Melatih Kemandirian Anak, Hari 13 Jangan Abaikan Emosiku


Pagi-pagi panik karena dedek Geni panas. Bagaimana tidak panik, Geni kalau sudah panas agak susah untuk turun.
πŸ‘Ά"Ibu, aku mau susu coklat."
πŸ‘©"Ayo kita bikin!"
πŸ‘Ά"Gak mau, maunya beli. Pergi. Naik motor."
πŸ‘©"Oke, bangun dulu adek."
πŸ‘¦"Mamas tunggu di rumah aja ya bu. Masih mau nonton kartun."
Alhamdulillah masih ada selera makan atau minum berarti baru gejala pilek. Langsung siap-siap sekalian belanja sayur biar gak merambat jadi radang tenggorokan.

Merasa bersalah saat melihat dedek Geni minum susu dengan tangan dan bibir bergetar seperti saat dia dalam keadaan sangat lapar. Langsung habis 2 botol ukuran 250ml.
πŸ‘¦"Kan dedek kemarin makan sedikit bu."
πŸ‘Ά"Bu dedek laper, mau makan."
πŸ‘©"Iya ibu masak dulu ya."
πŸ‘¦"Mamas bantu ya bu."
πŸ‘©"Ya potong sosis. Jangan terlalu kecil nanti cepat gosong."
πŸ‘¦"Waktu aku main game di hp ayah gak papa dipotong dua begini bu."
πŸ‘©"Iya nanti gosong mamas yang makan mau?"
πŸ‘¦"Gak mau."

Rekor masak tercepat, hanya 15 menit. Rebus jagung manis, sayur bayam+wortel+oyong, dan goreng sosis.

Sambil sarapan sambil nonton kartun. Awalnya dedek Geni hanya mau makan sosisnya saja. Habis satu mangkok kecil, makan sendiri, dengan bahagia. Begitu minta lagi ibu kasih sosis sedikit dan banyak sayur, ngamuk gak mau makan. Aku biarin. Begitu melihat mamasnya makan nasi plus sayur plus sosis, barulah dia mendekat dan minta disuapin.

πŸ‘©"Dedek kenapa tadi nangis?"
πŸ‘Ά"Mau sosis aja."
πŸ‘¦"Sayur kan sehat. Nih aku juga makan sayur biar kuat."
πŸ‘Ά"Ibu aku juga mau sayur."
πŸ‘©"Iya. Gak papa dedek nangis tapi ibu diemin dulu. Kalau udah bisa diajak ngobrol lagi baru ibu mau ngomong sama dedek."

Sore hari setelah selesai main, mamas Gian lapar dan minta dimasakkin nasi goreng.
πŸ‘¦"Nasi goreng ibu kan enak ada bawangnya. Aku yang bantuin kocok telur ya bu."
Aku belum menjawab karena sibuk menyiapkan bahan-bahan. Ketika mengambil nasi, mamas Gian berusaha membuka cangkang telur sendiri dan tumpah kemana-mana.
πŸ‘©"Kamu ngapain sih mas? Kenapa gak nunggu ibu dulu. Ayo beresin yang tumpah."
πŸ‘¦"Itu lengket ibu."
πŸ‘©"Ya makanya harus dibersihin biar gak tambah banyak lengketnya."

Pertama mamas mengambil lap kemudian tisu basah untuk membereskan sisa telur. Kuning telur dan sedikit yang tersisa di mangkuk, mamas kocok dan tambah garam sedikit.

πŸ‘©"Maaf ya mas tadi ibu teriak sama mamas."
πŸ‘¦"Iya aku maafin bu. Kan aku juga tadi gak tunggu ibu makanya tumpah. Maafin aku juga ya bu."

Dalam kemandirian terdapat emosi-emosi yang perlu diolah sehingga anak-anak paham akan dirinya dan porsinya. Setelah paham maka aku berharap duoG jauh lebih mudah untuk konsisten dengan mempraktikkan skill yang sudah dimiliki. Tidak lagi maju mundur karena pengaruh emosi.

#harike13
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 12 Jadikan Tuntas sebagai Kunci

Saling bahu membahu ya nak, kalian pasti bisa


Mandiri erat hubungannya dengan ketuntasan. Ibu ingin duoG pada akhirnya menghargai proses sebagai sarana mengembangkan diri. Hasil akhir atau skill yang diperoleh adalah hal wajar setelah semua jatuh bangun yang dialami.

#harike12
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 11 Teman yang Tidak Tahu Diri


πŸ‘¦"Ibu, Chimey ngajak aku main tapi malah masukin sepeda aku ke got. Katanya aku jahat."
πŸ‘©"Emang mamas ngapain?"
πŸ‘¦"Aku cuma main sepedaan terus main pedang."

Aku berusaha setenang mungkin saat keluar. Aku memasukkan kemajuan yang sudah mamas Gian peroleh hari ini yaitu bisa main tanpa harus terus diawasi oleh ibunya. Jadi aku tidak boleh merusak kebahagiaan mamas yang mendapatkan hadiah main di luar karena sudah tidur siang.

Saat mengambil sepeda mas Gian yang masuk got, teman-temannya sudah tidak ada. Aku hanya marah-marah dalam hati. Kami berjalan beriringan menuju kran depan untuk mencuci sepeda.

πŸ‘¦"Chimey udah baik tapi kok sekarang jahat lagi sih ibu. Aku kan gak pukul atau marah."
πŸ‘©"Nak, di dunia ini banyak sekali orang yang belum kenal atau tahu dirinya sendiri. Jadinya suka seenaknya sendiri."
πŸ‘¦"Oh jadi aku harus tahu diriku biar gak jahat."
πŸ‘©"Pintar mamas. Mamas sudah bisa main sendiri tanpa dilihatin ibu. Ibu bisa bantu dedek cebok. Artinya mamas sudah tahu diri mamas."
πŸ‘¦"Emang gak papa aku bilang ke ibu kalau Chimey jahat."
πŸ‘©"Iya gak papa. Besok kalau main sama Chimey lagi tanya kenapa sepeda mamas dimasukkan got. Kalau mamas gak salah ya gak usah takut."
πŸ‘¦"Aku main sama Habibi saja lah yang gak nakal. Chimey jahat sama aku."

Mas Gian terus menerus belajar tidak papa tidak punya teman jika mereka tidak tahu diri. Mengajak main tetapi semaunya sendiri. Ya awalnya mamas sering pulang dengan tangisan. Namun ketika dia paham bagaimana berkomunikasi dengan teman yang tidak tahu diri dan tahu posisi dirinya sendiri maka bermain secara mandiri tentu lebih menyenangkan.

#harike11
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 10 Membuktikan Kemandirian

Hari ini mamas Gian berhasil mandi, cebok, dan pakai baju sendiri.

Kemudian menyiapkan makanan, makan, juga membereskan semua setelah selesai.

Catatan buat ibu adalah bagaimana tuntutan kemandirian sejalan dengan pemenuhan perhatian.

Emosi anak-anak baik itu mamas atau dedek haruslah terpenuhi karena bila mereka merasa diabaikan maka mulai ada percikan-percikan api kemarahan untuk memperoleh perhatian.

πŸ‘Ά"Mas aku pipis nih."
πŸ‘©"Kok di lantai dek. Biasanya udah pintar bilang terus ke kamar mandi."
πŸ‘¦"Ibu lihat hp terus sih. Aku panggilin gak denger. Dedek keburu pipis di celana deh."

