Senin, 04 September 2017

Laki-laki

Cerita Mini
Jika ada kesamaan karakter harap maklum, mungkin secara tidak langsung aku terinspirasi dari ceritamu.
######
Seperti rasa haus yang tak tergenapi. Bagaimana bisa tergenapi. Ini bukanlah air tetapi kasih sayang. Bukan benda tetapi sesuatu yang abstrak.
Ada ungkapan:
"A girl's first true love is her father"
Tentu saja aku hanya menyeringai sinis.
Ada lagi yang bilang kalau sosok laki-laki yang tak pernah menyakiti hati seorang perempuan adalah ayah.
Ya seharusnya aku tak boleh iri, ada banyak perempuan di luar sana yang begitu bahagia dan akur dengan ayah mereka. Hanya aku.
Aku saja yang melihatmu sebagai monster.
Anak perempuan lain tentu saja bahagia menjadi putri karena ayah mereka seorang raja. Iya tentu saja ini ungkapan betapa seorang ayah harusnya memperlakukan anak perempuannya layaknya seorang putri kerajaan yang dimanja dan dihujani kasih sayang.
Aku? Kembali ke aku. Oke. Aku anak perempuan pertama di keluarga. Adikku perempuan juga. Betapa aku berharap aku punya kakak laki-laki karena aku ingin seperti anak perempuan lain yang begitu diperhatikan.
Papahku gila. Dia suka memukulku dengan ikat pinggang celana jeansnya jika aku ketahuan mandi di sungai. Jika anak perempuan lain ditemani ayahnya mandi di sungai maka aku hanya dapat luka perih di kaki. Bonus luka yang tak pernah sembuh di hati.
Papahku tidak pernah memelukku dan bilang dia sayang padaku. Yang dia lakukan adalah meneriakkan kata "goblok" saat aku tak bisa mengerjakan soal matematika yang mudah.
Lalu bagaimana dia bisa jadi cinta pertamaku?
Afif Akhmadi Erafhi, laki-laki pertama setelah papahku yang gila. Dia amat protektif.
"Siapa laki-laki yang datang ke kemahmu membawa banyak makanan?"
"Eddy? Oh itu teman mas Budi samping rumahku."
Afif Akhmadi Erafhi tak pernah bilang cinta padaku tetapi menguangkapkan rasa cemburunya dengan menyebar gosip kalau aku pacaran di persami.
Ketika hubungan satu pihak dan gak jelas ini menggantung, datanglah Ayar. Laki-laki tulus yang memberiku surat cinta dan satu buku penuh puisi. Tentang aku. Semua tentang aku. Beginikah rasanya dicintai?
Dia mengajakku bersepeda menikmati sore dan juga rimbunnya pohon tebu. Tebu yang menguarkan aroma manis. Manis yang begitu memenuhi ruang di hati. Seakan hati begitu kecil dan akan meledak.
Ayar memegang tanganku, "Putuslah dengan Afif Akhmadi Erafhi. Jadilah milikku seutuhnya!"
Laki-laki ini membuatku memilih, apakah aku harus mencintai atau dicintai?
Mencintai laki-laki berakhir dengan hubungan menggantung yang tak tentu arah.
Dicintai laki-laki memberikan harapan bahwa aku akan diberikan apapun yang dia punya, yang dia bisa, dan bagaimanapun caranya.
Namun Ayar hanya lebih tua hanya satu tahun dariku. Aku akan bernasib sama seperti ibuku. Cinta menggebu di awal lalu Papahku menjadi gila karena diguna-guna wanita lainnya.
Ya Tuhan, tak adakah laki-laki yang benar untukku? Apakah aku tak berhak bahagia? Mencintai dan dicintai sepenuh hati? Tanpa harus berakhir gila?
Papah membuatku jadi begini. Haus. Begitu haus akan kasih sayang, perhatian, dan pelukan.
Setelah Ayar ada Rizki. Dia tiga tahun di atasku. Kakak kelas yang begitu melindungi.
"Kita putus aja. Aku mau fokus ujian."
Begitu perasaanku dipenuhi keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja, aku tertipu lagi. Begitu jatuh, tangga menimpa.
"Kok mas Rizki kadoin adekmu kamus. Sebenarnya pacarnya siapa?"
Laki-laki berkacamata itu tak pernah lagi muncul di perpustakaan. Hanya teman-temannya yang bergerombol lalu mendadak serius dan memberikan tatapan mengasihani saat aku mengembalikan buku-buku pinjaman.
Ada Arifin si penjahat kelamin. Laki-laki ini sangat pintar bicara. Bicaranya begitu meyakinkan. Seolah dia bisa menolong mengurangi patah hatiku.
"Pejamin matamu, bayangin aja Rizki ada di depanmu!"
"Nonikkk!"
Pekikan itu membuat mataku terbuka. Reflek menendang tubuh Arifin yang hampir menindihku.
Vian menarik tanganku, membuatku tak sempat merangkum apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu gila ya. Rizki gak bilang Arifin itu lagi jadi buronan. Dia pura-pura jadi pembina pramuka. Dia cabulin murid-muridnya."
Aku menatap Vian lekat. Kamu? Laki-laki juga, adakah udang di balik batu?
 Apakah aku keluar dari mulut singa dan masuk ke sarang harimau?
Banyak laki-laki yang datang dan pergi di kehidupanku. Entah itu teman, mantan, atau calon pacar.
"Kamu kok kalah sama ponakanmu. Udah tua belum punya pacar. Tuh minta kenalin sama temen Nonik. Dia tiap minggu temen cowoknya gonta-ganti."
Sadarkah Papah? Aku begini karena aku haus. Seandainya papah bisa jadi sosok itu. Cinta pertamaku. Aku tak akan seperti pemulung mengais-ngais perhatian. Pengemis yang memohon belas kasih. Aku akan jadi wanita yang kuat. Rasa hausku akan hilang. Aku akan punya jalan hidup yang lurus. Bukan seperti wanita yang kurang belaian dan pelukan. Bukan wanita yang penasaran rasa nyaman akan kehangatan. Bukan panasnya nafsu tapi kehangatan kasih sayang.

4 komentar:

  1. Okee ... aku nunggu kelanjutannya... aku bagaikan makan terus lagi asik-asiknya eh kok seret ...

    BalasHapus
  2. Ah apik..rasa hausnya berasa banget.

    BalasHapus
  3. Keren. :D Ditunggu kelanjutannya, kalau ada. :D

    BalasHapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design