Sadari Napas dan Lepaskan

Status gak jelas, kadang baru bisa dipahami hari berikutnya.
"Masalah muncul bertubi-tubi. Tidak bisakah aku menarik napas sejenak lalu melepaskan?"

Pada saat masalah muncul, apa reaksi paling awal yang menyertai?

Marah.
Bingung.
Menyangkal.
Mengabarkan ke seluruh dunia jika aku adalah manusia yang paling wajib ditolong dan mendapatkan semua perhatian.

Lantas apakah masalah selesai?

TIDAK.

Semakin berlarut-larut dan membuat pusing bertambah parah.

Memang benar untuk meluapkan semua perasaan yang ada hingga yang tersisa adalah menyadari keberadaan dan juga memunculkan jalan keluar.

Ketika membaca tulisan-tulisanku yang terdahulu, aku menyadari bahwa kedewasaan akhirnya menjadi pilihan.

Bertemu dengan masalah, aku terima, ini memang baik adanya.

Menemukan solusi, aku terima, ini memang baik adanya.

Melepaskan setiap kesempurnaan yang ingin aku genggam laksana pasir.

Melepaskan keinginan untuk menjadi pusat perhatian karena aku tak ingin lagi tersesat dalam kesesakkan.

Sadari napas, sadari diri, sadari saat ini.

Detik ini apapun yang sedang aku rasakan pastilah baik untukku.

Lemah lembut pada diri sendiri.

Sadari napas, sadari diri, sadari saat ini.

3 Tips saat Jari Anak Terjepit


"Ibu, au upa-upa," pinta dedek berdiri di dekat pintu dengan muka tak sabaran. Mau segera dibuka.
"Oh oke Geni mau Zupa soup."
Begitu pintu terbuka, Geni langsung lari menuju gerbang dan dengan cepat menarik pagar besi hingga terbuka.
Sayang si penjual sudah menghilang dari pandangan. 
Emak memandang penuh pengertian ke wajah memelas Geni.
"Besok kan ada lagi. Yuk masuk, tutup lagi ya."
Emak membatin, "Gak usah diingetin lah.Biasanya juga dia tahu."

Teriakan melengking diikuti sodoran jempol, membuat emak menyesal. Jempol Geni terjepit di sela-sela dan pagar tak jadi dirapatkan. Geni lupa menggeser jempolnya dan baaam. Pagar besi beradu dengan jempolnya.

Ada sedikit pendarahan di kutikula dan area bawah kuku yang langsung menghitam.

Waktu pas kejadian onengnya si emak gak ada tindak lanjut. Mentang-mentang anaknya gak nangis ditambah bingung juga mau diapain tuh luka.

Sehari setelah kejadian, Geni mulai rewel dan demam pas malam. Lha si emak baru deh kelimpungan cari referensi ini itu.

"Mengobati jempol terjepit dan berubah jadi cantengan. Bawang putih."

Modal cari solusi di youtube, emak memutuskan untuk menggunakan bawang putih. Bawang putih dikupas lalu dipotong dan getahnya dioles ke kuku dan kulit sekitar jempol. 
Panas, iya. Pastikan anak dalam posisi tidur jadi tidak kena mata atau mulut. Tipis-tipis saja.

Pastikan bagian yang terluka sudah dibersihkan dan steril ya.
1. Pastikan luka bersih

Nah tips yang pertama adalah setelah terjepit pastikan bagian yang terluka bersih. Kalau kasus Geni, darah hanya sedikit dan kuku langsung mati. Begitu bawang dioleskan ke kuku dan jempol yang belum steril ternyata menimbulkan infeksi dan kuku bernanah.

Bagian bawah kuku yang bernanah ternyata membuat suhu badan Geni meningkat dan sumeng (pilek, rewel, susah tidur).

2. Pastikan anak tenang saat obat diaplikasikan

Emak mulai cari-cari lagi, nemu rivanol.
"Bersihin aja bu pake rivanol. Ke dokter juga sama kok. Nanti malah operasi kecil terus diangkat kukunya."

Tambah panik dong ya si emak. Ya sementara menunggu pakai kompresan rivanol dulu deh.

Pastikan kapan terendam dengan cairan rivanol dan ikat dengan kain kasa

Umur Geni yang baru menginjak dua tahun membuat proses perendaman sedikit lebih rumit. Harus ada diskusi dan sogokan-sogokan mainan atau makanan kesukaan demi mau dikompres rivanol. 

Terus tips kedua adalah pastikan anak-anak yang masih aktif, dalam keadaan tenang atau mungkin tidur agar cairan bisa diaplikasikan dengan baik.

Saat infeksi sudah sembuh maka kuku dekat kutikula akan berwarna putih susu

Rivanol selain mensterilkan juga mampu meredakan infeksi. Nanah menghilang dan kuku perlahan mulai lepas.

3. Temukan obat yang sesuai dan tuntaskan hingga kuku lepas

Setelah infeksi mereda fokus emak berpindah ke pelepasan kuku mati. Ya pasti ogahlah ya kalau harus operasi pengangkatan kuku.

Nemu di IG elsashop. Ini gak endorse ya. Emak beli Rp50.000 dan ongkirnya Rp34.000 karena pake kurir sendiri cepet. Emak berbagi aja.

Obatnya bernama Super Green JK-7 murni racikan herbal. Baunya seperti asap bakaran batu bata. Enak, emak suka.


Setelah pemakaian Super Green JK-7 ini, kuku jempol Geni sedikit-sedikit terangkat dari dagingnya.

Ngeri sih tapi barus kuat demi Geni sembuh

Bersyukur setelah seminggu pemakaian kuku lepas dengan sendirinya tanpa harus operasi.


Ngeri-ngeri sedap memang kalau anak terjepit seperti ini. Emak harus memastikan obat yang digunakan aman jika tertelan karena posisi luka di tangan lalu harus telaten karena Geni sedang aktif dan punya rasa ingin tahu yang tinggi.

Minggu yang W.O.W tetapi sebanding juga dengan hasil yang diterima. Tinggal rajin membersihkan jempol dan menunggu kuku baru yang akan tumbuh. Semangat ya Geni 💪.

13 Status Whatsapp tentang Pernikahan

Awalnya aku hanya iseng bikin status tentang pernikahan di Whatsapp. Eh kok banyak yang suka. 😍 Jadilah aku masukkan ke blog biar yang ketinggalan bisa baca lagi dan yang hapenya lemot bisa hapus screenshot status aku.

Sungguh aku berterima kasih pada kalian pembaca blog Emak Sensi yang terus memberikan motivasi agar aku terus menulis. Meskipun terkadang terasa receh, aku senang jika kalian merasa apa yang aku tulis bermanfaat.

