Rabu, 04 Oktober 2017

Mbuh Ah, Seandainya Jadi Ibu Ada Buku Manualnya


Sayangnya gak ada. Aku harus trial & eror. Belajar sana sini. Baca banyak referensi. Kejedot mitos atau malah hanya percaya insting.

Ya ibu, aku bukanlah ibu yang disiapkan untuk menjadi ibu. Aku ibu yang didik untuk bekerja menghasilkan uang lalu bisa hidup layak dengan uang itu. Lantas ketika ternyata ijazah itu hanya teronggok karena aku jadi ibu rumah tangga, aku frustasi. 

Bagaimana tidak frustasi? Tidak ada satu mata kuliah pun yang membahas bagaimana toilet training itu berjalan dan bagaimana harus menghadapi sikap anak yang tantrum ketika adiknya lahir. Padahal semenjak menjadi ibu, itulah pekerjaan yang setiap hari aku hadapi.

Ya seandainya melahirkan anak dilengkapi buku manual seperti membeli motor atau kulkas dua pintu. 


Seandainya oh seandainya buku manual itu ada pastinya aku akan lebih siap menghadapi tantrum, panas tinggi, dan juga perubahan hormon seusai melahirkan.Sayangnya yang aku pelajari adalah grammar, phonetics, dan juga English for Young Learner. 

Bisa dibayangkan lah bagaimana paniknya ketika suami dinas luar kota dan dua anak rewel. Satu panas, satunya menolak tidur karena menunggu ayahnya pulang. Berasa pengen ngumpet aja di bawah pohon ciplukan.

"Nanti kalau udah jadi ibu kamu harus bangun pagi."

Ternyata ini berlaku buat ibu yang gak punya asisten, malas bikin stok makanan (ayam ungkep siap goreng, kering tempe, buah siap potong), dan susah untuk bikin rutinitas 😅

Sarapan selalu berlalu tanpa kesan.

Suami tidak pernah komplain ketika istri bangun siang, tidak ada sarapan, dan anak-anak baru bangun ketika ayahnya sudah berangkat tanpa sempat sarapan bersama. Begitu si ayah pulang kerja, kadang anak sudah lelah.

Begitu anak kedua lahir, semua berubah. Mamas sekolah agar punya kegiatan dan itu artinya rutinitas. Bangun pagi, sarapan, antar sekolah. Nah di saat inilah ibu susah bangun pagi berubah.Ibu yang tidak bisa memasak berusaha menyiapkan menu sederhana atau harus keluar untuk membeli sarapan.

Catatan: ibu harus bangun pagi, punya menu sederhana untuk sarapan, dan pastikan si bayi tidur nyenyak dalam rentang waktu yang cukup lama ketika mengantar atau menjemput mamas. 

"Ih gak bersyukur. Kan udah dikasih anugerah."


GianGaraGembul sangat aktif di usia 4 tahun 5 bulannya dan DulDenGeni begitu ekspresif saat 1 tahun 7 bulan ini. Ya mungkin aku kurang bersyukur jadinya yang ada hanya keruwetan demi keruwetan. Padahal kalau mau dilihat sisi positifnya tentu ada saja kan.

Tentu saja, menjadi ibu adalah anugerah yang tak bisa dijelaskan secara rinci dengan kata-kata. Aku hanya bisa bersyukur dan bersyukur. Maka dari itu saat ini, aku berusaha mencatat apa saja perjalanan yang sedang dilalui agar bisa jadi semacam diary yang akan jadi pengingat betapa lebay dan kurang bersyukurnya aku.

Anak bisa ngomong katanya cerewet.
Anak nangis katanya rewel.
Anak minta ini itu katanya gak tahu diri.

Iya, aku ibunya yang gak tahu diri. Selalu saja melihat sisi negatif ketika anak-anak bertumbuh.

"Mamas hati-hati. Gak boleh guling-guling."

Perkembangan motorik kasar pada anak usia 4 tahun adalah yang paling pesat. Tidak jarang anak sering mengalami kecelakaan ketika meloncat, berguling, atau berlari. Tentu saja sangat susah jika kita tidak berkomunikasi dengan baik. Inilah masa anak paling aktif dengan perkembangan motorik paling pesat.

Ibu tidak boleh marah ketika anak kekeuh meminta melepaskan atau memasang kancing baju sendiri. Tunggulah, dia sedang membuktikan pada dirinya sendiri kalau dia bisa dan mampu. Sabarlah karena sabar ibu menentukan bagaimana rasa percaya diri anak tumbuh. Tidak perlu sempurna karena kesempurnaan hanya milik Tuhan.

Catatan: ibu harus banyak membaca karena dalam setiap pergantian umur ada tugas perkembangan anak yang harus diperhatikan. Kurangnya membaca membuat ibu menuntut anak secara berlebihan atau melabeli anak "bodoh" atau "lambat".

"Anak kok dititipin sih!"

Ada momen ketika ibu harus jemput, dedek masih tidur. Waktu sudah diperhitungkan dengan baik eh meleset. Adik bangun, terguling, dan nangis kejer. Merasa bersalah? Banget.

Namun setelah 4 tahun 5 bulan jadi ibunya mamas GianGaraGembul ditambah  1 tahun 7 bulan jadi ibunya dedek DulDenGeni, aku tentu saja belajar bahwa keserakahan tidak akan menghasilkan apa-apa. Aku bukan manusia yang bisa membelah jadi dua. Satu untuk mengantar mamas, satu untuk menyusui dedek. Aku mulai tahu diri. Ada batasan yang harus aku pahami. 

Maka dari itu aku mulai berusaha percaya dengan daycare sehingga ketika ada kegiatan yang mengharuskan mamas didampingi tetapi tidak memungkinkan Geni ikut ya menitipkan Geni adalah solusi paling masuk akal.

Catatan: insting seorang ibu tidak akan pernah salah. Harus legowo ketika kita menitipkan anak baik di daycare atau ada asisten di rumah. Selalu dan selalu bangun komunikasi yang positif agar semua transparan dan menenangkan.

Belajar menjadi ibu tentu saja seumur hidup. Buatlah catatan sehingga nantinya bisa menjadi panduan ketika kita mendidik anak perempuan atau menantu (kok udah bahas menantu sih). 

Selamat menempuh perjalanan baru sebagai ibu, semoga jadi pengalaman baru ya seru. ^_^

4 komentar:

  1. Dari tulisan mbak apik ini, aku dapat satu pelajaran berharga saat setres menghadapi anak tantrum lariiiii cari pohon ciplukan. 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, kayaknya anak desa aja yang paham ya apa itu pohon ciplukan 😅

      Hapus
  2. Bener banget. Aku sempat ngerasainnya. Meski ada gemes2nya, tapi seru juga. :D

    BalasHapus
  3. Mungkin aku juga gitu, ya? Ketika sudah punya anak kelak. :D

    BalasHapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design