Thursday, September 28, 2017

Bali Funky, Bawa Aku Kembali ke Bali!


"Ah, Bali mah gitu doang," nyinyir seorang teman yang sudah bolak-balik ke sana.
Namun kenanganku tentang Bali selalu membuat aku ingin kembali. Ada desiran aneh jika menyebut Bali, semacam panggilan untuk datang lagi.

Ya 2004 adalah tahun di mana pertama kali aku menginjakkan kaki di Bali. Darmawisata masa SMA *ketahuan jadulnya 😂. Waktu itu uang Rp500.000 rela Mamah Papah sisihkan demi anak ABGnya yang ingin punya pengalaman piknik jauh. Aku bersyukur meskipun banyak pengalaman yang akhirnya hanya tersimpan di memori karena kamera film ditambah kurang bisa mengambil angle, banyak foto yang begitu dicetak terbakar 😧. Aku bersama rombongan menggunakan bis pariwisata yang kala itu tampak begitu istimewa bagi anak SMA. Kemudian pengalaman pertama menyebrang dengan kapal, ya ampun anak ndeso piknik ke Bali. Untungnya gak mabuk lauk kalau muntah-muntah kan nambah tegas ndesonya. Waktu di penyebrangan sempat melempar koin-koin, berharap bisa balik lagi. 

Sekolah sempat was-was dan memberikan tujuan lain karena masih ada imbas bom Bali tahun 2002. Namun akhirnya tetap sesuai dengan jadwal semula setelah keamanan dipastikan. Pantai Sanur dan Kuta, Bedugul, mengunjungi monyet-monyet, melihat penangkaran penyu dan puncaknya melihat pementasan Ramayana. Aku tidak ingat pasti di mana tempat menginap. Maklum zaman itu gak kepikiran untuk mendokumentasikan setiap detil karena harus hemat film.

Pantai Sanur kala itu (dokpri)


Lalu 2017 semua kenangan Bali itu menyeruak ketika timeline dipenuhi tautan teman-teman yang mengikuti lomba blog . Bali Funky bekerjasama dengan blogger hits Pungky Prayitno mengadakan lomba blog yang berhadiah perjalanan 4 hari 3 malam ke Bali.

Aku belum pernah kembali ke sana sejak 2004. Itu yang pertama dan semoga bukan yang terakhir. Lomba ini membuka kembali harapan untuk bisa ke Bali. Suasana yang tentu saja sangat berbeda. Tahun 2004 dengan tahun 2017. Bukan lagi menyebrang dengan kapal melainkan pesawat. Tidak ada lagi ketakutan akan kurang dokumentasi karena hasil jepretan langsung bisa dilihat tanpa harus cetak lebih dulu. Bagaimana dengan tempat wisata yang akan dikunjungi? Tentu saja akan lebih mengagumkan. Ah...

Bali Funky, Bawa Aku Kembali ke Bali!

Aku ingin merasakan bagaimana suasana setelah 13 tahun tidak menjejakkan kaki di Bali. Pastilah banyak yang berubah. Namun aku yakin perubahan itu masih selalu menyisakan ketenangan dan atmosfer yang membuat semua orang ingin kembali ke sana.

Bali Funky menawarkan kegiatan yang menerbitkan semangat untuk aku menyelesaikan tulisan ini. Selesai kepoin Instagram dan web Bali Funky, aku memutuskan untuk mengikuti lomba blog ini. Wish me luck!

Apa saja yang ingin kamu lakukan di Bali?

1. Rafting

Teman-teman yang sering bolak-balik ke Bali jarang cerita tentang rafting. Mereka panjang kali lebar berbagi kisah tentang indahnya diterpa ombak ketika surfing atau kenapa Bali begitu memuaskan hasrat belanja mereka.
Nah jika aku berkesempatan ke Bali maka rafting di sungai Telaga Waja adalah yang ingin aku coba. Bagaimana adrenalin terpompa ketika menuruni jeram, teriakan-teriakan kepuasan, dan menuntaskan penasaran karena aku belum pernah bisa menikmati olahraga menantang ini.


2. Bersepeda

Udara segar, hamparan hijau, dan sepoinya angin. Tidak pernah bisa didapatkan jika kalian tinggal di daerah perkotaan. Tentu saja kita harus menepi. Nah di Bali, kita bisa menikmati indahnya sawah, udara bersih, dan warna hijau yang menyejukkan mata.