13.
Ketika niat dipertanyakan, apakah aku harus marah?
Sudjiwo Tejo bilang, kalau seseorang mulai merasa berkorban maka itu tanda cintanya telah habis. Nah loh. Kalau aku hanya menyimpulkan bahwa si mpok ini lelah. Lelah terhadap ekspektasi yang terlalu tinggi dia terbangkan. 
Siapa sih yang tidak lelah seharian menyelesaikan pekerjaan rumah yang sampai minggu depan juga gak ada habisnya? Terus yang kerja di ranah publik, balik ke rumah setelah bergelut dengan macet, pastilah ada rasa ingin merebahkan tubuh meski sejenak. Namun ketika kita mulai punya prioritas dan juga niat yang tulus untuk memberikan yang terbaik maka dengan sendirinya ada energi tambahan. Fokus ke prioritas dan mendelegasikan hal-hal yang kurang bisa kita kerjakan dengan maksimal.
Tidak perlu memaksa untuk jadi sempurna. Hanya perlu bisa berguna.

12.
Ya sekolah tak melulu berkaitan dengan hal yang resmi
Selama kita hidup kita bisa sekolah di mana saja. Tidak terbatas di gedung atau harus punya guru. Sekolah bisa saja belajar memahami apa yang terjadi pada diri sendiri dan belajar untuk mendapatkan solusi.
Suami mungkin orang yang belum sadar dengan keberadaan keluarganya sehingga mengambil jalan belakang saat menginginkan kebahagiaan. Dengan jiwa besar istri menerima kekurangan itu dan meminta bantuan profesional untuk menyehatkan kembali pernikahannya.
Terus menerus belajar untuk menjadi suami dan istri yang saling mengerti dan memahami satu sama lain.

11.
Masuk tahun ke enam, pernikahan mulai tampak masuk akal buatku
Memang tidak semua orang melihat pernikahan sebagai sesuatu yang layak untuk dimasukkan dalam daftar impian. Dulu aku tidak berniat untuk menikah. Pernikahan itu seperti silent killer bagiku.

10.
Yups, marriage is a travel movie with unpredictable ending
Calon pacar yang menerima semua masa lalu aku dan ikhlas ketika aku masih berkubang dengan masa lalu dia.

9.
Tidak pernah terburu-buru, calon pacar memberikan waktu
Dia memang manusia biasa, ada banyak waktu dimana dia hanya diam dan membiarkan aku bergulat sendirian. Bukan karena dia tidak peduli tetapi karena juga menunggu waktu yang tepat untuk masuk dan menarikku keluar dari ruang pengasingan yang aku buat sendiri. 
Terus dan terus  berusaha menemukan kembali siapa diriku.

8.
Mewek dikit lah kalau ingat ini
Betapa banyak waktu yang terbuang padahal jika aku lebih cepat tanggap hubungan kami tentu akan jauh lebih baik.
"Setelah melahirkan kamu berubah menjadi sosok dingin yang tidak aku kenal. Menghindar."

7.
Pertanyaan bodoh tetapi sering aku tanyakan
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa sikapnya yang sabar dan mau menunggu itulah aku bisa melihat semua lebih jernih.
Belum lagi pertanyaan-pertanyaan bodoh yang sering tidak sopan aku utarakan. 
"Kalau aku berpikir salah pilih, kamu juga pasti lebih dulu ninggalin aku. Aku sering merasa kamu gak bahagia ada di sisiku."
Aku punya banyak kekurangan, dia juga merasa begitu. Lalu daripada sama-sama galau mikirin kekurangan dan salah pilih, lebih baik kami fokus pada perbaikan.

6.
Sungguh, sadarlah dengan siapa kamu menikah
Jangan seperti membeli kucing dalam karung dan ketika sampai rumah baru sadar kalau itu anak kucing. Serba salah kan ya.

5.
Harus punya tekad kuat untuk selalu sadar diri

"Enak ya mba punya suami yang bisa diajak komunikasi."
"Ah istri kamu gak baperan ya. Seneng deh lihatnya." 

Ya harus mau menjalani proses. Jatuh bangun membangun . Mulai dari dicuekin, kadang di-php-in, dan berjuang mendapatkan telinga serta hati yang terbuka.
Menikah perlu kesadaran bukan hanya memuaskan rasa ingin memiliki. Tidak ada jaminan setelah menikah semua menjadi lebih baik. Apabila kita sadar menikah dengan orang yang cemburuan maka sikap menerima dan tidak lelah memberikan penjelasan adalah pilihan yang masuk akal.

4.
Tidak ada satu orang kecuali Tuhan berkehendak
Bisakah manusia mengubah manusia lain? 
Tidak kecuali dia dalam keadaan tidak sadar. 
Tidak kecuali itu adalah cara Tuhan menyadarkan.

Terlalu takut akan ditinggalkan sehingga tanpa sadar melakukan apa saja yang diinginkan pasangan. Ya semacam cinta buta. Buta mengkambing hitamkan cinta bukan logika, hati, pikiran yang sinkron.

"Tiba-tiba semua asetku sudah berpindah atas nama dia. Terus dia juga memenangkan hak asuh atas anak-anak kami."
"Dia bilang aku adalah istri yang tidak bisa melayani. Padahal waktu pacaran dia sudah tahu dan tak masalah kalau aku tidak bisa masak."

3.
Laksana pungguk merindukan bulan
"Nanti kalau sudah menikah pasti dia tidak akan memukulku lagi."

Dan tragedi pun terjadi. Istri gantung diri setelah menembak mati suaminya.

Ya pernikahan memang bukan belanga ajaib.  Pernikahan bisa jadi rumah yang hangat atau kosongnya tergantung pada para penghuninya. Pernikahan bisa jadi neraka jika yang terikat membuat hubungan seperti ajang pembalasan dendam.

2.
Bersama berproses
Menikah kan berjuang bersama mewujudkan keluarga bahagia, sehat, utuh. Menurutku ilmu lah yang menjaga kesadaran dan kewarasan tetap pada tempatnya. 


1.

Berharap pernikahan tanpa hambatan seperti tol lalu mendapati macet, ketiban tiang listrik, dan terjebak di dalam mobil.
Ujian memang akan selalu ada. Tugas kita adalah selalu belajar dan bertumbuh. Maka saat ujian tiba, kita bisa mendapatkan solusi bukan hanya menyesali diri.

Bonus
Ikhlas membuatku tidak merasa berkorban melainkan jalan untuk berproses
Pernikahan memang sebaiknya direncanakan seperti perjalanan. Ilmu apa yang harus dipelajari ketika tahun pertama, lalu proses apa yang harus dijalani pada tahun ketiga, hingga hubungan seperti apa yang akan menjadi tujuan saat merayakan ulang tahun pernikahan perak.

