Jumat, 06 Oktober 2017

Tulisan Zaman Baheula Plus Editannya

TENTANG SAYA
 [TR1] Saya hobi menulis sejak kelas 5 SD. Cerpen atau puisi yang saya tulis dibaca oleh teman-teman dekat. Entah mereka objektif atau hanya menyenangkan hati, mereka bilang menyukai karya-karya saya. Hobi itu terus berlanjut sampai di SMA. Saya sempat menjadi ghost writer yang mengerjakan hampir 20 cerpen untuk teman-teman sekelas yang menginginkan nilai bagus di mata pelajaran bahasa Indonesia. Saya mulai berhenti saat masuk kuliah. Kenapa saya berhenti karena alasan-alasan seperti:
2.      Menemukan banyak hal baru
3.      Menemukan teman-teman yang lebih suka membaca daripada menulis
4.      Menyesuaikan dengan orang-orang yang tidak menyukai 'bakat menulisku'
5.      Tidak punya ide
6.      Menyesuaikan dengan lingkungan bahasa yang baru (bahasa Inggris)
7.      Menulis dengan bahasa Indonesia jadi lebih susah (saya kuliah di jurusan bahasa Inggris) 
8.      Lebih suka beli-beli buku lalu tergeletak dan tak selesai dibaca
9.      Sibuk kuliah
10.  Sibuk mengejar dosen
11.  Sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah
12.  Kalau ditulis mungkin daftarnya lebih dari seratus yang intinya saya mulai meninggalkan hobi saya, berselingkuh dengan kesenangan yang lain.
[TR2] Sudah sejak lama saya berpikir untuk menjadikan menulis sebagai sumber penghasilan. Namun selalu saja ada alasan-alasan yang seharusnya bisa saya singkirkan dengan mudah. Ya saya mengakui jika saya seorang melankolis yang melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan sehingga ide-ide tulisan hanya berakhir sebagai ide yang tak terselesaikan. Selain itu, saya suka sekali menunda dan menunggu waktu yang sempurna untuk mulai menulis. Waktu sempurna untuk saya tentunya.
“Nanti sajalah kalo sudah sampai di kos, ada di depan laptop, secangkir teh dan cemilan. Sungguh waktu yang pas untuk menulis.”
            Dan ternyata tidak pernah ada waktu yang sempurna untuk menulis. Setelah sampai di kos, saya akan langsung merebahkan diri dan mulai merajut mimpi hingga pagi hari.
“Besok sajalah, hari ini terlalu letih.”
            Dari satu penundaan ke penundaan yang lain. Dari satu rancangan waktu sempurna ke rancangan waktu sempurnya yang lain. Sungguh, akhirnya saya tak jua memulai.
Saat saya bertemu dengan seorang pria yang luar biasa berpengetahuan dan memulai semua kisah kami. Merasakan kembali euforia cinta. Dan endorfin itu menuntun saya kembali bercinta dengan tulisan. Note yang menggambarkan perasaan disertai tanggal, saya tulis untuk kemudian saya jadikan novel. Ya novel perjalanan kisah kami. Namun itu semua lenyap tak berbekas setelah beberapa bulan yang lalu laptop saya koma. Menangis, meratap dan penyesalan yang berkepanjangan. Saya memikirkan masa-masa keemasan ide dan tulisan yang hilang bersama mati surinya laptop. Mulai saat itu saya jadi apatis, skeptis dan kering kerontang. Saya tidak bisa menulis karena semua ide saya telah ikut mati suri bersama laptop. Saya tidak lagi punya penyemangat untuk menulis.
Juli 2011 saya menikah dengan pria luar biasa tersebut dan mulailah dengung-dengung: "Kapan mulai nulis lagi dek?" Ya dia tahu apa yang saya suka. Dia tahu apa yang bisa buat saya bertahan dari badai stres. Namun saya masih dengan berjuta alasan dan dia juga tanpa menyerah mendengung-dengungkan: "Ayolah, kapan mulai nulis?"
“Mas, adek boleh ikut pelatihan menulis ya?” tanyaku ragu
“Ikut aja dek, mungkin dari sana adek bisa mulai semangat nulis lagi.”
Ada dua pelatihan menulis yang saya ikuti tetapi belum juga mulai menulis.
 “Apa gunanya punya banyak ide cerita dan sering ikut pelatihan tetapi tidak ditulis. Percuma! Yang harus adek lakukan cuma menulis. Mulailah menulis.” ujar suami saya tegas.
            Mei 2012, saya resmi menyelesaikan kontrak kerja saya. Fokus mengurus anak. Mulailah hari-hari dengan waktu luang yang tak terbatas. Ya, anak saya masih bayi jadi lebih banyak tidur, kalau anak sedang tidur lantas saya bingung hendak melakukan aktivitas apa. Mulai dengan membaca novel-novel yang sudah dibeli tetapi belum selesai dibaca. Mulai membuka diri dengan bersosialisasi dengan teman-teman lama. Mulai update di facebook dan mengikuti kelas-kelas online.
“Sekarang mas aja yang kasih kamu dateline![TR3] 
“Kok gitu?”
“Ya biar adek mulai menulis. Satu bulan satu cerpen. gampang kan? Hanya dua halaman saja. Ok, deal ya!”
“Terus dari mana mulainya?”
“Ya mulai aja dari apa yang adek rasakan. Perasaan yang ingin adek ungkapkan. Hal-hal yang tidak bisa dibicarakan secara langsung. Misalnya adek lagi sebel sama mas tapi gak bisa ngomong langsung ya adek bisa tulis aja. Dari tulisan itu mas kan bisa lebih tahu apa yang sedang ade rasakan. Gimana? Mudah kan?”
“Ya, tapi gimana kalau harus stand by jagain anak? Ya sich kerjaannya cuma lihatin dia tidur tapi kalo ditinggal dia pasti nangis, minta ditungguin.”
“Mas tahu itu makanya mas beliin adek handphone Blackberry. Adek bisa tetap menulis dimana aja terus bisa dipindah di laptop atau mau langsung kirim juga bisa. Mas sudah daftarin paket yang full service jadi semua sempurna. Mas harap adek bisa mulai nulis tanpa harus mikir-mikir yang gak perlu.” ujar suami disertai senyum penuh pengertian
Entah mengapa saat itu saya merasa tertantang, ingin segera menulis. Mungkin lebih pada alasan, apa lagi yang akan saya lakukan? Saya sudah tidak bekerja, yang artinya saya tidak punya lagi aktivitas pasti dari jam tujuh pagi sampai jam tiga sore. Suami saya yang memang penuh pengertian telah membukakan jalan. Tinggal saya saja yang mulai menulis. Tidak perlu banyak alasan dan penundaan. Baiklah saya harus mulai menulis. Dimulai dari apa yang saya rasakan tetapi belum dapat diungkapkan secara langsung.
            Setelah mulai menulis, perlahan-lahan saya memahami. Hal yang harus saya lakukan untuk mendapatkan apapun yang saya inginkan adalah bertindak. Menyingkirkan semua asumsi-asumsi, waktu yang sempurna, dan penundaan. Intinya adalah bertindak. Action!  Jika tidak bertindak maka saya tidak dapat memujudkan apa yang saya impikan dan saya juga tidak dapat apapun yang saya inginkan. Hari ini 6 Juni 2013 melalui perjuangan yang melelahkan dan emosional serta terapi aura yang tiada henti, saya mengakui kalau saya seorang pemalas dan pemberi banyak  untuk menunda dan memulai menulis. Dan mulai hari ini, saya akan terus berjuang untuk tidak malas dan menunda. Jika ada ide saya akan berusaha untuk langsung menulis.





 [TR1]Dari sini sampai halaman terakhir tidak termasuk fiksi, Mbak. Ini tulisan nonfiksi true story. Biasanya masuk ke tulisan inspiratif.
Banyak buku yang berisi tulisan semacam ini, antara lain seri Chicken Soup (Gramedia Pustaka Utama) dan A Cup of Tea (Stiletto Book).

Tulisan seperti ini nyata, true story. Akan kita bahas di Materi III (tanggal 12 Juni).

Cerpen, puisi, novel, novelet  termasuk tulisan fiksi. 




 [TR2]Dalam menulis cerpen, hindari penulisan seperti ini. Paparkan, ceritakan, bukan poin per poin.

Dalam kisah inspiratif (nonfiksi) pun sebaiknya dihindari. Penyampaian poin-poin begini membuat tulisan terlihat lebih kaku, kurang menyentuh ke hati. J



 [TR3]Deadline, Mbak. Bukan dateline J

###

Akhir-akhir ini sering diminta untuk memberikan masukan untuk tulisan beberapa teman. Nah jadi ingat guru pertama menulis onlineku adalah Triani Retno. Seorang editor dan juga penulis. Kalau melihat satu folder yang berisi latihan, malu tetapi tetap bersyukur karena dari Mba Triani lah aku belajar tertib. Tidak menulis dengan singkatan-singkatan alay, mempelajari EYD, dan yang pasti terus menulis apapun keadaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design