3. Mengeksplor "The Hidden Gem" Nusa Penida

Nusa Penida saat ini dijuluki "The Hidden Gem". Pulau yang sedang berkembang pesat ini sungguh menawarkan pemandangan yang membuat mulut menganga. Belum lagi beningnya air yang begitu mengundang untuk diselami. Aku ingin sekali bisa menikmati langsung, gak hanya lewat foto-foto.



4. Menjajal ATV, SUV, dan water sport

Pengalaman menjajal ATV, SUV, dan water sport akan jadi pengalaman pengalaman pertama. Maaf ya aku memang kurang piknik. Banyak hal yang ternyata belum pernah dijajal selama hampir tiga puluh tahun hidup. Kasihan!



5. Kembali pada alam

Trekking di tengah sawah, meditasi di Green Canyon, atau jalan santai sepanjang Campuhan Ridge Walk. Rasanya nyaman sekali bisa mendapatkan waktu mendekatkan diri, kembali pada alam.

Bali, Bali, Bali.

Di tengah hingar-bingar kemewahan dan modernisasi, Bali tidak kehilangan pesona alamnya. Banyak wisatawan baik dalam maupun luar negeri justru kembali karena kerinduan akan alam asri Bali.


Semoga setelah tiga belas tahun, Bali Funky membawaku kembali ke Bali sehingga aku bisa membungkam nyinyiran. Bali bukan hanya tentang pantai atau ketemu bule, melainkan banyak hal indah yang belum di-eksplor.

Foto-foto diambil dari Instagram @balifunky
Tuesday, September 12, 2017

Laki-laki 3

Aku sadar membuat banyak mata terpana. Di jidatku seolah terukir “meriang”. MERINDUKAN KASIH SAYANG. Rok pendek merah meski hanya dua senti dia atas lutut menegaskan betapa paha mulus itu butuh sentuhan, T-shirt dengan kerah v-neck begitu mengekspos belahan dada ranumnya, dan tolong-tolong apa tidak ada yang bisa memberi tahu bahwa rambut panjang hitam berkilau itu menambah jumlah mata yang mendamba.

Rei memilih tempat duduk di dekat pintu keluar. Dengan gerakan tak sabar, Rei menarik lepas kedua lengan jaket dan menyampirkan di kedua bahuku.
 “Kamu gak kedinginan? Aku buru-buru sampai lupa kalau warung kopinya rame banget,” penyesalan itu berusaha Rei perbaiki dengan jaket windbreaker kebesaran yang mendekap tubuh salah kostum Nonik.
Aku berbalik sambil mengeratkan jaket beraroma asap rokok tipis dan kopi yang pajang hingga menutupi lutut.
“Apa gak masalah?”
“Do you need private room?” senyum jail plus menggoda itu begitu ringan hingga jantungku berdetak dan perutku mendadak mulas.
Laki-laki ini, kenapa Tuhan? Kebaikan apa yang aku lakukan di kehidupanku terdahulu hingga Kau kirimkan sosok nyaman ini. Betapa dia tidak pernah cerewet dengan detil-detil rumit yang menghantuiku.

“Nonik?”
Panggilan dengan nada terkejut mendadak membuat Rei mendekatkan diri padaku, menggenggam tangan, lalu memasang tatapan “stay there, close enough” pada si pemanggil.
“Ya ampun bener ya ini Nonik. Apa kabar?”
Aku mengangkat tangan memberi tanda tidak nyaman dengan gaya sok akrab si pemanggil yang hendak cipika-cipiki.
“Mana Andra? Kok sendirian aja.”
“Aku udah selesai kok mas Deni. Duluan ya mas.”
Rei melingkarkan tangan ke pinggang dan menarik tubuhku dengan santai. Tersenyum saat mata si pemanggil mengajukan banyak tanya.

Rei tahu aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Tanpa bertanya dia naikkan kecepatan motornya. Udara dingin menyapu dan mataku terasa membeku susah sekali melihat sekitar. Angin dan air mata membuatku menyandarkan tubuh, mendekap, dan menyerahkan keputusan pada punggung hangat itu.