Semoga kita semua punya cukup bekal pengetahuan pemahaman, dan juga keikhlasan hingga maut yang memutuskan tali pernikahan lalu menyambung lagi di surga nanti. Aamiin... 💑💑💑

Anakku Guruku, Buku Penggugah Kalbu



Judul        : Anakku Guruku, Kisah Inspirasional Para Orang Tua Tabah Mengasuh Anak-Anak Penyandang Kondisi Langka

Penulis     : dr. Benatha Hardani, Yani Dewi Mulyaningsih, Yulis Setia Tri Wahyuni, Ratih Rachmadona, Amalia Mustika Sari, Resty Utari, Siti Saripah,
Chatra Utami Fauzia Rista

Penerbit   : Zaman

Halaman  : 305

Tahun      : 2017

Perjuangan Harsya
Saat itu dia berkata, "Ben, there must be something wrong with your life. Hidup kamu terlalu happy, kayak gak ada kurangnya. Hati-hati aja, sih Ben, yang namanya roda berputar. Kalau sekarang hidup kamu lagi di atas, someday kamu bakal berada di posisi bawah." (halaman 3)
Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Marilah kita keluar dari zona nyaman, meloncati batas, lalu mengalahkan apa yang menurut kita tidak mungkin, lakukan semua demi anak spesialmu. Belajarlah lebih giat, bacalah lebih banyak, carilah ilmu lebih luas, bertanyalah ke berbagai tempat. Jangan takut. Jangan menyerah. Sejatinya, tidak ada perjuangan dan pengorbanan yang sia-sia. (halaman 47)

Pelajaran Iftiyah
 Anakku, andai saja Mama tak pernah menyaksikan semua ini. Andai engkau tak pernah menjalani kesakitan ini. Mungkin hati Mama tak sepedih ini. Tapi tidak, Nak. Inilah hidup. Sebuah drama seri yang akhirnya akan tamat. Naskahnya telah lebih dulu diketik Sang Pemilik Hidup. Kita hanya pemeran, entah itu protagonis atau antagonis. Honornya akan kita dapat di akhirat kelak. Maka, bersabarlah, Nak. Mama pun akan berusaha tabah. Relakan, ya Nak. Mama juga akan berupaya ikhlas dan berjuang lebih keras. (halaman 75)

Pelajaran Faiq
Saya tidak pernah bermaksud menjauhi saudara, tetangga, bahkan teman-teman. Namun begitu, saya tidak mungkin membawa serta Faiq yang tidak menyukai keramaian dan orang asing. Saya juga tidak mungkin membawa Faiq ketika anak teman saya nyaris dijambak atau dipeluk sekuat tenaga. Saya juga tidak mungkin membiarkannya menerima makanan-makanan yang diberikan kepadanya, sedangkan ia harus diet ketat. Saya menarik diri. Saya lantas berpikir apa yang sebaiknya harus saya lakukan. Dan, akhirnya saya bertekad memperbaiki perilaku sosial Faiq, membantunya agar bisa berkomunikasi verbal. Ya, saya harus membangunkan dia dari dunianya. (halaman 101)
 
Pelajaran Savira
Di usia anak kami yang baru 4 hari, saya ingat sekali momen ini. Inilah pertama kalinya saya menangis sejadi-jadinya ketika hanya berdua dengan Safira di rumah. Bukan kondisinya yang saya tangisi. Bukan juga karena saya tidak terima keadaanya. Tapi, lebih pada rasa takjub dan rasa syukur saya atas kebesaran Allah. Dengan kuasa-Nya, Safira masih bertahan hingga lahir di dunia ini. Berkali-kali saya ucapkan terima kasih kepada bayi ini, juga meminta maaf jika mungkin selama di kandungan ada kelalaian yang sudah saya perbuat, baik sengaja maupun tidak. (halaman 136-137)

Pelajaran Aisha
Bagi saya, sumber kepercayaan diri saya salah satunya disumbangkan dengan mengenal kelainan jantung Aisha secara lebih detail. Dengan mengenal kelainan ini, berarti saya memahami bagaimana kedaruratannya, apa treatment-nya, sehingga saya tidak dihantui kepanikan yang tidak perlu. (halaman 188)

 Pelajaran Taufan
Pada saat buah hati kita terdiagnosis penyakit kanker, satu hal yang perlu kita ingat, keluarlah dari kata "mengapa", beri waktu untuk menenangkan diri sepanjang yang diperlukan. Namun, tentunya tidak berlarut-larut. Bijak pada diri sendiri dengan menargetkan sekitar tiga bulan untuk berusaha damai dengan keadaan. Dalam rentang waktu itu, tetaplah mengganti informasi, lebih mendekatkan diri kepada Allah, menjalin komunikasi yang sehat dengan keluarga, meyakini bahwa Allah tidak akan menguji di luar kemampuan hamba-Nya, juga memercayai ada hikmah dibalik setiap peristiwa hidup yang kita alami. (halaman 236-237)

Pelajaran Felice
Jangan menganggap anak-anak dengan kondisi istimewa sebagai anak-anak yang tidak dapat berkembang, tidak dapat bahagia, tidak dapat berdaya. Kitalah yang harus mengubah cara pandang kita. Kitalah yang harus memperluas perbendaharaan cara berpikir kita. Justru anak-anak ini akan membuat jiwa kita semakin kaya. Kaya dengan empati, kaya dengan rasa syukur. (halaman 262)

Pelajaran Ghaidan
Ghaidan adalah sebuah petunjuk bagi saya. Dia menunjukkan kepada saya bagaimana cara menjadi orangtua yang spesial, kuat, tegar, dan dapat melihat dunia secara lebih luas. Menerima segala kelebihan dan kekurangan pada diri saya, juga dirinya dengan jiwa besar, serta menjadikan kelebihan maupun kekurangan tersebut sebagai mesin pompa semangat saya dalam menjalani hidup ini. (halaman 296)

Buku ini adalah yang terberat sepanjang perjalanan membacaku. Tentu saja karena aku serasa dilempar kembali ke masa Gian Segara Abhipraya divonis harus operasi di umurnya yang baru masuk enam bulan. GianGaraGembul memang terkena BCGitis karena kesalahan posisi saat imunisasi BCG. Bakteri yang masuk ternyata mengaktifkan kelenjar getah bening yang ada di ketiaknya dan menimbulkan benjolan. Saat itu aku ingat sering menangis di tengah malam dan mencium GianGaraGembul. Berharap sakitnya berpindah ke aku.

Kisah lengkapnya klik saja Jangan Bilang Kasihan karena Menyakitkan!

