Jurnal Ibu Pembelajar, Kembali ke Fitrah Anak


Judul       :  Jurnal Ibu Pembelajar (Sebuah Kumpulan Catatan Praktek Membersamai Ananda untuk
                  Menyemai dan Membumikan Pendidikan Berbasis Fitrah dalam Keseharian)

Penulis    :  Farda Semanggi dan Tim Kontributor

Penerbit   :  Sinar Gamedia

Tahun      :  2018

Halaman  :  211

"... menganggap tugas mendidik anak-anaknya selesai ketika menyekolahkan anak-anaknya, apalagi di sekolah mahal dengan kurikulum ganda."  (halaman 12)

Kutipan di atas cukup membuatku tertegun. Pendidikan anak ini sudah lama menjadi pemikiran yang tak kunjung jadi nyata. Sesegera mungkin menyekolahkan anak, berpikir bahwa anak akan kekurangan perhatian jika adik sudah lahir dan teman-teman bisa jadi obat sepi ketika aku, ibunya sibuk dengan bayi yang baru lahir.

Pada saat anak sudah nyaman dengan guru dan teman-temannya, keadaan mengharuskan kami pindah dan si sulung dipaksa untuk berpindah dari lingkungan yang sudah nyaman baginya ke lingkungan baru.

Ada semacam guncangan yang belum siap dia terima. Aku ibunya malah sibuk meyakinkan diri kalau dengan sekolah baru dia akan dapat teman yang lain. Ya aku baru menyadari setelahnya bahwa sebelum menikmati, aku harus menemani dia melalui masa sulit penyesuaian dengan memperkenalkan padanya bahwa perubahan itu pasti. Bukan langsung memaksa dia masuk ke sekolah baru dengan menekan rasa rindu pada sekolah yang terdahulu.

Ya ya ya, aku terlalu ingin lepas tanggung jawab ketika sudah menyekolahkan anak. Memaksa si sulung memahami tanpa mencoba menyelami apa yang sebenarnya di alami dan lalui.

Si sulung mulai bosan, tidak nyaman, dan akhirnya mogok sekolah. Aku pada akhirnya menerima saja sambil pelan-pelan mengevaluasi apa yang salah pada diriku.

Keinginan untuk mengurangi rasa bersalah membuatku berpikir: aku kan dulu pernah mengajar, kenapa tidak mempraktikkan dengan anak sendiri?

Aku memikirkan banyak rencana-rencana sempurna agar bisa digunakan di rumah, bermain bersama anak-anak.

"... tidak berapa lama kemudian sering berubah menjadi frustrasi karena apa yang dibayangkan indah dan disusun mewah itu kemudian tidak berjalan mulus bahkan cenderung stagnan." (halaman 16)

Hah! Tidak mudah ternyata mewujudkan rencana-rencana sempurna itu. Aku berujung pada kekesalan karena menunda dan menunda lagi. Anak bosan, ibu tantrum, ayah bingung.

Di setiap niat, Tuhan buka jalan. Di tengah kemelut, Allah beri aku rezeki buku ini. Buku yang berisi kegiatan-kegiatan anak-anak bersama ibu dalam 24 jam 7 hari. Buku yang juga memberikan penjelasan bahwa anak-anak semenjak lahir membawa fitrah karunia Illahi berupa keimanan, belajar dan bernalar, bakat dan kepemimpinan, seksualitas dan cinta, estetika dan bahasa, individualitas dan sosialitas, juga jasmani. Tugasku dan suami adalah menanam, merawat, hingga fitrah itu tumbuh dengan baik. Bukan malah mematikannya sebelum tumbuh.

Lalu bagaimana caranya agar bisa membersamai anak? Sebenarnya di halaman 184-185 Mba Farda Semanggi sudah menjelaskan tipsnya tetapi kalau dibeberkan semua kalian jadi gak penasaran kan ya. Hihihi...

Sebagai gantinya, aku punya 5 cara sebelum memutuskan membersamai anak agar bisa total dan bahagia bersama ala Emak Sensi. Cara ini aku temukan setelah membaca buku Jurnal Ibu Pembelajar.

1. Berdamai

Pastilah sebelum bisa total, aku harus berdamai dulu dengan inner child, masa lalu, juga masa depan. Saat ini, kini, dan sekarang adalah yang perlu dilihat. Terus menerus berusaha sadar apa yang saat ini sedang dialami. 

Berdamai dengan menyadari bahwa apa yang dulu dialami saat aku masih jadi seorang anak tidak akan terjadi pada dua anakku saat ini. Berdamai dan terus berdamai bahwa apa yang aku miliki, alami, dan hadapi saat ini adalah yang pas untukku.

2. Manajemen waktu

Waktu harus tetap dikelola dengan baik. Setiap keluarga punya waktu emasnya masing-masing. Perlu pembicaraan agar waktu ayah, ibu, dan anak-anak bisa selaras sehingga mencapai kebahagiaan baik untuk diri sendiri maupun bersama-sama. Tidak boleh ada yang merasa berkorban atau dikorbankan. Semua baiknya seiring dan sejalan.

