Tragedi Sedotan Jus

perlu amukan untuk akhirnya emak tahu mamas sudah bisa sendiri

Jus adalah makanan pengganti baik untuk mamas maupun dedek. Jika gerakan tutup mulut dimulai, jus jadi penolong. Setidaknya pertolongan pertama pengganjal perut.

Setiap malam sepulang kerja, mamas meminta ikut beli jus bareng ayah. Ini semacam waktu berkualitas untuk mereka berdua. Ayah dan anak.

Pulang ke rumah mamas membagikan untuk siapa saja jus yang baru dibelinya. Ayah, ibu, dedek, dan mamas. Dengan semangat ibu membantu menusuk sedotan agar bisa segera diminum.

Aargggh... Mamas marah dan meledakkan tangis.

"Aku mau tusuk sendiri ibu, aku bisa!" tegasnya di sela-sela tangisan.

Ibu tertegun. Kenapa harus mengamuk? Bukankah bisa dibicarakan tanpa harus marah dan menangis?

"Soalnya ibu juga suka marah-marah."

Oh okelah kalau begitu. Ternyata ini adalah pembelajaran. Belajar dari tragedi sedotan jus. Sedotan jus yang menjadi bukti. Betapa mamas sudah bisa mandiri. Selain itu ibu juga belajar bagaimana mengendalikan diri. Tanpa harus marah ketika komunikasi tidak berjalan seperti yang dikehendaki.

Jatuh nyaman. Kenapa ibu tidak bisa dengan mudah membuat anaknya merasa nyaman. Begitu berbeda ketika melakukan pedekate pada ayah di kala pacaran dulu. Apa gerangan yang membuat ini jadi begitu sulit?

Mamas berusaha sebaik mungkin membuktikan apa yang dia bisa agar ibu senang. Namun ibu menuntut yang lain lagi, lagi, dan lagi.

Ibu, mamas adalah anak ibu. Bagaimana seharusnya kita berkomunikasi agar bisa saling mengerti? Tidak lagi salah mengerti.

Ketika menulis ini, ibu seperti memulai dialog dengan diri sendiri. Ibu seolah menjamah jiwa anak-anak yang tersembunyi.

Kekerasankah yang membuatmu begitu rapuh? Lantas dengan cara seperti itukah ibu akan mendidik mamas?

"Mba, kamu tuh punya anak yang luar biasa. Jangan sampe salah didik ya. Jangan ulangi kesalahan Mamah dan Papah. Ambil cara yang baik, bukan yang keras."


Tragedi sedotan jus hari ini membuat ibu menyadari ada hal-hal yang mesti diperbaiki, mungkin diawali dari hati. Mulai mendengar tanpa amarah, meminta dengan lembut, dan berkompromi meski lelah menyapa.

No comments