Setelah selesai, aku jadi mengerti kenapa buku ini diberikan padaku. Tentu untuk mengembalikan kesadaran bahwa anak itu anugerah bagaimana pun keadaannya. Tidak lagi hanya berusaha sabar dan pengertian ketika anak sakit tetapi terus menerus berlatih untuk menerima anak apa adanya. Kelebihan juga kekurangan. Ya seperti GianGaraGembul menerima aku apa adanya.

Ya kadang aku lupa kalau punya anak luar biasa. Beratnya memang kurang kalau dibanding anak seumuran, apalagi tinggi badan. Namun secara kognitif, GianGaraGembul berkembang lebih cepat dibanding anak seumuran.

Pasti banyak hal yang membuat anak ini berharga. Dalam sakitnya saja dia luar biasa apalagi dia sehat. Hanya perlu mengubah sudut pandang aku, bahwa bahagia bukan karena anak lebih dari anak lain melainkan keberadaan dia dengan segala dinamikanya adalah harta karun. Tidak bisa dibandingkan dengan apapun di dunia ini.

Terus bersyukur dengan setiap perubahan yang ada. Berbahagia dan sadar bahwa proses bersama anak inilah yang nantinya akan juga mendewasakan aku, tidak hanya sebagai ibu tetapi juga sebagai pribadi. Tidak perlu terburu-buru, cukup fokus dan menyerahkan semua hasilnya pada Sang Pemilik Hidup.

Terima kasih kepada ibu-ibu hebat dalam buku ini yang berbagi pengalaman luar biasa. Semoga lebih banyak ibu-ibu yang membaca dan mengambil hikmah.

Bagi yang penasaran buku ini bisa cari di:
www.penerbitzaman.com
IG @penerbitzaman

5 Langkah Tetap Bahagia Punya Banyak Grup WA

Siapa sih yang mau harinya menjadi semakin berat untuk dijalani? Namun berdasarkan penelitian pribadi, mengamati diri sendiri dan beberapa orang terdekat, aplikasi pesan bernama Whatsapp(WA) justru membuat hari-hari semakin melelahkan.

Kok bisa begitu? Ya karena dunia ada dalam genggaman, apa yang kita inginkan tersaji dengan cepat. Aplikasi yang tercipta guna menambah kecepatan itulah yang terkadang membuat kita terlena. Kita tergoda untuk  mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Pikiran bercabang, otak dipaksa fokus ke beberapa hal sekaligus. Belum masak selesai, eh sudah lihat grup arisan, terus lompat ke grup menulis. Baru baca sekilas, notifikasi grup RT ramai. Mau gak mau pindah fokus lagi.

Aplikasi diciptakan untuk memberikan kemudahan bukan menambah kelelahan. Whatsapp, aplikasi pesan yang sangat booming karena fitur-fitur yang memperlancar komunikasi malah membuat hari semakin berat dijalani.

"Eh punya whasapp kan?"
"Ya udah bikin grup WA aja."
"Ampun deh, masa grup WA lagi."
"Iya hp aku eror nih kebanyakan grup."

Tidak ada salahnya memiliki banyak grup, berbagi macam-macam informasi, atau mempererat tali silaturahmi. Asalkan kita juga berkembang atau upgrade. Tidak hanya aplikasi saja yang perlu perbaikan, kita juga butuh teknik agar tidak menjadi budak aplikasi itu sendiri. Tetap bisa seimbang antara dunia nyata dengan dunia maya.

Terus bagaimana caranya kita menjaga fokus dan tetap menjalani hari dengan bahagia? Di sini aku coba tulis lima langkah ala Emak Sensi ya. Semoga bermanfaat!

1. Baca dengan teliti

Beberapa grup WA yang aku ikuti, kompak memberikan edukasi: PAHAMI SEBELUM BERTANYA!

Dari sanalah aku belajar bahwa, sering bikin sewot orang karena ketidaksabaranku dalam menyelesaikan satu instruksi sederhana. Misal, sudah ditulis kalau artikel yang harus dibuat adalah bebas. Bebas kecuali tema religi. Tentu saja karena buru-buru, main sambar aja: BOLEHKAH AKU MENULIS TENTANG BERSYUKUR ATAS NIKMAT TUHAN?

Plaaak!

Cepat belum tentu benar. Cepat tidak juga membuktikan kita lebih baik. Tidak tersambungnya komunikasi dengan baik saat ini karena kita terpaku pada kecepatan bukan pemahaman.

Baca dengan teliti. Apabila memiliki banyak grup aktif dengan diskusi-diskusi maka kita harus memiliki waktu khusus untuk membaca lalu memahami. Biar saat kita memberikan tanggapan, tidak salah tempat dan juga tidak menanyakan ulang apa yang sudah ada dalam materi. Bila tidak mampu maka sebaiknya dengan penuh kesadaran, keluarlah dari grup tersebut.

Setiap orang memiliki titik baliknya masing-masing hingga akhirnya dengan sadar membaca

2. Beri tanda bintang

Sebenarnya apa yang kita inginkan ketika masuk ke dalam satu grup? Kalau aku ilmu. Bukan sekedar berbagi info yang belum diketahui kebenarannya dan juga asal copy paste. Pernah aku dan suami banyak-banyakan grup. Hahaha... Dari kompetisi itulah aku tersadar, buat apa banyak grup kalau tidak ada yang bisa diambil manfaatnya?

Di Whatsapp sendiri, ada satu fitur pembantu yang bisa kita gunakan agar ilmu yang kita peroleh bisa tersimpan. Sering kan ya baru ditinggal sebentar satu pesan penting malah tertimbun dengan ratusan chat basa-basi yang keluar dari inti. Beri tanda bintang sesegera mungkin setelah kita merasa pesan itu memberikan ide atau sesuatu yang akan kita terapkan.


Pesan tidak akan hilang ketika kita membersihkan semua percakapan

3. Catat bila ada yang ingin diulang

"Ah hidung kalau gak nempel juga ilang."

Itu ledekan zaman masih kerja bareng seorang teman yang pelupa parah. Semacam kena  short memory lost syndrome. Sekarang mungkin aku kualat, juga karena banyak hal yang aku kerjakan sekaligus, jadi sering kelupaan ide-ide yang akan dikembangkan menjadi tulisan.

Setelah memberikan bintang, biasanya aku catat lagi di buku khusus atau langsung di draft blog. Aku memastikan tidak kehilangan ide-ide luar biasa yang terkadang aku sendiri pun tak menyangka. Tak sangka aku bisa menuliskan ide itu. 😁

Ya kalau lagi kumat, gak nyadar bisa jadi pemberi saran yang bijak

4. Pindah foto dan video

Pindah ke memori eksternal, baik itu di ponsel maupun masuk laptop. Kan kita tidak pernah tahu kapan ponsel kita abis masa pakainya. Lebih baik punya cadangan kan. Sewaktu-waktu data-data kita tidak bisa diselamatkan karena hp ngambek, sudah ada candangan di tempat lain.


