, aku mau beli beberapa mainan kayu. Kalau khilaf, aku bayar dua kali ya?" tanyaku pada seorang teman yang jualan mainan kayu. 
"Siappp."

Aku pikir koleksi balok dan juga puzzle sebaiknya bertambah. Dan ya alhamdulillah anaknya senang, ibunya juga bahagia. Ketika GianGaraGembul sibuk dengan balok-baloknya, aku sibuk memotret dan menanyakan hal-hal yang bisa merangsang perkembangan kosakata dan juga kerja otaknya.

"Aku harus buat tangga ya ibu, biar bisa naik ke atas dan rumahnya tinggi."

Ya tidak perlu muluk-muluk ibu, aku akan berkembang asal ibu mau menemani. Itu cukup. Mungkin inilah masa dimana anak-anak butuh aku sebagai ibunya untuk terus mendampingi mereka hingga saat untuk keluar rumah tiba. Tidak ada mainan tidak masalah, anak-anak butuh orangtuanya.
Bila anak masih nyaman di rumah kenapa tidak sekalian sekolah di rumah saja?
Sekolah di rumah itu menuntut kesiapan orangtua. Orangtua-orangtua yang dahulunya tidak begitu dekat dengan ayah dan ibunya perlu disadarkan terlebih dahulu. Jujur tidak mudah. Orangtua zaman dulu sangat berbeda dengan zaman sekarang. Orangtua zaman sekarang sangat mudah mendapatkan informasi dalam mendidik anak sehingga tinggal berdamai dengan inner child agar mampu mendidik anak di era milenial yang penuh tsunami informasi.

Batasan-batasan kelas harus di dalam ruangan juga perlu diubah. Toh belajar tidak melulu harus serius, duduk tegak, atau di kelilingi tembok. Di lapangan penuh rumput juga bisa.

Kesadaran untuk menjaga alam nantinya akan menjadi pelengkap skill anak
Sekolah di rumah atau tidak, sebenarnya kebutuhan anak-anak adalah bisa memiliki waktu berkualitas bersama dengan orangtua. Asli aku mengetik ini sambil nangis karena inilah keinginan yang dulu tidak bisa aku sampaikan kepada orangtuaku. Bukan uang atau mainan tetapi perhatian dan kesediaan untuk mendengarkan juga berbagi rasa. 

Ya mungkin inilah yang membuat sekolah di rumah itu berat. Aku harus mulai mengulik satu per satu keinginanku semasa kecil. Selain itu kembali ke masa kecil yang berat dan suram. 

Bagaimana aku bisa mendidik anakku di rumah sementara aku tidak memiliki pengalaman keluarga yang memiliki visi dan misi? Baiklah aku akan mulai dengan memaafkan orangtuaku untuk sumber-sumber ilmu yang terbatas juga berterima kasih kepada mereka karena walaupun mereka tidak memiliki ilmu yang cukup saat itu tetapi mereka memberikan pendidikan di luar rumah terbaik semampu mereka.

GianGaraGembul dan nantinya DulDenGeni, dengan semua kelebihan dan keterbatasan ibumu juga ayahmu, semoga kami bisa menjadikan kalian anak yang baik juga bermanfaat di dunia juga akhirat nanti. Aamiin.

(735)

KEMBALI PULANG KE DIRI SENDIRI

Mulai merasa tidak nyaman dengan orang-orang di sekeliling. Semua nampak tidak bersahabat dan banyak komentar tentang hal-hal yang tampak sepele tetapi menyakitkan.

Aku mengikuti mas Adjie dari tahun 2015.


Sejak itulah mulai sadar untuk memperhatikan kesehatan jiwa. Kembali, membawa segala rasa yang ada untuk melangkah pulang ke yang paling mengerti dan memahami yaitu diri sendiri.

Ini yang sering terjadi, membiarkan orang lain memporak-porandakan hati 

MENGENAL DIRI SENDIRI

"Ih kok jadi baper ya dibilang lebay sama tetangga. Ya biarin sih lebay, kalau anak gue ilang emang situ mau direpotin."

See, as easy as buying ice cream at Alpamart. Tidak perlu usaha keras, aku langsung terpengaruh dengan sindiran, komentar, atau pujian orang lain.

Keengganan diri untuk mengenal lebih jauh membuat orang lain dengan gampang mengubah perasaan aku dari biasa saja menjadi kecewa. 

