Selasa, 12 September 2017

Laki-laki 3

Aku sadar membuat banyak mata terpana. Di jidatku seolah terukir “meriang”. MERINDUKAN KASIH SAYANG. Rok pendek merah meski hanya dua senti dia atas lutut menegaskan betapa paha mulus itu butuh sentuhan, T-shirt dengan kerah v-neck begitu mengekspos belahan dada ranumnya, dan tolong-tolong apa tidak ada yang bisa memberi tahu bahwa rambut panjang hitam berkilau itu menambah jumlah mata yang mendamba.

Rei memilih tempat duduk di dekat pintu keluar. Dengan gerakan tak sabar, Rei menarik lepas kedua lengan jaket dan menyampirkan di kedua bahuku.
 “Kamu gak kedinginan? Aku buru-buru sampai lupa kalau warung kopinya rame banget,” penyesalan itu berusaha Rei perbaiki dengan jaket windbreaker kebesaran yang mendekap tubuh salah kostum Nonik.
Aku berbalik sambil mengeratkan jaket beraroma asap rokok tipis dan kopi yang pajang hingga menutupi lutut.
“Apa gak masalah?”
“Do you need private room?” senyum jail plus menggoda itu begitu ringan hingga jantungku berdetak dan perutku mendadak mulas.
Laki-laki ini, kenapa Tuhan? Kebaikan apa yang aku lakukan di kehidupanku terdahulu hingga Kau kirimkan sosok nyaman ini. Betapa dia tidak pernah cerewet dengan detil-detil rumit yang menghantuiku.

“Nonik?”
Panggilan dengan nada terkejut mendadak membuat Rei mendekatkan diri padaku, menggenggam tangan, lalu memasang tatapan “stay there, close enough” pada si pemanggil.
“Ya ampun bener ya ini Nonik. Apa kabar?”
Aku mengangkat tangan memberi tanda tidak nyaman dengan gaya sok akrab si pemanggil yang hendak cipika-cipiki.
“Mana Andra? Kok sendirian aja.”
“Aku udah selesai kok mas Deni. Duluan ya mas.”
Rei melingkarkan tangan ke pinggang dan menarik tubuhku dengan santai. Tersenyum saat mata si pemanggil mengajukan banyak tanya.

Rei tahu aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Tanpa bertanya dia naikkan kecepatan motornya. Udara dingin menyapu dan mataku terasa membeku susah sekali melihat sekitar. Angin dan air mata membuatku menyandarkan tubuh, mendekap, dan menyerahkan keputusan pada punggung hangat itu.

Balkon: memandang birunya kolam renang, mensyukuri lampu yang temaram, dan menikmati lelehan air mata.
“Apa perlu aku angkatin telponnya?”
Hanya dari nada deringnya aku tahu siapa yang menelepon. Lima tahun itu berakhir dan malam ini aku hanya ingin menangisi sampai puas.
Rei menggeser meja anyaman bundar ringan di sebelahku dan menarik kursi sebagai gantinya. Duduk dengan posisi meletakkan kepala pada sandaran dan meluruskan kaki di pagar pembatas sama persis dengan gaya anehku lalu bersedekap.
“Dia bilang test drive, Rei terus kalau udah bosan aku bisa dia rental kali ya. Ganti ama yang baru.”
Rei dengan cepat menegakkan tubuh lalu menghadap padaku. Begitu ringan Rei menarik tubuhku, mengambil napas seolah menyesap tangis beserta semua sesakku. Rei mengencangkan pelukannya.
“Gak usah cerita. Masukkan saja semuanya ke daftar pertimbanganmu. Setelah wisuda baru kita bahas langsung ke keputusanmu. Aku tidak mau melayang lebih dulu. Dia masih punya waktu hingga wisuda untuk kembali merebut hatimu,” Rei mengusap rambut tergeraiku.

Sungguh memalukan, momen syahdu itu terganggu oleh suara orkes perutku.
“Apakah nilaiku akan berkurang karena membuatmu kelaparan, Non?” tanya Rei setelah mengurai pelukannya.
“Deni membuat kita kabur dari warung kopi andalan yang punya chees cake terlezat. Kamu malah ketakutan kehilangan nilai plus?” ledekku sambil memajukan bibir bawah.
“Oke pesan saja nasi goreng, makan dengan cepat lalu istirahat. Aku balik ke proyek dulu lihat progres.”
Aku mengangguk cepat, sekilat ciuman di kening, dan udara nyaman yang menguap.

