Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 17 Membantu Menata Baju

Besok mamas Gian sudah punya jadwal untuk bertemu Uti dan jalan-jalan bersama. Mamas juga sudah tahu mau pulang kampung ke Pemalang.

Dia mulai membantu ibu menata pakaian, mainan, dan juga makanan yang akan dibawa.

Packing adalah hal yang pertama ibu ajarkan karena boleh dibilang mamas sangat sering pergi. Meskipun dekat, menata mainan dan juga barang-barang yang sebaiknya dibawa merupakan tanggungjawab mamas sendiri. Mamas sering mengamati dan melihat kemudian mempraktikkan sendiri dengan memasukkan ke dalam tas biru-kuning andalannya.

Selama 10 hari pengamatan, ibu masih belum bisa memastikan kecenderungan gaya belajar mamas Gian. Jadi ibu akan melanjutkan lagi hingga benar-benar menemukan gaya belajar mamas Gian.

#harike17
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 16 Jadi Asisten Ayah

Ayah kecelakaan. Pulang dengan celana sobek-sobek. Alhamdulillah luka-luka kecil di kaki kiri dan tangan kiri.

Mamas Gian menawarkan diri untuk membantu ayah. Mengambilkan minum, memijat, dan menolong membawakan sendok saat mau makan.

"Menjadi perawat ayah."

Belajar dengan melihat langsung ibu membersihkan luka, memijat kaki, dan membalurkan minyak but-but di luka ayah.

Mamas dengan sigap memberikan pertolongan.

"Aku mau beresin mainan dulu biar ayah gak kepleset. Nanti tambah berdarah kan."

Semoga ini terus berlanjut ya setelah ayah sembuh.

#harike16
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 15 Bermain dengan yang Kami Miliki

Hujan deras. Petir. Kami mulai mencari tempat yang ada rembesan air.

Setelah itu bermain tukang pijat karena mamas Gian mulai batuk pilek. Kegelian tapi berusaha tahan. Biar hangat.

"Terima kasih ayah sudah bekerja keras sehingga aku punya tempat tinggal yang nyaman."

Ibu mengajarkan kalimat itu karena akhir-akhir ini mamas agak sering mengeluh dengan apa-apa yang dia miliki. Bosan dengan mainan lah, temannya punya mainan baru, atau teman-teman sering berenang.

Ibu meminta mamas Gian mendengarkan suara hujan dan petir. ibu bercerita tentang mereka yang belum bisa punya tempat tinggal yang nyaman. Kehujanan, kedinginan, dan kebanjiran.

#harike15
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 14 Tanggung Jawab Diri Bukan tentang Gender

Beberapa minggu lalu kami mampir ke restoran makanan cepat saji. Kami memilih restoran itu karena mamas Gian rindu tempat mainnya. Ada hal yang mengejutkanku yaitu #budayabeberes yang sepertinya jadi kampanye baru. Ya demi kenyamanan bersama tentu saja. Kami secara tidak langsung diminta membereskan sisa makanan, meletakkan nampan di meja yang sudah disediakan dan meninggalkan meja dalam keadaan siap pakai lagi. Saat itu kami membereskan tanpa meminta bantuan anak-anak.

Lalu hari ini, hal yang mengejutkan adalah ternyata mamas Gian memperhatikan apa yang kami lakukan. Setelah selesai makan siang, mamas Gian membereskan piring dan juga gelas minum lalu mencuci semua perlengkapan makannya. Bersih dan tertata rapi kembali ke rak. Mamas juga mencuci beberapa panci serta wadah buah potong.


Tanggung jawab diri ternyata tidak berkaitan dengan gender dan juga gaya belajar. Anak-anak wajib diberikan contoh baik dari orangtua langsung maupun orang dewasa sekitarnya. Anak memang tidak akan pernah salah meniru. Mau gaya belajarnya visual, auditory, atau kinestetik: CHILDREN SEE, CHILDREN DO.

#harike14
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 13 Nilai Keluarga dan Harga Diri Anak

Nah pada waktu mengamati gaya belajar anak, ibu menemukan hal-hal kecil yang ternyata berkaitan dengan anak secara keseluruhan. 

Nilai keluarga dan harga diri anak. Nilai keluarga ternyata hal kecil dan paling dasar untuk akhirnya anak menemukan nilainya.

Setiap keluarga memiliki nilai yang mereka terapkan dalam rumah masing-masing. Berawal dari hanya suami istri lalu anak pertama kemudian anak kedua dan seterusnya. Nilai setiap keluarga berbeda tidak bisa disamakan apalagi dipaksakan. 

Nilai yang ingin kami tanamkan pada anak-anak adalah bagaimana bisa menerima diri kemudian baru bermanfaat bagi orang lain. Anak juga mampu mengelola emosi dan menerima tantangan dengan lapang dada. Anak menjadi pribadi yang takut Tuhan dalam artian yakin apapun dan dimanapun Tuhan mengawasi dan siap membantu. Saling menyayangi dan berbagi.

Memahami gaya belajar adalah bagian orangtua membantu anak menemukan diri untuk kemudian menjadi pribadi yang memiliki nilai, kompetensi, dan mencintai diri sendiri. 

***

Kegiatan:
Membiasakan Tidur Siang

Tujuan:
1. Anak mulai memiliki jadwal tetap untuk istirahat
2. Ibu mengenalkan sebab akibat
3. Anak tahu kapan harus main
4. Melatih kebiasaan
5. Ibu ikut memiliki prioritas harian
6. Anak mulai mengelola emosi

Deskripsi:
Pukul 11.00-12.00 WIB Gian memiliki waktu untuk menonton youtube dengan alarm standby
Ketika alarm berbunyi, mamas menyerahkan ponsel kepada ibu dan mulai menyantap makanan yang disiapkan sebagai makan siang. Setelah selesai duduk sebentar menikmati kartun kesukaan barulah sekiranya ibu selesai menyiapkan Geni, mamas minum kemudian pipis. Bersiap tidur siang.

Review:
Ibu amati ketika mamas memiliki waktu untuk tidur siang maka dia jauh lebih siap waktu ada tantangan yang datang. Pembicaraan berat seperti: kenapa tidak boleh teriak, tidak pukul, sayang dedek; bisa lebih mudah dipahami dan diaplikasikan. 

Mamas cenderung bisa mengelola emosinya. Mamas mampu bercerita dengan baik ketika adik berlaku kasar dan berteriak. Mamas tidak langsung balas berteriak atau tantrum saat adik memaksa meminta mainan yang sedang dimainkan mamas.

Istirahat bagi mamas adalah jeda bagi ibu sehingga saat berinteraksi lagi sama-sama dalam keadaan yang tenang dan siap.


ibu secara tulus meminta maaf karena sering terburu-buru merespon.
Ibu bereaksi berlebihan ketika mamas Gian tanpa sengaja membenturkan bis mainannya ke bibir adeknya sampai berdarah. Mamas menangis karena dia merasa bersalah tetapi dia juga tidak sengaja.
👦"Makanya ibu jangan marah-marah terus dong. Aku kan juga jadi jahat."
👩"Ibu minta maaf ya nak."
👦"Ibu kalau udah minta maaf, jangan diulangi dong."
👩"Insya Allah ya nak. Mamas bantu ibu juga ya. Kalau ibu marah mamas Gian ingatin."
👦"Iya aku ingetin ibu. Aku kan sayang ibu."
👩"Terima kasih. Boleh minta peluk?"
Semua berakhir dengan pelukan.

Menangis ini memang tantangan di keluarga kami. Ibu akan marah ketika mamas menangis padahal sudah diingatkan untuk ngomong aja apa yang diinginkan tanpa perlu menangis. Kemudian beberapa menit kemudian sebuah artikel menjelaskan bahwa tangisan adalah cara anak meluapkan emosi untuk kemudian menemukan solusi. Datang di saat yang tepat. Saat ibu mengambil jeda untuk sadar utuh dan penuh dalam membersamai anak-anak.