Balkon: memandang birunya kolam renang, mensyukuri lampu yang temaram, dan menikmati lelehan air mata.
“Apa perlu aku angkatin telponnya?”
Hanya dari nada deringnya aku tahu siapa yang menelepon. Lima tahun itu berakhir dan malam ini aku hanya ingin menangisi sampai puas.
Rei menggeser meja anyaman bundar ringan di sebelahku dan menarik kursi sebagai gantinya. Duduk dengan posisi meletakkan kepala pada sandaran dan meluruskan kaki di pagar pembatas sama persis dengan gaya anehku lalu bersedekap.
“Dia bilang test drive, Rei terus kalau udah bosan aku bisa dia rental kali ya. Ganti ama yang baru.”
Rei dengan cepat menegakkan tubuh lalu menghadap padaku. Begitu ringan Rei menarik tubuhku, mengambil napas seolah menyesap tangis beserta semua sesakku. Rei mengencangkan pelukannya.
“Gak usah cerita. Masukkan saja semuanya ke daftar pertimbanganmu. Setelah wisuda baru kita bahas langsung ke keputusanmu. Aku tidak mau melayang lebih dulu. Dia masih punya waktu hingga wisuda untuk kembali merebut hatimu,” Rei mengusap rambut tergeraiku.

Sungguh memalukan, momen syahdu itu terganggu oleh suara orkes perutku.
“Apakah nilaiku akan berkurang karena membuatmu kelaparan, Non?” tanya Rei setelah mengurai pelukannya.
“Deni membuat kita kabur dari warung kopi andalan yang punya chees cake terlezat. Kamu malah ketakutan kehilangan nilai plus?” ledekku sambil memajukan bibir bawah.
“Oke pesan saja nasi goreng, makan dengan cepat lalu istirahat. Aku balik ke proyek dulu lihat progres.”
Aku mengangguk cepat, sekilat ciuman di kening, dan udara nyaman yang menguap.

###

“Piye Nduk? Kok jam segini telpon?”
Aku mengumpulkan semua keberanianku untuk membicarakan masalah ini dengan sumber kekacauan persepsi. Namun yang ada hanya tangisan tersedu selama hampir tujuh menit. Ajaibnya Papah mendengarkan tanpa sepatah kata pun.
“Nonik cuma kangen Papah.”
“Udah malem yo Nduk, besok telpon lagi. Kamu sabar dan tawakal. Mohon sama Yang Kuasa biar dikasih petunjuk. Besok harus bangun pagi kan urus sewa toga sama bayar wisuda. Dah Papah tutup ya.”
Laki-laki yang aku panggil Papah, yang aku benci karena ketidakmampuannya menunjukkan kasih sayang, yang sialnya dicintai Mamah tanpa syarat, dan membuatku terjebak pada kehausan perhatian; ya hanya Papah yang terpikir. Ketika Andra datang untuk pertama kalinya ke rumah, Papah tidak banyak komentar hanya Mamah yang wanti-wanti, “Dia anak orang punya mba. Apa iya cocok dengan keluarga biasa saja seperti kita?”. Aku diminta berpikir ulang dan sangat dianjurkan agar bekerja meski hanya setahun sebelum akhirnya memutuskan menikah.

Aku masih bergelung dengan mendekap gawai. Pesan Papah berulang-ulang di telinga. Aku belum bercerita tetapi seolah Papah tahu. Iya dia memang selalu tahu apa yang aku butuhkan. Aku memang lebih gampang menutup mata akan kebaikannya dan terus menerus mendoktrin bahwa Papahlah yang harus disalahkan untuk semua luka hati yang aku alami. Ketidakmampuanku memilih lelaki yang benar. Kekuranganku untuk melihat sisi baik dari semua badai yang memporak-porandakan masa kecilku. Harusnya bahagia, harusnya cukup kasih sayang, dan punya citra positif pada diri sendiri.

