Rabu, 06 September 2017

Laki-laki 2

Menuliskan kisah Nonik bisa jadi adalah kompromi bagiku agar “gadis” ini segera menemukan pintu keluar. Sekali lagi jika kisah ini mirip, mungkin aku terinspirasi darimu.

###

“Menikah?”
Mata berwarna hitam pekat itu seperti hampir keluar.
“Tunggu, kamu bilang mau nunggu aku kerja?”
Gelengan laki-laki berumur lima tahun di atasku itu mantap. Seolah aku melupakan percakapan yang terjadi satu tahun silam. Setelah skripsi diambil, setelah perselingkuhan itu mengubahku.
“Kita sudah mau lima tahun lho Nik, mama sudah mulai gak enak dengan pertanyaan tetangga. Apalagi aku anak pertama,” Andra menekankan pada anak pertama.
“Eyang bilang, kalau bisa kamu cari anak bontot. Gak cocok sama aku yang juga anak pertama.”
“Lha yang penting jawab aja dulu kamu mau nikah ama aku gak?”

Aku panik. Bukan, bukan Andra yang tak pantas. Laki-laki itu tipeku. Putih, semampai, dan berkacamata. Pastinya jarak umur kami tidak sama dengan papah dan mamah yang hanya terpaut satu tahun. Tentu saja kami tidak akan bernasib sama seperti papah dan mamah yang mewarnai rumah tangga dengan pertengkaran tanpa memikirkan perceraian. Baku hantam lalu besoknya mesra lagi.

Menikah dengan Andra artinya high heels, salon, dan setelan feminim. Belum lagi calon ibu mertua, eyang, dan keluarga besar. Belum lagi meyakinkan papah mamah.

“Ditimbang dulu aja baik ama buruknya. Nanti kalo ternyata dia yang lebih baik ya silakan. Ya walaupun aku pede aja kalau kamu bakalan milih aku,” saran Rei sambil memamerkan gigi gingsulnya.

Rei. Selingkuhan dan juga calon pacar. Kopi. Nyaman.

“Oi, kok malah ngelamun?”
Sentuhan hangat Andra di pipiku yang seharusnya membuatku kembali pada saat ini malah terus menghanyutkanku. Andra berbeda dengan Rei. Sisi kekanakanku tidak akan muncul sempurna karena Andra lebih suka aku yang kuat dan dewasa bukan yang labil dan butuh telinga. Rei akan mengambil sikap "this is mine, stay back" dengan jelas ketika teman-temannya sekedar menanyakan siapa aku.

Tunggu, kalau pembahasan menikah ini terus berlanjut maka daftar pertanyaan itu harus segera dipastikan. Aku harus cocokkan semua puzzle tentang dua laki-laki  ini. 

“Ay,” aku menahan semua gemuruh berharap Andra menjawab sesuai dengan yang aku harapkan. Tentu saja, setelah laki-laki kesekian, Andra yang akhirnya mengajak menikah. Hanya perempuan kurang waras saja yang malah panik dan mengulur waktu.
Iya, aku wanita gila itu. Menikah itu kamar gelap. Luas dan tak berpintu. Layaknya seseorang yang menyerahkan diri pada kematian. Salahku? Tentu tidak. Papah mamah membuktikan padaku selama hampir tujuh belas tahun aku hidup seatap. KDRT. Perselingkuhan.

“Kita kan sudah serius, harusnya mulai ganti panggilan. Ay kayak mau pacaran aja terus.”
Matek, kuapokmu kapan Nik Nonik. Kawin ki mikir modal, iki mikiri panggilan owk. Emang tukang pijet.
“Iya tenang aja, aku punya banyak stok nama panggilan. Oke katakanlah kita menikah. Bangun rumah. Kamu mau  bagian mana yang istimewa dan paling nyaman?”
“Ruang keluarga lah, kan tempat kita ngumpul.”

Tetooot. Kita. Lu aja kali gue mah dapur. Dapur minimalis dengan kursi dan meja tinggi yang jadi pembatas dengan area memasak. Tempat di mana suami dan anak-anak menunggu makanan disiapkan dan tentu saja dapur yang mengundang untuk dijelajahi saat pernikahan mulai membosankan.

“Lima tahun kita pacaran, apa yang membuat kamu bertahan?”
“Ehmmm… Gak tahu, ya mungkin karena udah jodoh.”
“Kamu selingkuh aku maafin, aku selingkuh kamu maafin. Keluargamu gak begitu suka sama aku, kamu bertahan. Kenapa?”
“Entahlah apa harus ada jawaban. Rasanya perasaanku menggantung. Apalagi setelah kamu selingkuh.”

