Sabtu, 07 Oktober 2017

Anak Sabtu Minggu, Dekatkan Anak ke Ayah atau Kamu Menyesal!


Kewajiban mencari nafkah bagi keluarga membuat banyak ayah di luaran sana menjadi ayah sabtu minggu. Bisa dekat dan memiliki waktu yang berkualitas ketika akhir pekan. Jalan-jalan, seharian bermain, atau menemani anak-anak tidur siang. 

Peran ibu sangatlah penting untuk mendekat anak-anak kepada ayah. Komunikasi harus terjalin sehingga ayah mau, siap, dan akhirnya mampu memiliki kedekatan yang cukup dengan anak-anak. Meskipun waktu efektif hanya sabtu minggu, tidak akan menyesal ayah bisa dekat dengan anak-anak.

"Sebel lho, kalau ayahnya sudah di rumah pasti ibunya gak laku."

Meminimalisir kecemburuan ketika anak-anak lebih menempel pada ayahnya itu penting. Selain berbagi peran, anak-anak bisa melihat dan merasakan keharmonisan hubungan ayah dan ibunya.

Ibu bisa bergabung ketika anak-anak dan ayah sedang bermain bersama. Perhatikan trik yang ayah gunakan untuk mengambil hati anak-anak. Cari tahu kenapa anak-anak begitu nyaman dengan ayah mereka.

"Kalau nangis kok yang dipanggil ayahnya sih."

Waktu yang kurang terkadang menjebak para ayah untuk berlaku permisif, mengabulkan semua permintaan anak-anak. Itulah kenapa ibu jadi sosok jahat yang seolah melarang semua hal untuk dilakukan. 

Ayah dan ibu perlu membicarakan apa saja peraturan yang harus diterapkan. Jam tidur, waktu main, atau screen time (ponsel, tv, laptop) perlu diatur bersama agar tidak jadi alasan anak-anak untuk melakukan kecurangan. Ayah tahu semua jadwal lalu ibu wajib mengingatkan.

"Aku mau bantu ayah cuci motor."

Meskipun pada akhirnya berujung main air saja, begitulah cara anak-anak mencari perhatian ayah. Terlibat dalam setiap kegiatan yang dilakukan ayah. Mumpung ayah ada di rumah. Kan gak tiap hari? 

"Pengen gak sih tiap hari bisa nemenin anak?" pertanyaan kepo ibu ketika ayah mulai cuek dan fokus ke ponsel, anaknya udah entah kabur ke mana.

Ibu dan ayah berbeda. Kalau ibu menghabiskan akhir pekan dengan melakukan hal-hal di luar urusan anak-anak sementara ayah ingin fokus bermain bersama anak. Terkadang ibu terkejut dengan fakta-fakta yang ditemukan oleh ayah. Pura-pura cuek tetapi tahu pasti bagaimana menangani anak-anak saat mereka jadi monster kecil yang menguras emosi ibu. Hanya dua hari, sabtu dan minggu daripada tidak sama sekali.

"Ayah, lebih asyik diajak main."

Apakah faktor kelelahan ibu? Mungkin saja. Apakah faktor kebosanan setelah seharian hanya ibu, ibu, dan ibu lagi? 

Niat adalah yang utama. Ayah menganggap anak-anak adalah vitamin. Tidak peduli seberapa lelah pulang bekerja, meluangkan waktu untuk sekedar membacakan cerita akan jadi kebahagiaan tersendiri. Baik ibu, anak-anak, maupun ayah sendiri. 

"Ayah adalah pahlawanku."

Kejutan-kejutan tak terduga seperti pulang membawa martabak coklat kesukaan, DVD film kartun terbaru yang sedang jadi idola anak-anak, atau sekedar pulang lebih awal dari biasanya akan membuat hati anak-anak gembira. Perhatian kecil tetapi mengena adalah yang utama. Hal kecil bisa jadi besar ketika itu sesuai dengan apa yang diharapkan anak-anak. Mau tahu dan berusaha memenuhi harapan membuat ayah jadi pahlawan. 

Kenapa anak-anak perlu dekat dengan ayah?

1. Identitas

Bagi anak laki-laki, ayah adalah contoh. Bagaimana ayah bersikap, itulah yang nantinya dijadikan teladan. Berbahaya jika anak laki-laki tidak dekat atau kehilangan sosok ayah karena dia akan kebingungan menentukan jati diri. 

Bagi anak perempuan ayah adalah sumber rasa nyaman dan aman. Bila kebutuhan itu terpenuhi maka anak perempuan akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan tidak bertindak macam anak caper yang kurang kasih sayang. Berbahaya apabila anak perempuan tidak terpenuhi sosok ayah di masa kecilnya maka dia akan mencari perhatian di luar lalu bisa terjebak ke pergaulan yang salah.

2. Nilai hidup dan cinta

Anak-anak belajar tentang nilai hidup (berbagi, melindungi keluarga, bertanggung jawab) dan juga cinta (perhatian, persahabatan, kasih sayang tulus) dari ayah karena ibu cenderung rumit memaknai semua itu. Sementara ayah lebih sederhana dan logis.

Nah jika anak-anak tidak mendapatkan itu semua dari ayahnya maka mereka akan rapuh dan sulit mendapatkan hubungan yang sehat nantinya. Baik dengan lingkungan maupun pasangan. 

Waktu yang berkualitas perlu diusahakan dengan maksimal agar hubungan ayah dan anak-anak bisa terjalin dengan harmonis dan selaras. Ada harga yang harus dibayar. Letakkan ponsel, hadirlah utuh dan penuh, nikmati kebersamaan dengan anak-anak yang akan cepat berlalu.

3 komentar:

  1. Anak2ku juga deket sama ayahnya. Apalagi si kecil. :D

    BalasHapus
  2. Aku juga gitu, Mbak. :D Tapi emang anakku bilang kalau main ma ayahnya lebih asyik. :D

    BalasHapus
  3. Dulu saya suka cemburu kalau anak-anak lagi dekat ma ayahnya. Tp sekarang lebih santai karena saya jadi bisa me time

    BalasHapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design