“Kenapa baru diangkat? Adek di mana?” pertanyaan dengan campuran nada marah dan penasaran.
Loudspeaker sudah aktif sesaat setelah Rei masuk tanpa suara. Aku tahu dia menyimpulkan aku sudah terlelap. Aku juga menduga dia akan kembali pagi hari tak secepat ini.
12 panggilan tak terjawab, 7 pesan masuk, 3 status facebook.
“Deni bilang ketemu adek di Black Stone? Sama cowok? Kok bisa?”
Rei menunjukkan ekspresi, “Should I answer that fucking questions?”. Aku menggeleng lemah.
“Temanku…”
“Teman kok pake meluk pinggang segala. Apa dia alasan kamu minta kita jalan sendiri-sendiri dulu? Adek ada main di belakangku?”
Rei bergabung di ranjang, memelukku dari belakang, memberi dukungan untukku menjawab mengesampingkan emosi. Semua harus tanpa cela hingga wisuda.
“Udah nanyanya? Mau dijawab kaya apa juga emang kamu bisa percaya ke aku? Kita sama-sama pernah selingkuh tetapi kenapa aku yang harus berjuang seolah catatanku tidak pernah bersih seperti catatanmu. Kita pacaran Ndra, bukan lagi introgasi. Buat apa dilanjutin kalau kamu terus-terusan anggap aku tersangka?”
“Ya jawab aja sih apa susahnya. Siapa laki-laki itu? Ngapain bisa di Black Stone bareng ama dia?”
Aku sungguh tidak bisa konsentrasi merangkai kata untuk menjawab pertanyaan Andra. Rei mencium rambutku tanpa dosa dan mengencangkan pelukannya. Dengan lembut dan terarah Rei memegang kedua pipiku. Mata kami bertautan, tanpa suara, dengan sangat hati-hati. Bibir tipis milik Rei mendarat hangat di bibirku.
“Dek, Nonik, Ay. Halo, halooo.”
Serangkaian panggilan yang justru menambah tekanan bibir Rei, masuk, dan ingin menguasai. Kami sudah tak berjarak. Tangan bebas Rei meraih ponsel, menekan keypad sekenanya agar suara pengganggu segera lenyap, dan melempar benda berisik itu ke lantai beralaskan karpet tebal.
“Tampar aku kalau memang menurutmu keterlaluan karena kalau kamu diam aku tidak akan bisa berhenti nanti,” pinta Rei sambil menjaga tubuhku agar tidak oleng.

Otakku memaksa untuk mundur tetapi badanku berkhianat. Memejamkan mata, mencondongkan kepala, dan membiarkan Rei berkuasa.
Wednesday, September 6, 2017

Laki-laki 2

Menuliskan kisah Nonik bisa jadi adalah kompromi bagiku agar “gadis” ini segera menemukan pintu keluar. Sekali lagi jika kisah ini mirip, mungkin aku terinspirasi darimu.

###

“Menikah?”
Mata berwarna hitam pekat itu seperti hampir keluar.
“Tunggu, kamu bilang mau nunggu aku kerja?”
Gelengan laki-laki berumur lima tahun di atasku itu mantap. Seolah aku melupakan percakapan yang terjadi satu tahun silam. Setelah skripsi diambil, setelah perselingkuhan itu mengubahku.
“Kita sudah mau lima tahun lho Nik, mama sudah mulai gak enak dengan pertanyaan tetangga. Apalagi aku anak pertama,” Andra menekankan pada anak pertama.
“Eyang bilang, kalau bisa kamu cari anak bontot. Gak cocok sama aku yang juga anak pertama.”
“Lha yang penting jawab aja dulu kamu mau nikah ama aku gak?”

Aku panik. Bukan, bukan Andra yang tak pantas. Laki-laki itu tipeku. Putih, semampai, dan berkacamata. Pastinya jarak umur kami tidak sama dengan papah dan mamah yang hanya terpaut satu tahun. Tentu saja kami tidak akan bernasib sama seperti papah dan mamah yang mewarnai rumah tangga dengan pertengkaran tanpa memikirkan perceraian. Baku hantam lalu besoknya mesra lagi.

Menikah dengan Andra artinya high heels, salon, dan setelan feminim. Belum lagi calon ibu mertua, eyang, dan keluarga besar. Belum lagi meyakinkan papah mamah.

“Ditimbang dulu aja baik ama buruknya. Nanti kalo ternyata dia yang lebih baik ya silakan. Ya walaupun aku pede aja kalau kamu bakalan milih aku,” saran Rei sambil memamerkan gigi gingsulnya.

Rei. Selingkuhan dan juga calon pacar. Kopi. Nyaman.

“Oi, kok malah ngelamun?”
Sentuhan hangat Andra di pipiku yang seharusnya membuatku kembali pada saat ini malah terus menghanyutkanku. Andra berbeda dengan Rei. Sisi kekanakanku tidak akan muncul sempurna karena Andra lebih suka aku yang kuat dan dewasa bukan yang labil dan butuh telinga. Rei akan mengambil sikap "this is mine, stay back" dengan jelas ketika teman-temannya sekedar menanyakan siapa aku.

Tunggu, kalau pembahasan menikah ini terus berlanjut maka daftar pertanyaan itu harus segera dipastikan. Aku harus cocokkan semua puzzle tentang dua laki-laki  ini. 