Mendadak sedih dan terpuruk ketika orang-orang mengkritik apa yang aku lakukan. Padahal yang aku inginkan adalah penerimaan. Inilah caraku. Aku ingin sekali terlihat sempurna lantas menuntut orang lain agar melihat kesempurnaan tersebut bukan melulu fokus pada kekurangan.

Orang lain ya orang lain. Tidak bisa aku menuntut untuk mereka sesuai dengan apa yang aku mau begitu juga sebaliknya mereka. Mereka seharusnya tidak bisa bersikap seolah aku harus sesuai dengan sangkaan mereka.

Padahal jika kita mau berusaha sedikit saja mengetahui siapa diri aku maka hidup akan jauh lebih  nikmati. 

Dalam konteks ini, aku sebaiknya mulai membangun lagi kesadaran untuk tidak mengemis perhatian dari orang lain tetapi kembali ke diri sendiri.

aku adalah anak yang haus akan apresiasi orang lain
MULAI LAGI DARI AWAL

Setelah niat untuk pulang, ada pintu gelap dan menakutkan yang terbuka. Jalan menuju masa lalu yang belum termaafkan. Jangankan melepaskan, jari-jari pun masih dengan erat menggenggam. Menahan sakit. 

Semua orang tidak ada yang mau memahami tetapi aku terus mendesak agar mereka mau menghargaiku. Berapa? Ah ternyata mereka sama saja dengan orangtuaku. Hanya menganggap uang adalah sumber bahagia. Padahal aku hanya ingin pelukan, telinga untuk mendengar bukan hanya tentang prestasi tetapi juga frustasi, dan menerima aku apa adanya.

setelah berdamai dengan masa lalu maka masa kini dan saat ini adalah nyata
Terima kasih akhirnya Tuhan memberikan kesempatan untukku perlahan-lahan memaafkan diriku sendiri. Belajar menerima segala yang ada di masa lalu. Tidak perlu dibawa-bawa ke masa kini. Saat ini.

Ketika aku mulai paham, pada akhirnya manusia mempertanggungjawabkan semuanya sendiri. Kemudian kenapa harus memaki dan menghakimi ketika satu per satu teman pergi.

Mulai lagi dari awal. Apa yang salah dari itu? Mungkin karena awal selalu terasa berat dan melelahkan maka dari itu aku marah jika harus kembali mengayunkan kaki seperti pertama kali.

BERTAHAN DALAM MASA SULIT


Mas Adjie bersama Uda Irfan memperkuat niatku belajar melihat kenyataan. Bukan melulu hanyut dalam ketakutan dan juga tuntutan-tuntutan.

Aku sadar bahwa aku sering terjebak dalam ruang dan waktu yang terus mengingatkan akan rasa sakit akan pengharapan yang tidak terwujud atau sesuai dengan keinginan. Depresi yang berkelanjutan. 

Bagaimana aku bisa mendidik anak-anak tanpa kekerasan sementara begitulah caraku dulu dididik. Sementara suamiku pulang, main sama anak sebentar habis itu ribut nyuruh anak-anak tidur. Apa karena aku sudah dapat izin untuk memiliki aktivitas di luar rumah lantas harus menggantinya dengan mengurus anak 24 jam penuh? Ya aku jadi dengan mudah terbawa perasaan. Cepat lelah dan tidak memiliki keinginan bergerak. Namun bila malam tiba otak begitu aktif, pikiran riuh. Namun badan sudah ingin istirahat. Akhirnya begadang nonton film di hp sampai dini hari. Bangun siang. Besoknya jadi malas bergerak, main hp sambil tiduran, malas makan, anak-anak tidak terurus secara maksimal, rumah terbengkalai. 

"Oh itu normal kok."

Kalimat yang nyes di hati.

Terima kasih Ruang Napas yang mau menerima aku pulang tanpa penghakiman. 


Senang punya rumah yang bisa pulang kapan saja tanpa ditanya kenapa

Begitulah hidup, agar bisa lolos dari ujian satu ke ujian yang lain. Hingga akhirnya sadar akan Kuasa-Nya.
"Kembalilah ke diri sendiri karena bahagia ada di sana." -phalupiahero

Mau sempurna apapun manusia itu pasti akan terlihat kurangnya. Namun apakah aku akan membiarkan kekurangan itu menghilangkan hak aku untuk bahagia? Tentu saja tidak. Aku pastinya ingin terus memelihara kebahagiaan diriku dengan tidak mencarinya keluar melainkan merawat yang sudah ada di dalam. Baik di rumah maupun hatiku.