2007. Rei hadir. Dikirim Tuhan untuk membuatku tahu apa itu rasa nyaman. Hanya sebentar karena aku yang penakut tidak bisa lepas dari zona nyaman hubungan lama. Aku memutuskan kembali pada Andra dan membunuh dengan kejam rasa nyaman yang Rei ciptakan. Rei menghilang. Aku berusaha mendoktrin diriku bahwa Rei hanyalah laki-laki biasa lainnya yang datang dan pergi. Andra adalah kepastian.

“Ya elah Non, aku kira kamu udah ada di ujung negara mana mengajar anak-anak.”
Telepon ngajak berantem khas Rei. Berujung pada ajakan minum kopi dan selingkuh lagi. 2009 setelah ujian skripsi yang berakhir dengan gemilang dan masa tunggu wisuda. Aku juga belum paham kenapa Tuhan kirim Rei lagi. Masih dengan nyaman yang nyata, penerimaan yang seutuhnya, dan menggila bersama.
“Aku pikir kamu udah gak sama dia. Ternyata masih. Selingkuh aja yuk. Sekarang jangan sampe ketahuan ya.”

Aku tersenyum. Andra memandang lekat-lekat. Aku memang bodoh. Pacar yang selama lima tahun aku pertahankan, jatuh bangun menyesuaikan diri ternyata mengajakku menikah hanya karena “sudah waktunya”. Aku berharap ada sedikit cinta. Ya katanya itu yang membuat mamah bertahan menjadi samsak papah selama bertahun-tahun. Membuatku berjanji untuk tidak menikah. Terapi kejut Andra sukses membuatku mempertanyakan diriku sendiri. Kamu siap Nik?

“Non, di mana? Aku jemput ya? Balas dong. Pura-pura ke kamar mandi kek. Aku bisa gila mikirin kamu cuma berduaan aja ama dia.” 
“Non, ingat ya yang penting kamu bahagia. Kalau emang nyatanya kamu bahagia ama dia, aku gak papa kok tapi ijinin aku buktiin ke kamu. Aku gak akan lari kaya dua tahun lalu. Aku akan berjuang, Non.” 
“Aaargh, kamu lagi ngapain ama dia? Ciuman ya?”
Pesan itu masuk. Memantapkan keputusanku. Keputusan yang seharusnya aku ambil dua tahun lalu. Bukan malah sama-sama bertahan dalam hubungan semu.

“Pertanyaan terakhir. Hubungan intim sebelum menikah, benar-benar memasukkan penismu ke vagiku. How?”
“It’s a test drive baby. Gak masalah kan?”

Andra memperhatikan perubahan mukaku. Lima tahun, Ndra. Lima tahun. Masa iya kamu gak tahu juga gimana caranya membuat hatiku senang. Berbohonglah sedikit kalau ada yang lebih berharga dari sekedar vaginaku. Pura-puralah cinta. Berjuanglah untuk sekedar tahu apa yang benar-benar aku sukai.

“Aku tahu ini hari ulang tahunmu, maaf kalau aku ingin di hari ini kita jalani hidup masing-masing. Makasih sudah mau menghabiskan waktu yang ternyata sia-sia. Mungkin kasihan, kamu hanya kasihan pada anak SMA yang waktu itu butuh sosok. Sosok laki-laki dewasa yang mengayomi, pengganti papah.”
“Hei, kenapa? Ada apa?”
“Temani aku saat wisuda, setelah itu kamu tidak punya hutang. Kamu bebas.”
“Bukankah kita sedang membicarakan pernikahan?”
“Pikirkan baik-baik Ndra, kita jalan sendiri-sendiri dulu. Jika setelah wisuda kamu tahu jawaban yang memang dari hatimu. Kamu tahu ke mana harus menemuiku.”

Air mata kurang ajar itu mendesak keluar. Ini lima tahun. Bukan hubungan anak kemarin sore. Kenapa? Kenapa kamu tidak memberikan kepastian bahwa ini bukan hanya urusan selangkangan? Kenapa aku dengan bodohnya bertahan dalam harapan kamu benar-benar akan mencintai aku tulus tanpa ada syarat A-Z?

###

“Are you okay?”
“Aku di taksi Rei. Besok aja kita ketemu ya.”
“Aku tanya apakah kamu baik-baik saja bukan kamu lagi di mana?”
Aku menekan keypad sembarangan yang penting ledakan tangisku tak terdengar Rei.
“Mba, mau ke rumah sakit dulu?”
Pertanyaan supir taksi yang wajar melihatku menangis sambil menekan dada.
“Gak usah. Bisa dicepetin jalannya aja pak.”

###

Aku tersihir melihat tubuh menjulang dengan topi proyek dan sepatu safety coklat kusam yang menyambut ketika aku turun dari taksi. Rei berjalan ke arahku. Semerbak kopi bercampur asap rokok yang aku suka. Rei memakaikan helm sekaligus mengaitkan pengamannya.
“Aku tahu tempat curhat sampe pagi yang cocok buat kita.”

1 komentar:

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design