Membuktikan kemandirian anak itu mudah karena pada dasarnya anak punya fitrah yang jadi perbekalan mereka selama diamanahkan ke orangtua. Tinggal pilihan orangtua mau memaksimalkan atau justru menonaktifkan fitrah tersebut.

Ya lagi-lagi evaluasi buat ibu agar bisa menjadi orangtua yang baik dan benar.

Membuktikan kemandirian dengan mau menunggu

Pada akhirnya memang orangtua belajar banyak dari anak. Bagaimana anak belajar dengan cepat untuk memahami diri hanya dalam hitungan hari.
Jadi mak, sebenarnya siapa yang harus banyak belajar? Iya aku. Aku yang harus banyak belajar. πŸ™ˆ

#harike10
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 9 Ibu Aku Kangen Ayah


Dulu, aku sangat suka sendiri. Membaca dan memikirkan serta memimpikan banyak hal. Apakah ada hubungannya kesendirian dengan kemandirian? Apakah mandiri itu selalu sendiri? Ternyata setelah dewasa, aku merasa mandiri dan sendiri itu berbeda. Mandiri lebih ke rasa yakin akan kemampuan diri, mau mencoba, dan tidak masalah mendelegasikan tugas ke orang lain. Kemudian sendiri lebih pada suasana yang mungkin cocok bagi sebagian orang.

***

πŸ‘¦ "Kalau aku di daycare, aku mikirin ibu. Aku takut ibu kena gempa atau diculik. Aku nanti gak punya ayah atau ibu lagi."

Pembicaraan ini muncul ketika ibu menanyakan apakah mamas takut ketika ayah harus dinas luar kota dan hanya ada ibu juga dedek di rumah. Mamas bilang dia tidak tidak takut karena ada ibu.

Topik berat bagi anak lima tahun mungkin. Namun semakin dini anak-anak paham apa itu sendiri, siapa yang harus dia andalkan, juga bagaimana menghadapi semua rasa tidak enak; aku rasa anak-anak perlu diperkenalkan dengan topik-topik berat semacam ketakutan akan kesendirian.

Rasa takut akan kesendirian, tiba-tiba aku menyadari bahwa berada dekat dengan anak-anak belum tentu memiliki jiwa yang utuh untuk mereka. Ya disambi pegang hp, lihat laptop, dan juga menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga.

Semacam kedekatan semu yang ternyata membuat anak-anak sudah kesepian walaupun ibu atau ayahnya ada.

Kemandirian akan terbentuk saat anak-anak siap. Ibu membuktikan sendiri. Hanya perlu pijakan-pijakan kecil kemudian konsisten selama 5 hari maka kemandirian akan terbentuk jika anak-anak memang siap. Kasih sayang tulus dan kehadiran yang utuh juga penuh lah yang utama.

"Kenalkan Tuhan maka semua jalan akan terasa lebih tenang."

Ketika anak-anak mengungkapkan apa yang mereka rasakan, aku merasa harus mengevaluasi diri sendiri. Sikap masa bodoh harus ditempatkan di posisi pertama agar pikiran fokus pada yang benar-benar penting. Tidak seperti benang kusut yang tak ketahuan juntrungannya.

πŸ‘Ά"Mas, aku pipis nih."
πŸ‘¦"Ibu, dedek pipis di celana nih."
πŸ‘Ά"Ibu marah dedek pipis disitu."
πŸ‘¦"Makanya pipis di kamar mandi sih dek."
πŸ‘Ά"Iya cebok aja."

Mamas takut kalau pisah agak lama dari ayah atau ibu. Dedek takut saat ibu marah dan berubah.

"TUNTASKAN YANG DI DALAM MAKA KAMU AKAN KELUAR DENGAN KEPALA TEGAK."

Kemandirian anak-anak benar-benar murni kesiapan orangtua untuk ikhlas akan jalan yang akan ditempuh anak tanpa ditemani. Bila orangtua ikhlas maka anak-anak akan percaya dan yakin akan dirinya.


#harike8
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari ke 8 Aku Takut Sendiri

Dulu, aku sangat suka sendiri. Membaca dan memikirkan serta memimpikan banyak hal. Apakah ada hubungannya kesendirian dengan kemandirian? Apakah mandiri itu selalu sendiri? Ternyata setelah dewasa, aku merasa mandiri dan sendiri itu berbeda. Mandiri lebih ke rasa yakin akan kemampuan diri, mau mencoba, dan tidak masalah mendelegasikan tugas ke orang lain. Kemudian sendiri lebih pada suasana yang mungkin cocok bagi sebagian orang.

***

πŸ‘¦ "Kalau aku di daycare, aku mikirin ibu. Aku takut ibu kena gempa atau diculik. Aku nanti gak punya ayah atau ibu lagi."

Pembicaraan ini muncul ketika ibu menanyakan apakah mamas takut ketika ayah harus dinas luar kota dan hanya ada ibu juga dedek di rumah. Mamas bilang dia tidak tidak takut karena ada ibu.

Topik berat bagi anak lima tahun mungkin. Namun semakin dini anak-anak paham apa itu sendiri, siapa yang harus dia andalkan, juga bagaimana menghadapi semua rasa tidak enak; aku rasa anak-anak perlu diperkenalkan dengan topik-topik berat semacam ketakutan akan kesendirian.

Rasa takut akan kesendirian, tiba-tiba aku menyadari bahwa berada dekat dengan anak-anak belum tentu memiliki jiwa yang utuh untuk mereka. Ya disambi pegang hp, lihat laptop, dan juga menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga.

Semacam kedekatan semu yang ternyata membuat anak-anak sudah kesepian walaupun ibu atau ayahnya ada.

Kemandirian akan terbentuk saat anak-anak siap. Ibu membuktikan sendiri. Hanya perlu pijakan-pijakan kecil kemudian konsisten selama 5 hari maka kemandirian akan terbentuk jika anak-anak memang siap. Kasih sayang tulus dan kehadiran yang utuh juga penuh lah yang utama.

"Kenalkan Tuhan maka semua jalan akan terasa lebih tenang."

Ketika anak-anak mengungkapkan apa yang mereka rasakan, aku merasa harus mengevaluasi diri sendiri. Sikap masa bodoh harus ditempatkan di posisi pertama agar pikiran fokus pada yang benar-benar penting. Tidak seperti benang kusut yang tak ketahuan juntrungannya.

πŸ‘Ά"Mas, aku pipis nih."
πŸ‘¦"Ibu, dedek pipis di celana nih."
πŸ‘Ά"Ibu marah dedek pipis disitu."
πŸ‘¦"Makanya pipis di kamar mandi sih dek."
πŸ‘Ά"Iya cebok aja."

Mamas takut kalau pisah agak lama dari ayah atau ibu. Dedek takut saat ibu marah dan berubah.

"TUNTASKAN YANG DI DALAM MAKA KAMU AKAN KELUAR DENGAN KEPALA TEGAK."

Kemandirian anak-anak benar-benar murni kesiapan orangtua untuk ikhlas akan jalan yang akan ditempuh anak tanpa ditemani. Bila orangtua ikhlas maka anak-anak akan percaya dan yakin akan dirinya.