Good Night, Phalupi Apik Herowati 

(690)

Satu Permintaan Hujan


Itu adalah hari pertama Hujan turun ke bumi. Sama sekali tanpa persiapan dan petuah-petuah dari pendahulunya. Ya tentu saja yang ada adalah cerita-cerita bahagia bagaimana manusia begitu menyukai pendahulunya. Nyaris tidak ada air mata, teriakan, bahkan penyesalan.
Hari pertama yang seharusnya dipenuhi suka cita ternyata kenyataannya berbeda. Hujan dikagetkan dengan reaksi para ombrophobia. Ada yang bersembunyi di balik pintu, menjerit ketakutan, bahkan pingsan di tengah jalan.
Kenapa sangat berbeda dengan cerita teman-temannya. Apa yang salah?
Gerimis berkata meskipun kehadirannya tidak diharapkan tetapi ibu-ibu masih sempat mengangkat jemurannya.
“Ah untung masih gerimis.”
Hanya gumanan itu yang terucap. Tidak sampai teriakan-teriakan yang menggema.
Si Deras bilang, anak-anak sangat suka dengan kehadirannya. Meskipun kedinginan, mereka selalu saja menari menemaninya bertugas.
Terus Salju juga selalu menyombongkan diri kalau anak-anak akan membuat berbagai macam boneka lucu, mobil-mobilan, dan juga rumah-rumahan ketika dia turun.
Apalagi Meteor. Dia dengan gayanya yang angkuh memastikan kalau manusia sangat menunggu kehadirannya.
“Ah Hujan macam apa aku ini? Kenapa aku hanya bisa membuat manusia tersiksa?”
Hujan datang bergerombol, ditemani petir, serta angin. Cerita-cerita yang mengiringi tugasnya adalah yang berakhir sedih. Tentu saja tidak mudah. Hujan terus menguatkan diri untuk tetap hadir meski cacian dan makian terus saja menyakiti rintiknya.
Hujan turun atas perintah Sang Pencipta. Hujan berusaha tidak mengeluh meski ternyata kehadirannya tak pernah didamba. Hujan perlahan tahu kalau dia berbeda. Kehadirannya selalu dijadikan kambing hitam. Cucian tidak kering, perut yang selalu lapar, dan menguatnya niat manusia ketika melihat kesempatan mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Petrichor,  bau khas Hujan. Aroma yang hanya bisa ditemui saat Hujan menjalankan tugas. Teman baik yang mengingatkan bahwa Hujan tentu saja memiliki kelebihan.
Petrichor bilang Hujan menyeruakkan aroma rindu manusia pada: sepanci mie panas, seriuh obrolan saat makan dan hangatnya kebersamaan. Hujan bisa mengumpulkan manusia di meja makan. Bapak, Emak, dan Deema. Keluarga.
“Apa itu keluarga?” tanya Hujan penasaran.
“Mereka adalah manusia yang tidak boleh dipisahkan.”
“Oh aku suka keluarga. Mereka membuatku merasa lebih baik. Aku jadi merasa berguna.”
Mulai saat itu ketika bertugas, Hujan memperhatikan keluarga. Ada Bapak, Emak, dan Deema.
Mereka adalah manusia yang tidak pernah menyalahkan Hujan. Bapak dengan sabar memakai jas ketika Hujan datang. Tetap bekerja meski Hujan membawa air yang sangat banyak.
“Iya, tolong siapkan saja sandal jepit ya Mak. Sepatunya sudah Bapak masukkan tas.”
Emak suka mengajari Deema yang sedang belajar berjalan untuk membuat permintaan kala Hujan turun. Emak membimbing Deema ke teras lalu mendudukkannya di pangkuan.
“Deema, hujan adalah saat paling baik untuk mengajukan keinginan pada Tuhan. Hujan itu berkah.”
Tuhan memberikan keistimewaan pada manusia. Permintaan yang dikabulkan itulah yang membuat hujan bertanya-tanya. Apakah Hujan juga bisa minta dan dikabulkan?
“Emaaak… Deema Mak! Deema!”
Kepanikan memenuhi ruang tamu yang hanya diwarnai tikar plastik bergambar Masha & the bear.
Emak bangun dari tidur lelapnya. Spontan membelai springbed yang sudah memberikan efek pegal ketika bangun. Deema tadi tidur bersama Emak disana. Hawa sejuk yang datang bersama Gerimis membuai mereka berdua pada awalnya.