Berikan nama yang sesuai agar kita tidak lupa dimana kita simpan cadangan datanya

5. Jaga tetap bersih

Jika sudah memberikan bintang, mencatat, dan menyimpan semua data yang diperlukan maka selanjutnya menghapus semua percakapan.



Membersihkan layar percakapan buat aku sama dengan menjernihkan pikiran. Layar bersih artinya sudah selesai semua ekspektasi yang mungkin memenuhi pikiran.


Wah bersih dan melegakan

"Bahagia itu sederhana jika kita memang menganggapnya begitu. Sesederhana tahu apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup. Tidak ada salahnya punya banyak grup. Namun jika tidak bermanfaat dan kita tidak ikut ambil bagian di dalamnya. Buat apa?Semoga bukan untuk mengisi kesunyian yang ada di dalam jiwa kita."

Sebuah Rangkuman Produktif Bahagia


"Dulu orang gak produktif itu karena malas bekerja.
Sekarang orang gak produktif karena terlalu banyak pekerjaan yang ingin diselesaikan." (Adjie Santosoputro a.k.a Adjie Silarus)
Mungkin di sinilah awal aku merasa hidupku begini-begini saja. Aku menginginkan terlalu banyak hal dalam satu waktu untuk diselesaikan. Ditambah lagi pengharapan-pengharapan yang ditambahkan tanpa menyadari seberapa kualitas diri.

Di era internet yang serba cepat, keinginan kita untuk meraih kecepatan menyelesaikan aktivitas meningkat. Balas WA, email, sambil masak. Lalu apresiasi berupa like, love, bahkan viral entah kenapa begitu menggoda.

Ya seperti diriku yang memiliki ekspektasi terlalu tinggi. Selalu berharap orang lain memberi apresiasi tinggi terhadap apa yang aku lakukan. Hasilnya lelah pikiran diikuti lelah fisik. Pekerjaan selesai? Ah tentu saja tidak, hanya menumpuk dan menumpuk. Tidak ada rasa gembira yang ada hanya kumpulan rasa sia-sia. Aku menyakiti diriku sendiri.

Waktu fokus aku seolah kembali seperti anak-anak yang hanya bisa betah menuntaskan main selama 3 sampai 5 menit. Setelah itu pikiran kita melayang-layang entah itu ke masa lalu atau masa depan. Cek WA, buka facebook, atau live di Instagram.
Kurangnya apresiasi pada diri sendiri menjadi alasan utama

Multi tasking yang aku pikir bisa membuatku lebih baik ternyata tidak. Malahan membuat  pekerjaan lebih banyak karena fokus yang kurang menjadikan pekerjaan tidak selesai dengan baik dan serba nanggung. Tidak produktif karena berujung pada tidak tuntasnya satu pekerjaan.

"Done is better than perfect." Denny Santoso
Maaf tiba-tiba ingat buku sampul buku itu. Sampul buku yang mengingatkan untuk aku kembali kepada diriku. Siapa aku? Di mana aku? Apa misiku?

Kemudian aku mulai mencari lagi masuk ke dalam diriku. Ah aku butuh terapi hening nih. Awalnya aku tidak terlalu ngeh kalau teman-teman bilang, "Cari di youtube aja!". Ya Sekarang aku ketagihan, sudah lama tidak melakukan komunikasi dengan diri sendiri. Langsung kepikiran mas Adjie Silarus.

Yeiiiy aku temukan. Dan aku sudah minta izin untuk merangkum, menambahi dari yang aku pelajari, dan tulis di blog.

vlog Produktif Bahagia Adjie Santosoputro bersama kitabisa.com
1.
https://m.youtube.com/watch?t=1810s&v=xw6jLKrkBYE
2.
https://m.youtube.com/watch?v=xkZxPDcoPKY

Diawali dengan mengetahui apa itu produktif bagi diriku. Tentu saja kamu bisa menggambarkan dan menulis apa itu produktif menurutmu.

Produktif bagiku adalah bangun pagi, mandi, makan, dan menulis.

Lantas apa itu bahagia? Bahagia adalah rasa bermanfaat bagi diri sendiri.

Keras terhadap diri sendiri, lembut terhadap orang lain. Itu jawaban dari Mba Savira Fasilitator aku di kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional. Soalnya aku sering dapat pertanyaan, "Semua balik ke diri sendiri terus artinya egois dong mba?" Bukan egois itu keras ke orang lain, lembut ke diri sendiri. 

Bagaimana proses selanjutnya? 

1. Sadari dulu posisi kita saat ini

Siapa kita? Ibu yang bekerja di ranah domestik atau publik?

Siapa kita? Ibu dengan berapa anak atau masih calon ibu?

"Iya mba, kadang aku lupa kalau sudah punya anak. Pengennya ya mandi gak ada yang nangisin."

Yoyoy, sadar dulu ya! Kalau masuk akal ada interupsi anak saat kamu mandi. Ya kamu sudah punya anak. Justru kalau tidak ada interupsi, kamu harus bertanya-tanya. Jangan-jangan tepung satu kilo udah pindah dari plastik ke lantai. 😀

Kesadaran ini tidak mudah. Harus latihan terus dan terus. Nanti bila sudah terbiasa ada rasa rindu kalau sedikit saja kita kehilangan arah.

2. Tulis 3 aktivitas paling penting

Mandi
Makan
Menulis

Kok semua tentang diri sendiri? Aku ibu rumah tangga punya empat anak yang harus juga diurusi. Ketika kamu sudah selesai dengan dirimu sendiri maka akan dengan mudah beralih ke orang sekitarmu. Percaya deh. Hanya ibu bahagia yang bisa mengurus anak dan menjadikan anak bahagia.

Serius? Begini, contoh sederhananya adalah ketika kamu sebagai ibu empat anak bangun kesiangan karena memang belum punya jadwal tertulis yang rutin dan tidak ada persiapan tadi malam. Kamu belum sempat selesai dengan dirimu. Artinya kamu ngurus anak-anak dengan tergesa-gesa, belum mandi, dan lupa akan rasa lapar. Bubar semua. Gimana gak bubar? Satu tanya kaos kaki dimana, satu belum bangun juga, yang dua nangis rebutan mainan. Kamu yang belum mandi, gak sempat sarapan, dan belum sadar seutuhnya langsung dihadapkan dengan semua morning chaos, meledak!