#harike8
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 7 Skill Tanpa Adab


Hari ini adalah yang terparah. Bosan menjadikan duoG uring-uringan.
Meskipun bangun pagi dan sarapan terpenuhi, ada saja alasan yang mereka kasih untuk menolak beberes.

πŸ‘¦"Aku gak mau main itu terus ibu. Aku bosan."
πŸ‘Ά"Dedek gak mau bobok ibu, mau nonton kartun."

Akhirnya ibu membawa mereka ke dapur dan memberikan mereka kebebasan.

Mamas bantu ibu memotong semangka sementara dedek memainkan penggorengan.

πŸ‘©"Kalau mamas bosan lalu teriak-teriak dan gak mau beresin mainan, kira-kira mainan mamas bisa beres sendiri tak?" ibu berusaha mencari celah memasukkan adab.
πŸ‘¦"Kenapa aku terus ibu? Aku udah beresin tapi terus dedek berantakin. Aku capek."
πŸ‘©"Nak, semua kegiatan itu bisa bikin capek. Bahkan tidur juga. Mamas pilih mana, teriak dan gak beresin atau beresin abis itu bisa santai makan semangka?"
πŸ‘Ά"Nih dedek beresin. Masuk mobilnya ke garasi."
πŸ‘¦"Oke abis potong semangka aku beresin mainan sama dedek."

Menggali perasaan sesungguhnya pada anak adalah jalan pembuka menuju adab. Melatih membereskan mainan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Tidak sebatas skill saja tetapi juga dibarengi dengan adab yang baik hingga anak-anak paham setelah main ya ada kewajiban membereskan.

#harike7
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 6 Saat Anak Membuat Ulah


Membereskan mainan itu mudah ketika anak dalam suasana hati yang baik. Kenyang, tidur cukup, dan waktu bermain bersama ibu berkualitas.

Hari ini entah kenapa mamas Gian dan dedek Geni membuat kepala ibu tambah pusing. Tidak segera membereskan mainan malah membuat area kerja ibu juga semakin berantakan. Ibu sampai teriak kesakitan saat tanpa sengaja menginjak mainan yang berbentuk pesawat.

πŸ‘¦"Aku mau jalan-jalan ibu."
πŸ‘Ά"Geni mau susu ibu."
πŸ‘©"Lha mamas sama dedek udah tahu kan harus bagaimana?"
πŸ‘¦πŸ‘Ά "Beresin mainan dulu."

Ulah anak-anak terkadang memang karena mereka mencari perhatian orangtuanya. Bukan sepenuhnya ingin membuat orangtua dalam masalah tetapi memang anak-anak sedang mengeksplorasi rasa dan mengekspresikannya.

Ulah demi ulah dilakukan karena anak-anak membutuhkan perhatian. Itu yang sering aku lupakan. Aku berpikir jika anak-anak membuat ulah memang murni ingin membuatku marah. Tentu saja itu pikiran yang salah yang ternyata memperburuk keadaan. Aku teriak, mamas menolak, dedek menangis. Tidak ada solusi yang terpikir.

Duduk diam untuk mengembalikan kesadaran penuh sangatlah diperlukan saat anak mulai membuat ulah.

"Ada apa nak? Apakah kamu butuh sesuatu."
Tanyakan dulu dalam hati sambil mengamati. Setelah paham situasi dan menemukan solusi barulah berdiskusi. Diskusi membutuhkan stamina yang penuh agar ibu bisa melihat anak-anak dengan jernih sebagai anak. Bukan serpihan luka masa lalu yang pantas dijadikan luapan kemarahan.

#harike6
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 5 Usahakan Selalu Menyenangkan

Dalam keseharian ibu tidak selalu dalam keadaan baik saat mendampingi anak. Seperti hari ini seharian dada rasanya sesak. Berusaha semaksimal mungkin untuk bermain bersama anak-anak.

πŸ‘©"Ibu hari ini boleh sering minta istirahat gak nak?"
πŸ‘¦"Emang ibu kenapa?"
πŸ‘Ά"Ibu sakit?"
πŸ‘©"Iya dada ibu sesak."
πŸ‘¦"Ya udah aku main sama dedek di kamar aja jadinya ibu bisa sambil bobok."
πŸ‘Ά"Iya, di kamar aja."

DuoG hari ini semangat main tetapi mengeluh capek saat diminta beresin. Aku berusaha membuat suasana menyenangkan saat beberes. Bernyanyi dan meluncurkan mainan sehingga akhirnya duoG tertarik membereskan mainan mereka lagi.



#harike5
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 4 Bila Ibu Mandiri maka Anak Mengikuti


Awalnya aku tidak paham kenapa terpikir untuk menulis ini. Namun setelah dua hari tidak membersamai anak-anak dari pagi hingga pagi lagi, aku akhirnya mudeng.

πŸ‘¦"Ibu, kenapa mainan aku lama sih datangnya?"

Ini anak, ibunya baru datang terus beban kerja yang ternyata tidak ringan membuat ibu sekuat tenaga menahan mulut. 

Ya ibu butuh tenang agar tidak bergantung pada anak untuk meluapkan emosi. Ibu mandi dan menyegarkan diri.

πŸ‘©"Nak paket mainan itu masih harus menunggu karena antrian kita baru masuk ke tokonya."

Ibu sadar kalau setelah mandi dan menyegarkan diri, ibu jauh lebih bisa mandiri secara emosional. Tidak bergantung pada anak-anak untuk sarana pelampiasan.

Jadi sebenarnya siapa yang butuh mandiri? Tentu saja orangtua. Selama 5 tahun mendampingi mamas Gian, ibu merasa jauh merasa lebih mudah menambahkan skill apapun ke mamas jika dalam keadaan siap. Tidak memiliki ekspektasi tetapi tetap memberi stimulasi. Saat ibu sadar dan mandiri secara emosional maka mamas Gian dengan mudah mengikuti. Sementara Geni lebih mencontoh apa saja yang dilakukan mamas. Ibu siap, mamas santai, Geni mah ikut aja.

Pola komunikasi antara ayah dan ibu juga berperan sangat penting karena aura keharmonisan juga memberikan anak-anak ketenangan. Lebih siap menjalani aktivitas dengan baik.

#harike4
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 3 Beberes Bersama Ayah

πŸ‘―"Suami ya pulang kerja, istirahat, makan malam."
πŸ‘± "Langsung mandi abis itu main hp di kamar."
πŸ‘© "Kok aku merasa durhaka ya dengan membiarkan anak-anak menyambut ayahnya terus menodong minta langsung main."

Banyak ibu yang salah berasumsi jika membersamai anak-anak adalah tugas mereka semata. Padahal kalau mau berkomunikasi suami bisa jadi partner yang solid.

harus memotret acara nikahan
Ya inginnya selalu menemani anak-anak 1x24 jam tetapi ternyata oh ternyata suami sudah paham jika istrinya juga butuh kegiatan di luar mengurus anak-anak. Bukan hanya demi kebaikan ibu tetapi juga kebaikan seluruh anggota keluarga. Bahwa ketika sang menejer keluarga merasa bahagia maka semua yang ada di lingkungannya juga akan terbawa.
***
Suami menceritakan jika anak-anak membereskan semuΓ  tanpa bantuan. Mulai dari mainan, sajadah setelah sholat dan juga buku-buku yang sudah selesai dibaca.