3. Gunakan komoditi yang ada

Aku berpikir apabila mau membahagiakan anak ya harus beli mainan atau sekolah yang mahal. Ternyata salah besar.

"Ibu, aku suka kalau ibu gak marah."
"Ayah, aku suka kalau ayah jawab aku. Bukan hanya bilang gak papa."

Lalu suatu pagi, aku menyiapkan pewarna makanan dan sabun ketika anak-anak bermain air sebelum akhirnya mandi. Taraaa... Mereka tertawa bahagia dan berterima kasih karena bisa bereksplorasi dengan mencampur warna juga mengaduk sabun seolah membuat milkshake. Yoyoy, pewarna makanan dan sabun tentu saja barang murah yang selalu ada di setiap rumah. Kalau pun beli tak perlu sampai jual ginjal kan? Apa saja yang ada di rumah bisa jadi pembelajaran, tidak harus melanglang buana ke negeri seberang. Pemikiran seperti ini harus terus ditanamkan bila tidak ingin stres atau depresi saat membersamai anak.

Anak-anak tanpa aku sadari begitu ingin memiliki kelekatan denganku. Mereka tahu bahwa ayah dan ibu adalah sumber cinta, perhatian, juga panutan. Aku sendiri yang terkadang kehilangan kesadaran terus berharap mereka tidak melulu menempel dan bergantung.

4. Membaca

Tidak mudah puas dengan ilmu yang dimiliki dan terus menerus menambah masukan-masukan sehingga dalam membersamai anak juga akan semakin kreatif dan kaya.

Libatkan semua yang ada di lingkaran. Benar-benar gunakan waktu dengan baik saat membaca lalu terapkan sesegera mungkin. Pada diri sendiri dulu sebagai uji coba terus pada anak-anak apabila sudah cocok dengan tahapan perkembangan fitrahnya.

Ketika lingkungan rumah memungkinkan untuk diatur seperti perpustakaan mini bagi seluruh anggota keluarga itu jauh lebih baik. Atur buku-buku yang layak dibaca anak di tempat yang terjangkau oleh mereka dan buku-buku untuk para orangtua terpisah dengan milik anak-anak.

5. Evaluasi

Setiap sebelum mulai dan juga setelah berkegiatan bersama. Evaluasi agar tidak mengulangi bahan-bahan yang sama atau teknik yang tidak berhasil saat bersama anak.


Catatan setelah membaca:
  • Buku Jurnal Ibu Pembelajar ini layak dibaca bagi yang merasa berhenti di tengah jalan seperti diriku. Kegiatan-kegiatan sederhana yang ada di dalamnya begitu mengundangku untuk ber-oh ria. Ya karena bisa dilakukan serta mudah karena sebenarnya semua ada di sekeliling saja. Hanya perlu sadar lalu mulai beraksi layaknya super hero yang sudah berdamai dengan diri sendiri dan siap membantu siapa saja yang butuh teman agar bisa jadi lebih baik lagi.
  • Meskipun judulnya Jurnal Ibu Pembelajar tetapi lebih bagus jika ayah juga ikut membaca agar satu frekuensi dengan ibu. 
  • Ingin membaca dan lebih tahu tentang fitrah anak dan pendidikan berbasis fitrah.

Aku ingat dulu bapak sering marah sambil bilang, “Disekolahin bukannya tambah pintar malah tambah goblog.” 

Aku juga sempat menggunakan kalimat itu kalau si sulung melakukan kesalahan kecil dan aku marah.

Setelah menelusuri buku ini dan melihat interaksiku kembali dengan anak-anak, aku jadi tahu kenapa Tuhan kasih aku pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Ternyata aku diberi kesempatan untuk menjadi ibu yang lebih baik dengan mulai berkomunikasi dua arah dengan anak-anakku. 

Sekarang aku paham, sekolah hanya salah satu tempat untuk belajar bukan tujuan utama seorang anak berada. Yang utama justru tidak padamnya semangat belajar dan bernalar anak itu sendiri. Jadi tugas utama orangtua bukan menyekolahkan anaknya melainkan mendidik dengan sepenuh hati dan menumbuhkan fitrah anak yang sudah tertanam sejak mereka lahir ke dunia. 

Aku diminta memberikan pemahaman pada anak-anak bahwa tujuan hidup yang sebenarnya adalah melalui serangkaian peristiwa yang pada ujungnya menguatkan cinta pada Yang Maha Pencipta lagi Maha Penyayang. 

Fitrah-fitrah yang ditanamkan adalah bukti nyata betapa Tuhan cinta kita dan ingin kembali ke sisi dan tempat yang seharusnya kita berada yaitu surga.

Ya Allah mewek 😭.

(1.107)

No comments