Menulis tiga aktivitas yang paling penting bertujuan untuk melanjutkan kesadaran akan posisi kita. Oh besok aku ada acara sampai malam nih. Bagaimana caranya agar besok pagi dapat waktu berkualitas lebih lama dengan anak-anak? Semacam memasukkkan sugesti ke alam bawah sadar. Otak akan merespon rencana dengan membangunkan kita lebih pagi, selesai dengan kebutuhan kita, dan punya waktu lebih lama dengan anak. Kita bahagia, anak juga mengikuti.

3. Tulis tujuan yang paling tepat kenapa 3 aktivitas itu harus diselesaikan

Ah mengalir aja sih gak perlu ditulis. Ditulis itu biar ingat dan menjadikan tujuan semacam mantra yang kita masukkan ke alam bawah sadar.

Misal, kenapa sih harus mandi? Tujuan aku mandi adalah menyegarkan badan dan pikiran. Jika segar maka kita bisa menghadapi tantangan hari ini dengan lebih fokus.

4. Mulai langkah pertama

Ya setiap tujuan besar dimulai dengan langkah pertama. Mulai dengan langkah pertama yang ringan. Layaknya anak yang belajar jalan, kita juga harus mulai dengan merangkak, berdiri, melangkah dengan berpegangan galon atau tembok, setelah terjatuh dan bangun lagi, akhirnya bisa berjalan  lancar tanpa berpegangan.

"Aku punya tujuan jalan kaki 1 jam setiap pagi. Aku memulai dengan hanya keluar teras setiap pagi. Menikmati indahnya pagi hari. Lalu setelah terbiasa, aku mulai menikmati pagi dengan memakai sepatu. Baru setelah itu jalan-jalan sebentar ke luar teras. Dan akhirnya dengan sadar mulai jalan ke luar rumah." Adjie Santosoputro
Semacam memecah rencana dari yang besar menjadi kecil-kecil. Kenapa? Biar tidak merasa susah dan lelahnya dulu.

5. Bertahan pada saat ini

Saat kita menyelesaikan aktivitas. Fokus. Dari 10 menit misalnya. Pastikan interupsi sudah terkendali. Satu tugas selesai baru ke tugas yang lain. Begitu terus hingga semua yang ada di daftar tugas harian selesai. Ingat multi tasking membuat konsentrasi terpecah yang artinya memakan waktu lebih lama.

6. Terima segala rasa yang ada

Akan ada rasa mendesak untuk melakukan kegiatan yang lain saat kita sudah fokus. Terima saja, atur napas, dan kembali ke tugas.

Bila ternyata mandeg maka sebaiknya mengambil jeda atau istirahat. 

7. Terima setiap pikiran yang berkecamuk

Pikiran yang sering melintas bisa saja dari masa lalu atau masa depan. Ya diterima. Siapa sih orang yang gak baper kalau ngomongin masa lalu? Siapa pula yang gak penasaran kalau bahas masa depan? Namun kesadaran dan menerima akan membuat kita kembali pada masa kini.

Produktif bahagia semacam vaksin anti zombie bagiku. Hahaha...

"Jangan hanya hidup untuk bangun tidur dan tidur lagi."

Mulai selesai dengan diri sendiri lalu bisa beranjak mewujudkan mimpi yang lebih besar lagi. BERMANFAAT.


Kebahagiaan recehku adalah ketika tulisanku bisa dijadikan status WA temanku.




Terus bersyukur karena dianugerahi diri yang kuat, mau belajar, dan terus bertumbuh. 
Terus bersyukur karena memiliki orangtua yang membentuk aku sedemikian tangguh hingga hari ini.
Terus bersyukur karena menikah dengan pria yang mau diajak diskusi dan sabar.
Terus bersyukur karena diamanahi dua anak laki-laki yang sangat mudah dibahagiakan dan tulus memaafkan.
Terus bersyukur karena diberikan lingkungan yang mendewasakan.
Terima kasih Tuhan.
Terima kasih Allah.
Terima kasih Yang Maha Besar dan Maha Penyayang.

5 Percobaan Pengalihan Drama Potong Kuku




"Sakit gak bu?"
Pertanyaan pertama yang muncul ketika emak mendatangi si anak dengan potong kuku. Dalam bayangannya mungkin saja seperti seorang tukang ayam yang melayani pembeli lalu memotong habis bantalan dan lempengan kuku ayam hingga kutikulanya terus meneteskan darah.

Ihhh, serem.😲

Kenapa harus ada drama? Potong kuku saja kok ya? Berdasarkan pengalaman, ada saat dimana ibu terlalu bersemangat memotong kuku hingga melewati batas bebas yang bisa dipotong. Salah perhitungan sehingga melukai bantalan kuku yang ternyata masih jadi lanjutan kulit. Bantalan berwarna merah muda ini merupakan pendukung pertumbuhan kuku. Jika ikut terpotong otomatis kulit akan terluka dan berdarah karena merobek pembuluh di dalam kulit kuku. Rasa sakitnya bisa bertahan hingga tiga hari ke depan. Apalagi bila terkena air. Dari situlah drama berasal. Orang dewasa saja bisa berubah uring-uringan karena menahan perih, apalagi anak-anak.

Source:pinterest.com, edited by phalupiahero

Terus bagaimana dong ya? Kuku balita cepat panjang, kalau tidak segera dipotong bisa terjadi insiden cakar muka. Bangun-bangun ada aja sudut yang meninggalkan goresan. Ngeri juga kalau pas garuk-garuk kena mata atau hidung.

Drama bertambah rumit ketika si adik mencontoh kakak yang sudah berpengalaman merasakan sakit pada waktu potong kuku. Adik jadi sama ngototnya menolak potong kuku.

Nah, hal paling penting untuk diingat saat akan memotong kuku adalah potong di area bebas atau free edge, sisakan sedikit kuku! Apabila tidak menyisakan kuku biasanya bantalan kuku akan terluka. Luka yang menimbulkan drama.



Setelah memahami bagian yang boleh dan tidak boleh dipotong, ajak kakak untuk dipotong kukunya terlebih dahulu agar adik melihat tidak terjadi apa-apa. Yakinkan memang gak ada kesalahan dan kesakitan.

Lalu ada lima percobaan tambahan yang dapat dilakukan untuk pengalihan agar anak balita mau potong kuku. Tentu saja lima percobaan ini bisa berhasil atau gagal. Namun tidak ada salahnya untuk mencoba.

5. Ajak foto dulu

Butuh pengalih perhatian yang memang sesuai dengan kesukaan anak. Anak-anakku dua-duanya sejak bayi sudah terekspos kamera ponsel jadi begitu emaknya mendekatkan ponsel sudah langsung bergaya.

Begitu dia sibuk dengan ponsel, kita bisa ambil tangannya dan mulai potong kukunya.




