Mulailah Memahami Kebetulan, 3 Cara Memulai Komunikasi dengan Suami

Bagiku yang masih belum berdamai dengan KDRT, pernikahan adalah keajaiban. Ajaib karena aku yang begitu enggan dan memiliki niat menunda pernikahan selama yang aku mampu, ternyata menikah di umur 24 tahun.

"Kok bisa?"
"Tiba-tiba aku dengan ikhlas melepaskan. Entah kenapa aku sok pede. Sejauh apapun calon pacarku itu pergi, dia akan kembali padaku."

Asyeekkk...

Iya, dia kembali. Melalui segala drama, meyakini kalau kami berjodoh, dan memantapkan hati untuk menikah. Pernikahan dengan minim pengetahuan dan juga luka-luka masa lalu yang ada padaku.

Juli 2011 hingga kini Februari 2018, menuju tahun ketujuh. Bagaimana perjalanan komunikasi kami?

"Ah udah nikah inih, ngapain ngomong. Paling suami udah tahu apa yang aku mau."
"Ngapain ngobrol? Kan sudah bersama hampir tujuh tahun. Masa iya gak paham juga?"

Eeetdah! Situ nikah sama Edward Cullen? *ketahuan banget ya bo umurnya😀

Semenjak menikah dan punya dua anak dengan jarak dekat. Entah kenapa, meluangkan waktu ngobrol berdua jauh lebih sulit dibanding waktu pacaran dulu. Ya iyalah, prioritas bergeser. Dari hanya kami berdua, sekarang ditambah dua anak plus pekerjaan atau deadline. 

Ngeles sih ini sebenarnya. Aku itu tipe wanita pada umumnya yang suka kode-kodean, berharap suami tahu, dan bermimpi dia jadi seperti Edward Cullen yang bisa baca pikiran. 😉😜

Hasilnya? Aku sering pusing, sakit punggung, dan jadi sering ngambek gak jelas.

Hingga suatu malam *pasang suara latar ala film romantis, aku diminta (lagi ikutan kuliah di Institut Ibu Profesional) menulis surat cinta dan diberikan pada suami. 

W.O.W. 

Aku memutar kembali kenangan saat dia berjanji membimbingku menuju kehidupan yang lebih baik. Aku mengingat betapa pria inilah yang membuatku yakin, kalau ini adalah pelabuhan terakhirku. Pria yang berhasil membuatku merasa nyaman akan diriku sendiri yang masih belum berdamai dengan masa lalu.

Surat cinta yang membuka mata

"Menikah tanpa didasari ilmu relasi dan hanya didasari oleh nafsu dan mengikuti tren saja itu mengerikan." (Geary Maverick)


Penyesuaian demi penyesuaian kembali ditargetkan. Kami memulai dari awal lagi untuk membangun komunikasi positif di mana berbicara dengan lembut dan kepala dingin menjadi prioritas. Bukan siapa yang menang atau kalah. 

Aku mulai membedah kenangan-kenangan yang bisa aku gunakan sebagai acuan perbaikan. Bapak dan Ibuku bukanlah sosok sempurna untuk dijadikan panutan dalam membina hubungan tetapi setidaknya banyak pelajaran-pelajaran yang bisa aku gunakan sebagai tambahan kekuatan. 

Susah memang bertanya lebih dahulu. Lebih mudah langsung ngambek atau marah. Padahal apa sih yang mau disembunyikan dari suami? Lha pembalut aja kadang suami beli. 

Aku lantas menyadari bahwa untuk terus mempertahankan biduk rumah tangga ini, aku harus mengubah kebiasaan burukku. Berhenti bersikap seolah bisa telepati padahal hanya menghasilkan asumsi-asumsi. Tentu saja asumsi bukanlah komunikasi yang asli. 

Tidak menyempatkan diri untuk berkomunikasi adalah sinyal bahaya yang harus segera ditindaklanjuti. 

"Besok ulang tahun suami kasih kado apa ya?"
"Ya masak aja makanan kesukaan dia."
"Ih jaim dong. Kan malu kalau jadi ketahuan gak bisa masak."

Terus hubungan macam apa yang ingin dicapai berdua? Artis sama penggemar? Atau foto model sama wartawan gosip?

Tentu saja ingin memiliki hubungan yang harmonis dan romantis.

Kejadian tak terduga datang saat niat sudah dibulatkan. Aku berniat memperbaiki komunikasi dengan suami. Komunikasi merupakan modal mengarungi rumah tangga, sangat mahal hingga tak terbeli. Suami istri harus memiliki tekad kuat dari dalam diri. Tulus dan ikhlas.

Maaf ya suamiku, baru bisa mengulas sekarang. Ya berpegang pada ungkapan: lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Kebetulan-kebetulan pun terjadi. Kadang bikin kesal kadang malah ngakak. Aku menyebutnya kebetulan. Kebetulan yang membuka percakapan lalu komunikasi dan menghasilkan pemahaman.
"Kebetulan adalah cara Tuhan yang tetap anonim." (Albert Einstein)
Terus bagaimana caranya memulai komunikasi yang baik dan benar agar pernikahan bisa memberikan kenyamanan, kebahagiaan, dan menggenapkan agama satu sama lain.