“Ay,” aku menahan semua gemuruh berharap Andra menjawab sesuai dengan yang aku harapkan. Tentu saja, setelah laki-laki kesekian, Andra yang akhirnya mengajak menikah. Hanya perempuan kurang waras saja yang malah panik dan mengulur waktu.
Iya, aku wanita gila itu. Menikah itu kamar gelap. Luas dan tak berpintu. Layaknya seseorang yang menyerahkan diri pada kematian. Salahku? Tentu tidak. Papah mamah membuktikan padaku selama hampir tujuh belas tahun aku hidup seatap. KDRT. Perselingkuhan.

“Kita kan sudah serius, harusnya mulai ganti panggilan. Ay kayak mau pacaran aja terus.”
Matek, kuapokmu kapan Nik Nonik. Kawin ki mikir modal, iki mikiri panggilan owk. Emang tukang pijet.
“Iya tenang aja, aku punya banyak stok nama panggilan. Oke katakanlah kita menikah. Bangun rumah. Kamu mau  bagian mana yang istimewa dan paling nyaman?”
“Ruang keluarga lah, kan tempat kita ngumpul.”

Tetooot. Kita. Lu aja kali gue mah dapur. Dapur minimalis dengan kursi dan meja tinggi yang jadi pembatas dengan area memasak. Tempat di mana suami dan anak-anak menunggu makanan disiapkan dan tentu saja dapur yang mengundang untuk dijelajahi saat pernikahan mulai membosankan.

“Lima tahun kita pacaran, apa yang membuat kamu bertahan?”
“Ehmmm… Gak tahu, ya mungkin karena udah jodoh.”
“Kamu selingkuh aku maafin, aku selingkuh kamu maafin. Keluargamu gak begitu suka sama aku, kamu bertahan. Kenapa?”
“Entahlah apa harus ada jawaban. Rasanya perasaanku menggantung. Apalagi setelah kamu selingkuh.”

2007. Rei hadir. Dikirim Tuhan untuk membuatku tahu apa itu rasa nyaman. Hanya sebentar karena aku yang penakut tidak bisa lepas dari zona nyaman hubungan lama. Aku memutuskan kembali pada Andra dan membunuh dengan kejam rasa nyaman yang Rei ciptakan. Rei menghilang. Aku berusaha mendoktrin diriku bahwa Rei hanyalah laki-laki biasa lainnya yang datang dan pergi. Andra adalah kepastian.

“Ya elah Non, aku kira kamu udah ada di ujung negara mana mengajar anak-anak.”
Telepon ngajak berantem khas Rei. Berujung pada ajakan minum kopi dan selingkuh lagi. 2009 setelah ujian skripsi yang berakhir dengan gemilang dan masa tunggu wisuda. Aku juga belum paham kenapa Tuhan kirim Rei lagi. Masih dengan nyaman yang nyata, penerimaan yang seutuhnya, dan menggila bersama.
“Aku pikir kamu udah gak sama dia. Ternyata masih. Selingkuh aja yuk. Sekarang jangan sampe ketahuan ya.”

Aku tersenyum. Andra memandang lekat-lekat. Aku memang bodoh. Pacar yang selama lima tahun aku pertahankan, jatuh bangun menyesuaikan diri ternyata mengajakku menikah hanya karena “sudah waktunya”. Aku berharap ada sedikit cinta. Ya katanya itu yang membuat mamah bertahan menjadi samsak papah selama bertahun-tahun. Membuatku berjanji untuk tidak menikah. Terapi kejut Andra sukses membuatku mempertanyakan diriku sendiri. Kamu siap Nik?

“Non, di mana? Aku jemput ya? Balas dong. Pura-pura ke kamar mandi kek. Aku bisa gila mikirin kamu cuma berduaan aja ama dia.” 
“Non, ingat ya yang penting kamu bahagia. Kalau emang nyatanya kamu bahagia ama dia, aku gak papa kok tapi ijinin aku buktiin ke kamu. Aku gak akan lari kaya dua tahun lalu. Aku akan berjuang, Non.” 
“Aaargh, kamu lagi ngapain ama dia? Ciuman ya?”
Pesan itu masuk. Memantapkan keputusanku. Keputusan yang seharusnya aku ambil dua tahun lalu. Bukan malah sama-sama bertahan dalam hubungan semu.