Awalnya memang berat karena banyak kemungkinan-kemungkinan yang dipikirkan. Namun setelah sering menghabiskan waktu berkualitas bersama dengan anak-anak, suami tidak lagi memiliki kekhawatiran yang berlebihan saat harus membersamai anak-anak tanpa ada aku di rumah.

Aku juga akhirnya memiliki kepercayaan saat harus bekerja dan meninggalkan anak-anak bersama dengan suami. Lho emangnya gak percaya? Ya lebih ke khawatir kalau ternyata Geni terus menerus nangis karena kangen ibunya.

Ya memang harus dicoba biar akhirnya tahu seberapa besar sih porsi yang harus ayah berikan kepada anak-anak biar secara emosi stabil juga tercukupi hingga bisa menjalankan tugas-tugas perkembangan dan kemandirian secara baik.
***
Membereskan mainan bersama anak-anak ternyata bisa begitu menyenangkan jika dilakukan dengan ayah.  Anak-anak bercerita selain bermain mainan yang sudah ada, mereka juga membuat jalur mobil baru menggunakan barang bekas bersama ayah.

“Ibu mah marah-marah terus. Kalau ayah menyenangkan.”
“Aku mau sama ayah.”

Inilah ternyata yang terjadi. Apabila suami ikut berperan serta dalam keseharian anak-anak, aku bisa mengosongkan kembali bagian otak yang berisi ekspektasi-ekspektasi. Kemudian mengisi hati dengan kasih sayang agar anak-anak bisa melihat ibunya murni sebagai ibu atau kadang teman bukan musuh atau monster.


#harike3
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 2 Sadar Menjaga Milik Orang Lain


Hari ini duoG menemani ibu menemui klien yang akan difoto. Sudah ada perjanjian setelah sampai di lokasi, ibu akan lama mengobrol dengan klien yang artinya duoG harus main sendiri. 

Postingan kali ini tidak ada gambar karena ibu memang lebih fokus ke klien.
***
Sampai di lokasi pertama alhamdulillah duoG langsung menikmati lingkungan yang asri. Ada ayam, kolam ikan, dan juga bebatuan.

πŸ‘Ά"Ibu, dedek mau lihat ikan."
πŸ‘¦"Mamas mau main mobil yang tadi mamas bawa."

Ya begitulah, terkadang ibu terlalu mengkhawatirkan si anak lalu merasa harus memperhatikan setiap detik berlalu. Padahal anak jika diberi kesempatan bisa juga mandiri.

Ketika rapat dengan klien selesai, tanpa perlu diingatkan mamas membereskan mainan dan memasukkan ke dalam tas sesuai tempat semula.
***
Tempat yang kedua adalah cafe kopi yang memang sudah biasa duoG kunjungi bersama ayah dan ibu. Begitu ibu rapat dengan panitia workshop, duoG main mandiri bersama teman-teman(anak-anak dari temen-temen ibu). 

πŸ‘¦"Dedek ayo kita beresin."
πŸ‘Ά"Ayo mas."
πŸ‘¦"Harus rapi ya dek biar kita bisa main lagi, gak hilang, gak rusak."
πŸ‘Ά"Iya mas.

Ibu memperhatikan dari jauh saat duoG berjalan menuju rak dan mengembalikan lego mobil juga rubik ke tempat semula.

Memang hanya perlu keikhlasan dari ibu dan juga ayah jika anak punya masa untuk akhirnya dilepaskan. Tidak melulu disetir harus begini , harus begitu.

#harike2
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Melatih Kemandirian Anak, Hari 1 Beresin Mainan Yuk!

Rasanya melelahkan jika semua dikerjakan sendiri. Kenapa tidak menjadikan anak-anak teman? Tidak terbebani dengan tanggung jawab berat menjadikan anak-anak sempurna layaknya keinginan orangtua. Lagipula bila ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, bukankah ayah adalah kepala sekolahnya? Jadi harus saling berkerjasama agar semua berjalan sesuai tujuan.

Haruskah komunikasi dengan produktif dengan kepala sekolah? Ya mau gak mau. Setiap pikiran sebaiknya diutarakan juga diselesaikan. Tidak hanya jadi ide mentah dalam otak.


Terus yang maunya sekolah di rumah bagaimana? Justru lebih gampang kan tinggal koordinasi sama suami dan bisa pakai jalan cara yang sesuai dengan visi misi keluarga.
***
Dalam satu minggu ke depan, aku memilih membereskan mainan sebagai pemanasan karena mamas Gian mulai sering marah-marah saat tidak menemukan mainan yang dia inginkan ketika waktu main bebas tiba.

πŸ‘¦ "Mainan aku hilang ibuuu."
πŸ‘©"Sudahkah mamas sudah taruh di rak dan mengembalikan sesuai tempatnya?"
πŸ‘¦ "Sudah ibu tapi mana? Gak ada."
πŸ‘© "Ingat kenapa harus kembalikan apa saja sesuai dengan tempatnya?"
πŸ‘¦ "Iya biar gampang menemukannya."
πŸ‘© "Nah terus harus bagaimana?"
πŸ‘¦ "Baik ibu aku akan bereskan semua mainan aku."

Rak di bawah TV memang khusus mainan mamas
Sementara Geni sengaja aku kasih pijakan untuk membereskan mainan juga sebelum menonton film favoritnya. Ya lebih mudah karena pada dasarnya ketika melihat mamas Gian membereskan mainan maka Geni juga akan mengikuti.


Melatih kemandirian anak bukan semata agar anak tidak menempel pada orang tua tetapi lebih pada pijakan-pijakan bertahap yang akan mengenalkan anak pada rasa tangggung jawab. Berawal dari memiliki kesadaran akan apa yang dimilikinya lantas paham untuk menjaga dan merawat apa yang sudah jadi miliknya.

#harike1
#tantangan17hari
#gamelevel2
#kuliahbundasayang
#melatihkemandirian
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 17 Perjalanan Kembali ke Titik Nol

Hari terakhir tantangan level 1, aku malah berpikir ini jadi titik nol lagi. Titik yang menguji bagaimana mempertahankan pencapaian yang telah diraih.

Berawal dari rasa bingung bagaimana harus memulai komunikasi yang sekian lama berjalan semaunya lalu mulai diperbaiki satu persatu. Mulai dari komunikasi dengan suami kemudian merambat ke anak-anak. 

Komunikasi produktif yang aku jalankan awalnya memang untuk menunaikan tugas tantangan level satu bunda sayang. Lantas bila tantangan itu berakhir malam ini apakah ke depannya aku akan kembali ke pola lama? Pola hidup satu atap lain tetapi asing. Tentu saja tidak. Aku akan terus praktik. Kenapa? Komunikasi produktif adalah pintu pertama yang harus aku buka untuk akhirnya bisa menjadi kesayangan suami juga anak-anak. Kemudian akan ada pintu-pintu lain yang harus terus menerapkan komunikasi produktif demi kemudahan dan kelancaran. Level dua menanti tetapi jika aku menjalani level dua tanpa komunikasi produktif rasanya mustahil akan sampai akhir.

Poin-poin yang ada di komunikasi produktif sudah mampu aku terapkan. Kembali ke titik nol bukan berarti tidak ada hasil melainkan mulai mengosongkan gelas untuk diisi ilmu yang lain

#hari17
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 16 Hadiah Surga untuk Emak

Anak-anak sakit secara bersamaan. Ngetik juga sambil ngeloni. Bolak-balik ngecek apakah masih panas apa sudah turun.