###

“Piye Nduk? Kok jam segini telpon?”
Aku mengumpulkan semua keberanianku untuk membicarakan masalah ini dengan sumber kekacauan persepsi. Namun yang ada hanya tangisan tersedu selama hampir tujuh menit. Ajaibnya Papah mendengarkan tanpa sepatah kata pun.
“Nonik cuma kangen Papah.”
“Udah malem yo Nduk, besok telpon lagi. Kamu sabar dan tawakal. Mohon sama Yang Kuasa biar dikasih petunjuk. Besok harus bangun pagi kan urus sewa toga sama bayar wisuda. Dah Papah tutup ya.”
Laki-laki yang aku panggil Papah, yang aku benci karena ketidakmampuannya menunjukkan kasih sayang, yang sialnya dicintai Mamah tanpa syarat, dan membuatku terjebak pada kehausan perhatian; ya hanya Papah yang terpikir. Ketika Andra datang untuk pertama kalinya ke rumah, Papah tidak banyak komentar hanya Mamah yang wanti-wanti, “Dia anak orang punya mba. Apa iya cocok dengan keluarga biasa saja seperti kita?”. Aku diminta berpikir ulang dan sangat dianjurkan agar bekerja meski hanya setahun sebelum akhirnya memutuskan menikah.

Aku masih bergelung dengan mendekap gawai. Pesan Papah berulang-ulang di telinga. Aku belum bercerita tetapi seolah Papah tahu. Iya dia memang selalu tahu apa yang aku butuhkan. Aku memang lebih gampang menutup mata akan kebaikannya dan terus menerus mendoktrin bahwa Papahlah yang harus disalahkan untuk semua luka hati yang aku alami. Ketidakmampuanku memilih lelaki yang benar. Kekuranganku untuk melihat sisi baik dari semua badai yang memporak-porandakan masa kecilku. Harusnya bahagia, harusnya cukup kasih sayang, dan punya citra positif pada diri sendiri.

“Kenapa baru diangkat? Adek di mana?” pertanyaan dengan campuran nada marah dan penasaran.
Loudspeaker sudah aktif sesaat setelah Rei masuk tanpa suara. Aku tahu dia menyimpulkan aku sudah terlelap. Aku juga menduga dia akan kembali pagi hari tak secepat ini.
12 panggilan tak terjawab, 7 pesan masuk, 3 status facebook.
“Deni bilang ketemu adek di Black Stone? Sama cowok? Kok bisa?”
Rei menunjukkan ekspresi, “Should I answer that fucking questions?”. Aku menggeleng lemah.
“Temanku…”
“Teman kok pake meluk pinggang segala. Apa dia alasan kamu minta kita jalan sendiri-sendiri dulu? Adek ada main di belakangku?”
Rei bergabung di ranjang, memelukku dari belakang, memberi dukungan untukku menjawab mengesampingkan emosi. Semua harus tanpa cela hingga wisuda.
“Udah nanyanya? Mau dijawab kaya apa juga emang kamu bisa percaya ke aku? Kita sama-sama pernah selingkuh tetapi kenapa aku yang harus berjuang seolah catatanku tidak pernah bersih seperti catatanmu. Kita pacaran Ndra, bukan lagi introgasi. Buat apa dilanjutin kalau kamu terus-terusan anggap aku tersangka?”
“Ya jawab aja sih apa susahnya. Siapa laki-laki itu? Ngapain bisa di Black Stone bareng ama dia?”
Aku sungguh tidak bisa konsentrasi merangkai kata untuk menjawab pertanyaan Andra. Rei mencium rambutku tanpa dosa dan mengencangkan pelukannya. Dengan lembut dan terarah Rei memegang kedua pipiku. Mata kami bertautan, tanpa suara, dengan sangat hati-hati. Bibir tipis milik Rei mendarat hangat di bibirku.
“Dek, Nonik, Ay. Halo, halooo.”
Serangkaian panggilan yang justru menambah tekanan bibir Rei, masuk, dan ingin menguasai. Kami sudah tak berjarak. Tangan bebas Rei meraih ponsel, menekan keypad sekenanya agar suara pengganggu segera lenyap, dan melempar benda berisik itu ke lantai beralaskan karpet tebal.
“Tampar aku kalau memang menurutmu keterlaluan karena kalau kamu diam aku tidak akan bisa berhenti nanti,” pinta Rei sambil menjaga tubuhku agar tidak oleng.

Otakku memaksa untuk mundur tetapi badanku berkhianat. Memejamkan mata, mencondongkan kepala, dan membiarkan Rei berkuasa.

8 komentar:

  1. Emosional, gemes, romantis, dan membuat fikiran melayang masuk ke dalam cerita. Keren Apik.

    BalasHapus
  2. Ah,kamu terkadang aku bertanya, bagaimana bisa kamu menyajikan cerita fiksi ini seolah-olah nyata. 😍.
    Menunggu novelnya pik. Novel plus Ttd, foto juga boleh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Moga segera kelar ya novel aku put πŸ’ͺ😘

      Hapus
  3. Mba aku penasaran kenapa nama tokohnya sering nonik ?

    BalasHapus
  4. Hadeuh..aku bisa enggak ya bikin cerita romantis cium2an kaya gitu, ha..ha..kudu belajar dulu sama kamu nih pik!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakaka, santai bae mengko tak ajari yak.

      Hapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design