Kepadakulah Aku Menyerah



Aku mulai belajar menulis dengan mengikuti kelas-kelas online dan berganti-ganti guru sejak 2013. Kabur tanpa menyerahkan tugas akhir atau hanya membaca teori-teori panjang, minus praktik.

Semua itu pada akhirnya tidak begitu signifikan mengubah kualitas dan kuantitas tulisanku. Tiga buku antologi, postingan blog yang timbul tenggelam, dan deretan curhat di status facebook.

Melelahkan ternyata!

Aku kembali pada masa-masa banyak ide di kepala, lupa, berakhir tanpa jejak. Capek karena pada akhirnya berusaha mengingat tema-tema cemerlang yang sudah berlalu.
Begitulah perjalanan menulis milikku, tak ada daftar nyata.

Penat! Aku seperti bermain sepakbola tanpa ada gawang sehingga hanya berputar-putar di lapangan luas.

Kenapa semua hal itu harus memiliki tujuan? Ini begitu sulit bagiku yang tak pernah memiliki tujuan yang jelas, mimpi yang pasti, atau impian yang diwujudkan.

Ah alasan! Bilang saja malas untuk sekedar duduk, menulis, lalu larut dalam apa-apa yang ada di kepala. Lebih suka membiarkan semua kegelisahan, amarah, bahkan solusi menjadi mubazir.

Menulis itu sulit. Tentu kembali ke rasa enggan yang selalu aku manjakan. Jika saja aku mau sedikit saja bersikap tegas kepada keinginan untuk tidak mengerjakan itu maka pada akhirnya aku akan terus mencoba dan berakhir bahagia. Cerita-cerita itu akan mengalir begitu saja, membuat beban-beban berat di pundakku terangkat, dan yang paling nyata adalah bagaimana hariku begitu berwarna tanpa merasa sia-sia.

Meskipun tidak seperti membalikkan telapak tangan, aku selalu berusaha untuk kembali merangkai kata. Mungkin karena aktivitas inilah yang selalu menyelamatkan aku dari kegilaan pikiran-pikiranku sendiri. Begitu dituliskan semua menghilang dengan tenang.

Semesta mendukung. Aku bertemu dengan guru-guru yang lagi-lagi mengingatkan aku tentang bermain dengan kata-kata dan menikmatinya.

Windy Ariestanty adalah guru menulisku di Linkers Academy Batch 3. Si kakak satu ini adalah orang kedua yang aku tempatkan di jajaran ‘harus ketemu lebih dari satu kali’ setelah mba Sasha (Marrysa Tunjung Sari). Itulah kenapa jika aku bertemu dengannya, selalu ada pelajaran baru yang bisa aku ambil.

Kak W adalah orang pertama yang aku dengarkan ceritanya dari awal sampai akhir. Entah kenapa aku yang termasuk dalam kategori bukan pendengar yang baik ini langsung mengangguk mengerti jalan cerita ‘Kembalinya Tas Koko’. Hari itu adalah pertemuan kedua kita.

Begitu santai di rumah, langsung ketik nama Kak W di kolom cari Youtube. Aku melihat dan mendengarkan beberapa video yang akhirnya membuatku menyerah.

Aku kembali menghadap laptop, memijat deretan alphabet, dan mengambil sikap tegas pada malasku.

Kata demi kata. Aku baca ulang, meneliti sebab akibat apakah sudah pas, dan menghapus kalimat yang ternyata tidak runut.

Aha ternyata menyenangkan. Aku menemukan kembali letupan-letupan bahagia layaknya selesai menuangkan rasa di buku catatan harianku.  Seperti saat kelas lima SD. Inilah ternyata alasan kenapa aku menulis. Aku ingin merasakan kebahagiaan saat bisa menuangkan isi kepala yang seperti tumpukan mainan duo G. Ya cukup banyak sehingga butuh waktu untuk merapikan. Menuliskan semua, memilih dan memilah, baru eksekusi yang paling mendesak.

“Saya kepengen apa yang ada di kepala saya itu bisa dipahami oleh orang lain. Cerita-cerita khayalan-khayalan di kepala saya tuh bisa dipahami dan dimengerti oleh orang lain dan ada orang yang bisa saya ajak ngobrolin hal itu.” Windy Ariestanty
Apa yang sebenarnya aku inginkan setelah menulis? Ternyata uang dan pengakuan orang lain. Iya sulit memang untuk jujur. Tidak mudah bagiku menampakkan diriku sendiri. Aku ingin terlihat sempurna di hadapan orang lain. 