Tunggu ya Ibu! Aku pasti siap menyayangi diriku dan dedek.

Memenuhi kebutuhan anak secara penuh membuat ibu lebih menikmati waktu mengamati gaya belajar anak. Ibu membiarkan anak mengeksplor apa saja dan mengingatkan dengan cara yang baik juga lembut. Nilai keluarga mulai ditanamkan dan harga diri anak mulai dibentuk.

Mamas Gian hari ini membelikan adiknya jasuke lalu membantu melepaskan celana saat adiknya kesusahan karena buru-buru mau pipis, dan membantu ibu memandikan adiknya. 

Kesimpulan sementara:
1. Mamas Gian sudah tahu waktu, main hp ya main hp terus saatnya tidur ya tidur
2. Suka menjelaskan dengan wara-wiri mengeringkan badan
3. Fokus mandi baru bantu adiknya mandi
4. Bercerita apa yang sedang dilakukan saat ayah pulang kerja
5. Mulai berkurang screen time dan main di luar lebih sering

(593)

#harike13
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 12 Pahami Anakmu Bukan Anak Tetanggamu

Prioritas berubah. AKU MULAI MENERIMA RASA MARAH. Pelan tapi pasti aku sadar dimana aku berada. Tidak perlu nyinyir dengan anak orang karena aku tidak tahu, pertempuran macam apa yang sedang mereka hadapi.

Belum bisa menghargai diri sendiri membuat ibu berkompetisi dalam membesarkan anak

Bagaimana ibu bisa mendidik anak dengan rasa aman sementara dulu dia dididik juga menggunakan perbandingan dengan anak orang? Tentu akan jadi kompetisi tidak sehat yang tak berkesudahan jika ibu tidak segera sadar dan mulai fokus ke diri sendiri, KE ANAK SENDIRI bukan anak tetangga.

Prioritas tentu tentang proses. Tentang menikmati peran sebagai ibu. Tidak melulu ego, cemburu, dan marah. Tuhan kasih amanah suami dan anak-anak juga tidak asal. KESUKSESAN IBU adalah ketika dia IKHLAS ANAKnya MANDIRI. Banggakah ibu ketika anaknya mandiri tetapi masih cengeng sesekali? Ikhlaskah ibu ketika anaknya belum bisa mengkancing baju sendiri? Tetapkah ibu mencintai anaknya saat sudah mulai protes dan mendebat?

Pada saat anak mulai bertumbuh, jika prioritas ibu memang anaknya maka ibu akan fokus dengan kelebihan dan kekurangan anaknya. Bukan melihat kelebihan anak orang dan selalu fokus ke kekurangan anak sendiri. 
Mendidik Seadanya Berharap Hasilnya Luar Biasa, Sadarkah Aku?

Mendidik dengan hati di zaman ini merupakan tantangan sendiri. Tempat mengekspos apa yang dimiliki begitu banyak. Godaan-godaan untuk memberi tahu ke dunia luar betapa hebat dan tanpa celanya anak kita begitu tinggi. Namun begitu prioritas ditetapkan maka ada banyak jalan yang terbuka agar kita tetap fokus pada anak kita bukan anak orang lain. 

👰"Anakku udah bisa baca lho padahal umurnya baru 3 tahun."
👱"Anakku udah bisa baca dan renang tuh."
👰"Oh kalau anakku bisa baca, renang, dan ngomong tiga bahasa asing."
👩"Aku masih bingung gimana cara lepas popok sekali pake nih. Ada ide gak?"
👰👱👯 "😏😏😏."

***





#harike12
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 11 Adakah yang Salah dengan Bermain?

 
"Anak memiliki hak untuk bermain. Melakukan sesuatu untuk bersenang-senang."
Lantas kenapa dilarang? BELUM TUNTAS dengan DIRI SENDIRI. Aku sadar membersamai anak-anak tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bahwa ada banyak catatan-catatan kelam yang sudah dikubur di bagian paling dalam ingatan, harus dibuka kembali. Percayalah, saat seperti itu mau ditunda selama apapun, akan datang lagi. Siap atau tidak.

TUNTAS BERAWAL dari MENERIMA. Menerima diri sendiri meski tertatih. Ini bukan demi anak-anak tetapi demi diriku sendiri. Lho kok begitu? Semakin aku memaksa memberikan waktu bermain demi kepentingan anak-anak, aku merasa semakin marah. Marah karena dulu aku tidak memiliki cukup masa untuk menikmati masa main suka-suka. Tiba-tiba yang ada di ingatan aku adalah luka-luka dilecehkan juga di-bully di Sekolah Dasar. Setelah segala macam proses naik turun membangun kesadaran bahwa aku sudah menjadi ibu maka tangga yang sedang aku tapaki saat ini adalah menerima. TIDAK APA-APA MEMBIARKAN ANAK BERMAIN SEPUASNYA. Aku hanya perlu mengawasi jika memang ada yang membahayakan.

Tentu tidak ada yang salah dengan bermain. Main adalah hak anak yang ada di undang-undang perlindungan anak. ORANGTUA yang PERLU MENGUBAH CARA PANDANG. 

Membiarkan anak bermain berarti memenuhi haknya dan juga pada akhirnya membuat aku merasa berguna sebagai ibunya. Penerimaan inilah yang akan menumbuhkan hubungan kasih sayang anatara ibu dan anak. TAK PERLU BURU-BURU APALAGI MEMAKSA. Latih terus dan terus. Tumbuh bersama.

***

Kegiatan:
Mengamati Siput

Alat dan Bahan:
Kamera hp
Siput

Tujuan:
1. Ibu mengamati anak
2. Anak mengamati bagian-bagian tubuh siput
3. Anak tahu cara berjalan siput
4. Ibu bertanya untuk mengamati lebih lanjut
5. Anak tahu kenapa siput berjalan lambat

Deskripsi:
Pagi yang basah dan dingin tetapi itu tidak menghalangi mamas Gian untuk duduk di taman yang sudah bersih. Ibu menunggu tukang jamu sambil perlahan menghirup udara segar.

👩"Mamas sedang apa?"
👦"Main game di hp ayah."
👩"Coba lihat mas, ada siput."
👦"Ibu, itu lihat yang di bawah. Siputnya matanya satu. Ada yang kecil juga. Tuh ada juga yang mau masuk ke rumah."
👩"Mamas mau pegang rumahnya?"
👦"Gak ah takut. Nanti gigit."
👩"Coba difoto pakai hp ayah. Apakah jadi lebih besar di layar hp?"
👦"Gak kok bu. Sama aja. Siput jalannya lambat tapi bisa menang lawan kelinci."
👩"Setiap ciptaan Tuhan itu punya kekuatan dan kekurangan mas."
👦"Iya aku tahu. Siput punya temen yang baik, yang bantu dia terus."
👩"Mamas punya siapa yang bantu?"
👦"Ayah, ibu, dedek. Temen-temen aku juga kalau mereka lagi gak jahat."

 

Kesimpulan sementara:
1. Mamas Gian sudah mulai berkomitmen. Boleh main hp sebentar saat ayah bersiap ke kantor
2. Mulai bisa mengerti kosakata berat seperti kekuatan, kekurangan
3. Mulai bisa bercerita dengan runut
4. Emosi masih naik turun tetapi bisa diajak bernegosiasi
5. Mulai menggunakan jari untuk mengetahui alfabet, angka, dan gambaran kata yang ingin dia ketahui atau jelaskan

(448)

#harike11
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 10 Tanpa Pijakan Bagai Berjalan Tanpa Tujuan

Ada peringatan yang secara tidak sadar sering diberikan orangtua kepada anak-anak, "Sudah jangan main terus, belajar dong."

