No Hard Feeling, Really?

“Pindahan lagi?”

“Ya, resiko kontraktor.”

Mendadak pening pala putri Apik.

Apa sih yang kamu takutkan Pik? Toh semua barang-barang yang kamu genggam erat-erat saat ini tidak akan kamu bawa mati. Apa yang kamu banggakan dengan sendirinya akan berubah.

Kamu yang menjalani jadi tidak perlu memikirkan apa yang orang lain pikirkan dan juga katakan kecuali mereka bermaksud memberikan pelajaran agar kamu menjadi pribadi lebih baik. Jika perkataan hanya agar kamu merasa tidak nyaman atau menjatuhkan maka masuk telinga kiri dan langsung keluarkan dari telinga kanan.

Saat ini yang terpenting bagaimana hubunganmu dengan suami, kedua anakmu, dan orang-orang yang sayang padamu.

Seharusnya kamu bersyukur diberikan waktu untuk terus belajar. Berpasrah. Toh pada akhirnya kamu kembali dalam keadaan sendiri.

Asumsi dan ekspektasi tentu saja melukai.

“Iya, aku sudah 15 tahun tinggal di sini. Ingin ganti suasana baru. Bosan.”

Lihat, Tuhan kasih kamu kesempatan untuk tidak menunggu sampai bosan. Tuhan beri kamu jalan singkat yang membuka kesempatan seluas-luasnya untuk terus bergerak maju.  Terus bersyukur bisa berinteraksi dan membaca maksud Tuhan memberikan rangkaian peristiwa juga perubahan.

Bukankah perubahan adalah yang paling masuk akal dari dunia ini. Tidak melulu apa yang kamu inginkan terjadi. Lantas kamu terluka? WAJAR. Namun larut dalam ketakutan akan pandangan orang lain pastilah lebih mengerikan.

Ketakutan memang sedang menghinggapi. Tentang lingkungan baru, penyesuaian, dan perubahan-perubahan yang mungkin tidak sesuai dengan bayangan. Baru saja mau menata diri dan melangkah, dikasih jalan baru, mulai dari awal lagi.

Komunikasi yang awalnya kamu pikir tidak akan pernah bisa berhasil tanpa kekerasan ternyata BERHASIL. Inilah poin yang seharusnya bisa kamu jadikan pertimbangan. Selama kamu berusaha melakukan yang terbaik, meskipun jalan begitu licin dan berkabut, hasil tidaklah penting lagi. Proses yang membuat kamu tidak lagi berpikir melainkan beraksi dan menjalani dengan keyakinan. Proses, proses, dan proses.

Hari ini dan esok sama pentingnya buatmu. Hari ini membuat kamu sadar akan apa yang sudah kamu punya sedangkan esok itu harapan. Bagaimana mimpimu mengubah semua usaha dan juga doa-doa yang kamu langitkan.

No hard feeling, really? Yes you can choose to be a happy married woman so stop thinking that you’re not good enough. Trust me! All women out there are jealous with what you have but don’t have enough power to get what they want. The only one reason why they do verbal bullying to you. So the next goal that you need to bring into reality is empower them, work together, and keep it up. Anger sometimes makes you stronger but kindness does the biggest part to fix the bad situation.

“…belajarlah memaafkan masa lalu dan orang-orang yang pernah membuat Anda tidak nyaman.” (Emotional Healing Therapy-Irma Rahayu/ halaman 38)

Orang-orang yang membuat kamu tidak nyaman ada dimana-mana. Tinggal bagaimana kamu mau memilih, tersenyum dengan ikhlas atau menyakiti diri dengan mendendam?
Hadir di lingkungan baru tentu saja butuh keahlian. Aku yakin kamu bisa. Aku percaya kamu mampu.

Stay strong without using your anger and always believe that God has wonderful plan to you.

I love you, my lovely Apik.

No comments