Komunikasi produktif di akhir-akhir deadline tantangan malah terlihat semakin berkualitas. Artinya emak semakin paham bahwa kesulitan-kesulitan itu memang ada untuk menguatkan tekad. Ya surga masa mau ditebus seperti tuker rongsok sih.

#hari16
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 15 Ketika Ibu dan Anak Tumbang

Musim peralihan dari kemarau ke hujan membuat cuaca tak menentu. Panas terik di siang hari kemudian dingin menggigil di malam hari. 
Akhirnya ibu dan anak tumbang. Ibu sakit kepala, mamas panas dan batuk kering, dedek juga demam.

Malam sempat agak panik karena mamas suhu badannya naik begitu pula dedek. Begadangan deh.

Paginya dengan mata sakit juga kepala cenut-cenut, tetap sounding kalau ibu harus kerja untuk melihat tempat yang akan dipake untuk workshop fotografi.

πŸ‘¨"Emang masih mau pergi? Anak-anak masih panas gitu?"
πŸ‘©"Ya lihat nanti aja."

Aku memilih untuk tidak melakukan kontak mata dengan suami takutnya malah akunya jadi nyolot. Ya soalnya udah janjian. Kan gak enak kalau batalin walaupun sebenarnya gak masalah juga. Siapa juga yang siap sakit. Pasti tak terduga.
πŸš—πŸš—πŸš—
Selesai sarapan, anak-anak minum obat dan mulai main di kasur. Batuk mulai tak terkendali dan mamas Gian tahu oxy dan imbos adalah obat paling bisa diandalkan.
πŸ‘¦"Ibu, kita beli oxy sama imbos biar aku gak batuk-batuk terus."
πŸ‘©"Oke setelah itu istirahat ya jadi pas ikut ibu kerja gak ngantuk."
πŸ‘¦"Iya ibu."

Negosiasi ala mamas Gian
Berhasil, setelah mengungkapkan kebutuhan ibu yang juga berhasil menjaga emosi saat sounding, meskipun kepala nyut-nyutan.
πŸ‘©"Mamas di tempat kerja ibu nanti gak boleh main. Main kalau kita pergi sama ayah ."
πŸ‘¦"Iya ibu. Aku tidur dulu biar sembuh. Biar bisa ikut ibu kerja."

Nah tantangan komunikasi produktif saat ibu dan anak sakit adalah bagaimana tetap memberikan perhatian proporsional padahal anak ingin perhatian lebih. Apalagi kalau Geni (2tahun6bulan) sakit yang artinya lebih menuntut perhatian.

Alhamdulillah sudah selesai meeting, mamas sudah dipesenin makanan dan es krim, giliran dedek Geni yang nangis kejer waktu ditinggal bayar pesanan. Padahal gak ada seratus meter jaraknya.
πŸ‘Ά"Mau sama ibu." 😒😒
πŸ‘©"Oke berhenti nangis kalau gitu."
Tegas sesuai yang aku mau. Begitu Geni diam, aku gendong terus bayar ke kasir.
Berat tetapi jauh lebih pusing dengar Geni nangis.

Komunikasi produktif itu bukan hal yang ribet selama niat terus diluruskan. Meskipun tumbang. Gagal coba lagi, coba lagi gagal. πŸ˜‚ Selama ada kemauan disitu ada jalan *quotesidu πŸ˜…

#hari15
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 14 Minim Empati Menambah Luka Hati

Apa hubungannya komunikasi produktif sama empati coba? Dalam setiap hubungan manusia pastilah ada peran emosi di dalamnya. Ketika emosi dikedepankan maka empati atau rasa ada di posisi orang lain akan berkurang. Begitu nalar lebih dominan, fakta-fakta tak terduga mencuat.
πŸ‘¨"Kalau udah niat sedekah ya gak usah diungkit lagi salahnya. Ikhlas saja mau kasih berapa. Dia bersikap seperti itu mungkin karena tekanan dari mana saja yang kita gak tahu."
πŸ‘©"Aku sebisa mungkin gak ketemu dia dulu lah. Aku tinggal aja uangnya di dekat penanak nasi."
Ceritanya lagi sebel sama ART yang masuk kerja seenaknya. Terus anak-anak sakit dan koyo yang baru diambil 1 lembar hilang. Kemudian jadi merenung, ini aku baru dikasih situasi begini saja jadi heboh. Mana ART jadi ikut imbasnya lagi. Biasanya gak papa dia datang seenaknya, terus jadi sebel dan berniat memotong gaji. Akhirnya suami mengingatkan.
Komunikasi produktif berupa clear and clarify berjalan semestinya.

Setelah itu berbagi cerita dengan teman-teman lain yang memiliki nasib sama juga menambah kesadaran. Kalau dipotong gaji yang gak seberapa padahal bisa niat sedekah, berkahnya bisa jadi tidak dinikmati. 

Ketemu teman-teman, ada pelajaran yang bisa dibagi.
Pada akhirnya aku paham bahwa silaturahim itu seperti ajang cuci hati. Bertemu dengan teman-teman dan juga saudara kemudian kerja bersama agar hati perlahan tapi pasti mau memahami orang lain juga ikhlas.


πŸ‘¦"Ibu mobil dedek jatuh terus hilang."
πŸ‘Ά 😒😒😒
πŸ‘¦"Nanti sama-sama kumpulin uang biar bisa beli lagi ya dek."
πŸ‘Ά"Iya mamas."
Apa-apa yang ada di genggaman itu gak akan selamanya. Tunggu waktu untuk berganti dengan yang lain.
πŸ‘©"Untung mobilannya yang jatuh bukan dedeknya."

Minim empati berawal dari kurangnya komunikasi kemudian berujung pada luka hati. Orang itu tidak bisa 100% sempurna. Makanya terus menerus mengasah komunikasi produktif berimbas pada  empati. 

#hari14
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 13 Kami Sayang Ibu

Komunikasi produktif kami hari ini seputar membantu ibu mencari tempat untuk parade rumbel IP Bekasi.
πŸ‘¨"Susah susah gampang kalau akses pendingin gitu."
πŸ‘©"Iya Yah, makanya semua cari tempat biar punya banyak pilihan."
πŸ‘¦"Ayah, ibu cari tempat buat lomba masak? Lomba masak itu apa Yah?"
πŸ‘¨"Masak sama-sama terus yang paling enak menang dapat hadiah."
πŸ‘Ά"Kita pergi ya Yah."
πŸ‘©"Iya kita makan di warung ya nak."
Suami baru pulang kerja langsung diminta menemani survei tempat. Alhamdulillah karena sudah komunikasi dari kemarin tentang parade yang akan diselenggarakan bulan November, suami paham dan ikut membantu. Suami juga memberikan wacana beberapa alternatif yang mungkin bisa dijadikan tempat. Meskipun belum menemukan yang pas, diskusi kami justru bisa digunakan sebagai ajang komunikasi produktif.  Clear and clarify, eye contact, intonation and body language, right time semua masuk hari ini.
Di sela lelahnya suamiku menyempatkan diri menemani, anak-anak juga masih gak enak badan tapi suami mengizinkan kami makan di luar sambil survei, aku merasa sangat disayang oleh mereka.
πŸ’«πŸ’«πŸ’«
Bukan menyuruh tetapi meminta tolong
Cara anak-anak berkomunikasi memang berbeda dengan orang dewasa, ada unsur menyenangkan di dalamnya.
"Yuk kita lomba beresin mainan. Nanti yang bantu ibu bisa dapat susu coklat dingin."
Mamas Gian dan Geni semangat membereskan lego-lego yang tadi mereka mainkan.
Bukan mengontrol emosi melainkan mampu menerima dan sadar akan emosi yang sedang dirasakan saat itu.
πŸ‘¦"Ibu aku capek kalau beresin terus."
πŸ‘Ά"Capek ibu capek."
πŸ‘©"Gak papa nak, ibu juga bantuin. Santai saja. Beresinnya sambil nyanyi yuk."
πŸ‘Ά"Kapal ibu, mau kapal."

🎡Lihatlah sebuah titik jauh di tengah laut🎡Makin lama makin jelas bentuk rupanya🎡Itulah kapal api yag sedang berlayar🎡Asapnya yang putih mengepul di udara🎡

Ketika komunikasi berjalan produktif, aku begitu menikmati peran sebagai ibu. Ya memang untuk jadi ibu hebat tidak perlu sempurna melainkan terus berproses dari kesalahan menuju perbaikan.

#hari13
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 12 Hebat Bukan Berarti Tidak Pernah Gagal


Hari ini merasa gagal banget komunikasi dengan kesayangan-kesayangan. Badan rasanya lelah padahal cukup tidur dan habis mendengarkan IG Live mas Adjie tentang overthinking. 

Apakah aku tidak boleh gagal? Boleh dong ya. Siapa yang mengharuskan untuk jadi hebat gak boleh gagal?

Hebat yang bagaimana sih? Hebat yang membuat seseorang sadar dan menerima utuh juga penuh dirinya sendiri. Kemudian bisa menerima jika segala ketidakpastian itu akan semakin menyakiti bila ditambah ekspektasi tinggi.

Begitu aku berhenti sejenak dan melihat diriku sendiri, oh di sanalah aku harus kembali.

Dalam komunikasi produktif ternyata tidak melulu berhubungan dengan orang lain melainkan diri sendiri juga. Eh kok baru sadar setelah hari kedua belas. Ya gak papa mungkin harus salah dulu untuk tahu apa yang benar.
πŸ’’πŸ’’πŸ’’
Pilihan kata, bagaimana bisa berkomunikasi yang produktif bila kosakata terbatas. Terus jadi tambah rumit untuk menyampaikan pesan dengan jelas jika aku tidak punya kosakatanya.

Waktu yang tepat juga akan sulit ditemukan bila aku belum selesai dengan diriku sendiri. Kok bisa? Ya iyalah maunya orang lain aja yang mengalah, akunya ya ogah lah.

Mengendalikan emosi, bagaimana bisa mengendalikan kalau menerima siapa diri aku saja kadang masih terbata-bata. Masih sering nanya ke orang, aku tuh gimana sih?

Observasi, apa yang mau diobservasi kalau rutinitas saja gak punya.

Bingkai referensi dan pengalaman yang seharusnya membimbing menuju nalar yang lebih panjang malah berhenti pada rasa sakit serta masa lalu.
πŸ’’πŸ’’πŸ’’
Aku istri macam apa sih? Bolak-balik suami menegaskan kalau baik kekurangan maupun kelebihan aku akan diterima dengan ikhlas.

Aku ibu macam apa ya? DuoG menerima juga segala kasih sayang juga kegalakan.

Jadi kenapa aku masih saja merasa minder untuk bisa menerima diriku sendiri?

Pada titik berhenti kali ini aku menemukan jika gagal adalah asahan pisau agar pisau kembali tajam dan maksimal digunakan. Selain itu saat berhenti aku juga menyadari kalau menerima ketidakpastian dalam hidup itu jauh lebih masuk akal daripada terus menggenggam ekspektasi.

Besok aku akan coba lagi berkomunikasi dengan diri sendiri saat gigi gemeletuk menahan marah. Berterima kasih pada diri untuk tetap kembali sadar jika anak itu punya hak untuk disayangi bukan sekedar pelampiasan emosi.

πŸ‘¨πŸ‘¦πŸ‘Ά "Peluuuk, Ibu!"
πŸ‘©πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


#hari12
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 11 Lepaskan Kesempurnaan

You can't be perfect but can be better!

Ada satu pemandangan yang lupa aku ceritakan. Ini kejadian yang sudah lama tetapi komunikasi aku dengan kesayangan-kesayangan mengingatkan aku pada pagi yang penuh pembelajaran. 

Tentang pemandangan seorang ayah yang menggendong putrinya naik motor sendirian. Tentang ingatanku saat hamil Geni dan suamiku menyusul dengan membawa serta mamas Gian. Naik motor laki yang susah kalau anaknya tiba-tiba tertidur. Si ayah itu juga berkali-kali berhenti untuk memastikan posisi gendongannya benar. Berjalan perlahan agar anak perempuan dalam gendongannya tidak terbangun. Suamiku juga bolak-balik ditegur karena mamas Gian tidur. Ya mau bagaimana, jadwal dokter yang mengharuskan aku berangkat lebih dulu. Kemudian mamas Gian minta menyusul ibu. Ketika melihat ayah itu, aku ingin sekali turun dan membantu. Ingin mendengar cerita dibalik kenapa dia sendiri yang menggendong anaknya. Apakah karena istrinya harus ke dokter lebih dulu? Sayangnya aku sudah ada tugas hari itu.  

Terlepas dari semua kekurangan yang semua orangtua di dunia ini miliki, kita pasti mengusahakan yang terbaik bagi anak-anak. Re-framing sosok bapak yang jadi hantu masa lalu aku. Benar-benar ingin melepaskan kesempurnaan dan menjadi orangtua yang lebih baik lagi.
πŸ‘ͺπŸ‘ͺπŸ‘ͺ
πŸ‘¨"Aku kan sudah meminta kamu terlalu banyak. Setidaknya aku bisa kasih sesuatu yang jadi passion kamu."
Saat yang tepat karena memang lagi butuh ngobrol masalah kerjaan, passion, dan juga impian.
πŸ‘¨"Tapi ya sabar sampai tahun depan kalau memang masih mau kuliah psikologi."
πŸ‘©"Jalani dulu saja. Takutnya di tengah jalan galau pindah haluan lagi."
πŸ‘¨"Ya semoga pas gak galau, semuanya udah siap. Ya waktu, tenaga, dan modalnya. Lagian kalau kamu mau kuliah lagi kan bisa mendidik anak-anak jadi lebih baik. Mempersiapkan anak-anak jadi pribadi yang lebih baik. Gak hanya terlunta-lunta di rumah saja."
πŸ‘©"Ya selama ini aku memang merasa berat sekali untuk sekedar berada di rumah. Berurusan seharian hanya dengan anak-anak. Terus ketika kamu menawarkan kuliah lagi entah kenapa rasanya jauh lebih baik."

Melepaskan kesempurnaan kemudian berkomunikasi dengan pasangan secara produktif serta pada akhirnya menyamakan tujuan: menjadi orangtua yang baik dan benar. Butuh menggunakan nalar memang karena bila emosi menguasai komunikasi akan berakhir dengan pertengkaran tak berkesudahan. Maunya dimengerti tetapi ogah mengerti. Nah komunikasi produktif inilah yang dulu gagal aku dapatkan dari kedua orangtuaku, karena itulah aku tidak mau anakku juga berakhir menduga-duga dan salah asumsi padaku dan suamiku. Bila anak-anakku melihat kami bisa berkomunikasi secara produktif maka mereka akan mencontoh juga nantinya.
πŸ‘ͺπŸ‘ͺπŸ‘ͺ
Melepaskan kesempurnaan juga termasuk mampu menyaring suara-suara dari luar kemudian menyesuaikan dengan visi dan misi keluarga sendiri.
πŸ‘¦"Ibu, yayi kok marah-marah terus. Aku gak suka yayi."
πŸ‘©"Nak, justru itu karena yayi sayang makanya yayi mengingatkan mamas. Memang mamas mau didiemin aja sama yayi?"
πŸ‘¦"Gak mau. Terus kenapa aku harus makan pakai tangan kanan. Yayi ingetin aku terus. Aku bosen."
πŸ‘© "Tangan kiri, kalau nanti mamas sudah bisa, akan dipake buat cebok mamas. Tangan buat cebok terus dipake buat ambil makanan, kira-kira gimana?"
πŸ‘¦"Jorok ibu."
πŸ‘©"Sip! Mamas pintar sudah tahu tangan kanan buat makan tangan kiri buat cebok."
πŸ‘¦"Tapi kalau udah cuci tangan gimana ibu?"
πŸ‘© "Contoh Nabi Muhammad nak, beliau kalau makan pakai tangan kanan."
πŸ‘¦"Sholat juga."
πŸ‘© "Iya dong."

Komunikasi produktif hari ini diawali dengan mengendalikan emosi terus intonasi yang bersahabat juga bahasa tubuh berupa belaian rambut saat anak merajuk. 

Si ayah itu dan suamiku mungkin memiliki kesamaan, akan menjelaskan dengan pilihan kata yang paling mudah dipahami anak-anak jika istri mereka kebetulan lagi kumat gesreknya. Sementara kalau istrinya waras selalu mendukung apapun yang istrinya tanamkan pada anak-anak.
πŸ‘ͺπŸ‘ͺπŸ‘ͺ
πŸ‘©"Adek berenangnya  besok ya. Sudah malam, dedek mau apa dulu?"
πŸ‘Ά"Bobok."
πŸ‘©"Uwi-uwinya mau dibawa?" *pelampung bentuk mobil polisi
πŸ‘Ά"Iya bawa."

Umur dua tahun sudah mampu diajak kompromi. Melepaskan kesempurnaan dengan menikmati perkembangan tanpa ada tuntutan-tuntutan harus begini, harus begitu. Penting untuk mengatakan apa yang aku mau anak lakukan. Aku beri deskripsi sesuai yang dedek Geni tahu.

#hari11
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 10 Terus Membuka Jalan

Ketika berkomunikasi, haruskah selalu dekat? Bagaimana dengan yang long distance marriage, terus yang anaknya masuk pesantren, belum lagi kalau anaknya lebih lengket ke asisten rumah tangga.
Terus membuka jalan, untuk berkomunikasi meski terkadang disertai pertengkaran juga tangis penyesalan. Dari semua kesalahan semoga Tuhan berikan pemahaman.
🎁🎁🎁
Ada yang pernah bilang padaku kalau menikah itu seperti membuka kotak kado. Ada yang aku inginkan, ada yang sesuai kebutuhan, banyak juga yang tidak sesuai keinginan. Begitu game level 1 dimulai, aku sering melihat kembali ke masa-masa awal pernikahanku. Ada masa dimana aku dan suami hanya tinggal di satu atap tetapi jiwa kami terpisah. Larut dalam imajinasi sendiri. Ada banyak luka yang belum terselesaikan bagiku.

Setelah sempat long distance marriage, aku dan suami mulai lagi dari awal. Benar-benar seperti dua orang asing. Aku tak hendak mengenalnya lebih jauh, banyak hal yang aku simpan sendiri. Apa-apa yang aku rasa lama-lama menutup semua jalan masuk bagi suamiku untuk lebih mengenalku.

Alhamdulillah semua jalan kembali terbuka sekarang. Aku mulai menuntaskan masalah satu persatu agar tidur dalam keadaan plong. Bangun tidur dengan segar. Komunikasi kembali kami tingkatkan. Mulai dari memberi kabar agar saling tahu posisi, mengurangi buruk sangka, dan berusaha untuk produktif saat ada di rumah. Tidak lagi diam-diam, mulai bertanya agar jawaban panjang dan ada unsur mengungkapkan perasaan, serta memaknai pertengkaran sebagai pembelajaran. 

πŸ‘©"Aku akan mulai mengungkapkan yang aku rasa. Aku juga akan mengurangi baper. Kalau sudah ya sudah, gak akan ungkit-ungkit."
πŸ‘¨"Pelan-pelan aja gak usah ngoyo. Kurangi dulu aja pikiran yang gak terlalu penting."
πŸ‘©"Oh kirain mau minta gak usah mikir."
πŸ‘¨ "Susahlah. Apalagi wanita, apa saja dijadiin pikiran, beban. Makanya aku tuh suka dan dukung kalau kamu nulis. Setidaknya ada yang berkurang lah yang ruwet di pikiran."
πŸ‘©"Kok kamu ngerti banget sih Bi."
πŸ‘¨"Ya lumayan lah dari 2005."

Weh lama juga yak. Udah 13 tahun. Coba kalau kami sama-sama tidak bertumbuh dan terus membuka jalan komunikasi? Aku akan menyerah pada dia yang masih aja susah taruh piring kotor ke tempat cuci, suami juga akan ogah karena aku terus menerus mengungkit hal-hal yang telah berlalu. Clear and clarify tidak akan dilakukan. 
πŸ‘©"Gak paham ya udah."
πŸ‘¨"Tinggal ngomong lagi apa susahnya sih."

Ya karena waktu itu aku belum paham bagaimana sih komunikasi yang produktif itu. Ternyata harus mengerti dulu kalau kami berasal dari lingkungan, cara didik, juga pengalaman yang berbeda. 
Nah sekarang begitu paham ya usaha untuk setiap hari praktik. Gak gampang jengkel kalau suami bawa pulang sate ayam doang tanpa sop daging karena instruksi kurang lengkap.
πŸ‘¨"Emang adek bilang kalau minta beli sop?"
πŸ‘©"Gak sih, adek pikir Bi inisiatif karena kan sate disitu ada sop dagingnya juga."
πŸ‘¨"Maaf ya adek gak bilang jadi ayah ya belinya sesuai pesanan."
Tidak lagi jengkel karena sudah tahu harus tanggung jawab jika tidak memberikan instruksi yang jelas.

Aku tuh gak bisa bohong kalau udah menatap mata suamiku. Ya memang disitulah jalan untuk komunikasi produktif. Terbuka dan jujur.
πŸ‘©"Aku lelah banget hari ini. Anak-anak jadi korban omelan aku."
πŸ‘¨"Oke kita jadwalin terapi ya. Biar semua kembali sadar dan waras."
🎁🎁🎁
Komunikasi produktif, kejarlah aku! πŸ˜‚πŸ˜‰

Anak-anak akan tetap membuka komunikasi karena segalak apapun orangtua, mereka tetap yakin orangtualah tempat ternyaman untuk kembali.