Namun setelah lima tahun berjalan, aku tidak pernah bisa memaksa diriku bergerak atau mulai menulis karena uang atau pengakuan orang lain. Awalnya semangat tetapi lama kelamaan mulai menunda lagi. Berakhir menjadi onggokan draft. Tulisan itu seolah beban yang semakin hari semakin berat. Harus sempurna, tidak boleh dikerjakan seenaknya, dan pastinya sesuai dengan waktu yang disepakati. Menulis bukan lagi ajang bersenang-senang tetapi tuntutan. Paksaan pada diriku sendiri.

Urusan menulis ini adalah perjalananku dengan diriku sendiri. Menyerahkan sepenuhnya pada diri sendiri. Aku ingin menulis karena aku suka. Berlatih membuat waktu praktik bermain dengan kata-kata lagi.

Hari ini. Hadir utuh dan penuh, menerima, lalu menyerahkan diri ini kepadaku. Mari memperbaiki komunikasi dan bertumbuh lagi. Mari saling mengontrol ya diriku. Mencoba untuk mulai berpikir dengan benar.

Terima kasih ya Maha Pemberi Petunjuk selalu mengembalikanku ke jalan ini. Tak berhenti aku bersyukur untuk setiap pertemuan yang mengembalikanku ke jalan yang benar. Jalan menulis yang sedari awal aku inginkan agar bisa bersenang-senang.


Makasih Kak W. Dari kakak aku belajar bahwa menulis itu latihan, bukan bakat dan bukan pula bacot. Aku menulis dengan aku ingin menulis adalah hal berbeda. Menulis bukan yang penting niat tetapi yang penting melakukan. Kecup Kak W ^_^

Jahat jika Aku Meminta Kamu Sabar!

Menulis saat ini mulai membuat kepalaku berat. Ah karena aku akhirnya terlalu banyak berpikir lantas tidak ada satu kata pun yang keluar.

Lihat teman menang lomba blog, PENGEN!

Melirik  blog teman berisi sponsored post, MUPENG!

Menyaksikan video teman yang menang kompetisi, KAPAN YA AKU BISA?

Apa yang salah denganku? Semua orang bilang aku punya bakat menulis dan juga keberuntungan. Lantas kenapa tidak ada satu pun yang bisa menghasilkan dari tulisanku?

SABAR! SABAR! SABAR!

Sabar membuatku menunggu. Menunggu membuatku tidak melakukan apa-apa. Duduk melamun dan membayangkan masa depan yang indah. Pada akhirnya aku tidak mendapatkan apa-apa.

"Mak, apa tujuanmu menulis? Apakah sudah kamu temukan?"

Pada awalnya aku sangat suka menulis. Aku menulis ya menulis saja. Tidak ada tujuan yang jelas. Lama kelamaan ide-ide yang muncul berlalu begitu saja karena aku pikir, "Itu bisa ditulis nanti atau besok atau mungkin lusa."

Kemudian ada yang bertanya, "Apa yang kamu inginkan setelah menulis?" Tentu saja perasaan lega karena apa yang aku pikirkan bisa tertuang dan aku baca lagi nanti. Semacam memori bahwa hal itu pernah terjadi.

Nah mungkin hanya sampai di situ saja. Kamu tidak perlu lagi susah payah membuat tujuan yang berkaitan dengan hadiah atau semacamnya lalu memikirkan strategi untuk mencapainya. Kenapa? Tujuan itu membuat kamu tertekan. Tidak ada bahagia yang tercipta. Lupakan!



Menulis saja untuk mengabadikan momen jika itu yang membuat kamu bahagia. Tidak perlu kesabaran. Lakukan karena itu memang yang kamu mau. 

Bila menulis sudah menghasilkan tekanan dan membuat kamu tidak menikmati hidup maka berhenti. Tidak perlu menulis lagi.

Toh pada akhirnya kamu tahu bahwa tidak akan ada satu pun makhluk yang bisa memaksa. Memaksa kamu untuk terus menulis kecuali dirimu sendiri.

