Selasa, 15 Agustus 2017

Semangka Busuk dan Kepercayaan

Sudah sampai berliur membayangkan segarnya semangka di musim panas
Di musim panas semangka jadi idola. Air yang melimpah, daging buah yang kres-kres, dan manis yang menjadikan sensasi dinginnya tambah mengigit lidah. Tidak akan berhenti hingga piring saji menyisakan kulit. 

Sangat cocok dikonsumsi saat siang dan sinar matahari mengeringkan kerongkongan antara jam 12 hingga jam 1 siang. 

Nah ceritanya aku sudah punya tukang sayur langganan. Aku sering memesan semangka dan juga pisang. Hari itu memang panas sangat garang. Keluar sebentar saja, kepalaku rasanya seperti tersengat dan mataku langsung perih. 

"Gak papa ibu, kan ini memang musim panas. Kita makan semangka aja yuk."
"Iya mamas tapi pakde belum datang. Kan kemarin baru pesan sama pakde semangkanya."
"Oh jadi tunggu dulu," simpulnya dengan senyum.

Itu semangka pas lagi ditunggu-tunggu, gak minta dipotong sekalian eh malah busuk. Orangnya udah keburu jualan lagi.

Musnah sudah semua harapan. Dia bilang semangkanya itu selalu juara. Manis dan segar. Namun hari itu semua kepercayaan itu hancur. Memang aku selalu saja lupa. Lupa untuk tidak cepat percaya. Kecewa lagi hanya perkara semangka.

Ini masalah semangka busuk lho ya, kok jadi panjang urusannya. Iya soalnya kalau gak ditulis bakalan lupa lagi.

"Percaya pada manusia adalah kebodohan. Bodoh karena kamu  tahu itu akan berujung kecewa." (phalupiahero)
Jelas saja kecewa. Buat orang-orang pemuja kesempurnaan maka pastilah akan sakit hati ketika kepercayaan yang diberikan ternyata hancur hanya karena tidak teliti memilih semangka. Itu tukang sayur ya, mungkin bangun jam satu dini hari untuk memburu dagangan yang kasih keuntungan lebih. Demi kiriman ke kampung lebih banyak dari bulan kemarin meski hanya seratus ribu. 

Konyol ternyata setelah ditulis. Aku kehilangan mood seharian setelah merasa tertipu. Padahal hal-hal seperti ini pastilah datang silih berganti. Orang-orang datang dan pergi. Berbekal kepercayaan kita, mereka bisa melakukan hal jahat atau malah membuat kita merasa diperhatikan.

Harus bagaimana?
Kepercayaan memang harus kita perjuangkan. Ora mak pedundug simsalabim, orang percaya. Hipnotis pun butuh waktu.

"Ah kita memang gak boleh percaya ama orang dek, percaya ya sama Tuhan. Percaya sama orang bisa masuk syirik lho."

Yawlaaa urusan semangka busuk aja bisa sampe bahas syirik ya cintaku. Artinya kita memang harus bersikap biasa saja. "Shit happens but you can flush it anyway."

Berapa kali semangka busuk itu mampir hingga akhirnya kamu tahu bagaimana cara membedakan semangka kualitas bagus dengan yang mudah busuk? Pelajaran apa yang kamu petik ketika semangka busuk itu mampir? BELAJAR DARI PENGALAMAN.

4 KALI. Semangka sebaiknya langsung dibelah oleh penjual. Semangka yang mudah busuk memiliki guratan putih di antara sela-sela daging buahnya yang merah. Busuk ketika kulit luar bonyok. Akan tidak enak dimakan lagi saat ada bau menyengat ketika semangka itu dibelah.

4 KALI. Mencoba untuk percaya kalau besok jauh lebih baik. Biarkan dia menjelekkan tukang sayur lain. Fokus saja kalau memang kamu sreg. Tidak perlu banyak nawar. Rezeki tidak akan pernah berkurang atau tertukar. 

Semangka busuk hanya contoh saja bagaimana kepercayaan bisa dibangun. Tidak perlu terlalu serius hingga harus mengomel bahkan memboikot agar tukang sayur itu tidak perlu lewat lagi di depan rumah. Halooo! 

"Iya pakde minta maaf, besok diganti ya. Kasihan udah nunggu padahal ya. Besok ya besok pasti pakde ganti yang bagus."

See, menunda marah itu juga bagian dari memelihara hubungan dan juga kepercayaan. Stay cool and get your refreshing sweet watermelon tomorrow!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design