“Pertanyaan terakhir. Hubungan intim sebelum menikah, benar-benar memasukkan penismu ke vagiku. How?”
“It’s a test drive baby. Gak masalah kan?”

Andra memperhatikan perubahan mukaku. Lima tahun, Ndra. Lima tahun. Masa iya kamu gak tahu juga gimana caranya membuat hatiku senang. Berbohonglah sedikit kalau ada yang lebih berharga dari sekedar vaginaku. Pura-puralah cinta. Berjuanglah untuk sekedar tahu apa yang benar-benar aku sukai.

“Aku tahu ini hari ulang tahunmu, maaf kalau aku ingin di hari ini kita jalani hidup masing-masing. Makasih sudah mau menghabiskan waktu yang ternyata sia-sia. Mungkin kasihan, kamu hanya kasihan pada anak SMA yang waktu itu butuh sosok. Sosok laki-laki dewasa yang mengayomi, pengganti papah.”
“Hei, kenapa? Ada apa?”
“Temani aku saat wisuda, setelah itu kamu tidak punya hutang. Kamu bebas.”
“Bukankah kita sedang membicarakan pernikahan?”
“Pikirkan baik-baik Ndra, kita jalan sendiri-sendiri dulu. Jika setelah wisuda kamu tahu jawaban yang memang dari hatimu. Kamu tahu ke mana harus menemuiku.”

Air mata kurang ajar itu mendesak keluar. Ini lima tahun. Bukan hubungan anak kemarin sore. Kenapa? Kenapa kamu tidak memberikan kepastian bahwa ini bukan hanya urusan selangkangan? Kenapa aku dengan bodohnya bertahan dalam harapan kamu benar-benar akan mencintai aku tulus tanpa ada syarat A-Z?

###

“Are you okay?”
“Aku di taksi Rei. Besok aja kita ketemu ya.”
“Aku tanya apakah kamu baik-baik saja bukan kamu lagi di mana?”
Aku menekan keypad sembarangan yang penting ledakan tangisku tak terdengar Rei.
“Mba, mau ke rumah sakit dulu?”
Pertanyaan supir taksi yang wajar melihatku menangis sambil menekan dada.
“Gak usah. Bisa dicepetin jalannya aja pak.”

###

Aku tersihir melihat tubuh menjulang dengan topi proyek dan sepatu safety coklat kusam yang menyambut ketika aku turun dari taksi. Rei berjalan ke arahku. Semerbak kopi bercampur asap rokok yang aku suka. Rei memakaikan helm sekaligus mengaitkan pengamannya.
“Aku tahu tempat curhat sampe pagi yang cocok buat kita.”
Monday, September 4, 2017