Bila sabar ternyata tidak membawamu kemana-mana maka mulailah berkenalan dengan tekun. Tekun mungkin saja bisa mengenalkanmu pada keasyikan menulis atau tujuan yang lebih jelas. Tujuan yang membuatmu bertumbuh dari seseorang yang lekas menyerah menjadi pribadi yang berkeras hati dalam mencapai tujuan.

Jadi apakah kamu siap menemukan gawang untuk membuat gol?

*Makasih buat Teh Langit Amaravati untuk inspirasi kalimatnya hari ini 🙏😁

Bawaan Bayi Oh Bawaan Bayi

Eksim yang tak kunjung sembuh

Selama hamil anak pertama, eksim adalah bawaan bayi yang mengikuti emak. 

Bawaan bayi? Iya katanya bayi memiliki bawaan sendiri-sendiri ketika di dalam kandungan. Ada  ibu yang terus-terusan batuk hingga bayi lahir, ada yang jadi tidak doyan makanan tertentu padahal biasanya jadi kesukaan, atau penyakit aneh yang tak mempan diobati.

Mau diobati menggunakan berbagai macam obat, tidak bisa sembuh. Hanya mengurangi efek gatalnya saja. Nah eksim kering di kaki inilah yang jadi bawaan bayi Gara. Sembuh setelah lahir tetapi muncul lagi ketika hamil bayi Geni hingga sekarang belum juga sembuh.

Penyakit kulit yang identik dengan kulit kering dan menghitam ini memang sangat mengganggu. Berawal dari benjolan kecil berair yang sangat gatal lalu jika digaruk akan menyebar dan menghasilkan area ruam kemerahan semakin luas. Lama kelamaan ruam-ruam kemerahan tersebut mengering menjadi kulit kering, bersisik, lantas menghitam.

Kan kalau bawaan bayi bakalan sembuh sesudah bayi lahir mak? Nah setelah ditelusuri, alergi telur emaklah yang menjadi alasan kenapa eksim ini tak kunjung sembuh. Begitu makan telur lebih dari tiga kali seminggu maka gatal-gatal akan kembali datang.

Hamil secara alami membuat semua cadangan vitamin, mineral, dan zat-zat penting di tubuh emak berpindah ke bayi. Otomatis ketahanan tubuh emak juga berkurang, maka dari itu setelah melahirkan emak memiliki kondisi kesehatan tubuh yang paling rentan. Sedikit-sedikit sakit. 

Terus bagaimana dong mak? Oke emak coba simpulkan dari dua kehamilan emak ya. Namun harus diingat kalau semuanya kembali di kondisi badan kalian masing-masing. Sippp!

1. Persiapkan diri sebelum hamil

Kehamilan yang dipersiapkan tentu saja akan berdampak baik bagi ibu dan bayi. Selain lebih siap menerima serangan penyakit, ibu juga lebih kuat menghadapi "bawaan bayi" yang akan menemani  selama sembilan bulan.

Makanan sehat, vitamin dan kalsium tambahan apabila diperlukan, dan ketahui alergi-alergi yang dimiliki. 

Ya jangan seperti emak yang sudah tahu tidak boleh terlalu banyak telur, malah cuek makan banyak telur hanya gara-gara takut bayi ngeces kalau gak dituruti maunya. Hahaha...

"Kamu ibunya, kamu yang harus bisa kontrol anakmu!"

Itu pesan mbah Uti yang akhirnya emak turuti sekarang karena eksim kering tak kunjung sembuh juga.

Fisik dan mental harus dipersiapkan agar bawaan bayi bisa dihadapi tanpa alergi.

2. Perbaiki kondisi setelah melahirkan

"Nanti aja sih mak, kan masih menyusui."

Ini bukan bicara masalah diet buat menurunkan berat badan ya bu ibu. Pijat, detoks (mungkin ada yang waktu hamil minum obat), atau sekedar ke salon untuk memperbaiki mood.

Artinya kondisi mental dan tubuh dipulihkan sedemikian rupa agar bisa menghadapi perubahan setelah bayi lahir. Tidak hanya memperhatikan kondisi bayi tetapi juga diri sendiri karena emak bahagia membuat bayi bahagia juga.

Nah ngomong masalah perbaikan, emak akhirnya melakukan pijat syaraf dan juga rutin minum multivitamin untuk memperbaiki kondisi.

Alhamdulillah menemukan tukang pijat yang sesuai dengan kebutuhan.