Namun Hujan yang bertugas bersama petir membuat Deema terjaga. Dengan kecepatan yang mengagumkan Deema turun dari springbed. Sengaja tanpa ranjang agar Deema bisa terhindar dari kecelakaan ketika turun atau tidur sendiri.
“Deema mengambang di empang Mak! Deema udah gak bisa diselamatkan lagi waktu pak RT temukan dia.”
Tubuh Emak oleng dan dengan sigap bu RT menahan hingga tak menghantam lantai.
Hujan sangat ingat momen ini. Momen ketika dia berharap bisa meminta satu dan dikabulkan Tuhan. Hujan minta Tuhan menyelamatkan Deema.
Hujan meminta Angin mengerahkan semua kekuatan agar bisa mendorong tubuh Deema masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Hujan juga memohon Petir marah agar kilatannya mengurungkan niat Deema keluar. Bahkan Hujan mengiba pada Geledek supaya gelegarnya sanggup mengubah keadaan.
Tidak. Deema malah semakin antusias. Deema tidak lagi peduli yang terpenting yaitu mendapatkan apa yang dia suka. Bermain bersama Hujan.
“Oh Deema, aku bukan Deras. Aku Hujan Badai. Aku tidak pantas mendapatkan kasih sayangmu. Tidak-tidak, aku tidak ingin bermain bersamamu. Aku berbahaya,”
Deema terlalu bahagia, seharusnya Hujan suka. Pada akhirnya ada yang menyukainya, mau menari bersamanya, dan begitu bersemangat menemaninya bertugas.
Bapak melihat tubuh mungil tetapi sudah kaku Deema. Bapak tersenyum.
“Pasti kamu terlalu asik menikmati hujan ya Nak. Sekarang kamu sudah kembali kepada Sang Pencipta. Sampaikan dulu salam Bapak dan Emak ya. Nanti kalau sudah waktunya kita bisa berkumpul lagi.”
Bayangan Deema mengangguk. Anggukan yang sudah tidak dapat dilihat Bapak. Emak memeluk punggung Bapak yang duduk. Sekuat tenaga menahan tangisnya. Setelah tangis dan jeritan mengumandangkan nama Deema usai.
****
“Hujan Badai. Ya aku adalah hujan badai yang merusak. Aku hanya bisa meninggalkan kesedihan, kemarahan, bahkan keputusasaan bagi manusia. Sekarang satu keluarga yang tersisa. Mereka yang suka padaku, yang tidak mengutuk ketika aku datang, dan yang percaya padaku telah kehilangan anak kesayangan mereka. Kenapa Tuhan? Apakah aku tidak bisa punya satu permintaan yang dikabulkan?”
“Jauh di dasar hatimu, kamu sudah punya satu permintaan. Ya itulah yang dikabulkan Tuhan.”
“Deema? Kamu tidak marah atau sedih? Aku membuatmu berpisah dengan mereka. Bapak dan Emak pasti akan ikut membenciku seperti manusia-manusia lain.”
“Bapak dan Emak akan bersedih, menyesal, dan juga marah. Namun itu hanya akan bertahan sebentar. Tentu saja sebentar karena Deema itu hujan berawan. Arti nama yang mereka sematkan. Keinginan yang ingin Bapak dan Emak wujudkan. Mereka ingin Deema jadi hujan awan yang bermanfaat menghidupkan harapan.”
“Dan aku kembali tak bermanfaat.”
“Tentu saja kamu akan tetap bermanfaat. Itulah permintaan yang Tuhan kabulkan. Manusia akan belajar mengambil hikmah setelah kamu turun dan menyisakan semua kekacauan itu. Melihat betapa ada banyak hal yang bisa disyukuri meski dengan ditemani pemandangan puing-puing rumah. Karena kadang kebagiaan justru melenakan tetapi kesedihan malah menguatkan.
Hujan tersenyum. Deema mengedipkan mata lalu menyatu dengan Gerimis.
“Menari dalam badai. Manusia bisa. Manusia sanggup karena Tuhan mampukan. Terima kasih Tuhan karena telah mengabulkan satu permintaan Hujan. Hujan Badai bisa menyadarkan manusia akan kekuatan yang dimiliki. Dan tentu saja bisa kembali meyakini kuasa Illahi.”

(961)