Laki-laki

Cerita Mini
Jika ada kesamaan karakter harap maklum, mungkin secara tidak langsung aku terinspirasi dari ceritamu.
######
Seperti rasa haus yang tak tergenapi. Bagaimana bisa tergenapi. Ini bukanlah air tetapi kasih sayang. Bukan benda tetapi sesuatu yang abstrak.
Ada ungkapan:
"A girl's first true love is her father"
Tentu saja aku hanya menyeringai sinis.
Ada lagi yang bilang kalau sosok laki-laki yang tak pernah menyakiti hati seorang perempuan adalah ayah.
Ya seharusnya aku tak boleh iri, ada banyak perempuan di luar sana yang begitu bahagia dan akur dengan ayah mereka. Hanya aku.
Aku saja yang melihatmu sebagai monster.
Anak perempuan lain tentu saja bahagia menjadi putri karena ayah mereka seorang raja. Iya tentu saja ini ungkapan betapa seorang ayah harusnya memperlakukan anak perempuannya layaknya seorang putri kerajaan yang dimanja dan dihujani kasih sayang.
Aku? Kembali ke aku. Oke. Aku anak perempuan pertama di keluarga. Adikku perempuan juga. Betapa aku berharap aku punya kakak laki-laki karena aku ingin seperti anak perempuan lain yang begitu diperhatikan.
Papahku gila. Dia suka memukulku dengan ikat pinggang celana jeansnya jika aku ketahuan mandi di sungai. Jika anak perempuan lain ditemani ayahnya mandi di sungai maka aku hanya dapat luka perih di kaki. Bonus luka yang tak pernah sembuh di hati.
Papahku tidak pernah memelukku dan bilang dia sayang padaku. Yang dia lakukan adalah meneriakkan kata "goblok" saat aku tak bisa mengerjakan soal matematika yang mudah.
Lalu bagaimana dia bisa jadi cinta pertamaku?
Afif Akhmadi Erafhi, laki-laki pertama setelah papahku yang gila. Dia amat protektif.
"Siapa laki-laki yang datang ke kemahmu membawa banyak makanan?"
"Eddy? Oh itu teman mas Budi samping rumahku."
Afif Akhmadi Erafhi tak pernah bilang cinta padaku tetapi menguangkapkan rasa cemburunya dengan menyebar gosip kalau aku pacaran di persami.
Ketika hubungan satu pihak dan gak jelas ini menggantung, datanglah Ayar. Laki-laki tulus yang memberiku surat cinta dan satu buku penuh puisi. Tentang aku. Semua tentang aku. Beginikah rasanya dicintai?
Dia mengajakku bersepeda menikmati sore dan juga rimbunnya pohon tebu. Tebu yang menguarkan aroma manis. Manis yang begitu memenuhi ruang di hati. Seakan hati begitu kecil dan akan meledak.
Ayar memegang tanganku, "Putuslah dengan Afif Akhmadi Erafhi. Jadilah milikku seutuhnya!"
Laki-laki ini membuatku memilih, apakah aku harus mencintai atau dicintai?
Mencintai laki-laki berakhir dengan hubungan menggantung yang tak tentu arah.
Dicintai laki-laki memberikan harapan bahwa aku akan diberikan apapun yang dia punya, yang dia bisa, dan bagaimanapun caranya.
Namun Ayar hanya lebih tua hanya satu tahun dariku. Aku akan bernasib sama seperti ibuku. Cinta menggebu di awal lalu Papahku menjadi gila karena diguna-guna wanita lainnya.
Ya Tuhan, tak adakah laki-laki yang benar untukku? Apakah aku tak berhak bahagia? Mencintai dan dicintai sepenuh hati? Tanpa harus berakhir gila?
Papah membuatku jadi begini. Haus. Begitu haus akan kasih sayang, perhatian, dan pelukan.
Setelah Ayar ada Rizki. Dia tiga tahun di atasku. Kakak kelas yang begitu melindungi.
"Kita putus aja. Aku mau fokus ujian."
Begitu perasaanku dipenuhi keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja, aku tertipu lagi. Begitu jatuh, tangga menimpa.
"Kok mas Rizki kadoin adekmu kamus. Sebenarnya pacarnya siapa?"
Laki-laki berkacamata itu tak pernah lagi muncul di perpustakaan. Hanya teman-temannya yang bergerombol lalu mendadak serius dan memberikan tatapan mengasihani saat aku mengembalikan buku-buku pinjaman.
Ada Arifin si penjahat kelamin. Laki-laki ini sangat pintar bicara. Bicaranya begitu meyakinkan. Seolah dia bisa menolong mengurangi patah hatiku.
"Pejamin matamu, bayangin aja Rizki ada di depanmu!"
"Nonikkk!"
Pekikan itu membuat mataku terbuka. Reflek menendang tubuh Arifin yang hampir menindihku.
Vian menarik tanganku, membuatku tak sempat merangkum apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu gila ya. Rizki gak bilang Arifin itu lagi jadi buronan. Dia pura-pura jadi pembina pramuka. Dia cabulin murid-muridnya."
Aku menatap Vian lekat. Kamu? Laki-laki juga, adakah udang di balik batu?
 Apakah aku keluar dari mulut singa dan masuk ke sarang harimau?
Banyak laki-laki yang datang dan pergi di kehidupanku. Entah itu teman, mantan, atau calon pacar.
"Kamu kok kalah sama ponakanmu. Udah tua belum punya pacar. Tuh minta kenalin sama temen Nonik. Dia tiap minggu temen cowoknya gonta-ganti."
Sadarkah Papah? Aku begini karena aku haus. Seandainya papah bisa jadi sosok itu. Cinta pertamaku. Aku tak akan seperti pemulung mengais-ngais perhatian. Pengemis yang memohon belas kasih. Aku akan jadi wanita yang kuat. Rasa hausku akan hilang. Aku akan punya jalan hidup yang lurus. Bukan seperti wanita yang kurang belaian dan pelukan. Bukan wanita yang penasaran rasa nyaman akan kehangatan. Bukan panasnya nafsu tapi kehangatan kasih sayang.
Saturday, September 2, 2017

5 Tips Menyimpan Dokumen Agar Tidak Terselip


LAPTOP kadang beralih fungsi dari gadget untuk main game online menjadi penyimpan dokumen. Semuanya berjubel. Dari yang zaman baheula sampe kekinian. Semua tersimpan tanpa peduli masih bermanfaat atau hanya sekedar curhatan galau ketika gagal move on hingga sukses naik pelaminan. Padahal kalau dicermati dan diolah bisa jadi novel laris. Dokumen-dokumen yang tersimpan tanpa pengaturan tepat akan berakhir menjadi sampah elektronik. 

Buat yang pelupa saking banyaknya dokumen yang harus diurus, tentu wajib punya trik. Dokumen keurus, gak ada yang terlewatkan, dan bisa diolah secara maksimal. Pastinya gak mau dong ide-ide yang berharga malah terlantar sia-sia.

Yoyoy, bisa simak tips ala-ala emak sensi bin pelupi *maksa 😂

1. Namai dokumen sesuai kata atau kalimat yang diketik pertama

Kata atau kalimat pertama biasanya mencerminkan isi. Ada keyword untuk mengingatkan kita apa yang ada di dalam dokumen itu. Menamai dokumen sesuai dengan kata atau kalimat yang diketik pertama seolah menstimulasi otak untuk mengingat keseluruhan dalam dokumen tersebut.

Stimulasi dalam mengingat penting agar dokumen bermanfaat secara maksimal.

2. Folder dikategorikan berdasarkan prioritas

→NOVEL                                    
→ARTIKEL BERBAYAR
→BLOG
→REFERENSI
→CATATAN IDE

Bila berencana jadi penulis pro maka dokumen yang tidak mendukung sebaiknya dipindah ke flash disk biar tidak menjadi gangguan. Fokus pada yang akan kamu kerjakan misalnya satu hinggga tiga bulan ke depan. Ketika selesai maka folder dikategorikan ulang sesuai dengan prioritas yang sedang dikerjakan.

3. Pilih nama yang spesifik

Spesifik artinya bisa langsung membuat kamu teringat apa isi di dalamnya tanpa perlu membuang waktu. Membuka lalu menutup dokumen dan harus mengurutkannya satu per satu tentu sangatlah tidak efektif.

Apakah kamu tergoda untuk menamai dokumen sesuai tanggal? Usahakan untuk menambahkan keyword yang spesifik jadi ciri dokumen yang akan kamu simpan.

4. Atur sebulan hingga tiga bulan sekali

Bila punya tekad yang kuat maka mengatur satu bulan hingga tiga bulan sekali bukanlah kegiatan rumit. Bila dokumen tersaji dengan rapi maka pekerjaan di dalamnya akan selesai sesuai tenggat yang kamu targetkan.

5. Pilih mana yang harus masuk ke flash disk, memory card, atau burn-in-disk

Artinya dokumen sudah selesai dikerjakan dan tidak perlu di-edit lagi. Seperti cerpen yang sudah jadi buku atau catatan terbit menjadi blog post. 

Selesai memindahkan dokumen, jangan sampai lupa label. Label kembali lagi berguna sebagai pengingat ada dokumen apa saja di dalam flash disk, memory card, atau burn-in-disk.

"Teratur dan rapi adalah seni menghargai diri. Bukan  sekedar kebiasaan seorang perfeksionis. Tentu saja  menyenangkan bisa tahu jika aku memanfaatkan waktu dengan  baik." @phalupiahero
Satu malam aku menerima pesan dari seorang teman yang menanyakan tentang perkembangan novelku. Aku panik karena aku tidak menemukan folder novel itu di laptop kesayangan. Aku urut satu per satu sambil berusaha mengingat. Pasti aku simpan. Aku hanya lupa. Kalau tidak ketemu bagaimana? Apakah aku siap mengulang lagi dari awal? Oh tidak! Kenapa aku tidak ingat sama sekali. Pelan-pelan. Pelan-pelan. Ahaaa, bukan di laptop tetapi di memory card. Pusing dan gak bisa tidur memang menyerangku bila ada barang atau sesuatu yang hilang. Muter aja di kepala. Maka dari itu aku harus rajin beberes biar tidak kena serangan panik.

Nah buat yang pelupa, merasa hidupnya kacau, atau butuh waktu lama menemukan barang; sebaiknya segera rapi-rapi. Mungkin bisa diawali dengan membedah laptop. Selamat menikmati ya 💪
Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design