Terus ketika anak-anak mulai susah diatur, orangtua malah menyalahkan anak dengan bilang, "Masa kecilmu kurang main nih."

BERMAIN. Banyak orangtua yang belum sadar, bermain adalah hak anak dan itulah cara anak mengenal lingkungan, baik itu lingkungan kecil keluarga maupun sudah lingkungan luar rumah. 

BERMAIN SAMBIL BELAJAR. Tanpa bermain anak-anak akan tumbuh menjadi orang yang rawan stres dan memandang lingkungan dengan penuh ketakutan. Menjalani hidup dengan begitu banyak benturan yang menyakitkan dan drama-drama berlatar belakang cerita tragis. Kenapa begitu? Bermain adalah sarana anak belajar. Bukankah akan lebih bisa maksimal kita mendapatkan manfaat dari sebuah kegiatan jika dilakukan dengan penuh suka cita dan kesadaran juga tanpa paksaan. 

ORANGTUA WAJIB PUNYA ILMU. Masa-masa emas 0-5 tahun, bisa saja berlalu tanpa adanya kesiapan dan kesadaran orangtua bagaimana memberikan pijakan agar anaknya mampu menuntaskan tugas perkembangannya dengan baik. Bisa jadi mahal karena orangtua tidak punya cukup bekal. Ya sudahlah ya sekolahin aja deh di sekolah anak usia dini yang mahal, ada inih uangnya. Namun akan lebih maksimal jika ketika di rumah, ikatan juga dibangun. Jadi ada kesinambungan antara ilmu dari sekolah dan juga visi misi di rumah.

MULAI MEMPELAJARI GAYA BELAJAR ANAK. Setelah mengetahui gaya mengajar diri sendiri, selanjutnya orangtua memberikan waktu yang berkualitas untuk lebih mengenal anaknya. Tidak hanya menyerahkan urusan pendidikan ke pihak sekolah tetapi juga ikut berperan aktif menyehatkan anak baik jasmani juga rohani.
***
👦"Aku mau sekolah kalau guruku gak marah-marah lagi."
👦"Temen-temen sekolah aku jahat. Gak mau temenan sama aku."

Setelah aku telusuri lagi, semua berasal dari ketidakmampuan aku berkomunikasi dengan mamas Gian. Aku kurang benar-benar bisa memastikan apa yang mamas butuhkan. PIJAKAN, RASA AMAN, dan TUJUAN. Aku tidak menjelaskan kenapa sih mamas harus bangun pagi, mandi, sarapan, dan berangkat sekolah. Sehingga pada akhirnya mamas tidak punya tujuan yang jelas ketika bersekolah.

Kemudian aku mulai sadar, aku harus berikan hak main pada mamas. Rasa ingin tahu, kemauan untuk menemukan sesuatu, meningkatkan kreativitas, dan tetap memiliki empati juga beradab.

***
Kegiatan:
Menanam Benih Bunga Texas Lemon

Alat dan Bahan:
1 bungkus benih bunga
Pot
Tanah
Sekop kecil
Cangkul kecil
Panggaruk kecil
Watering can

Tujuan:
1. Ibu mengamati anak
2. Anak bermain tanah dan mengeksplor alat-alat berkebun
3. Anak tahu tahapan menanam bunga
4. Ibu mulai paham bagaimana memberikan pijakan sebelum melakukan kegiatan
5. Anak tahu bagaimana bertanggung jawab setelah menanam benih

Deskripsi:
Setelah satu hari sebelumnya membeli bersama satu bungkus benih bunga, ibu mulai mempersiapkan alat dan bahan untuk berkebun. Mamas Gian sangat suka tanah dan peralatan apapun yang bikin dia bisa lebih dekat dengan tanah. Batu juga sih. Benih bunga ibu beli di Superindo THB dengan harga Rp19.950 (kalau beli online lebih murah tetapi ibu ingin ada pengalaman langsung yang mamas dapatkan).
Jarang ada anak yang menolak main kotor
Setelah bangun tidur, mamas langsung menagih untuk segera menanam. Ibu mulai mencontohkan membuat lubang dengan cangkul kecil, sementara mamas Gian menggunakan penggaruk saat mengambil batu-batu yang mengganjal di sekitaran pot. Ibu memberikan pijakan agar mamas tetap waspada karena alat-alat berkebun memiliki sisi-sisi yang tajam. Setelah itu mamas melakukan semua sendiri.

Pijakan lebih agar anak tahu alur dan lebih efisien dengan waktu mainnya

Review
Mamas Gian menikmati kegiatan berkebun dengan mengeksplor sendiri tanpa banyak bertanya selama proses. Waktu selesai menanam dan menyiram barulah mamas bertanta.
👦"Aku harus siram berapa kali bu?"
👩"Sehari sekali cukup mas. Kalau sore hujan gimana? Perlu disiram?"
👦"Gak usah."
👩"Kira-kira tumbuhnya bakalan lama apa sebentar."
👦"Ini ada tiga di sini."
👩"Oh itu 3 bulan bacanya. Artinya butuh 3 bulan untuk dia tumbuh."

Seharusnya bukan orang lain yang lebih kenal anakku tapi aku
Kesimpulan sementara:
1. Mamas Gian sangat suka menggunting
2. Ketika melihat benih mamas mengamati dari mulai dilihat, dipegang untuk merasakan tekstur hingga mencium apakah benih itu memiliki bau
3. Proses eksekusi berjalan lancar dengan pijakan dan bantuan yang minim. Ibu sibuk motret dan wawancara saja

(636)

#harike10
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 9 Bila Sama Lantas Petaka

Memahami anak tetapi belum memahami diri sendiri, apakah bisa? MODAL NEKAT. Terus mau bagaimana? Lha udah ada anak. Mau mengelaknya kaya apa ya ujungnya harus balik ke tanggung jawab sebagai orangtua. JATUH BANGUN juga NAIK TURUN. Namun, hidup akan selalu begitu kan yak. Tidak hanya menyuguhkan warna-warni tetapi juga gelapnya.

Awalnya menduga-duga dulu aja. Kemudian, aku memutuskan gaya mengajarku adalah memadukan semua baik itu visual, auditori, maupun kinestetik.

Kegiatan:
Membuat label

Bahan dan Alat:
Kertas A3
Krayon
Gunting
Isolasi

Tujuan:
1. Anak memahami konsep merapikan setelah bermain
2. Ibu meneliti gaya belajar anak
3. Ibu mengenalkan konsep gambar dan tulisan

Deskripsi:
Ibu marah karena menemukan mainan yang tercecer dan gak lengkap. Mamas ogah-ogahan membereskan. Ibu mulai menuangkan semua mainan ke karpet main. Setelah itu mengumpulkan semua barang-barang yang bisa dijadikan wadah mainan-mainan. Setelah semua siap, ibu mulai memikirkan taktik untuk mengobservasi mamas yang sedang asyik menonton kartun.

👦"Ibu, kita kemarin sudah beres-beres. Kok beres-beres lagi?"
👩"Kira-kira kenapa?"
👦"Mainan aku kebanyakan ya."
👩"Terus?"
👦"Ibu marah-marah karena mainan aku berantakan."
👩"Kenapa berantakan?"
👦"Dedek kan bikin berantakan melulu. Aku capek ibu kalau suruh beresin melulu."
👩"Lalu harus bagaimana? Apa kita buang saja semua?"
👦"Gaaak! Aku bantu ibu beresin."

Mamas mulai menjadikan satu tempat mainan yang satu macam. Ibu memberikan cerita bagaimana label-label membuat kita jadi lebih mudah dan cepat membereskan barang-barang. Mamas menanggapi dengan menggambar mainan-mainan di kertas yang ibu siapkan dengan menggunakan krayon. Mamas gunting dan kasih isolasi. Sempat mengeluh capek karena sudah terganggu dengan suara teman-teman yang berkejaran di luar. Mamas berusaha menyelesaikan dengan cepat dan kabur setelah selesai.