4. Sambil cerita

Bersyukur punya anak-anak hebat yang bisa diajak diskusi. Itulah yang sekarang sedang emak tanamkan di diri emak sendiri. Tidak melulu melihat kekurangan atau kesalahan anak melainkan menggali apa kelebihan dan kekuatan mereka.

Buku adalah surga dunia yang sedang emak coba untuk tularkan kepada anak-anak. Begitu ada indikasi tidak mau potong kuku padahal kuku sudah panjang dan menghitam, emak menawarkan buku yang lagi jadi kesukaan. Potong kuku sambil bercerita. 

AHA... Sepertinya butuh buku yang cerita tentang akibat tidak potong kuku. 😉




3. Saat tidur

Ini buat yang berontak kalau dipotong kukunya. Pastikan sudah tidur lelap dan tak terganggu atau bangun-bangun ketika dipotong kukunya. 




2. Bernyanyi bersama


Ibu wajib tahu lagu kebangsaan yang manjur kalau ingin mengalihkan perhatian anak-anak.

"Eh dek, mana burungnya?"
Setelah itu langsung nyanyi duet burung kakak tua. Anak nyanyi, ibunya lanjut potong kuku.





"Cicaknya tuh lihat-lihat!" 
Alihkan lagi jika anak tampak bosan mengulang lagu kesukaannya. Harus punya stok lagu yang banyak ya kalau memang anaknya suka nyanyi bareng.

1. Setelah mandi

Air membuat kuku menjadi lebih lunak. Itulah alasan utama memilih saat setelah mandi untuk potong kuku. Kuku yang mudah dipotong tentu meminimalisir luka. 

Setelah mandi juga membuat anak lebih segar dan dalam suasana hati yang baik. Inilah yang membuat anak jadi gampang dibujuk.


"Memotong kuku, mengajarkan anak bagian tubuh dan juga menjaga kebersihannya."
Bagi anak umur 12 hingga 24 bulan, kuku bisa jadi bagian favorit untuk digigit. Maka dengan memberi pengetahuan tentang fungsi kuku, anak jadi lebih peduli dan mau menjaga serta merawatnya. Berawal dari kebiasaan potong kuku. 

No Hard Feeling, Really?

“Pindahan lagi?”

“Ya, resiko kontraktor.”

Mendadak pening pala putri Apik.

Apa sih yang kamu takutkan Pik? Toh semua barang-barang yang kamu genggam erat-erat saat ini tidak akan kamu bawa mati. Apa yang kamu banggakan dengan sendirinya akan berubah.

Kamu yang menjalani jadi tidak perlu memikirkan apa yang orang lain pikirkan dan juga katakan kecuali mereka bermaksud memberikan pelajaran agar kamu menjadi pribadi lebih baik. Jika perkataan hanya agar kamu merasa tidak nyaman atau menjatuhkan maka masuk telinga kiri dan langsung keluarkan dari telinga kanan.

Saat ini yang terpenting bagaimana hubunganmu dengan suami, kedua anakmu, dan orang-orang yang sayang padamu.

Seharusnya kamu bersyukur diberikan waktu untuk terus belajar. Berpasrah. Toh pada akhirnya kamu kembali dalam keadaan sendiri.

Asumsi dan ekspektasi tentu saja melukai.

“Iya, aku sudah 15 tahun tinggal di sini. Ingin ganti suasana baru. Bosan.”

Lihat, Tuhan kasih kamu kesempatan untuk tidak menunggu sampai bosan. Tuhan beri kamu jalan singkat yang membuka kesempatan seluas-luasnya untuk terus bergerak maju.  Terus bersyukur bisa berinteraksi dan membaca maksud Tuhan memberikan rangkaian peristiwa juga perubahan.

Bukankah perubahan adalah yang paling masuk akal dari dunia ini. Tidak melulu apa yang kamu inginkan terjadi. Lantas kamu terluka? WAJAR. Namun larut dalam ketakutan akan pandangan orang lain pastilah lebih mengerikan.

Ketakutan memang sedang menghinggapi. Tentang lingkungan baru, penyesuaian, dan perubahan-perubahan yang mungkin tidak sesuai dengan bayangan. Baru saja mau menata diri dan melangkah, dikasih jalan baru, mulai dari awal lagi.

Komunikasi yang awalnya kamu pikir tidak akan pernah bisa berhasil tanpa kekerasan ternyata BERHASIL. Inilah poin yang seharusnya bisa kamu jadikan pertimbangan. Selama kamu berusaha melakukan yang terbaik, meskipun jalan begitu licin dan berkabut, hasil tidaklah penting lagi. Proses yang membuat kamu tidak lagi berpikir melainkan beraksi dan menjalani dengan keyakinan. Proses, proses, dan proses.

Hari ini dan esok sama pentingnya buatmu. Hari ini membuat kamu sadar akan apa yang sudah kamu punya sedangkan esok itu harapan. Bagaimana mimpimu mengubah semua usaha dan juga doa-doa yang kamu langitkan.

No hard feeling, really? Yes you can choose to be a happy married woman so stop thinking that you’re not good enough. Trust me! All women out there are jealous with what you have but don’t have enough power to get what they want. The only one reason why they do verbal bullying to you. So the next goal that you need to bring into reality is empower them, work together, and keep it up. Anger sometimes makes you stronger but kindness does the biggest part to fix the bad situation.

“…belajarlah memaafkan masa lalu dan orang-orang yang pernah membuat Anda tidak nyaman.” (Emotional Healing Therapy-Irma Rahayu/ halaman 38)

Orang-orang yang membuat kamu tidak nyaman ada dimana-mana. Tinggal bagaimana kamu mau memilih, tersenyum dengan ikhlas atau menyakiti diri dengan mendendam?
Hadir di lingkungan baru tentu saja butuh keahlian. Aku yakin kamu bisa. Aku percaya kamu mampu.

Stay strong without using your anger and always believe that God has wonderful plan to you.

I love you, my lovely Apik.

99+ Wonderful Mind, Semua Berawal dari Pikiran

Baca bukunya, temukan keajaiban pikiran Anda!


Judul       :  99+ Wonderful Mind (Motivational Quotes & Coloring Hypnotherapy)

Penulis    :  Dewi Hughes

Penerbit   :  Grasindo

Tahun      :  2017

Halaman  :  132



Pertama kali yang teringat jika mendengar nama Hughes adalah acara ketemu idola di SCTV: Mimpi Kali Yee! Acara ini sangat aku tunggu karena seperti memupuk harapan bertemu dengan seseorang yang menginspirasi sekaligus idola. 

Hah, kalau menulis begini jadi ingat masa itu. Masa dimana TV adalah salah satu hiburan selain komik. Acara TV saat itu sungguh terbatas dan kualitasnya sangat diperhatikan. 