πŸ‘¦" Ibu aku kadang jahat suka marahin aku tapi kadang baik juga. Aku sayang ibu."
Jawaban jujur dari mamas Gian ketika ditanya tentang ibunya.
Dari jawaban itulah aku merenung. Memang setelah ngomel atau bentak, sebisa mungkin aku jelaskan kenapa hal itu bisa terjadi kemudian meminta maaf. 
Seburuk apapun keadaan hari itu, sebisa mungkin aku jelaskan. Hanya sejenak menutup akses agar tidak kebablasan marahnya.

Fokus ke masa depan, membahas kesalahan di masa lalu sebagai pembelajaran.
πŸ‘¦"Dulu aku dimarahin ibu kalau pipis di celana. Terus aku sudah lima tahun, aku sudah bisa pipis sendiri di kamar mandi ya bu? Kenapa sih?"
πŸ‘©"Ya karena mamas belajar terus. Berlatih sampai bisa. Terus kalau udah enam tahun, bisa bobok sendiri?"
πŸ‘¦"Iyalah kan aku hebat."

Jelas dalam memberikan pujian mempengaruhi mamas Gian dalam menentukan target bagi dirinya.
πŸ‘©"Ya mamas hebat sudah bisa pipis dan mandi sendiri."
πŸ‘¦"Entar kalau aku udah enam, aku boleh buka lego yang enam ya bu. Eh kalau aku udah bisa bobok sendiri.

Terus menerus membuka jalan komunikasi tentu akan menghasilkan. Keep the good work and pray hard.
🎁🎁🎁
πŸ‘Ά"Sayang ibu."
Justru dari Genilah aku belajar intonasi dan bahasa tubuh yang jujur nan tulus.

Tiba-tiba anak aku yang berumur 2 tahun 6 bulan ini begitu cepat menyerap kosakata-kosakata di sekitarnya. Aku merasa tiba-tiba karena kadang aku tidak tahu darimana dia dengar. Ya walaupun sebagian dia serap dari aku, suamiku, dan mamas. Mungkin sebagian lagi dari kartun-kartun yang dia tonton.

Observasi sebagai cara untuk meredam emosi dan memahami lebih jauh.
πŸ‘Ά"Aku capek ibu."
πŸ‘©"Kenapa bisa capek?"
πŸ‘Ά"Main terus."
πŸ‘©"Bagaimana kalau kita beresin biar dedek bisa bobok?"
πŸ‘Ά"Biar sakit kena mainan. Ayo ibu ayo beresin."
Dengan cepat bisa memutuskan. Modal telinga, sedikit kesabaran, dan ketulusan.
🎁🎁🎁
Hari ke sepuluh dan masih terus membuka jalan untuk komunikasi yang produktif.

Mengejar ketinggalan. Menikmati hari ini. Menurunkan kecemasan akan hari esok.

#hari10
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komunikasi Produktif, Hari 9 Tanpa Ego Bisa Lho!

Ketika kehilangan semangat untuk sekedar bangun dari tempat tidur, mager, dan hanya melayangkan angan tanpa eksekusi. 

Ego menguasai, bermalas-malasan. Suami berangkat dengan perut kosong, anak-anak harus menunggu lama sekedar ingin makan roti oles selai coklat, kepala pening karena kebanyakan tidur.

Komunikasi produktif memang seperti jembatan yang menghubungkan satu ego dengan satu jiwa tulus untuk sekedar mengetuk.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
πŸ‘¨"Kalau sudah menyadari tinggal atur strategi agar berubah."
πŸ‘©"Apa kamu gak nyesel punya istri macam aku?"
πŸ‘¨"Kita sama-sama berjuang ya. Gak perlu kebanyakan pikiran yang gak penting. Fokus dan tuntaskan."

Suamiku tahu pasti apa mimpiku. Dia tidak pernah memaksa aku untuk ini dan itu. Akulah yang kadang-kadang kehilangan diriku sendiri. Berusaha selalu menguatkan diri agar tuntas.

πŸ‘¨"Makan pedes boleh tapi gak usah nyiksa diri ya."
πŸ‘©"Iya tapi jadi cemen. Level dua aja udah nyerah."
πŸ‘¨"Gak papa yang penting gak sakit perut kan kamunya?"
πŸ‘© "Aku buat foto aja. Cicip sedikit terus bagi ke mba Dini."
πŸ‘¨"Kalau gak bisa gak usah dipaksa."
Bahan komunikasi kami, seblak level 2 πŸ˜‰
Aku yang suasana hatinya naik turun tetap berusaha menemukan waktu yang pas agar mampu berkomunikasi dua arah dengan suami. Sama-sama memastikan bahwa kami baik-baik saja di sela-sela kerjaan masing-masing merupakan komunikasi yang kami usahakan untuk tetap sadar dan waras.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
πŸ‘¦"Ah bikinan ibu jelek."
Protes mamas Gian saat aku membuat mobil perang dari lego.
πŸ‘© 😈 agak bertanduk tapi masih diem dan fokus biar egonya gak menang. Setelah marahnya mereda baru mulai ajak komunikasi.
πŸ‘© "Mamas mau coba bikin? Pasti bisa."
πŸ‘¦"Aku nunggu ayah aja ah. Biar bikinnya bagus."
Di satu sisi senang karena mamas paham siapa yang lebih mampu. Ya memang aku sebagai ibunya belum cukup mampu kalau urusan merakit lego. Sadar diri lah tetapi aku ingin menunjukkan pada mamas artinya usaha dan ketekunan akan membawa hasil suatu saat nanti.
πŸ‘©"Apakah mamas belum mau mencoba seperti yang ibu lakukan?"
πŸ‘¦"Aku udah coba tapi copot-copot terus. Gak tahu salah dimana."
Hihihi, aslinya pengen nyeletuk kalau kualitas kadang dipengaruhi harga. Namun observasi dan penerimaan emosi  cukup sampai di sini hari ini.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
πŸ‘Ά"Ahhh ibu payah."
Ternyata kata itu masih saja melekat hingga hari ini. Meskipun nadanya lebih ke becanda daripada kritikan. 
πŸ‘©"Dedek Geni hebat, dedek Geni hebat, dedek Geni memang hebat. Anaknya ibu Apik." (🎢🎡nada happy birthday)
Pengalihan untuk aku karena memang Geni tidak bermaksud untuk mengkritik ibunya.
πŸ‘©"Dedek kita main air yuk. Tuang di ember."
πŸ‘Ά"Air mancur ibu, bagus ya ibu."
Kemudian aku bisa menikmati mata berbinar Geni saat mengeksplor air dengan menuang ke ember yang sudah dibolongi sehingga bisa menyerupai air mancur.
πŸ™ˆπŸ™‰πŸ™Š
Bila mengikuti ego pastilah aku akan berkomunikasi dengan gaya memerintah dan melarang ini itu. Namun aku sadar itu akan merusak komitmenku untuk menjadi orangtua yang sadar.

Tanpa ego, asal aku mau mengambil jeda agar bisa sejenak hening mengembalikan lagi kesadaranku untuk hadir utuh bersama kesayangan-kesayangku, ternyata bisa lho.πŸ˜‰

Ya kembali ke niat. Tidak ada orangtua yang sempurna tetapi tidak akan benar jika hanya mengikuti ego tanpa menyertakan kesadaran juga kewarasan. 

#hari9
#gamelevel1
#tantangan17hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional