Emak Beracun, 5 Tanda Emak Belum Berdamai dengan Inner Child yang Negatif

Kenapa perlu tahu masa kecil ibu? Toh yang penting sekarang dia sehat dan sayang kepada anak-anaknya. Tidak mungkin lah ibu termasuk orangtua beracun, semua tampak baik-baik saja.

Lalu kasus-kasus pembunuhan anak-anak oleh ibunya sendiri marak diberitakan. Caption-caption atau narasi-narasi sangat menyayat hati. Kok bisa? Alih-alih mencari tahu alasan dibalik tindakan, kita terkadang lebih mudah menghakimi

"Warga ikut emosi dan pukuli ibu yang bunuh anak kandungnya."
"Ibu bunuh anak sendiri karena tak dinafkahi."
"Hanya karena menghilangkan mainan, ibu tega bunuh anaknya sendiri."

Apa yang bisa dilihat? Seorang monster, penjahat, atau seseorang yang sebenarnya sangat butuh bantuan. Perhatikan dengan teliti dan tambahkan sedikit empati. Mungkin saja orang itu adalah diri kita sendiri.

Sebelum jadi seorang ibu, emak adalah seorang anak. Tidak tiba-tiba makpedundug jadi emak anak dua. Masa anak-anak inilah yang perlu digali agar bisa menyelamatkan diri sendiri dan selanjutnya mampu mendidik anak dengan baik dan benar.

Masa kecil seseorang atau inner child tentu saja mempengaruhi masa dewasanya seperti hubungan sebab akibat. Kenangan-kenangan baik dan buruk terekam lalu digunakan untuk mengambil keputusan. 

Ibu dengan masa kecil yang bahagia tentu saja memiliki cara didik yang berbeda dengan emak yang masa kecilnya dihantui trauma. Sosok anak kecil ini ada di setiap orang dewasa entah membawa perilaku baik atau buruk. 

Lantas bagaimana cara mengetahui ciri-ciri emak beracun yang belum bisa berdamai dengan inner child yang bermasalah. Ini dia lima tandanya.

1. Gampang marah untuk kesalahan yang sepele

"Ibu, Gian lapar."

Begitu emak menyiapkan makanan, si anak yang sudah tidak bisa menahan keinginan perutnya untuk segera diisi, mencuil pinggiran pie buah. Pie buah yang sudah emak tata dan siap potret. Saat hendak mengambil garam, emak melihat lalu langsung meledak. Nyanyian nada tinggi pun berkumandang di dapur disertai sabetan lap.

"Lihat gak sih ibunya lagi apa. Disuruh sabar aja gak bisa."

Napas tak beraturan, kepala langsung pening, dada sesak. Teringat bagaimana sabetan ikat pinggang saat ketahuan mandi di sungai bareng teman-teman.

"Disekolahin gak jadi pinter malah tambah goblok aja. Sini bapak tambahin kalau gak mau diem."

Ya si ibu kembali mengingat sabetan demi sabetan, sesaknya dada menahan tangis demi berhentinya siksaan, dan terus bertanya dalam hati apa yang salah dengan mandi di sungai. Semua temannya melakukan kenapa hanya dia yang berhak dapat sabetan?

Kini emak luapkan kemarahan itu pada anaknya. Salah siapa?



2. Tidak punya waktu bermain bersama anak-anak

Kesannya kok gak mungkin ya. Dalam 24 jam masa iya emak tidak punya waktu sekedar bermain bareng anaknya. 


Ini adalah lanjutan dari nomor satu. Emak tidak memiliki kenangan bahagia yang cukup kuat ketika bermain dengan orangtuanya. Ketika bermain bersama pasti ada saja yang salah dan berakhir dengan hukuman. Itulah kenapa daripada bermain dengan anak yang ujungnya membuat dada sesak atau punggung seperti terhimpit tembok maka lebih suka menghindar.

3. Sering melarang anak

Melarang tanpa alasan yang jelas dan mengada-ada. Hanya karena tidak ingin terlalu terlibat dalam kegiatan anak.

"Aku hanya kuat dua jam. Lebih dari itu, mereka seperti lebah berdengung dan tak berhenti bekerja. Ya pekerjaan mereka adalah membuat seluruh rumah penuh dengan mainan. Aku tidak suka melihat rumah berantakan. Rasanya seperti akan dapat omelan sepanjang hari dari ibuku."
"Gak usah main di kolam ya, ikan punya kuman yang bisa bikin kamu masuk rumah sakit dan diinfus."

Emak mendidik anak sesuai dengan pengalaman yang dia terima di masa lalu. Masa di mana emak jadi peniru ulung dari ayah atau ibunya. 

Ketika emak melarang, pasti ada satu potongan kisah yang masih disimpan. Entah itu larangan mandi di sungai, gak boleh main hujan-hujan, atau dilarang keluar walaupun hanya di teras rumah.



4. Sulit untuk memiliki jadwal yang konsisten

Terlalu perfeksionis. Perasaan terabaikan saat kecil membuat emak memaksakan diri untuk diakui. Emak ingin orang di sekitar memperhatikan. Pada akhirnya, standar yang digunakan adalah 'demi terlihat orang lain'. Emak akhirnya kebingungan karena tidak mungkin membuat semua orang senang. Pasti ada saja yang komentar tidak mengenakkan.

Begitu jadi ibu, semua semakin sulit karena emak ingin mengaplikasikan semua cara yang berhasil. BAGI ORANG LAIN. Bukan apa yang baik baik diri sendiri dan anak-anaknya. 

"Kok anakku kurus ya."
"Lho anakku gak suka makanan yang aku buat." 


Emak berjuang memenuhi standar orang lain dan berakhir dengan depresi yang tanpa sadar meracuni diri sendiri dan anak-anaknya.

5. Sukar berkomunikasi positif dengan anak 

Ketika anak tantrum karena ngotot mewujudkan apa yang diinginkan, emak malah ikutan marah karena anak sulit dikendalikan. Bukannya membiarkan anak tenang terlebih dahulu, emak langsung memukul berharap anak berhenti menangis. 

Tidak ada komunikasi dua arah. Emak dan anak-anak sama-sama mengambil jalan pintas agar keinginannya terwujud. Apakah ini akan berhasil? Tentu saja tidak. Emak menambah luka dengan menyakiti anak terus menimbulkan luka baru di jiwa suci anak-anak.

Pada dasarnya tidak ada emak yang ingin melukai anak-anaknya. Namun perih-perih yang dia bawa dari masa lalu membuat emak sulit mengambil sikap dan tindakan yang baik dan benar. Perlu  penerimaan dan bimbingan bagi emak untuk menjadi pribadi yang baik dan benar sebelum semuanya terlambat. Entah itu emak atau anak yang terlanjur jadi mayat.

Komunikasi positif jadi kunci untuk memutus rantai kekerasan dalam rumah tangga atau penelantaran terhadap anak. 

Semakin cepat emak menyadari atau disadarkan maka semakin cepat pula penanganan yang bisa diterima.

***

Menerima masa lalu, belajar untuk berdamai dengan inner child yang negatif, dan kembali menuntut ilmu demi memperbaiki kualitas diri. Tentu emak harus punya pendukung. Diri sendiri, keluarga, dan lingkungan. 

Kesadaran orang-orang terdekat juga perlu ditingkatkan agar tidak langsung menghakimi, ikut menghujat, atau malah main hakim sendiri. Apabila melihat tanda-tanda di atas maka kita perlu melaporkan kepada yang bisa membantu.

Saling bahu membahu menciptakan lingkungan yang ramah ibu anak, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan tumbuh bersama. Percayalah kita tidak akan terlihat sempurna dengan membuat orang lain tampak buruk.

3 comments

  1. Tidak akan sempurna dengan membuat orang lain tampak buruk. Sepakat.

    ReplyDelete
  2. Gak harus mengalahkan orang lain untuk bisa menang ya Mak! Setuju sekali dengan tulisan kamu. Turn back inner child!

    ReplyDelete
  3. Aarggghhh ini ini sih Kaya ngaca 😭
    Semoga bisa lebih baik lagi dan enyahlah mimpi buruk masa lalu

    ReplyDelete