Memperbaiki kondisi akan sangat membantu jika ibu harus kembali bekerja atau ada pertama yang juga membutuhkan perhatian. 

3. Pelajari jika ternyata bukan bawaan bayi maka segera obati

Bawaan bayi secara ajaib hilang atau sembuh setelah bayi lahir. Ada sebagian yang bilang kalau bawaan bayi itu mitos, ada juga yang bilang kalau bawaan bayi fakta.

Bila selama hamil, ibu sakit dan tidak sembuh padahal sudah minum obat apa saja maka itu adalah bawaan bayi. Dipertegas dengan sembuh setelah bayi lahir. Hilang tanpa jejak.

Nah untuk kasus emak, bawaan bayi berupa eksim ini ternyata berkelanjutan karena efek alergi makanan. Maka harus ada tidak lanjut jika tidak ingin menggaruk setiap kambuh.


Pada akhirnya, kita harus menerima alias ikhlas dengan rangkaian proses yang ada. Terlalu stres atau menyangkal keadaan malah akan membuat semua jadi lebih rumit. So enjoy ya mak!

Tragedi Sedotan Jus

perlu amukan untuk akhirnya emak tahu mamas sudah bisa sendiri

Jus adalah makanan pengganti baik untuk mamas maupun dedek. Jika gerakan tutup mulut dimulai, jus jadi penolong. Setidaknya pertolongan pertama pengganjal perut.

Setiap malam sepulang kerja, mamas meminta ikut beli jus bareng ayah. Ini semacam waktu berkualitas untuk mereka berdua. Ayah dan anak.

Pulang ke rumah mamas membagikan untuk siapa saja jus yang baru dibelinya. Ayah, ibu, dedek, dan mamas. Dengan semangat ibu membantu menusuk sedotan agar bisa segera diminum.

Aargggh... Mamas marah dan meledakkan tangis.

"Aku mau tusuk sendiri ibu, aku bisa!" tegasnya di sela-sela tangisan.

Ibu tertegun. Kenapa harus mengamuk? Bukankah bisa dibicarakan tanpa harus marah dan menangis?

"Soalnya ibu juga suka marah-marah."

Oh okelah kalau begitu. Ternyata ini adalah pembelajaran. Belajar dari tragedi sedotan jus. Sedotan jus yang menjadi bukti. Betapa mamas sudah bisa mandiri. Selain itu ibu juga belajar bagaimana mengendalikan diri. Tanpa harus marah ketika komunikasi tidak berjalan seperti yang dikehendaki.

Jatuh nyaman. Kenapa ibu tidak bisa dengan mudah membuat anaknya merasa nyaman. Begitu berbeda ketika melakukan pedekate pada ayah di kala pacaran dulu. Apa gerangan yang membuat ini jadi begitu sulit?

Mamas berusaha sebaik mungkin membuktikan apa yang dia bisa agar ibu senang. Namun ibu menuntut yang lain lagi, lagi, dan lagi.

Ibu, mamas adalah anak ibu. Bagaimana seharusnya kita berkomunikasi agar bisa saling mengerti? Tidak lagi salah mengerti.

Ketika menulis ini, ibu seperti memulai dialog dengan diri sendiri. Ibu seolah menjamah jiwa anak-anak yang tersembunyi.

Kekerasankah yang membuatmu begitu rapuh? Lantas dengan cara seperti itukah ibu akan mendidik mamas?

"Mba, kamu tuh punya anak yang luar biasa. Jangan sampe salah didik ya. Jangan ulangi kesalahan Mamah dan Papah. Ambil cara yang baik, bukan yang keras."


Tragedi sedotan jus hari ini membuat ibu menyadari ada hal-hal yang mesti diperbaiki, mungkin diawali dari hati. Mulai mendengar tanpa amarah, meminta dengan lembut, dan berkompromi meski lelah menyapa.

Liburan Singkat ke Bogor

Singkat tetapi menyenangkan

Liburan singkat memang diperlukan untuk mengurangi kepenatan Emak Sensi. Ya biar sensinya berkurang dan ada bahan buat postingan di blog. Hihihi...

Bogor dipilih karena mudahnya akses kereta. Kereta adalah alat transportasi yang disukai mamas dan dedek. Liburan kan buat senang-senang, bukan malah macet-macetan. Ya kan? 

Hotel sudah dipesan ayah. Tinggal berangkat dan menikmati liburan. 

1. Stasiun Bogor

Berangkat dari rumah sekitar pukul 10.00 menuju Stasiun Kranji menggunakan taksi online. Perjalanan kurang lebih lima belas menitan karena memang belum memasuki jam padat.

Bagi yang jarang menggunakan kereta maka perlu emak ingatkan untuk menyiapkan segala kartu pembayaran elektronik. Setiap orang pegang satu kartu. Catatan tambahannya adalah pemilik kartu Bank DKI belum bisa digunakan karena belum ada kerjasama di stasiun Kranji. Akhirnya beli tiket sekali jalan untuk mamas yang sudah 4 tahun, adek masih gratis karena tingginya belum 90cm.

Begitu sampai di Stasiun Bogor, anak-anak eksplor karena memang sedang dalam perbaikan jadi pasir atau kerikil menggoda.

2. Warung bakso pinggir jalan

Awalnya mencari makanan yang dekat dengan stasiun sebelum ke hotel. Ya sudah jalan-jalan saja sekalian melihat sekitar. Kalau kebetulan ada yang bagus ya mampir. 

Langit sudah mendung dan gerimis mulai turun ketika akhirnya mampir di warung bakso pinggir jalan. Acak saja karena sudah lapar. Begitu makan, hujan turun dengan deras. Nikmat banget. Mepet-mepet menghindari tempias air hujan sambil makan bakso. Baksonya enak. Sayang gak sempat foto-foto. Ribet sama bocoran dari tenda.

3. Hotel Sahira Butik

Dari warung bakso ke hotel naik taksi online lagi. Ya terima kasih sekarang kita sudah bisa menikmati kemudahan berkat teknologi. Sudah tidak perlu ribet cari pangkalan. Tinggal order via ponsel, tunggu, langsung bisa diantar ke tujuan.

Sampai di hotel, tidak perlu tunggu lama, anak-anak sudah minta nyemplung. Memang emak pesan ke ayah untuk pesan hotel yang ada kolam renangnya. Meskipun dingin karena abis hujan, anak-anak senang aja main air. Gak peduli hawa dingin.

Di Hotel Sahira Butik, ada area main di dekat tangga menuju lantai dua. Cukup menyedot perhatian anak-anak setelah makan. Mereka main melupakan lelahnya. Sayangnya banyak mainan yang sudah tidak berfungsi dengan baik.

Paginya sebelum check-in anak-anak renang lagi. Selesai sarapan malah mager di kamar nonton film sama streaming youtube.

4. Peppino Resto

kamera baru jadi masih kaku 😀
Resto yang terletak di jalan Paledang ini sangat dekat dengan hotel Sahira Butik. Kita berempat berjalan. Sengaja mencari yang dekat. Hanya sekitar 200 meter. Menunya beragam, Indonesian Food, Salad, Pasta, Pizza.

Kami makan malam di sini. Recommeded buat yang memang menginap di sekitaran jalan Paledang.

5. Resto d'Leuit

Suami memang beberapa kali ada tugas di Bogor. Nah resto sunda ini adalah rekomendasi.

Selalu penuh. Makanannya enak. Ada area main buat anak-anak juga.


Sungguh liburan singkat yang menyenangkan. Kode nih kayaknya biar bisa balik lagi ke Bogor. 😉

Kerupuk: Setoples Kesabaran, Konsistensi, dan Kelezatan


Kerupuk jadi primadona di keluarga kami. Tak pernah lengkap rasanya menikmati makanan tanpa adanya kerupuk. Sensasi gurih, kriuk-kriuk, dan manis di akhir jadi nikmat yang sulit diabaikan.

"Kerupuknya mana?" pinta ayah jika belum ada toples yang nongkrong di tengah persiapan sarapan.

Memang tidaklah cepat menghadirkan pelengkap yang satu ini. Ada proses yang butuh kesabaran dan kosistensi guna mereguk kelezatan kerupuk. 

Sebelum digoreng, kerupuk perlu dijemur. Kenapa? Tinggal goreng aja selesai. Tanpa dijemur, kerupuk tidak akan mengembang sempurna. Itu artinya kita akan menikmati kerupuk yang alot. Mau? Salah-salah kita bisa punya anggaran tak terduga guna menemui dokter gigi.

Oke kita jemur, lalu?

