Selasa, 01 Agustus 2017

Apa Sih yang Buat Kamu Menunda?

Setelah berhasil menyelesaikan tiga puluh hari mengisi blog, ada satu perubahan signifikan yang aku rasakan. Jarang menunda. Ah jangan sombong kamu mak! Coba bisa bertahan berapa lama?
Nah biar gak balik lagi nunda, aku tuliskan semua di sini. Biar sensasi keberhasilannya tidak menguap dan bisa mempertahankan semangatku.
Apa sih yang bikin kamu menunda?
1. Aktivitas yang akan kamu lakukan tidaklah menyenangkan
Ketika selesai berbelanja, hal yang paling melelahkan adalah proses memilih sayuran, mencuci, dan memasukkan semua ke wadah-wadah. Lama. 
Berapa uang yang kamu habiskan untuk belanja dan akhirnya semua sayuran berakhir busuk karena kamu menunda untuk mengolahnya?
Terus apa solusinya?
Rekayasa kegiatanmu menjadi hal yang kamu tunggu. Buatlah kegiatan itu jadi sesuatu yang asyik. Libatkan anak jika memang sudah bisa. Tata baskom-baskom yang sudah berisi air dan begitu selesai mengupas bisa langsung dimasukkan. Sensasi air yang memercik pastilah segar dan membuat kamu betah lama-lama di dapur.
Ayolah hal apa sih yang gak bikin kita lelah? Tidur kelamaan aja capek kan.
2. Melupakan Rasa Sakit
Apa yang terjadi saat kamu menunda merapikan rak sepatu? Ya tikus memporak-porakan sepatu kesayangan yang baru kamu beli seminggu lalu. Ah gak papa bisa beli lagi. Sebentar, sebentar. Bukannya itu produksi terbatas, harus inden dulu terus harganya tiga kali gajian dengan konsekuensi makan mie instan dua ribuan. 
Ya begitulah. Jika kamu melupakan rasa sakit yang tercipta saat sepatu kesayangan akhirnya harus berakhir di gerobak tukang loak, kamu akan terus menunda. Meletakkan sepatu seenaknya. Maka dari itu ingatlah rasanya. Nelangsa, sebel, dan menyesal.  
Setiap ingatan itu muncul maka kamu akan secara otomatis menyimpan sepatumu di tempat yang aman.
3. Salah meletakkan prioritas
"Sebentar, nanggung nih drama koreanya belum selesai."
Anak masih mandi, sarapan hanya ada susu kotak, dan semua perlengkapan sekolah juga belum masuk tas. 
Kok malah nonton sih? Iya semalam kan lembur artikel jadi ya gak sempat.
Baru beranjak dari layar laptop setelah tangisan anak menggelegar. Jatuh membentur lantai kamar mandi.
Menunda mempersiapkan keperluan esok hari dan malah fokus ke artikel yang deadlinenya masih satu bulan lagi. Konyol? Tidak karena aku sering melakukannya. Bingung mana yang harus aku lakukan lebih dulu karena terlalu banyak yang tertunda dan minta diselesaikan.
Prioritas mak, prioritas.
"Kerjakan dan selesaikan dengan tuntas pekerjaan rumah tangga. Semakin menunda, semakin tidak ada waktu senggang untuk nonton dramkor."
Maka dari itu, sebaiknya selesaikan yang jadi tugas utama tanpa menunda. Buat prioritas yang jelas agar tidak menumpuk, malas, dan akhirnya menunda.
4.  Persepsi yang Salah
Aku pikir dengan menunda, hasilnya lebih baik. Maksimal karena bisa dikerjakan pada saat yang tepat. Ternyata tidak pernah ada waktu yang pas. Pas itu: ada kesempatan ya kerjakan. Bukan menunggu.
5. Malas
ma·las a 1 tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu: orang yang -- itu lebih senang mengemis daripada bekerja; 2 segan; tidak suka; tidak bernafsu: -- rasanya mengunjungi rapat seperti itu; jangan -- bertanya;(http://kbbi.web.id/malas.html)
 Saat kebosanan muncul, malas juga menyerang. Menunda memasak, mandiin anak, dan hanya ngelus hp saja.
Bersyukur punya anak yang sering bertanya, "Kenapa ibu bobo sambil pegang hp? Kenapa? Emang mata ibu gak sakit?"
Lama-lama ngerasa daripada ditanya-tanya mulu mendingan ngerjain sesuatu yang bisa melibatkan dia. Lumayan bisa mengusir rasa malas. 
6. Tidak punya tujuan yang jelas
Menulis novel yang jelas ada hadiahnya kamera aja kadang masih nunda buat diselesaikan apalagi yang gak ada tujuannya sama sekali?
Tujuan yang jelas disertai deadline yang ketat adalah katalisator yang tepat untuk segera menyelesaikan pekerjaan. Akan terus menunda dan santai-santai jika tidak ada batas waktu dan konsekuensinya tidak memberikan sakit yang menyiksa. Tidak ada orang yang suka disiksa rasa menyesal gagal mendapatkan barang atau momen idaman.
7. Meremehkan waktu
"Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang suka melambat-lambatkan pekerjaannya maka tidak akan dipercepat hartanya (H.R. Muslim)."
Padahal waktu adalah keadilan yang diberikan Tuhan pada kita. Tidak bisa kembali. Punya waktu tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Sungguh terlalu kamu, Mak. Iya makanya sekarang aku mencoba. Bekerja keras untuk memanfaatkan waktu dengan baik.
Semoga emak bisa konsisten ya mak. Berhenti menunda. 💪

6 komentar:

  1. Iiih aku merasa tertampar ... 😭😭😭😭

    BalasHapus
  2. Nyindir. Oke emang sih hahaha

    BalasHapus
  3. Suka bagian nomor 4. Sering memang mikir entar aja pas lega, bisa maksimal. Daaaan "Ternyata tidak pernah ada waktu yang pas. Pas itu; ada kesempatan ya kerjakan". Sdh direnungkan, mari berjuang mempraktekkan!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangkaaa 🍉🍉🍉 Semangat kakak!

      Hapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design