Minggu, 06 Agustus 2017

Pak, Kami Datang Membawa Kenangan dan Cerita Perjuangan!


Gak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan guru semasa SMA. Bapak FX. Teguh guru Bahasa Indonesia yang tegas dan selalu membuang puntung rokoknya sesaat sebelum masuk ke kelas. 

Kami dulu cukup dekat tetapi pak Teguh tidak begitu ingat denganku. Ah tak masalah pak. Toh aku juga tak begitu ingat dengan kejadian yang melibatkan interaksi kecuali bagian bapak suka main tenis tetapi tetap merokok setelah selesai dua set. Hahaha...

Aku dan teman-teman datang membawa amanah dari angkatan 2005. Kenang-kenangan yang diagendakan setelah reuni 10+ berlalu.


Pak Teguh bercerita tentang penyakit gula yang menyerang, stroke dan kecelakaan serta pensiun dini.

1. Gula yang tak terasa hingga serangan itu tiba

Pak Teguh bercerita jika beliau sangat suka minuman yang manis. Bisa 4 gelas sehari dan gula satu kilo bisa habis hanya dalam hitungan hari. Tidak terasa gula menumpuk. 
"Ah gula aja, masih bisa dibeli."

Beliau bilang habis kondangan saat serangan stroke melumpuhkan setengah bagian kirinya. Tangan dan juga kaki. Masih bisa berjalan dan tangan masih bergerak. Namun mata memang sudah tidak maksimal. Glukoma katanya. Obat tetes mata seumur hidup harus diberikan dan tidak bisa dioperasi.

Beliau masih aktif mengajar pada saat serangan stoke yang pertama. 

2. Kecelakaan yang melumpuhkan tangan dan kaki

Semenjak serangan stroke, pak Teguh masih berangkat mengajar dengan mengendarai motor tetapi melalui jalan alternatif melalui sawah-sawah bukan jalanan utama yang ramai. Beliau sadar dengan keterbatasan mata.

Nah siang itu rapat, pak Teguh melewati rute kota karena sudah siang dan berharap jalanan masih sepi. Saat itulah kecelakaan terjadi. Beliau ditabrak  saat hendak menyebrang dan terbangun sudah ada di rumah sakit. Terapi dan pengobatan yang dijalani tidak mengubah keadaan kaki dan tangan yang lumpuh. 

Mengurangi gula dan makan-makanan sehat adalah pilihan pak Teguh untuk bisa terus menemani tumbuh kembang cucu-cucunya. Ketika kami datang, rona bahagia tercetak jelas.

"Kalau ada waktu main ya mba Phalupi. Cerita-cerita sama pak Teguh."

Kami datang memang dengan membawa kenangan-kenangan masa SMA dan juga cerita perjuangan setelah lulus. Bagaimana masa kuliah, berpindah pekerjaan, dan membina keluarga. 

"Ya pokoknya jaga kesehatan. Jangan sampai nyesel!"

3. Pensiun dini

"Ya cuti sakit yang terus diperpanjang. Kalau gak gitu ya uang pensiunnya hangus mba. Wong harusnya pak Teguh baru pensiun 2017. Harusnya baru dua bulan lalu pensiun."

Beginilah kehidupan memberikan pelajaran. Sakit, masa tua, dan apa yang seharusnya kita persiapkan.

Kami jika ada waktu pasti akan mampir pak. Apalagi setelah bapak bilang, "Bapak ya gini-gini aja. Suka kalau ada yang main dan cerita. Apa-apa yang berubah di luar sana. wong pak Teguh gak pernah keluar. Mau keluar juga gimana?"

Guru, sosok yang memang tanpa tanda jasa. Guru yang layaknya orangtua. Mendidik. Tanpa pamrih. Guru yang pada masa tuanya juga ingin berwarna. Ada beragam cerita dari semua. Anak-anak didiknya. Dari yang nakal, gak bisa diam, hingga yang biasa-biasa saja.

"Orang-orang jarang melihat langkah-langkah yang tersendat-sendat dan menyakitkan dimana KEBERHASILAN yang paling signifikan dapat tercapai." (Anna Sullivan)
Keberhasilan yang kami capai, ada usaha bapak di dalamnya. Semoga itu tabungan kebaikan yang nantinya tidak akan pernah putus. Jika saat ini semuanya tampak seperti tak punya masa depan tetapi kami berdoa, akan ada masa bahagia di penghujungnya.

4 komentar:

  1. Jadi kangen sama guruku. :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kunjungi mba. Aku wae kepokoh adoh dadine ora iso sering dolan.

      Hapus
  2. Aku sedih sekaligus terharu baca kisah Pak Teguh ini. Semoga beliau senantiasa diberi kesehatan. :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Beliau memang selalu kasih motivasi mba.

      Hapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design