Review:
Ini kaya semacam pemberontakan, “Lu kan baru hadir yak di hidup gue. Terus lu asyik aja gitu mengambil semua waktu gue yang berharga."

Ini yang muncul ketika anak-anak mulai meminta waktu dan juga porsi perhatian yang lebih besar. Aku menjadi kehilangan diriku juga kewarasanku. Padahal kalau dipikir saat waras, anak mana sih yang minta dilahirkan atau bisa memilih orangtua yang sesuai dengan mau mereka? Ya emang kudu orangtuanya kan yang sadar. Oh aku sudah punya anak. Anak pertamaku sangat baperan karena efek aku yang belum selesai dengan diriku. Aku masih saja kelepasan marah karena memang tidak sadar utuh, membuka hati dan pikiran untuk melihat mamas Gian tanpa penghakiman. BELAJAR  IKHLAS MENCINTAI ANAK TANPA EMBEL-EMBEL. Ada kemungkinan karena kita terlalu sama jadi banyak ributnya ya nak. Namun toh kita berusaha untuk nantinya saling mengisi.

Waktu bersama yang terkadang berakhir saling menyakiti, ya tak apa toh usaha tak akan pernah mengkhianati
Kesimpulan sementara observasi gaya belajar GianGaraGembul:
1. Mudah terganggu keributan
2. Saat bekerja suka bicara pada diri sendiri
3. Mudah mengingat jalan atau tempat saat pernah berada/melewati

(435)

#harike9
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Memahami Gaya Belajar Anak, Hari 8 Apa yang ingin Aku Ajarkan?

Di level empat, aku merasa menjadi orangtua tidaklah semudah bikin mie instan. Aku justru semakin melihat siapa diriku sebenarnya saat menghadapi anak-anak.

Sibuk dengan ponsel, mengurus kebutuhan anak sambil balas pesan, dan mudah marah ketika anak-anak mencari perhatian dengan melibatkan orang luar. Gambaran orangtua yang masih belum selesai dengan diri sendiri. Aku terkadang masih antara sadar dan tidak memiliki dua anak. 

Ketika sadar, rasa yang sering muncul adalah menyesal. Komunikasi produktif, melatih kemandirian, dan meningkatkan kecerdasan anak semacam tugas-tugas yang berlalu tanpa kesadaran. Aku kembali pada pola bentakan dan pukulan. 

Menyesal karena baru sekarang belajar dan praktik ilmu mendidik anak. Oleh karena itu aku jadi naik turun juga trial error mode on. Walaupun pada akhirnya berdamai, dan berusaha untuk kembali sadar.

Terus bagaimana mau memahami gaya belajar anak padahal belum tahu apa yang mau diajarkan? Eh apa malah belum tahu apa gaya belajar anaknya?

Aku dong yak. Jiaaah si emak, ngaku kan. Daftar pengakuan emak nih:

1. Belum menemani anak-anak secara utuh dan penuh
2. Kurang observasi dan mencatat secara detil dan konsisten
3. Memaksa anak-anak untuk paham kondisi orangtua
4. Memberikan lingkungan main yang penuh tekanan bukan menyenangkan
5. Masih belum paham bahwa anak-anak harus dibiasakan karena mereka memang belum bisa secara otomatis merespon lingkungan yang berubah-ubah

***


"Emosi ibu yang naik turun sudah mulai ditiru oleh anak. Ya, anak tidak pernah salah meniru."
Pada hari ini, aku mengingat kembali reaksi Gian saat aku belajar foto. Hari itu dengan dengan bersemangat membantu memegang reflektor. Mamas sangat senang karena bisa terlibat dan teman-teman belajarku juga memujinya. Ternyata mamas Gian suka dipuji dengan kata-kata. Semacam pengakuan. 

"Ini lho aku bisa."

Menunggu hingga hari ke delapan untuk akhirnya memulai tantangan level 4. Aku akhirnya mulai mengingat apa yang dulu orangtuaku ajarkan padaku. Bangun karena mau sekolah, disiplin karena harus mengaji, dan jarang berkumpul untuk bertukar pikiran atau sekedar menceritakan apa saja yang dilakukan hari ini. Lantas apa yang ingin aku ajarkan pada anak-anakku? Apakah aku akan berhasil mendidik anak-anak dengan memahami gaya belajar mereka?

Memahami gaya belajar pada akhirnya "memaksa" ayah dan ibu mengorek kembali ke masa saat  dididik oleh orangtua mereka.

Ketika aku ngeh mamas Gian suka sekali meminta pengakuan padaku, ada bohlam menyala sebagai tanda ada rasa takut dia yang menyeruak. Dia takut tidak diakui oleh ibunya. Nah itu aku dulu. Orangtua zaman dahulu bukan tipe yang suka memuji di depan anaknya melainkan koar-koar kepada orang lain. Pada akhirnya aku tumbuh mencari pengakuan orang lain yang seandainya aku dapatkan cukup dari orangtuaku maka aku bisa hidup jauh lebih nikmat.

Awalnya aku berencana membiarkan semua berjalan dengan sendirinya. Ya biarkan waktu saja yang mendewasakan anak-anakku. Terus menyatu lagi puzzleku, tanpa stimulasi dari orangtua lantas bagaimana cara anak bertahan dengan dunia yang serba membingungkan ini? Apakah orangtua jadinya berhutang pada anak?

"Orangtua tugasnya kerja, anak ya tugasnya sekolah. Kalau udah lulus baru kerja gantiin peran orangtua."
"Bisa makan tiap hari aja sudah syukur, ibu harus apa lagi?"
"Sudah bisa sekolah malah mogok, coba lihat yang lain yang tidak bisa sekolah. Harus berkeliaran mencari rongsok."


"Tinggal main aja berisik."

BINGGO. Secara tidak sadar aku membawa masa-masa tumbuh sendiri dan berharap anak-anak juga akan melakukan hal yang sama. GAGAL. Semakin hari anak-anak tumbuh jadi anak yang gampang marah, sok perfeksionis, tapi cepat menyerah. DIKIT-DIKIT BAPER.

Mau tidak mau, aku harus mulai lagi dari awal memberikan kegiatan pada Gian. Aku sebaiknya kembali menjalankan fungsi ibu yang sesungguhnya yaitu menjadi madrasah bagi anak-anakku. Kemudian baru bisa mengobservasi secara detil, tipe pembelajar apakah mamas Gian? Visual, auditori, atau kinestik?

Mungkin bisa aku awali dengan SESERING MUNGKIN BERTERIMA KASIH, MEMUJI dan MEMBERIKAN WAKTU YANG BERKUALITAS sehingga anak-anak bisa belajar serta tahu jika orangtuanya sayang mereka apa adanya. Bukan karena bisa begini bisa begitu. ANAK TAHU KALAU ORANGTUANYA TULUS MENERIMA KEKURANGAN JUGA KELEBIHAN DIA.

(626)

#harike8
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#institutibuprofesional 

Meningkatkan Kecerdasan Anak, Hari 10 Ujian Ketahanan Mental

Level 3 berakhir dengan rasa menyesal. Kenapa tidak ada perencanaan matang dan jadwal tertib.

Ibu berpikir, keahlian multitasking akan membereskan segalanya. Family project akan selesai sesuai waktu begitu pula laporan.

Ternyata oh ternyata, semua bubar jalan.

Uji ketahanan mental saat ibu sibuk menjadi panitia di beberapa acara rumah belajar sementara mamas Gian menuntut kegiatan agar tidak bosan.

Ibu juga kecewa karena ketiduran dan lupa bikin laporan yang sudah ada di draft.