1. Mulailah menertawakan kekonyolan bersama

Kebetulan-kebetulan yang terjadi di dapur, menggiring kami pada komunikasi-komunikasi yang jarang terjadi jika kami sedang bergantian mendampingi anak-anak.

Kebetulan kami sama-sama suka meletakkan wajan yang masih berisi minyak di atas tabung gas

Ketika kami masak bersama lalu salah satu dari kami menumpahkan minyak yang ada di wajan tersebut maka momen itulah yang kami gunakan untuk memulai komunikasi.

"Aku tadi mbatin, kayaknya miring paling bentar lagi jatuh," ungkap si istri mengawali.

Kami saling pandang dan akhirnya tertawa bersama. Oh indahnya...



Hal-hal remeh untuk ditertawakan bersama sangat penting demi terjaganya kestabilan emosi. Buat siapa? Kami berdua utamanya, anak-anak selanjutnya.

"Ngapain sih difoto segala? Keburu kepleset lah."
"Lumayan bisa buat satu postingan di blog."

Senyum-senyum berdua lagi. Bisa saja kebetulan semacam itu menjadi amukan. Namun seiring bertambah dewasanya sebuah hubungan, tiada yang lebih menyenangkan dari menertawakan kebetulan.

2. Mulailah untuk terbuka

"Ibu cantik ya mas kalau lagi senyum."

Pada dasarnya suami bukanlah seseorang yang pelit akan pujian tetapi kebetulan aku terkadang berubah menjadi istri yang susah untuk dibuat bahagia. Semua maunya sempurna.

"Halah bilang aja minta jatah sarapan!"

Kok sewot? Kan memang sudah kebiasaan sarapan. Ada apa?

Hari ini terbawa perasaan sebel tidak bisa jalan-jalan di akhir pekan kemarin, menyiapkan sarapan sambil ngambek. Kemarahan menyebabkan konsentrasi berkurang, dua gelas menjadi korban. Pecah berkeping-keping karena tidak berhati-hati.

Ya sudahlah, gelas suvenir kok. 

Seharusnya bagaimana? Jawab saja jujur apa adanya ketika suami bertanya. Bukankah aku adalah istrinya yang sudah dewasa, bisa berbicara dengan logika bukan emosi semata.

Terbuka. Terbuka. Terbuka. 

Mungkinkah istri lupa bila suami akan menemani di saat paling buruk sekalipun? Ataukah tidak yakin jika suami sanggup menerima bagian terkelam si istri?

Sudah tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Justru keterbukaan membuat komunikasi lancar dan munculnya solusi atau jalan tengah bagi dua keinginan meski bertolak belakang. 

Ngambek terus kebetulan pecahin gelas. Eh suami tanggap terus nanya, ya jawab aja. Perlu dicamkan baik-baik, suami bukan cenayang. Bagaimana suami bisa tahu kalau gak ngomong?

"Kenapa Mah, kok gelasnya pecah?"
"Mamah sebel sama Papah. Udah diingetin kalau ada janji piknik, ini malah ambil lemburan."
"Iya, Papah itu lupa bilang Mamah kalau uang lemburan udah keluar dan kita bisa liburan tanpa macet karena cutinya dapat hari biasa. Gak perlu ngambek lagi ya. Packing aja yuk!"

Yeiiiy... See the magic of communication!


3. Mulailah berkompromi

Kebetulan aku sama suami kalau masak atau bikin minuman terburu-buru pastilah ada saja salahnya.

masakan kesekian yang berakhir dalam kekacauan

Ada tamu, suami inisiatif bikin kopi dan istri goreng pempek. Tanpa bertanya suami memasukkan kaldu jamur yang dikira gula. 

"Sayang, ini sih apa? Kok aku cicipin rasanya aneh," tanya suami sambil melihat toples dengan sendok takar warna merah.
"Ya kamu masukin kaldu jamur," jawab istri sedatar mungkin menghindari pertikaian.

Di lain waktu giliran istri yang lupa menambahkan garam pada masakannya sehingga hambar mewarnai makan malam.

Kompromi. Tidak ada pasangan yang sempurna. Adanya pasangan yang saling melengkapi. Saling mengurangi tuntutan. Berusaha saling mengisi.

****

"Komunikasi ialah sebuah tahapan yang mana dua individu maupun lebih membuat dan melaksanakan pergantian informasi satu dengan yang lain, yang pada pokoknya akan muncul saling pengertian yang bersifat mendalam." (Rogers & D. Lawrence Kincaid)

Kebetulan-kebetulan yang terjadi mungkin jadi semacam penghancur keakuan antara suami dengan istri. Tidak ada yang kalah atau menang dalam komunikasi karena komunikasi kompromi bukan kompetisi.

Selamat mengarungi bab baru. Ingat kepekaan dan empati butuh usaha keras dan proses komunikasi. Semoga Tuhan buka hati dan pikiran suami dan istri untuk terus saling mengasihi dan menyayangi. Demi pernikahan yang menentramkan dan membahagiakan.


(1,102)

2 comments

  1. Dalam hubungn yang paling penting memang komunikasi yaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba dan baru sadar setelah mau tujuh tahun 😅

      Delete