Lanjut ke proses menggoreng. Kita harus menggunakan penggorengan yang bisa menampung minyak yang cukup banyak atau istilahnya deep fried. Macam mau menggoreng ayam renyah ala K*C. Tidak lupa pula membiarkan minyak sampai titik panasnya pas. Bagaimana caranya kita tahu? Masukkan sodet atau turner, jika sudah ada titik-titik seperti air di permukaan sutil maka minyak telah siap untuk menggoreng. 

Panas yang konsisten adalah elemen yang penting saat menggoreng. Gunakan api sedang karena api yang terlalu besar akan membuat kerupuk cepat gosong. Mau makan kerupuk pahit? Mending minum kopi kalau mau yang pahit mah.


untuk mengurangi kandungan minyak, dinginkan kerupuk dengan alas kertas
Kerupuk sudah matang, apakah sudah bisa disantap? Belum. Kita harus menunggu dingin. Ada trik juga agar kerupuk tidak cepat melempem. Kita harus meniriskan minyak dan membiarkan kerupuk dingin sebelum masuk ke toples.

Pastikan toples dalam keadaan kering ya. Toples juga harus bisa ditutup rapat.
Kriuknya memanjakan lidah
Peminat kerupuk belum tentu bisa menggoreng kerupuk. Ada yang malas, ada yang sudah mencoba tetapi gosong, dan ada pula yang tidak konsisten meniriskan minyak dan membuat kerupuk cepat melempem.

Jakarta Food Talk by bello.id, Bukan Sekedar Motret Makanan

Pertama lihat pengumuman ini di IG @punchy.nisa

Lha kok pas udah acc ikutan malah menghilang itu pengumuman. Hahaha, ternyata masih rezeki bisa ikutan pas Nisa kasih update di grup linkers academy batch 3. Bolak-balik galau akhirnya ikutan juga.

Kelas kali ini difokuskan untuk pengambilan foto makanan dengan handphone dan juga properti seadanya yang memang tersedia saat kita melakukan perjalanan. 

Maka harus diperhatikan:

1. Seberapa kenal kita dengan gawai yang kita miliki

Mengenali kelemahan pada hp yang kita gunakan adalah tahap awal kita memulai. Kenapa? Karena pada akhirnya hp itulah yang akan kita pakai sebagai senjata untuk menaklukkan objek foto kita. Nah kalau kita  tidak mengenali senjata kita, bagaimana bisa mendapatkan hasil yang maksimal? Terus kalau hasil tidak maksimal kapan kita bisa ambil orderan dari klien. *tsaah

Beda merek, beda kelemahan. Ada yang memang sudah punya bukaan besar lalu punya mode pro di mana kita bisa atur ISO, white balance, dan juga meteringnya. Terus ada juga hp yang kameranya udah bagus aja gitu, tinggal urusan keluwesan si pengguna aja mengatur komposisi dan angle yang pas.


Seruuu, bagaimana mba Sasha menjelaskan food photography lalu mba Astrid menambahkan food styling

2. Logika cahaya

Ketika memotret kita tidak bisa berharap bahwa cahaya akan selalu pas dan menghasilkan foto yang bagus dan layak jual. Apabila cahaya yang ada (matahari) ternyata kurang mendukung maka kita perlu memikirkan tambahan cahaya yang tersedia di sekitar seperti lampu atau flash.



cahaya harus pas sehingga warna makanan bisa sesuai dengan aslinya
3. Pelajaran tambahan tentang food styling

Inilah tambahan ilmu kece yang diberikan oleh mba Astrid Febrina Rizal. Bagaimana menata makanan sesuai tema dan bisa menimbulkan efek 'ngeces'. 

Perhatian yang pertama adalah masalah tema. Makanan akan kita sajikan seperti apa. Kita harus sudah memiliki konsep yang jelas agar properti yang dimasukkan ke frame berhubungan dengan makanan.


Kalau sudah sibuk eksplorasi pasti jadi lupa waktu. Semoga bisa ketemu dengan kalian lagi ya guys. Belajar dan praktek.

Foto bersama tidak boleh terlupa 😍

3 Bukti Suami Perhatian, Bukti Ketiga Khusus untuk Penulis

Suami sering dituding kurang peka hanya karena istri ingin perhatian yang gamblang dan terang-
terangan. Bukan yang tipis-tipis sehingga perlu kecermatan. 
“Ah kalau kebayakan nanya nanti dikira kepo,” cetus Suami.
Ups… Memang susah ye pak kalau urusan ama bini yang lagi PMS, apa-apa bawaannya salah mulu.
Bagi para istri, selain memperbaiki komunikasi perlu juga mencermati sinyal-sinyal yang dikirimkan suami. Bukti perhatian suami ke istri dari tiga hal yang mungkin tidak terlihat.

1. Rempong kalau istri telat makan

Terlambat makan mungkin hal biasa bagi istri. Serangkaian tugas rumah tangga, mengurus anak, dan juga pekerjaan-pekerjaan kantor yang harus diselesaikan karena sudah deadline.
“Aku tuh udah makan belum ya Beb?”
“Gimana sih kok kamu malah nanya aku?”
Langsung deh suami gerak cepat order makanan via ojol. Sedikit panik karena sebentar lagi pesawat take off dan ponsel harus dimatikan.
“Mas kalau hp saya mati pas ditelpon, hubungi aja nomor yang saya kasih tadi ya. Pastikan istri saya terima makanannya!”
Busyet dah si Bapak pake nada sedikit mengancam gitu. Begitu pesanan makanan sampai maka pipi istri pastinya memerah. Memang tidak setiap hari tetapi ini adalah bukti bahwa suami perhatian. Dia tidak ingin istri kesayangan sakit dan terkapar tanpa daya.
Ada juga yang pulang kerja, mandi, terus lanjut masak untuk makan malam. Begitu semua makanan siap, nyamperin istri yang baru saja berhasil menidurkan si bayi.
Kerempongan yang jadi bukti betapa suami memperhatikan istri hingga hal-hal detil. Senang? Tentu saja. Maka dari itu jika memang ingin mendapatkan perhatian, komunikasikan saja atau perhatikan lebih teliti. Suami pasti punya caranya sendiri. Istri hanya perlu merasakan dengan ikhlas sepenuh hati.

2. Galau bila istri terlihat begitu mandiri

“Sayang, besok aku ada acara sama ibu-ibu kompleks di restoran X. Aku udah tahu tempatnya kok. Tinggal isi bensin aja sebelum berangkat.”
Buat istri yang belum bisa baca peta atau gagal paham jika berhubungan dengan arah, suami yang dapat memberi tahu naik kereta dari mana dan di stasiun apa harus berhenti adalah anugerah. 
Namun ketika istri sudah mampu sendiri, suami kehilangan akses untuk memberikan perhatian. Apa lagi yang akan dilakukan untuk membantu?
Istri seharusnya pandai-pandai melihat peluang ini. Peluang suami untuk membuktikan perhatiannya kepada istri. Terkadang, istri sendiri yang menutup jalan bagi suami memberi perhatian. 
Emang suami bisa galau ya? Hahaha… Suami macam robot saja yang tidak bisa galau. Perhatikan! Bila ada kode-kode yang menunjukkan suami ingin membantu, biarkanlah dia membuktikan perhatiannya.

3. Kepo dengan update tulisan istri

"Bi, aku ke acara Z ya sabtu depan. Kamu gak lembur kan?"
"Lho padahal blognya sepi, kok bisa ikutan acara itu. Kirain bakalan satu hari satu postingan? Mana cuma status aja."
Yaelah pak udah kaya rentenir nagih hutang aja. 
Memang di era serba media sosial seperti sekarang, status kadang lebih mencerminkan perasaan. Suami yang istrinya adalah penulis, justru lebih sering tahu perkembangan mood dari tulisan yang diunggah. Istri lebih cepat mengeluarkan uneg-uneg di media sosial ketimbang curhat sama suami.Semakin kepo maka semakin perhatianlah suami. 
"Lama kelamaan orang akan malas romantis karena takut disebut galau, malas peduli karena takut disebut kepo, malas mendetail karena takut disebut rempong, malas berpendapat karena dikira curhat." (Sudjiwo Tejo)
Pernikahan melibatkan dua orang, suami dan juga istri, demi mendapatkan pernikahan yang adem ayem dan juga bahagia maka suami istri harus saling belajar satu sama lain. Belajarlah untuk berkomunikasi dan menyaring segala prasangka buruk dengan pengetahuan. Jangan sampai suami menjadi malas karena respon istri yang kurang bijaksana. Lihat dengan teliti bukti-bukti perhatian suami yang tersaji meski kadang seolah tersembunyi.