Ya sudahlah. Mari dibenahi sama-sama. semoga di level selanjutnya lebih maksimal dan utuh lagi.

#harike10
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam
#institutibuprofesional

Meningkatkan Kecerdasan Anak, Hari 9 Tak Apa Jika Tak Pintar

Kecerdasan anak bermacam-macam. Maka bila ternyata kecerdasan intelektualnya tidak sebesar anak-anak yang lain haruskah ibu berputus asa?

Gian mogok sekolah di umurnya yang kelima karena lingkungan sekolah tidak nyaman baginya.

Di saat anak-anak lain sudah mulai tertarik dengan angka dan huruf, Gian masih suka-suka dengan air dan pasir. Bukan hal-hal serius semacam duduk menulis atau berhitung. Awalnya ibu panik dan stres, mau family project macam apa coba agar kecerdasan intelektualnya terstimulasi.

Meskipun begitu, akhirnya ibu berinisiatif untuk menulis angka dan huruf di pasir dan menghitung saat Gian memasukkan air ke dalam botol. Paling tidak ada stimulasi yang ibu berikan agar anak tahu terlebih dahulu konsepnya.

Kemudian ibu juga jadi tahu bahwa indikator pintar tentulah tidak bisa disamakan satu dengan yang lainnya karena akan kembali pada fitrah masing-masing.

#harike9
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam
#institutibuprofesional

Meningkatkan Kecerdasan Anak, Hari 8 Ibu Teriak Anak Membentak

👩"Ibu makan dulu ya biar gak marah-marah.
👦"Katanya kalau makan dulu gak marah-marah."
👶"Ibu marah ya mas."

Meningkatkan kecerdasan anak secara emosional bagi ibu adalah yang paling berat. Kok begitu? Ya karena anak-anak tidak pernah keliru mencontoh.

Family project hari ini adalah membuat papan emosi atau ungkapan rasa hari ini. Selain agar ada kegiatan, papan ini juga bisa membantu ibu lebih jujur akan rasa yang dirasakan. Anak-anak juga lebih tahu lagi apa itu emosi atau rasa.

#harike8
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam
#institutibuprofesional

Meningkatkan Kecerdasan Anak, Hari 7 Mengenalkan Apa Keluarga

Mengejutkan. Kami sebagai orangtua semaksimal mungkin berkomunikasi dengan baik jika ada di hadapan anak-anak. Kemudian hari ini ketika Gian sedang bermain, tanpa sengaja dia melihat dan mendengar orangtua temannya adu mulut hebat.

"Kok ayahnya marah-marah ke ibunya. Kan gak boleh."

#harike7
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam
#institutibuprofesional

Meningkatkan Kecerdasan Anak, Hari 6 Tantrum Pipis di Celana Lagi

Menemani ibu bekerja tak selamanya tanpa drama. Entah kenapa si mamas kalau pegang hp dan nonton youtube kok agak susah dengerin ya abis itu.

#harike6
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam
#institutibuprofesional

Meningkatkan Kecerdasan Anak, Hari 5 Terima Kasih Sudah Fokus Main Balok

Gian mendapatkan mainan balok baru yang sudah lama ditunggunya.

Mamas fokus, sedikit pelit, dan memgembalikan sesuai tempat semula.

#harike5
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam
#institutibuprofesional

Meningkatkan Kecerdasam Anak, Hari 4 Mampu Mengontrol Diri

Gian mampu menunjukkan kemampuan mengontrol diri dengan mampu ditinggal di rumah selama 1 hari.

#harike4
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam
#institutibuprofesional

Meningkatkan Kecerdasan Anak, Hari 3 Maut Itu Begitu Dekat


Baru selesai belajar make up sama rumbel sehat cantik, di perjalanan pulang, aku hampir ke serempet truk kontainer. Alhamdulillah hanya nyeri di dada bagian kiri karena kepentok kursi rotan kecil yang dibawa.

Kok bisa? Pulang naik ojol karena udah tahu akan macet parah. Terus udah ngerasa gak enak ketika si abang ojol ini lama datangnya. Ada sepuluh menit padahal status arrived. Begitu tiba di hadapan aku berpikir untuk meng-klik kaitan helm. Bayangan kecelakaan tiba-tiba melintas.

Begitu sampai di jembatan Kranji, tiba-tiba si abang ojol minggir ke kanan jalan, matanya kemasukan debu katanya. Begitu mau kembali ke jalur kiri, karena kurang hati-hati abang ojol gak cek spion, ada truk kontainer melintas dan nyerempet motor. Dada kiriku tertekan kursi rotan yang aku bawa dan abang ojol kena tangan sebelah kiri. Untungnya gak sampai jatuh hanya kena misuh si supir truk kontainer. Abang ojol minta maaf, aku masih kosong beberapa menit.

Baru ketika sampai di rumah badan sebelah kiri sakit semua dan mendadak lemas.

👩"Mamas ibu mau cerita dong."
👦"Kenapa ibu?"
👩"Ibu tadi keserempet kontainer."
👨"Astagfirullah!"
👦"Terus berdarah?"
👩"Alhamdulillah gak sampai jatuh mas."
👦"Kalau jatuh ibu berdarah?"
👩"Iya mungkin masuk rumah sakit."
👨"Alhamdulillah gak kenapa-kenapa ya. Bisa sampe rumah sekarang."
👦"Aku pernah jatuh berdarah gak masuk rumah sakit. Sini mana yang sakit. Biar aku pijitin."

Secara kecerdasan emosi, mamas bisa berempati dengan orang lain. Meskipun secara khas anak, mamas tidak luput dari peningkatan kecerdasan dengan meneliti sebab akibat dari cerita ibunya.

Sungguh hari ini proyek yang ada di kepala mendadak buyar karena masih naik turun antara percaya Tuhan sayang karena masih dilindungi dengan masih terbayang skenario terburuk dari kejadian tadi.

#harike3
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam
#institutibuprofesional

Meningkatkan Kecerdasan Anak, Hari 2 Kreasi Kumpulan Hari Gian

"Hal bodoh yang sedang aku lakukan saat ini adalah membiarkan anak-anak tumbuh dengan fitrahnya sementara aku bermalas-malasan dengan smartphone seharian."
Sebuah panggilan darurat datang dari si anak sulung, "Ibu dedek kalau ee' di celana jangan dimarahi sih! Kan dedek masih kecil. Ibu marah-marah terus sekarang."

Mendadak ponsel mengalirkan panas yang begitu menyengat, membangkitkan kesadaran, lalu membuat perhatian tercurah pada kalimat apa yang selanjutkan keluar.

👦"Kalau ibu marah-marah sama dedek nanti ditemenin setan lho. Allah juga marah."
👶"Mas, aku ee' di celana nih."
👦"Dedek, nanti kalau mau ee' ke kamar mandi sih. Kan biasanya udah pinter."

Kecerdasan spiritual yang memang secara teori aku tahu berasal dari fitrah noble attitude anak-anak. Ibu gesrek macam aku dapat anak-anak luar biasa yaitu duoG, tentu seharusnya bersyukur. Mau macam apa masa laluku, sekarang Tuhan buka jalan untukku bisa menjaga amanah dan tumbuh bersama anak-anak. Ya anak-anak justru memberikan pelajaran dan mendidikku.

Mamas GianGaraGembul (5 tahun 6 bulan) memberikan arahan dengan lemah lembut kepada adiknya DulDenGeni (2 tahun 8 bulan) untuk buang air besar di toilet sementara aku ibunya merasa terganggu karena masih asyik dengan ponsel. 

Akhir-akhir ini ketika aku berniat untuk menuntaskan inner child, ada saja teguran-teguran lemah lembut hingga teriakan yang datang dari si sulung. 

