Sadari Napas dan Lepaskan

Status gak jelas, kadang baru bisa dipahami hari berikutnya.
"Masalah muncul bertubi-tubi. Tidak bisakah aku menarik napas sejenak lalu melepaskan?"

Pada saat masalah muncul, apa reaksi paling awal yang menyertai?

Marah.
Bingung.
Menyangkal.
Mengabarkan ke seluruh dunia jika aku adalah manusia yang paling wajib ditolong dan mendapatkan semua perhatian.

Lantas apakah masalah selesai?

TIDAK.

Semakin berlarut-larut dan membuat pusing bertambah parah.

Memang benar untuk meluapkan semua perasaan yang ada hingga yang tersisa adalah menyadari keberadaan dan juga memunculkan jalan keluar.

Ketika membaca tulisan-tulisanku yang terdahulu, aku menyadari bahwa kedewasaan akhirnya menjadi pilihan.

Bertemu dengan masalah, aku terima, ini memang baik adanya.

Menemukan solusi, aku terima, ini memang baik adanya.

Melepaskan setiap kesempurnaan yang ingin aku genggam laksana pasir.

Melepaskan keinginan untuk menjadi pusat perhatian karena aku tak ingin lagi tersesat dalam kesesakkan.

Sadari napas, sadari diri, sadari saat ini.

Detik ini apapun yang sedang aku rasakan pastilah baik untukku.

Lemah lembut pada diri sendiri.

Sadari napas, sadari diri, sadari saat ini.

No comments