Kamis, 05 Oktober 2017

Ada Apa dengan Sikap Defensif?

Tidak ada kehidupan yang mulus bagi seseorang dengan luka, amarah, dendam di masa lalu. Keputusan demi keputusan yang diambil layaknya efek domino, berkaitan dan tampak salah semua. Cobaan-cobaan tak henti datang. Bersamaan. Tanpa jeda.

Memang seseorang tidak pernah tahu dia ada di titik terendah hingga akhirnya dia melalui semua itu.

Lalu apa yang terjadi ketika semua ternyata berlalu berganti pelangi indah? Ah, akan ada lagi masa di mana datang si penyindir ulung nan defensif untuk menguji. Dia juga hadir sebagai pengingat bahwa dewasa adalah proses bukan hasil.
Penyindir ini menunjukkan betapa, seseorang bukanlah siapa-siapa. Hanya onggokan luka, amarah, dan dendam. Penyindir begitu yakin seseorang bukanlah apa-apa dibanding dia. Namun seseorang ternyata tersenyum penuh empati. 


Ada apa dengan sikap defensif?

Merasa terancam, terdesak, dan tidak ada jalan keluar. Lalu mulai mengeluarkan 1001 alasan untuk membenarkan asumsi yang ada di pikirannya. Pernah ketemu? Sering. Terus? Ya senyumin aja. Toh kalau otak dia normal lagi pastilah malu sendiri. 

Pengalaman yang ditulis akan menguarkan aroma pembelajaran yang kuat. Itulah kenapa setelah seseorang aktif menulis, dia akan paham apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Seseorang sangat terlihat dari apa yang ditulisnya. Apalagi sekarang, zaman media sosial meraja. Kita bisa dengan mudah mengidentifikasi seseorang dari status, foto, dan rangkaian stories yang setiap hari muncul di IG. Kalau mau teliti, kita bisa berbagi pengalaman agar sama-sama tidak terjebak pada keserakahan.

Seseorang yang cerdas secara bahasa dan emosional, akan berpikir panjang sebelum membuat keputusan apalagi menyangkut tulisan di media sosial. Jangan sampai ketemu sosok cerdas bijaksana yang sangat mampu menulis. Kenapa? Kamu akan dibuatkan tulisan yang menyentuh, ingin bergerak, atau malah bisa jadi ingin bunuh diri. Bisakah? Bisa banget. Kekuatan tulisan terlalu besar untuk diremehkan. 

Nah kembali ke sikap defensif yang negatif, seorang serakah tak punya fokus. Rata-rata dari sanalah sikap defensif muncul. Penyindir mau apa saja yang dia inginkan terwujud, bagaimanapun caranya. Tak punya fokus artinya apa yang terlihat bagus dimiliki orang lain harus didapatkan juga. Syereeem.

Masa yang paling sulit adalah ketika seseorang harus diam, menyusun strategi, dan menyerang balik. Sulit karena seseorang harus memilih apakah benar untuk menyerang balik atau justru mengalihkan amarah pada sesuatu yang lebih positif. Bagi seseorang ini bukan lagi masalah kecil. Ada jiwa sepi nan kering yang butuh bantuan. Jiwa si penyindir.

Keren? Tidak sekeren itu. Seseorang juga harus berdarah-darah untuk sampai pada tahap itu. Tentu saja tidak semua orang sanggup. Butuh hati yang sangat besar nan kuat.


Ada apa dengan sikap defensif?

Kecewa ketika apa yang diinginkan ternyata tidak bisa diwujudkan. Si penyindir terlalu sibuk memberikan alasan pada diri sendiri hingga akhirnya lupa untuk melakukan aksi. Si penyindir terlalu repot dengan orang lain lalu lupa dirinya. Lupa kalau yang seharusnya berubah dan mewujudkan impian itu adalah dirinya bukan orang lain. Oh Tuhan. Apa masuk akal menerapkan target tinggi terus berharap orang lain yang mewujudkannya?

Aku ingat sekali peristiwa ini. Mamas masih berusaha untuk buang air besar di kloset. Dia asyik main hingga menahan hasratnya. Aku saat itu sedang menyiapkan makan siang. Mamas datang dengan mata memelas dan air mata.

"Ibu, ee di celana!"

Aku murka, sangat marah. Aku menjambak rambut mamas sambil menyeret tubuh kecilnya ke kamar mandi. Dengan kasar melepas celana yang sudah lepet dengan tahi dan basah karena pipis. 

Waktu itu yang terbayang adalah rasa malu. Malu pada orang tetangga yang bisa mengurus anak. Malu karena aku yang katanya sarjana pendidikan bahasa Inggris  ternyata tidak becus mengajari anak sekedar berak di kloset. Kalah dengan yang lulusan SMA. Aku sangat defensif dan merasa dengan berbuat kasar dan memerintah sambil berteriak akan membuat mamas lebih cepat mengerti. Aku sangat defensif dan membenarkan kekerasan yang aku lakukan pada anakku. Terlalu defensif untuk mengakui itu adalah balasan. Balasan pada masa lalu yang penuh luka, amarah, dan dendam.

Bagi si penyindir, inilah yang terjadi. Mekanisme perlindungan agar tidak lagi merasakan rasa sakit yaitu menyakiti orang lain terlebih dahulu. Sadar atau tidak sadar. Menambah daftar kesalahan. 

Meskipun begitu, seseorang dengan luka dan berhasil melalui masa sulit, akan datang membantu di saat yang tepat. Tentu saja jika akhirnya si penyindir mau memaafkan dirinya sendiri. Tidak lagi bersikap defensif, mau menyelam hingga ke dasar dirinya. Ya itulah bagian tersulit dari keseluruhan eksistensi, MEMAAFKAN DIRI SENDIRI.

Jadi kalau kalian menemukan teman yang status di media sosialnya baik-baik saja, semua seolah tampak sempurna, atau terlihat sangat bahagia maka kalian perlu mendekat. Ingat, siapkan mental! Jangan sampai justru kalianlah yang terpental karena sikap defensif yang menendang.

2 komentar:

  1. Paragrap terakhir aku bingungndeh maksudnya, aku setuju sih kadang yang terlihat di sosmed tidak seperti apa yang terlihat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya mau nolong malah ditodong 😅

      Hapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design