Senin, 21 Agustus 2017

Parenting Talkshow Bersama Lego Membangun Anak Indonesia yang kreatif

Sabtu, 19 Agustus 2017 di Area Food Society Mall Kota Kasablanka
Anakku yang pertama Mamas GianGaraGembul lagi suka-sukanya main lego. Ya brick-brick berasal dari Denmark yang cara mainnya dibongkar pasang. Dulu zaman emak kecil mah mampu belinya lego kw. Sekarang alhamdulillah bisa nyicil beli yang asli biar bisa buat lungsuran ke adik-adiknya. Hihihi, tetep ya.

Begitu melihat lego, mamas langsung eksplor ^_^

Talkshow ini memang rangkaian dari BUILDING ARCHIPELEGO yang juga dilaksanakan sebagai acara yang memeriahkan HUT RI ke 72. Membangun negeri juga membangun generasi yang kreatif dan membanggakan. Bagaimana anak-anak menuangkan semua ide kreatif mereka hanya dengan 72 bricks. Keren! Terus yang tak kalah menakjubkan adalah GIANT MOSAIC 3D GARUDA yang disusun dari 3500 bricks. 

Acara yang dipandu oleh CJ (Christina Jennifer) ini menghadirkan Dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(k) MPH lalu Sissy Prescillia Sungkar, dan Gunawan Tunas (Lego Education Program). Artikel ini berisi rangkuman dari ketiga pembicara tersebut.


Bermain adalah aktivitas yang menyenangkan. Siapa sih yang tidak suka bermain? Semua anak suka bahkan terkadang orang dewasa pun meluangkan waktu untuk bermain sebagai cara melepaskan diri dari beban berat pekerjaan atau rutinitas. 

Bermain adalah hak asasi anak. Anak yang kurang bermain maka ada kemungkinan dia tidak akan pernah dewasa. Meluangkan waktu untuk bermain di usia produktif itu wajar tetapi jika sampai berangkat kerja terlambat karena malamnya begadang main bola di hp tentu saja itu tanda ada yang tidak beres.

Ketika bermain otak anak akan terstimulasi. Tentu saja variasi permainan yang digunakan untuk menstimulasi harus disesuaikan dengan umur dan perkembangannya. Tidak lupa perhatikan nutrisi.

Kenapa sih harus disesuaikan dengan umur dan juga tahap perkembangannya? Memberikan mainan sembarangan bisa berakibat fatal. Menelan bricks kecil-kecil lalu tersedak atau bricks tersebut tertinggal di kerongkongan tentu saja membuat kita menyesal. Sekali lagi, mainan-mainan HARUS DISESUAIKAN DENGAN UMUR. Anak berumur 1 tahun yang masih ada di masa oral tentu harus diberikan mainan-mainan berukuran cukup besar hingga saat masuk ke dalam mulut tidak dengan mudah tertelan. Anak umur 3-6 tahun tentu saja harus diberikan mainan yang bisa mengasah perkembangan motorik baik halus maupun kasar. Kreativitas adalah tujuan selanjutnya. Bagaimana anak-anak pada akhirnya bisa sampai pada tahap ide-ide yang mungkin bagi kita masuk akal. Bermain ketika kita memasukkan unsur matematikanya maka anak akan tanpa disadari belajar matematika.

Hindari kalimat: JANGAN MAIN TERUS, BELAJAR!
Memutus kesenangan anak bisa membuat mereka membenci belajar itu sendiri.

Optimalkan juga bonding. Usahakan untuk menemani anak bermain.
"Mamas buat apa? Oh semangka. Warnanya apa saja?"
"Hijau, putih, merah. Terus bijinya hitam lho ibu."
Luangkanlah waktumu walau hanya bertanya satu atau dua hal. Biarkan dia bercerita tentang kreasi yang sedang dia buat dan berikan apresiasi atas usaha dan juga kerja kerasnya. Disadari atau tidak selain kedekatan, kepercayaan juga akan menguat.

Anak-anak milenials katanya tidak bisa lepas dari gadget. Tentu saja jika kita mau mengusahakan yang terbaik, disiplin dengan waktu yang diperbolehkan bermain gadget misal kesepakatannya satu jam ya konsistenlah. Pasti hasilnya tidak akan mengecewakan.

Aku tergelitik dengan pernyataan Sissy yang bilang, "Masa ibunya pergi bawa-bawa tas make up segede gambreng bawa lego buat anak-anaknya aja repot."
Sissy memang menularkan kesukaan lego kepada anak-anaknya. Semenjak hamil dan merasa tidak bisa melakukan banyak hal, lego adalah pelarian baginya.
Lego memang dibuat bagi anak 1,5 tahun hingga mahasiswa. Ada semacam tujuan pembelajaran di setiap edisi yang dikeluarkan.

"Pemadam kebakaran siap menyelamatkan," ujar mamas.

Bermain mikro drama dan memanfaatkan mobil pemadam yang sudah dibuat bersama ayah tentu saja merangsang kreativitas. Mamas GianGaraGembul mulai merancang bagaimana kebakaran terjadi dan malah membakar semua mobil hingga mobil hancur. Harap jangan sampai meleng ya mak, bisa-bisa bagian-bagian lego yang kecil itu nyasar ke tenggorokan Dedek DulDenGeni.



Duplo didesain untuk anak umur 1,5 hingga 3 tahun. Plastik yang digunakan aman artinya tidak ada bau yang bisa membahayakan kesehatan, didesain dengan ujung lengkung jadi anak tidak akan tergores, presisi di setiap brick terjamin. Lego zaman dulu jika dipasang ke lego keluaran terbaru pasti pas. Itulah kenapa setiap membeli lego ada nilai lebih. Mahal itu relatif tetapi apakah pasti awet? Itu yang harus kita pikirkan sebelum membeli mainan anak.

Berusaha memberikan yang terbaik, sesuai dengan umur, dan menstimulasi anak agar otak berkembang maksimal di usia emasnya adalah kewajiban orang tua. Pilihlah dengan bijaksana agar tidak kecewa. Anak pintar pastilah membahagiakan tetapi anak kreatif adalah keberhasilan orangtua.


6 komentar:

  1. seru ya acaranay nambah ilmu lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba seru. Bisa bertanya ini itu tentang perkembangan anak.

      Hapus
  2. anakku juga suka banget lego....di semarang g ada ya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lego bisa dibeli di kidz station atau toko-toko online mba. Kalau belajarnya bisa masuk ke robotics. Kayanya semarang ada kok mba.

      Hapus
  3. Rafasya hobi banget sm lego dr kecil. skrg sih udh ga duplo lg. jd yg duplo turun u Arsel. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba bisa turun temurun 😀 awet soalnya.

      Hapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design