Selain suka dengan acaranya, kisah hidup kak Hughes sungguh menarik. Aku seolah terhubung dengannya. Perjuangan menemukan pegangan hidup, lepas dari kekerasan dalam rumah tangga, dan terakhir yang paling aku sukai adalah semangatnya dalam menuntut ilmu lalu mempraktikannya.


Oke balik ke buku. Buku ini best seller. Kenapa? Coba kita baca dulu blurb atau uraian singkat buku ini!
99+ Wonderful Mind menguak rahasia kekuatan pikiran, membantu Anda memahami bagaimana pikiran menentukan arah hidup, mencapai kebahagiaan, dan meraih keberuntungan.

Seperti multivitamin yang memelihara pikiran tetap jernih dan sehat, membacanya setiap hari memberi energi baru pada setiap tarikan napas, menghapus kepenatan, dan kesesakan dada.

99+ Wonderful Mind dilengkapi dengan hipnoterapi lewat gambar dan warna yang mampu menanamkan sugesti positif. Buku ini akan menjadi sahabat dan media terapi dalam menyelami keindahan hidup, pengelolaan pikiran, dan perilaku yang diekspresikan lewat goresan warna.

Mulailah membuka perlahan lembar demi lembar, selami setiap gambar penuh warna yang membawa energi positif.

Warnailah setiap lembar hitam putih dengan warna favorit Anda dan rasakan sensasi kebahagiaan saat Anda selalu mampu menjadi tuan atas pikiran Anda sendiri.

Menjadi pemilik pikiran yang merdeka dan terbuka.

Enjoy the Wonderful Mind! 



Aku butuh lima belas menit untuk menyelesaikan buku ini. Mataku langsung berbinar-binar.

Terima kasih kak Hughes, aku merasa menemukan diriku bersinar di dalam kegelapan rimba kenangan sedih yang selama ini aku arungi.

"Orang yang paling bahagia adalah orang yang selalu mengajak dirinya untuk mengatakan; it's okay." (halaman #10)
Bersama dengan segala kenangan buruk yang telah terjadi, aku menarik napas lalu menghembuskan perlahan. It's okay. It's over. Berakhir dan aku jadi lebih kuat. 

Mungkin itu bisa jadi alasan kenapa buku ini laris manis. Kutipan yang ada di dalamnya begitu mudah diaplikasikan. 

Buat teman-teman pembaca blog emak sensi yang belum siap menemui konselor atau terapis tetapi ingin berdamai dengan sakit kepala tiba-tiba atau nyeri di leher, aku merekomendasi buku ini sebagai pertolongan pertama. Kalian bisa menenangkan diri dulu dengan mengambil napas lalu hembuskan perlahan. Setelah tenang bisa baca buku ini. Semoga dapat mengurangi sakit yang mengimpit. 

"Orang yang munafik melakukan apa yang menjadi khayalan orang lain bukan keinginannya sendiri." (halaman #11)
 Aku mengulang kembali bagian ini esok hari. Bertanya pada diriku, "Hai, apakah aku termasuk orang munafik?".

Beberapa hari setelah tiga kali membaca buku ini, aku menguatkan diri untuk menyelami kembali masa kelamku. Aku memegang erat buku ini seperti masker pelindung.

Sakit. Penelantaran. Asumsi. Kemarahan. Melihat dunia sebagai tempat tinggal yang mengerikan dan dipenuhi luka. Aku jadi orang yang rela melakukan apa saja demi terlihat baik di hadapan orang lain. Gila akan pengakuan. Ini lho aku. Sempurna.
"Orang paling menderita adalah orang yang selalu sibuk mencari kesalahan dan kekurangan dirinya sendiri." (halaman #59)
Ya aku melakukan semua hal untuk menyenangkan orang lain karena aku pikir itulah caraku diterima. Akhirnya aku menjadi gila, banyak berbohong, dan membuat identitas yang bukan diriku. 

Buku ini menjawab semua pertanyaan yang selama ini aku cari jawabannya. Aku adalah aku. Bukan label yang orang lain sematkan. Mulai saat ini aku akan lakukan apa yang membuat diriku bahagia. Bukan memenuhi semua tuntutan orang lain.

Lalu masuk ke bagian calon pacar yang saat ini jadi suami ternyata jadi pembuka jalan. Dia orang yang sangat suka membaca, mengenalkan aku pada bacaan selain komik. Dia tanpa disadari memberikan jalan bagiku mengenali diriku sendiri. Tanpa paksaan.

"Ah, nanti juga berubah sendiri. Tak perlu mendesak, hanya butuh sabar menunggu."

Dia ingin aku bahagia. Jarang menuntut ini itu. Saran saja lalu mencoba membuka diskusi. Doa demi doa dia panjatkan. Doa inilah yang pada akhirnya membuat Tuhan membuka jalan lalu pintu bahagia untukku. 



Harapan paling tulus dari calon pacar yang menyadarkan aku.

Jarang kok memang orang yang dengan tulus membuat pasangannya bahagia. Maunya kalau sudah cinta ya sudah harus tahu diri. Tahu diri aja, kalau suami suka makanan rumah ya masak. Padahal suami tahu pasti kalau istrinya takutnya setengah mati sama kepala ayam potong. Bagaimana mau masak kalau lihat aja sudah mau pingsan? Ya lebih mudah menuntut orang lain ketimbang membuka diri dan jujur dengan apa yang ada dalam diri bukan?

TERUS MAUNYA APA? Usaha dong! Bertumbuh bersama. Tidak perlu gengsi atau sok jaga image. Pernikahan kan bukan belanga ajaib yang bisa mengubah orang jadi seperti yang kamu inginkan.

Buku ini bisa jadi kado istimewa buat suami atau istri yang sedang berjuang untuk beranjak dari masa lalunya lalu berproses menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak ada salahnya berinisiatif, memulai komunikasi positif, dan belajar berdua. Saling menyemangati. Bukan memaksa apalagi menuntut.



Bisakah kita bersyukur ketika kita melihat kekasih kita terlelap sambil mengucapkan, "May you always be happy and well." Dan berhenti berburuk sangka tentang apa yang dia kerjakan di belakang kita. (halaman #47)
Buku ini juga cocok bagi teman-teman yang sedang akan memulai kembali satu hubungan setelah disakiti. Waktu kita terlalu berharga untuk menyerah pada rasa perih. Jadi daripada mengunci diri lebih baik bersiap ke toko buku dan warnai kembali hidup indah kita dengan pengalaman-pengalaman yang membuat dada berdebar bahagia.

Selamat membaca dan berpetualang dengan pikiran luar biasa kita!