Terima Kasih Diriku untuk Terus Menulis

Beberapa waktu lalu aku sempat berpikir untuk mengedit tulisan-tulisan lama dan melihat sejauh mana perkembangan kemampuan menulis aku. Selain itu, aku ingin mengingat kembali kenapa aku menulis dan apakah sudah maksimal perjuangan aku untuk mengatasi rasa malas.

Aku mulai menulis blog 10 April 2014, total tulisan baru 234. Dalam empat tahun jika aku konsisten dengan seminggu tiga kali posting tulisan blog maka seharusnya ada 576 tulisan. 

"Konsistensi itu mahal."

Penyataan suami membuatku spontan menganggukkan kepala. Ya memang tidak mudah. Aku sudah mencoba dari yang berhadiah hingga yang suka-suka, ya segitu aja hasilnya. Aku merasa tidak juga maksimal seperti yang aku targetkan.

Begitu sulit karena ketika sangat bosan, malas, dan tidak ingin melakukan apa-apa; aku harus berdamai dan kembali menulis meski hanya satu kata.

antara senang, terharu, dan malu
Untuk itu, aku berusaha sebaik mungkin tahun ini. Aku mengikuti #ODOPfor99days, masuk ke WA Group, dan akhirnya bisa juara 1. Meskipun jumlah tulisan 22 postingan selama bulan Januari hingga April 2018, aku bangga. Aku juga berterima kasih kepada diriku sendiri.


#ODOPfor99days adalah sebuah komunitas di bawah naungan Ibu Profesional untuk para wanita yang ingin berkomitmen berlatih menulis secara rutin dan konsisten. Awalnya aku berpikir harus One Day One Post sesuai dengan namanya. Namun sesi kali ini berubah syarat. Minimal 1 minggu 1 tulisan dan konsisten selama Januari hingga April. Tentang Ibu Profesional itu akan aku ceritakan mungkin di postingan berikutnya kalau gak lupa 😁.

Tahun lalu aku gagal. Awalnya bisa satu minggu hingga 5 tulisan lalu semakin hari semakin berkurang dan tidak tertib administrasi atau setoran formulir mingguan. Pas bulan Januari 2018 juga pasang target tinggi tetapi pada minggu kedua aku menyadari kalau terlalu ngoyo akan sama lagi seperti tahun lalu yang berhenti di tengah jalan. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk seminggu sekali saja, kalau bisa lebih ya syukur tetapi kalau gak ya sudah cukup satu saja.

Menghadiahi diri dengan senyum entah kenapa suasana hati jadi lebih baik

Ya terkadang diri ini sibuk memberi semangat orang lain dan lupa untuk berterima kasih pada diri sendiri.

Cara setiap orang lolos dari masa-masa berat memang berbeda. Ada yang makan, main, dan aku dari dulu lebih suka menulis sama gambar aslinya. Terus karena gambar gak gitu berhasil ya sudah fokus ke menulis saja. Berusaha mengalirkan rasa dan berbagi.

Katanya wanita dalam sehari sebaiknya menggunakan 20.000 kata agar tetap waras. Bagi yang agak sulit cerewet maka menulis adalah jalan lain yang juga bisa dipilih.

Aku teringat zaman sekolah dulu. Kalau malas belajar dan ujian sudah di depan mata maka akan ledek-ledekan dengan Mamah.
"Catatannya dibakar aja terus airnya diminum biar langsung hafal."

Setelah menulis curhatan yang panjang, jika tidak mau diketahui banyak orang sebaiknya dibakar saja tetapi gak perlu dimasukkan ke air dan diminum. Airnya cukup buat padamkan api saja. Jangan sampai asyik bakar-bakaran lupa matiin jadi kebakaran.

Mengalirkan rasa. Aku sering lupa kalau menulis bisa membantu untuk mengetahui apa rasa yang sebenarnya aku alami dan bagaimana bereaksi dengan baik dan benar.

Semakin sering menulis, semakin banyak pula ide-ide atau pikiran keluar dan tidak penuh sesak di kepala yang membuat leher sakit dan pusing pala berbie.
"Terima kasih ya diriku sudah berusaha konsisten menulis. I love me myself."


Beberapa teman yang aku tahu suka menulis tetapi tergerus macam-macam alasan
Anakku yang pertama memang kesukaannya menulis dan membaca sudah kelihatan. Aku mau memelihara itu dan lagi lagi aku mau berterima kasih pada diriku yang terus menulis. Baik untuk tetap sadar dan waras juga memberikan contoh pada anak bahwa menulis itu sesuatu yang menyenangkan untuk dijadikan hobi maupun profesi.


Suka menulis berarti dilakukan dengan rela hati dan perasaan riang sehingga mampu memberikan semangat menjalani hidup yang lebih bermanfaat terutama bagi diri sendiri terlebih dahulu.


(607)

No comments