👦"Ibu kan ibu aku kenapa marah lagi, marah terus. Ayah saja gak marah."
👩😥😥

Karena tidak mau berlanjut maka aku catat di sini. Bukan anak-anak yang butuh diberi pelajaran melainkan anak-anak justru membuka jalan orangtua untuk bertumbuh.


***






Rangkaian gambar di atas adalah ide-ide mas GianGaraGembul untuk proyek hari ini. 

Kecerdasan emosi nampak dari bagaimana mamas Gian melanjutkan proyeknya untuk mengalihkan rasa bosannya saat ibu main hp melulu.

Kecerdasan intelektual terlihat saat mamas Gian berusaha menggunakan bahasa ibu dengan baik dan benar untuk berkomunikasi dengan adiknya.

Menghadapi tantangan dengan jelas digambarkan pada waktu bermain dengan lem, semua jari menjadi lengket, mamas Gian terus berusaha agar idenya tuntas dieksekusi.

Kecerdasan spiritual muncul saat mamas Gian berusaha memberikan pengertian ke ibunya kalau marah-marah pada dedek itu bisa membuat Tuhan marah. 

#harike2
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam
#institutibuprofesional

Meningkatkan Kecerdasan Anak, Hari 1 Yuk Mengenal Hari!

👦"Ibu kenapa sih semua orang pasti nanyainnya itu melulu. Sekolah, sekolah, sekolah. Aku kan sekolah di rumah sama ibu sama dedek terus sama ayah juga."
👩 "Ya kan semua orang belum tentu tahu kenapa mamas gak mau sekolah."
👦 "Kan aku bilang kalau aku bosan. Ibu gurunya juga marah-marah terus. Aku tidak suka."

Nah lho, awalnya aku juga tidak menyangka kalau semakin umur anak bertambah maka kecerdasannya juga akan meningkat. Paling tidak, aku menyadari bahwa secara emosi mamas GianGaraGembul sudah mulai mengenal emosinya dan mengungkapkannya. 

Kemudian, aku mulai memutar otak juga menuntaskan diri. Jika aku masih saja malas dan berada di dalam rasa sakit masa lalu maka aku akan menciptakan anak yang sama terlukanya sepertiku.

Oleh sebab itu, aku, meskipun berat dan tertatih; mulai berhadapan dengan anak-anak lagi. 
***
Level 3 dimulai hari ini. Semua dirangkum dalam satu family project.


Aku langsung kepikiran untuk memulai dengan memperkenalkan hari ke mamas Gian dan dedek Geni. Ya tentu saja karena mereka sudah mulai sering bertanya tentang hari.

👦"Oh sabtu sama minggu ayah libur terus ada doraemon."
👩 "Jiah ingat ayah apa kartun nih."
👶 "Ibu hari apa sih?"
👩"Sekarang kamis dek, ada Omar Hana tuh di TV."
👦👶"Yeiyyy, ayo nonton."

Rasa ingin tahu duoG memang tinggi karena memang fitrahnya begitu. Ini keterlaluannya aku saja yang lebih kurang menstimulasi dan memuaskan rasa ingin tahu mereka.

***
Ketika mamas mulai mau menulis hari-hari, dedek duduk dengan penuh perhatian menemani mamasnya.

Kegiatan: mengenal hari dengan menulis, melepas, dan menempel.

Menulis di kertas stiker
Selain koordinasi mata dan tangan, mamas juga mempelajari cara memegang pulpen agar bisa menulis dengan nyaman. Mamas berulang kali mencoba. Belajar bahwa dengan terus mengulang, mamas jadi bisa.

👦"Kemarin aku gak bisa ya bu. Sekarang belajar terus jadi pintar."
👩"Kalau mamas ulang terus lama-lama semakin mudah."

Kecerdasan menghadapi tantangan muncul saat mamas mau mengakui jika dia belum bisa. Lalu secara emosi mamas tahu kalau terus berusaha maka pujian membuat mamas semangat.

Satu per satu huruf mamas 
Huruf yang mamas tulis terkadang terlalu besar atau langsung di tengah. Aku memberikan masukan bahwa tidak masalah, saat mamas ulang mamas akan tahu besar atau kecil yang pas dengan panjang kertas.

Melepaskan stiker untuk di pasang di kertas
kuning

Awalnya aku berpikir mamas akan cepat marah saat melepas stikernya. Eh ternyata dia melepas dengan mudah. Aku perhatikan mamas tekuk alasnya baru tarik stikernya dengan mudah. 

Solusi pemecahan masalah alas stiker yang licin dengan mudah ditemukan. 

Disamakan urutannya, ternyata hari seninnya yang belum ada
Mamas menempelkan hari senin tepat di sebelah hari selasa setelah menyamakan dengan kertas hari yang sudah lengkap di atasnya.

👦"Nanti aku tahu hari jumat ayah masih kerja terus sabtu sama minggu ayah libur. Iya kan bu?"
👩 "Yoyoi."

Bersyukur di tengah gempuran ekspetasi yang naik turun dari aku, mamas Gian bertahan walaupun sudah mulai teriak kemudian marah-marah ke adiknya terus nyalahin ibunya. Ini introspeksi buat aku sih sebagai ibu harus bener-bener tuntas dengan diri sendiri dulu baru bisa total membersamai duoG.

***
Setelah selesai dengan hari-hari, dedek minta dibukain yakult terus mamas minum sedikit, dedek marah dan akhirnya gak dibagi lagi deh mamasnya.

Hahaha... Hari ini sampai di sini dulu ya. Besok akan ada lanjutan lagi hari yang ditulis mau dibikin apa.

#harike1
#tantangan10hari
#KuliahBundaSayang
#GameLevel3
#FamilyProject
#MyFamilyMyTeam
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 17 Panen Hadiah

Berenang. Besok anak-anak meminta waktu berkualitas bersama ayah ibu dengan berenang.

Hari ini mamas meminta kejelasan dengan pesan suara yang dikirimkan ke whatsapp ibu. 

Ibu hari ini kerja seharian jadi full di rumah sama ayah.

Minggu, bisa berenang sebagai hadiah bisa secara mandiri mengahadapi segala perubahan.

#harike17
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 16 Semangat sampai Selesai

Aku merangkum agar bisa terus konsisten melatih kemadirian anak.

1. Sadar kalau udah jadi ibu

Terkadang kalau lagi kebawa sebel suka lupa kalau sudah jadi ibu. Sibuk aja sama gadget. Baru nyadar lagi kalau salah satu anaknya protes atau tiba-tiba sliweran menunjukkan kemajuan.
Ih anak piyik udah sadar buang sampah
Ya iklan itulah yang mengembalikan kesadaran kalau aku adalah ibu dari Geni Alden Fadillah.

2. Ikat ilmu parenting agar berkah dan bermanfaat

Akhirnya setelah kesadaran muncul, aku mulai menemukan referensi-referensi tentang mendidik anak yang baik dan benar agar ilmu berkah tidak sekedar berujung copy paste kulwap saja dan menimbulkan tsunami info.
Sedikit dan bertahap adalah cara paling masuk akal di tengah tsunami info.

3. Ajak suami terlibat

Alhamdulillah aku yang awalnya beranggapan mendidik anak adalah tugas istri saja setelah kelas bunsay jadi paham kalau tidak masalah mengajak suami.

4. Komunikasi produktif terus dilatih hingga refleks

Seperti halnya pisau bagi seorang juru masak yang senantiasa diasah, komunikasi produktif merupakan modal awal orangtua dalam mendidik anak-anaknya.

5. Selalu akhiri dengan jurnal syukur atau pengampunan (terima kasih sudah berjuang hari ini dan maafkan diri sendiri jika kelepasan)

Tidak menggunakan buku khusus. Seringnya di notes hp sebelum tidur.


