Selasa, 03 Oktober 2017

Rasa Bangga Itu Bernama Bergerak

Tentu tidak mudah untuk seseorang: menikah, punya anak, tanpa pengalaman merawat bayi tetapi harus menerima ketika bayi lahir.

Aku pernah ada di posisi itu. Aku merasa diremehkan saat menjadi ibu baru. Seandainya, ya seandainya saat itu aku belajar dengan cepat dan bersyukur maka semua akan jadi lebih mudah. Namun bagaimana pun juga aku tetap saja bersyukur telah melewati semua masa penyesuaian "ibu baru" itu dengan penuh pengalaman.

1. Anakku selalu memberikan "pembelajaran"

Aku sungguh tertatih. Jam tidur tak karuan, bentuk badan yang tak lagi aduhai, dan penyesuaian yang tanpa henti. Betapa keras aku mendidik si sulung. Tak pernah dia lolos tanpa cubitan saat toilet training dimulai. Aku macam guru yang memberikan hukuman fisik ketika murid tak becus mengaplikasikan ilmu. Aku sadar banyak bekas luka batin yang aku goreskan meskipun pada akhirnya si sulung selalu menyunggingkan senyum maaf.

Selalu dan selalu memaafkan. Itulah yang terjadi. Si sulung sangat gigih untuk memberi tahu aku ibunya, bahwa tidak perlu takut dengan apa yang orang lain pikirkan. Aku adalah ibunya jadi akulah yang harus menerima dia apa adanya tanpa syarat. Bukan orang lain.

Si sulunglah yang akhirnya memberikan rasa bangga padaku atas keinginanku bergerak. Bergerak dari masa lalu menuju masa kini. Biarlah masa lalu ada pada tempatnya yang terpenting adalah hari ini aku berusaha jadi ibu terbaik baginya bukan karena orang lain.

2. Anakku selalu membanggakanku

"Aku sayang ibu," ujar si sulung sembari memberi ciuman di pipi kiri.
Setiap kali aku bicara dengan lemah lembut dan penuh pengertian padanya maka dia akan dengan manja menciumku. Begitu tulus.

"Ibuku ada di rumah. Nemenin aku. Kadang kerja tapi aku boleh ikut."
Aku sampai kehilangan kata-kata ketika si sulung bercerita pada teman sekolahnya kemarin.

Apa lagi yang aku tunggu? Tidak ada. Aku harus segera bergerak dan memaafkan diriku. Diriku yang kasar, cepat marah, dan ringan tangan. Begerak untuk jadi ibu yang lebih bisa mengontrol diri sendiri.

3. Anakku selalu berusaha dengan gigih meski kadang dia bilang gak bisa

Sepatu roda itu adalah milikku ketika masih pacaran. Aku belum lancar hingga si sulung memintaku mengajarinya. Mau tidak mau aku pede padahal belum lancar. Aku tidak mau mematahkan semangatnya. Aku contohkan bagaimana cara berdiri, berjalan, dan mengayun sepatu roda agar begerak lebih cepat. Entah kekuatan dari mana, aku bisa lancar.

Aku pastikan semua kencang dan pas di kakinya. Awalnya dia bilang tidak bisa tetapi dia mau berusaha. Jatuh bangun, dia pede tidak mau dipegang, dan dia berjalan meski sebentar. Dia senang bukan kepalang. Aku juga senang bisa menjadi saksi perjuanganmu.



Anak memang kadang kaya batu sandungan yang membuat mimpi seolah meremang tetapi jika aku terus bergerak setelah tersandung tentu saja ceritanya akan berbeda. Tidak akan pernah mudah untuk berdamai tetapi hidup akan terus berjalan. Masa iya kita hanya seperti seonggok rutinitas tanpa jiwa bahagia yang nyata. Bangga sekali ibumu ini nak, ibu adalah bagian dari semua perjalananmu saat ini. Ibu ingin jadi pribadi yang sama semangatnya denganmu. Explore, trial, eror, and learn. Tentu, tentu saja ibu tahu apapun itu, kamu akan tetap bangga karena aku adalah ibumu. Ibu Apik kesayanganmu.

3 komentar:

  1. Selamat mas Gian, makin membuat ibunya bangga.
    Buat ibu mas Gian, selamat juga karena selalu bergerak menjadi lebih baik 😘

    BalasHapus
  2. Tiba2 pengen peluk anakku. :)

    BalasHapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design