#harike16
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 15 Mandiri Berempati



Aku mulai mengenalkan dunia itu sudah berisi orang "sakit". Banyak yang selalu memaksakan apa keinginannya pada orang lain. Aku gak ingin duoG kehilangan fitrah noble attitude nya.

Akhir-akhir ini teman-teman Gian sering main ke rumah. Itu bagus artinya meskipun sekolah di rumah tetapi sosialisasi tetap jalan.

👿"Awas ya nanti kamu gak boleh main ke rumah aku lagi."
👦"Udah sih gak usah ngomong begitu."

Mamas Gian memang aku didik keras tetapi sosok ayah yang menyeimbangkan semua. Pelan tapi pasti suamiku memberikan masukan bahwa ketika anak sudah paham siapa dirinya maka dia akan dengan mudah mandiri dan berempati. Di samping memang secara didikan kami berdua, duoG harus bisa menghadapi segala perubahan. Baik itu lingkungan baik atau buruk.

👦"Ibu, Peto itu ibunya sering pergi sampe malem jadi dia sendirian. Kasihan kan. Makanya dia sukanya marah-marah. Dia itu sedih sebenarnya."
👦"Ibu, Chimey berubah pikiran lagi. Udah minta maaf tapi terus jahat lagi. Suruh Ipo injak mainan pesawat dedek sampai patah."

Ya noble attitude mereka hilang. Digerus oleh kepentingan-kepentingan orangtua kemudian mengubah malaikat-malaikat kecil menjadi setan-setan yang langsung menyerang saat keinginan mereka tidak terwujud.

👩"Apa salah dedek Chimey suruh Ipo injak mainan dedek?"
👦"Gak tahu mungkin lagi ditemenin setan pas main. Terus jadi jahat lagi."

Aku memang membiarkan mamas atau dedek bebas mengungkapkan apa yang mereka rasa. Biar tidak ada rasa mengganjal di dada mereka.

Mandiri berempati ini aku tuliskan agar saat anak-anakku sudah bisa baca, mereka akan tahu kalau berempati itu bukan karena lemah justru mereka kuat bisa bertahan untuk terus memahami diri mereka sendiri. Didampingi atau sendiri, duoG tahu jalan mana yang harus mereka tempuh.

👦"Ibu, emang Allah itu ada?"
👩"Siapa yang kasih mamas napas?"
👦"Allah."
👩"Allah gak akan pernah tinggalin mamas sendiri. Gak kaya ibu atau teman-teman mamas."
👦"Ya udah aku akan berdoa sama Allah agar teman-temanku terus jadi anak baik. Biar aku punya teman-teman yang baik."

Aku malah jadi belajar bahwa anak-anak murni tidak memelihara rasa sakit hati. Yang sudah ya sudah. Terima kasih ya Tuhan, Engkau percayakan amanah menjadi ibu duoG.

Ya Tuhan, fitrah ini semoga Engkau kuatkan hamba untuk menjaga. Ampuni hamba yang selalu memelihara dendam padahal hamba tahu itu menganiaya diri hamba sendiri.

#harike15
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 14 Iya Aku Kuat


👦"Ibu, aku tadi main terus Koko gak sengaja kenain sepedanya ke badan aku tapi aku gak sakit bu. Aku kuat. Aku berlatih terus."
👩"Alhamdulillah ya nak. Memang bagaimana cara mamas berlatih?"
👦"Naik turun di jendela sama loncat dari kursi."
👶"Sama main poing-poing ya mas."
*loncat-loncat di kasur maksudnya

Menceritakan dengan penuh percaya diri kemudian tidak lagi datang mengadu ke aku sembari menangis.

👦"Kamu gak pulang ke rumah? Udah mau magrib lho nanti ibu sama kakak kamu nyariin. Kamu dikira hilang."
💃"Oke aku pulang dulu ya."

Paham waktu main sampai jam berapa dan tidak perlu diingatkan sudah membereskan mainan dan juga meminta dengan baik ke dedek Geni untuk membantu. Dedek Geni juga dengan sukarela membantu.

👩"Kalau mamas minta baik-baik, dedek bagaimana?"
👶"Ini bantu mamas masukkin."

Kuat secara emosi artinya memahami apa yang ada di dalam diri agar tidak salah merespon dunia luar.

Ya mungkin aku sebagai emaknya kadang berlebihan berpikir anakku akan dimanfaatkan tetapi kekurangan demi kekurangan juga kesakitan demi kesakitan justru membuat kemandirian terbentuk secara alami karena anak-anak sadar bagian mana yang mereka mampu atau sisi mana yang butuh bantuan.

👦"Ibu, aku masukkin baju ayah sama ibu yang udah disetrika sama bu Ani. Punya aku udah aku masukkin yang nyaman. Punya dedek juga. Ini sekarang punya ayah sama ibu."
👩"Terima kasih mamas Gian sudah membantu ibu memasukkan baju ke lemari."

Pujian dan pelukan hangat sudah cukup membuat mamas Gian menuntaskan bantuannya.

#harike14
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 13 Jangan Abaikan Emosiku


Pagi-pagi panik karena dedek Geni panas. Bagaimana tidak panik, Geni kalau sudah panas agak susah untuk turun.
👶"Ibu, aku mau susu coklat."
👩"Ayo kita bikin!"
👶"Gak mau, maunya beli. Pergi. Naik motor."
👩"Oke, bangun dulu adek."
👦"Mamas tunggu di rumah aja ya bu. Masih mau nonton kartun."
Alhamdulillah masih ada selera makan atau minum berarti baru gejala pilek. Langsung siap-siap sekalian belanja sayur biar gak merambat jadi radang tenggorokan.

Merasa bersalah saat melihat dedek Geni minum susu dengan tangan dan bibir bergetar seperti saat dia dalam keadaan sangat lapar. Langsung habis 2 botol ukuran 250ml.
👦"Kan dedek kemarin makan sedikit bu."
👶"Bu dedek laper, mau makan."
👩"Iya ibu masak dulu ya."
👦"Mamas bantu ya bu."
👩"Ya potong sosis. Jangan terlalu kecil nanti cepat gosong."
👦"Waktu aku main game di hp ayah gak papa dipotong dua begini bu."
👩"Iya nanti gosong mamas yang makan mau?"
👦"Gak mau."

Rekor masak tercepat, hanya 15 menit. Rebus jagung manis, sayur bayam+wortel+oyong, dan goreng sosis.

Sambil sarapan sambil nonton kartun. Awalnya dedek Geni hanya mau makan sosisnya saja. Habis satu mangkok kecil, makan sendiri, dengan bahagia. Begitu minta lagi ibu kasih sosis sedikit dan banyak sayur, ngamuk gak mau makan. Aku biarin. Begitu melihat mamasnya makan nasi plus sayur plus sosis, barulah dia mendekat dan minta disuapin.

👩"Dedek kenapa tadi nangis?"
👶"Mau sosis aja."
👦"Sayur kan sehat. Nih aku juga makan sayur biar kuat."
👶"Ibu aku juga mau sayur."
👩"Iya. Gak papa dedek nangis tapi ibu diemin dulu. Kalau udah bisa diajak ngobrol lagi baru ibu mau ngomong sama dedek."

Sore hari setelah selesai main, mamas Gian lapar dan minta dimasakkin nasi goreng.
👦"Nasi goreng ibu kan enak ada bawangnya. Aku yang bantuin kocok telur ya bu."
Aku belum menjawab karena sibuk menyiapkan bahan-bahan. Ketika mengambil nasi, mamas Gian berusaha membuka cangkang telur sendiri dan tumpah kemana-mana.
👩"Kamu ngapain sih mas? Kenapa gak nunggu ibu dulu. Ayo beresin yang tumpah."
👦"Itu lengket ibu."
👩"Ya makanya harus dibersihin biar gak tambah banyak lengketnya."

Pertama mamas mengambil lap kemudian tisu basah untuk membereskan sisa telur. Kuning telur dan sedikit yang tersisa di mangkuk, mamas kocok dan tambah garam sedikit.

👩"Maaf ya mas tadi ibu teriak sama mamas."
👦"Iya aku maafin bu. Kan aku juga tadi gak tunggu ibu makanya tumpah. Maafin aku juga ya bu."

Dalam kemandirian terdapat emosi-emosi yang perlu diolah sehingga anak-anak paham akan dirinya dan porsinya. Setelah paham maka aku berharap duoG jauh lebih mudah untuk konsisten dengan mempraktikkan skill yang sudah dimiliki. Tidak lagi maju mundur karena pengaruh emosi.

#harike13
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 12 Jadikan Tuntas sebagai Kunci

Saling bahu membahu ya nak, kalian pasti bisa


Mandiri erat hubungannya dengan ketuntasan. Ibu ingin duoG pada akhirnya menghargai proses sebagai sarana mengembangkan diri. Hasil akhir atau skill yang diperoleh adalah hal wajar setelah semua jatuh bangun yang dialami.

#harike12
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 11 Teman yang Tidak Tahu Diri


👦"Ibu, Chimey ngajak aku main tapi malah masukin sepeda aku ke got. Katanya aku jahat."
👩"Emang mamas ngapain?"
👦"Aku cuma main sepedaan terus main pedang."

Aku berusaha setenang mungkin saat keluar. Aku memasukkan kemajuan yang sudah mamas Gian peroleh hari ini yaitu bisa main tanpa harus terus diawasi oleh ibunya. Jadi aku tidak boleh merusak kebahagiaan mamas yang mendapatkan hadiah main di luar karena sudah tidur siang.

Saat mengambil sepeda mas Gian yang masuk got, teman-temannya sudah tidak ada. Aku hanya marah-marah dalam hati. Kami berjalan beriringan menuju kran depan untuk mencuci sepeda.

👦"Chimey udah baik tapi kok sekarang jahat lagi sih ibu. Aku kan gak pukul atau marah."
👩"Nak, di dunia ini banyak sekali orang yang belum kenal atau tahu dirinya sendiri. Jadinya suka seenaknya sendiri."
👦"Oh jadi aku harus tahu diriku biar gak jahat."
👩"Pintar mamas. Mamas sudah bisa main sendiri tanpa dilihatin ibu. Ibu bisa bantu dedek cebok. Artinya mamas sudah tahu diri mamas."
👦"Emang gak papa aku bilang ke ibu kalau Chimey jahat."
👩"Iya gak papa. Besok kalau main sama Chimey lagi tanya kenapa sepeda mamas dimasukkan got. Kalau mamas gak salah ya gak usah takut."
👦"Aku main sama Habibi saja lah yang gak nakal. Chimey jahat sama aku."

Mas Gian terus menerus belajar tidak papa tidak punya teman jika mereka tidak tahu diri. Mengajak main tetapi semaunya sendiri. Ya awalnya mamas sering pulang dengan tangisan. Namun ketika dia paham bagaimana berkomunikasi dengan teman yang tidak tahu diri dan tahu posisi dirinya sendiri maka bermain secara mandiri tentu lebih menyenangkan.

#harike11
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 10 Membuktikan Kemandirian

Hari ini mamas Gian berhasil mandi, cebok, dan pakai baju sendiri.

Kemudian menyiapkan makanan, makan, juga membereskan semua setelah selesai.

Catatan buat ibu adalah bagaimana tuntutan kemandirian sejalan dengan pemenuhan perhatian.

Emosi anak-anak baik itu mamas atau dedek haruslah terpenuhi karena bila mereka merasa diabaikan maka mulai ada percikan-percikan api kemarahan untuk memperoleh perhatian.

👶"Mas aku pipis nih."
👩"Kok di lantai dek. Biasanya udah pintar bilang terus ke kamar mandi."
👦"Ibu lihat hp terus sih. Aku panggilin gak denger. Dedek keburu pipis di celana deh."

Membuktikan kemandirian anak itu mudah karena pada dasarnya anak punya fitrah yang jadi perbekalan mereka selama diamanahkan ke orangtua. Tinggal pilihan orangtua mau memaksimalkan atau justru menonaktifkan fitrah tersebut.

Ya lagi-lagi evaluasi buat ibu agar bisa menjadi orangtua yang baik dan benar.

Membuktikan kemandirian dengan mau menunggu

Pada akhirnya memang orangtua belajar banyak dari anak. Bagaimana anak belajar dengan cepat untuk memahami diri hanya dalam hitungan hari.
Jadi mak, sebenarnya siapa yang harus banyak belajar? Iya aku. Aku yang harus banyak belajar. 🙈

#harike10
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 9 Ibu Aku Kangen Ayah


Dulu, aku sangat suka sendiri. Membaca dan memikirkan serta memimpikan banyak hal. Apakah ada hubungannya kesendirian dengan kemandirian? Apakah mandiri itu selalu sendiri? Ternyata setelah dewasa, aku merasa mandiri dan sendiri itu berbeda. Mandiri lebih ke rasa yakin akan kemampuan diri, mau mencoba, dan tidak masalah mendelegasikan tugas ke orang lain. Kemudian sendiri lebih pada suasana yang mungkin cocok bagi sebagian orang.

***

👦 "Kalau aku di daycare, aku mikirin ibu. Aku takut ibu kena gempa atau diculik. Aku nanti gak punya ayah atau ibu lagi."

Pembicaraan ini muncul ketika ibu menanyakan apakah mamas takut ketika ayah harus dinas luar kota dan hanya ada ibu juga dedek di rumah. Mamas bilang dia tidak tidak takut karena ada ibu.

Topik berat bagi anak lima tahun mungkin. Namun semakin dini anak-anak paham apa itu sendiri, siapa yang harus dia andalkan, juga bagaimana menghadapi semua rasa tidak enak; aku rasa anak-anak perlu diperkenalkan dengan topik-topik berat semacam ketakutan akan kesendirian.

Rasa takut akan kesendirian, tiba-tiba aku menyadari bahwa berada dekat dengan anak-anak belum tentu memiliki jiwa yang utuh untuk mereka. Ya disambi pegang hp, lihat laptop, dan juga menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga.

Semacam kedekatan semu yang ternyata membuat anak-anak sudah kesepian walaupun ibu atau ayahnya ada.

Kemandirian akan terbentuk saat anak-anak siap. Ibu membuktikan sendiri. Hanya perlu pijakan-pijakan kecil kemudian konsisten selama 5 hari maka kemandirian akan terbentuk jika anak-anak memang siap. Kasih sayang tulus dan kehadiran yang utuh juga penuh lah yang utama.

"Kenalkan Tuhan maka semua jalan akan terasa lebih tenang."

Ketika anak-anak mengungkapkan apa yang mereka rasakan, aku merasa harus mengevaluasi diri sendiri. Sikap masa bodoh harus ditempatkan di posisi pertama agar pikiran fokus pada yang benar-benar penting. Tidak seperti benang kusut yang tak ketahuan juntrungannya.

👶"Mas, aku pipis nih."
👦"Ibu, dedek pipis di celana nih."
👶"Ibu marah dedek pipis disitu."
👦"Makanya pipis di kamar mandi sih dek."
👶"Iya cebok aja."

Mamas takut kalau pisah agak lama dari ayah atau ibu. Dedek takut saat ibu marah dan berubah.

"TUNTASKAN YANG DI DALAM MAKA KAMU AKAN KELUAR DENGAN KEPALA TEGAK."

Kemandirian anak-anak benar-benar murni kesiapan orangtua untuk ikhlas akan jalan yang akan ditempuh anak tanpa ditemani. Bila orangtua ikhlas maka anak-anak akan percaya dan yakin akan dirinya.

#harike8
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional